IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
April 2008 - Bisik Angin Tuk Bidadari

100 hari yang berharga

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."

Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "baiklah... lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kenc an. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong ku e dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.
Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup li lin ulang tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.
Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang"
kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.
Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan,
merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.
Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi........................................................
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang -kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


PS:
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, atau dua tahun lagi
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi


Mukjizat CInta

Mukjizat Cinta
By: Erwin Arianto
Depok, 8 April 2008

Bulan September waktu itu, ketika aku begitu dekat dengan wanita itu, wanita bernama Tiwi, pratiwi Zakhrotuni tepatnya. aku juga telah begitu dekat dengan dia, tapi tidak disini, tidak di alam ini tapi di alam mimpi. Oleh karena itu, begitu aku dekat dengan dia maka aku berusaha untuk menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku alami di alam itu, tapi terlalu susah untukku mengutarakan semua itu, aku tidak ingin kedekatan ini akan berubah jika aku mengatakannya.

Sudah lama ya, kita tidak melihat bintang-bintang?" kata Tiwi sambil melihat ke arah angkasa. Ke arah langit gelap yang dipenuhi bintang. Menatap bintang-bintang. Juga menatap rembulan.


"Ah, tidak juga," jawabku santai. "Sudah lama!" "Tidak juga." Aku perhatikan Tiwi sejak tadi. Ia terus menerus menatap ke arah langit. Menatap bintang-bintang dan bulan. Menikmati keindahan malam. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan. "Eh, sudah lama ya kita tidak melihat bintang-bintang?"

tanya Tiwi lagi. Sekali lagi ia bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Tidak juga." "Kamu ini bagaimana sih?" "Lho apanya?" "Kita kan sudah lama tidak melihat bintang-bintang di langit?"

"Baru enam bulan yang lalu, Tiwi sayang." "Berarti sudah lama kan?" "Iya deh." Tiwi terus saja menatap ke arah langit. Mengamati bintang-bintang di langit. Mengamatinya satu persatu. Juga mengamati bulan. Tapi ia lebih suka mengamati bintang-bintang. Terkadang ia suka membawa teropong untuk melihat bintang-bintang. Kami memang selalu ke tempat ini. Sebuah tempat terpencil di luar kota dan di bawah kaki sebuah gunung besar. Aku hanya menemaninya saja. Terus terang saja aku cuma suka melihat bintang-bintang tanpa perlu mengetahuinya,

"Hei, aku mengajak kamu ke sini untuk bersenang-senang!" gerutunya kesal. Tiwi bangkit dan berkacak pinggang. Berpaling ke arahku sambil melotot.

"What?" Aku bertanya-tanya. Masih sambil berbaring. Melihat ke atas. Melihat ke bintang-bintang. Juga menatap rembulan. Ia masih saja berkacak pinggang dan cemberut. Aku langsung memeluknya. "Jangan ngambek dong." "Hmmm." Ia tidak menjawabnya, malah tersenyum manja. "Ayo kita lihat bintang lagi." Kami pun berbaring di rerumputan. Kembali melihat bintang-bintang dan menghitungnya satu-persatu. Menatap keindahan bintang-bintang sambil mengunyah biskuit yang kubawa. Betapa indah dan megahnya ciptaan Allah Semesta Alam.

"Hei, lihat ada bintang jatuh!" ujarnya sambil menunjuk sebuah bintang jatuh. Tingkahnya tentu saja lagi-lagi mengagetkan aku yang masih mengunyah biskuit. Hampir saja aku tersedak. "Hmmm." "Make your wish!" "Buat apa?" tanyaku dengan heran, dengan mulut penuh biskuit. "Kata orang-orang kalau ada bintang jatuh, make your wish and your wish will come true!" jawabnya bersemangat. "Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, aku lebih percaya dengan Tuhan." "Lho, apa salahnya?" "Baiklah!" Aku berkomat-kamit tidak jelas layaknya seorang dukun. Dan, supaya Tiwi tidak mengetahui apa yang aku inginkan. "Sudah?" tanyanya penuh selidik. Aku cuma tersenyum. "Bolehaku tahu?" cecar Tiwi. "Tidak boleh dong," jawabku. Masih sambil mengunyah biskuit renyah yang kubawa waktu itu.

Itulah Tiwi wanita bertubuh mungil yang cantik dan selalu riang, selalu penuh dengan cerita-cerita dan terus bersemangat, dan memberiku banyak arti, kata orang aku saat itu hanyalah seorang yang pendiam, dan akupun bukanlah orang yang populer. tetapi tiwi sangat antusias dan ingin dekat dengan ku. Sungguh aku mencintainya.

**************************
Baru sekarang aku sadar sepenuhnya. Ternyata Aku hanya bermimpi. Mimpi menjejakkan langkah kakiku pada waktu lalu. Mimpi menggantungkan rasa ku di kolong langit dalam memandang bintang bersama tiwi. Mimpi menghitung barisan bintang. Mimpi dipeluk hembusan angin. Mimpi bercinta dengan bidadari di sepanjang malam bersama Pratiwi.

Aku terjaga malam ini. Kulihat weker mungilku menunjukkan waktu telah lewat tengah malam. Setengah dua lebih sepuluh menit. Kamar ini masih terang karena belum sempat kumatikan saat aku tertidur sambil mendekap dua lembar kertas surat yang kuterima tadi siang.

Setelah waktu berlalu 22 tahun perpisahan dengan tiwi. Pagi itu, seperti biasanya tak beda dengan sebelumnya. Kalender yang tetap berupa angka-angka, dengan catatan sana sini tentang kegiatan harian Kantorku yang juga tak berubah.

Sesaat aku tertegun dan tersadar melihat tanggal yang sengaja kuberi lingkaran spidol biru. Hari ini tepat ulang tahunku ke empat puluh empat tahun. Hampir saja aku melupakannya. Masih muda, kata Mijan temanku. Banyak penggemar Kamu yang suka bapak-bapak kayak kita lho, matang dan pengalaman, tambahnya sambil tergelak.

Sambil bersandar di kursi, kupejamkan mataku. Waktu melesat secepat anak panah dilepas dari busurnya. Seperti Arjuna menarik Pasupati-nya saat berhadapan dengan Adipati Karna dalam perang Bharatayudha. Begitu juga usiaku. Semakin tua dan tetap sendirian. Hari demi hari yang diisi dengan Menulis, menjadi Wartawan Investigasi Menelisk berita baik di lapangan maupun di perpustakaan. Belum lagi pekerjaan lain yang aku suka, menulis cerpen yang sering bermunculan di media cetak, dan mengundang penerbit untuk menjadikannya kumpulan dalam sebuah buku.

Orang bilang aku gila kerja, tapi aku tak peduli, karena hanya itu yang bisa mengisi hari-hariku yang sepi. Mereka memang tak tahu, aku hanya sendirian di rumah. Pembantuku, Mbak Inah yang rumahnya tak jauh hanya datang pagi dan pulang sore. Aku tiba di rumah sudah malam, dengan lelah yang sering tak bisa mengantarku membaca buku atau Koran. disaat senggang aku sangat menyukai dengan membaca. Tapi tahu apa mereka tentang kesendirianku? Saat aku suka merenung belakangan ini, sambil

Berdzikir dan sholat malam, “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Itulah doa yang sering kupanjatkan setiap malamku tanpa pernah terlewat setiap malamku

Kadang Setelah sholat malam mataku pun sering susah terpejam, dan aku sering membiasakan jemariku mengetikkan kata-kata dalam cerpen. Terkadang puisi yang juga aku suka, dan kuselipkan dalam jalinan cerita tokoh di cerpen. Puisi yang memberi rasa puas diri dari segala sunyi diri. dan mengenang Tiwiku sayang.

Aku tak salahkan mereka, karena memang ini menjadi bagian dari masa silamku yang kusimpan rapat-rapat. Dan kini di saat ulang tahunku yang memang tak mesti dengan lilin atau kue tart, ada rasa nyeri menyeruak di dada. Ya, kesepian ini menghujam tak lagi menanti malam, tapi di saat aku sendiri di ruang kerjaku.

Penggalan-penggalan masa lalu berdatangan tak disuruh. Kadang menjadi utuh seperti puzzle, kadang buyar terlempar ke sana kemari tak bisa kupungut lagi. memang terkadang aku masih teringat Tiwi. wanita yang spesial yang sampai saat ini aku tidak tahu dimana rimba keadaanya.

********************
Sepi apa ini yang kurasakan? Karena tanpa kekasih? Mungkin. Karena pastilah ini berkaitan dengan

Masa lalu yang masih menumbuhkan luka dalam jiwaku. Luka dari dua puluh lima tahun lalu. Ketika aku masih mahasiswa di tahun pertama di suatu Universitas Negeri di Depok dan menjalin kasih dengan Pratiwi Zakhrotuni yang teman sekampus. Gadis cantik keturunan Semarang dengan rambutnya yang sebahu, kulitnya mulus dan bibirnya sensual ini sejak awal memang menarik perhatianku. Sama-sama suka dan menjalani aktivitas di koran kampus, akhirnya dia dekat hingga aku berhasil merebut hatinya.

Kedekatan kami tak cuma dalam kegiatan saja. Bahkan menimbulkan kejadian yang tak terhindarkan. Tiwi hamil setahun kami berpacaran. Cinta kami melenyapkan rasio yang biasanya bertengger di kepala, seperti ketika membahas naskah-naskah koran kampus atau diminta teman-teman senat membuat poster dan spanduk. Ketika kuajak menikah, dia menolak karena tak berani bicara dengan orangtuanya, yang sangat mengidamkan puterinya menjadi sarjana, selain perbedaan status sebagai orang kaya di daerahnya, dan masih keturunan ningrat dari keraton yogyakarta.

Tapi aku tak mau menyerah begitu saja. Kuberanikan diri menghadap orangtuanya, untuk melamar anaknya. Langsung saja aku ditolak, bahkan ditambahi dengan semprotan kata-kata kasar, yang kuterima dengan sabar. Bahkan ketika kakaknya yang berbadan besar seperti petinju hendak memukulku, aku diam saja melihatnya dicegah oleh ayah Tiwi.

Sekembalinya ke Jakarta, saat aku sedang memikirkan jalan terbaik terhadap masalah ini, Tiwi menghilang. Dari beberapa teman dekatnya, tak satupun yang tahu kemana dia pergi. Aku juga tak yakin dia kembali ke orangtuanya.

Sejak itu aku diliputi rasa bersalah dan kehilangan yang sangat. Kuselesaikan kuliah Akutansiku dengan lebih cepat dari yang kurencanakan. Lalu aku mengajar di suatu media cetak nasional sebagi wartawan, sambil terus menulis. Aku juga terus melacak keberadaan Tiwi, hingga ketika menghadiri suatu simposium tentang Akutansi Keuangan Daerah, saat otonomi daerah di indonesia mulai tumbuh. yang berlokasi Di Semarang, kusempatkan ke rumahnya. Sia-sia juga, karena diberitahu oleh adiknya jika Tiwi tak ada di rumah, lalu pintu itu langsung ditutupnya dengan pandangan curiga.

Di tengah keberhasilanku menggondol gelar sarjana, dan dengan waktu tak lama menjadi pegawai tetap di Media tersebut, tekanan batinku tak juga lenyap. Tiwi selalu hadir dalam mimpi-mimpiku, di tengah rasa berdosaku. Kuhamburkan waktuku dengan sibuk mencari berita dan menulis cerpen, yang hampir tiada hentinya. Bahkan, aku berhasil menelorkan dua novelku yang makin membuat namaku dikenal di ranah sastra.

Aku, Bayangan Tiwi, dan Gugusan Gemintang malam Tak ada kata apa-apa yang mampu untuk kuucapkan. Hanya angin yang masih mau berhembus mengelus-elus aku bahkan merasakan suatu memori masa muda yang sangat indah ketika bertemu dengan Tiwi Aku serasa ingin mendekapnya untuk sekian lama, untuk mengobati kehilangan setelah sepuluh tahun tak bertemu.

Pernah memang kuisi sepi itu dengan mengencani penggemarku yang memang kebanyakan wanita, atau wanita muda yang makin berani menunjukkan minatnya terhadap lelaki. Benar kata Mijan, mereka suka pria dengan kematangan yang tak ada pada diri teman sebayanya.

Namun, tetap saja Tiwi menjadi bayangan yang tak bisa hilang dari diriku. Upayaku tak henti untuk mencari kabar tentangnya. Tapi sepertinya dia lenyap ditelan bumi. Tak satupun yang mampu tahu dimana dia kini. Rasa putus asa telah melanda diriku.

Dunia yang menyesakkan. Kadang aku merasa ingin lari-keluar batas dari limit waktu , mengembara-kemana saja. Ke seluruh penjuru dunia. Mengikuti angin yang berhembus. Mengikuti arus air di sungai. Mengikuti goyangan kelepak sayap burung-burung.

Hanya Mijan yang tahu keadaanku, tapi juga tak berdaya. Aku ingat, ketika dia menikah dan aku datang menyalaminya, dia memelukku dengan erat. Lalu sambil bercanda kepada isterinya dia berkata,”Dik, coba carikan dong jodoh buat kawan kita ini.” Saat itu aku hanya nyengir kuda saja, sambil berpamitan karena ditunggu teman-teman wartawan lainnya.

Harus kuakui, meski bercanda tapi ucapan Mijan terasa menusuk hati inijuga membuatku ingin membagi sepi ini. Tapi lagi-lagi aku alami kegagalan. Sempat aku dekat dengan Risna, Febi, Dwi dan Santi tapi mereka tak mampu menepis kehadiran Tiwi. Kadang jika aku putus dengan salah satu wanita itu, Mijan biasanya meledekku sebagai wartawan playboy yang tak Cuma jadi favorit wanita, malah ibu-ibu pun suka. ucap mijan.

Kujalani semua ini seperti sungai yang mengalir mengikuti kelokannya. Ibuku di sudah berulang kali menanyakan kapan aku memperkenalkan calon menantunya, tapi tetap kujawab dengan Gampanglah, nanti pasti ada”. Maklum saja, sebagai anak pertama dengan tiga adik yang semuanya sudah berumah tangga, ibu cemas dengan keadaanku yang masih betah membujang. Apalagi aku anak kesayangannya, pengganti bapak yang sudah meninggal ketika menjalankan tugas sebagai tentara waktu perang ke Aceh.

Tentu saja tak pernah kuceritakan pada ibu, kenapa aku belum juga berumah tangga. Biarkan mereka menduga aku belum menemukan wanita yang cocok, meski beberapa kali ketika aku pulang, ibu danlainnya pernah memperkenalkan aku dengan puteri-puteri kenalan mereka, maksud ibu untuk menjodohkan aku.

Kini, saat kulihat kalender tadi dan ulang tahunku tiba tanpa ada suatu apapun yang bisa kubagi dengan orang lain, kurasakan suatu perasaan yang menimbulkan lubang dalam jiwaku.

Apakah jalan hidup yang kupilih selama dua puluh lima tahun ini betul? Kalau ya, kenapa aku menutup hati setiap datang wanita lain. dan aku sering bergumam sendiri "Perhatikanlah dunia yang tertawa. Dengan senang hati, tanpa adanya dirimupun kehidupan terus berjalan, masih berlangsung. Dan, dunia masih terus berputar. Kadang-kadang kita merasa sedih, ada atau tidak ada diri ku sama saja. Seperti aku diacuhkan. Sepertinya aku tak berarti lagi. Sebab, kehadiran tanpa bentuk jiwa ,sangatlah tidak mengenakkan suasana."

**********************
Ketika aku terus melamunkan hal itu, dan merasa tenang tanpa gangguan dari Rekan kantor lain. seperti biasanya, aku agak melonjak kaget ketika pintu ruang kerjaku diketuk. Segera kusahut untuk masuk saja karena pintunya memang tak pernah terkunci.

Salah satu wartawan baru, yang cantik dengan rambutnya dikepang, kalau tidak salah dia pernah ikut aku dalam mencari berita di lapangan masuk dengan langkah pasti setelah menutup pintu ruang kerjaku kembali. Aku kenal dia, Leika Pratiwi Subaeriadi namanya karena pernah menilai hasil tulisan beritanya, yang menarik dan cerdas. dan aku suka wanita yang pintar.

Pada awal mengenal lieka, aku sempat bergumam dalam hati Subaeradi, sebuah kemiripan dengan nama belakang ku Mohammad Asrulius Alexsander Sobaeradi. memang nama ku panjang, mijan sering meledek aku engga nikah-nikah karena kepanganjangan nama. dalam hati berkata "ah, nama Sobaeradi, kan banyak, Lagian kan ejaannya beda, Aku Sobaeradi dan dia Subaeradi" pikirku menepis pikiran aneh yang terlintas di benakku

“Pak, maaf jika saya mengganggu, bolehkah saya minta waktu sebentar soal tulisan berita” ucap laika kepadaku

“Silahkan,” kujawab dengan pendek. Lama-lama menatap wajah leika yang lonjong dengan tahi lalat

dekat bibirnya, kulitnya yang putih mulus dan bibir semanis madu ini, membuatku agak tertegunsejenak. Tapi segera kutepiskan pikiran macam-macam dari diriku, karena ada sesuatu yang melintas entah apa.

“Saya merencanakan membuat Berita Korupsi ini,”katanya dengan suaranya yang lembut. “Saya ingin Bapak menjadi Penasihat Berita saya. Itu jika Bapak bersedia, dan saya harapkan sekali kesediaannya, Karena bapak adalah wartawan senior di kantor ini.”

“Apa Beritanya bisa menjual " tanyaku Kepada Leika

Dengan lugas dia sampaikan tema yang akan dibahasnya, tentang kondisi korupsi seorang Anggota DPR yang ditanggkap Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dikaitkan dengan problema sosial saat ini. Aku suka pemilihan temanya, yang kurang banyak dilirik oleh wartawan lainnya. Apalagi semangatnya tampak sekali ketika memberikan penjelasan disertai gerak tangan yang lincah percaya diri.

“Kenapa tertarik memilih tema ini?”

“Menurut saya, Korupsi ini fenomena yang menarik untuk diamati, dan mempunyai nilai jual tinggi pak. dan masalah korupsi saat ini sangat diminati oleh para pembaca berkait dengan semaraknya korupsi Di Indonesia, dan saya menambah kan dampak Korupsi dalam Pembangunan kehidupan bermasyarakat pak, itulah alasan saya, memilih berita ini utuk di cetak pada edisi besok.”

“Jika begitu, buat saja Draftnya seperti biasa, dan nanti tolong kasih saya ya ” kataku sambil sembunyikan kekagumanku atas argumentasinya itu.

Tak menunggu lama, leika segera mengirimkan draf rancangan dari map merah jambu yang diambil dari atas meja kerjanya Hmm….aku suka anak ini, gesit dan percaya diri. “Ini, Pak, silahkan periksa,” ujarnya.

Sepintas saja aku sudah tahu, pola pikir dan alur pemikirannya runtut serta sistematis. Pantas anak ini bisa di rekrut menjadi wartawan di media ini oleh bagian HRD, apa yang ada di dalam tulisan berita ini menggambarkan kecerdasannya.

“Jika Bapak setuju, saya minta bapak untuk menandatangani draftnya Tulisan ini bisa segera diberikan kepada dewan redaksi,” tegasnya.

“Baguslah jika begitu. Ada lagi yang ingin leika tanyakan?” kataku karena ingin segera mengakhiri percakapan itu, dan kembali kunikmati sepi. Seperti kata ibuku bulan lalu, ketika aku menjenguknya setelah mendapat sms dan telepon berkali-kali yang mengabarkan beliau sedang sakit.

”Merenunglah dalam usiamu sekarang, apa yang sudah kamu lakoni dalam hidup ini. Cobalah melihatnya dengan kaca mata jernih, dengan kata hati bening dan menyeluruh.”

“Ya, pak. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak.”Tutur Wartawati baru tersebutAku tertegun. Kukembalikan handphone ke saku celanaku, setelah aku ingin mengirim sms kepada adikku, bertanya tentang keadaan ibu. Seorang wartawan junior yang baru kukenal ini tahu hari ulangtahunku? Apakah dia mau mencari simpati, merayu dalam bentuk lain. Ah tidak, pikirku tak percaya, karena dia tampak gadis yang baik-baik, tak ada tatapan nakal di matanya yang indah.

“Kamu tahu darimana jika saya berulang tahun hari ini? Jika dari buku novelku, rasanya tak tercantum di situ tanggal lahirku? Apakah dari Artikel, atau dari bagian HRD" Tanyaku

“Coba beritahu, darimana kamu bisa mengetahui jika hari ini ulang tahun saya? Apakah Pak Mijan yang membocorkannya?” tukasku sambil membayangkan Mijan pasti ngiler melihat kecantikan wartawan baru yang satu ini. Tapi kenapa kok dia tak pernah memberitahu jika ada bunga cantik seperti leika ini.

“Bukan,pak. Saya tahu ulang tahun Bapak dari beberapa orang yang dekat dengan saya.”

“Heh….” Kataku sedikit terkejut

“Benar,pak. Saya tahu sudah lama, bahkan sebelum menjadi wartawan di media ini.”

“Saya selalu menulis ucapan selamat ulang tahun kepada Bapak. Ada yang di kartu pos, ada yang dalam bentuk surat. Pernah membuat puisi, tapi saya tahu bahwa saya tidak punya bakat seperti Bapak.” Tutur Leika

Kalau tadi aku tertegun, kini aku terkejut. Padahal aku termasuk orang yang jarang terkejut. Jarang ada hal-hal yang mampu membuatku terkejut. Aku selalu tampak tenang menerima kabar apapun, jarang terlihat terkejut atau panik. Aku ingat, saat kuliah teman-temanku menjuluki sebagai manusia es, karena aku terlalu dingin. Tapi bagaimanapun, ini mengherankanku. Karuan saja aku memusatkan perhatianku, ingin tahu lebih lanjut terhadap apa yang akan dikatakannya.

“Siapa saja mereka itu, apakah saya mengenal mereka?” kali ini suaraku terdengar tak sabar.

“Pastilah Bapak mengenal mereka. Kakek dan Nenek saya, lalu Ibu saya….”

“Mereka kenal aku?” kupotong perkataannya dengan suara agak keras.

“Sangat kenal.”

”Siapa mereka?”

“Kakek saya Sasongko Sastrowijoyo, Sedangkan Mama saya Pratiw…”

Sebelum gadis itu selesai bicara, aku yang tadinya berdiri karena penasaran atas ucapannya, langsung saja terduduk dengan wajah pucat. Kepalaku seperti dipasang kitiran, berputar-putar tak karuan. Gadis ini anak Pratiwi? Siapa ayahnya?

Setelah susah payah kutata perasaanku, kutatap mata leika lekat-lekat. Ya, mata ini kukenal sebagai mata Tiwi, sedangkan hidung ini…yang mancung dan bagus, yang dulu sering kuelus.

“Jadi kamu puteri Pratiwi? Berapa saudaramu, lalu di Jakarta sini dengan siapa? Oh ya, ibumu dimana sekarang, di Semarang?” beruntun kuajukan pertanyaan padanya. Tak kupedulikan lagi urusan Berita, karena berita tentang ibunya saja sudah membuatku hampir terkapar saking kagetnya.

“Iya, Mama ada di Semarang bersama Kakek. Mereka baik-baik saja. Saya tidak mempunyai kakak atau adik, karena anak mama ya Cuma saya ini.”

“Lalu…hmmm”

“Papa saya adalah Bapak.” Kata leika seperti bisa membaca kelanjutan pertanyaanku, dan menjawabnya dengan tegas. Kepalaku kembali berputar, kali ini kuraih bibir meja agar tidak jatuh. Dengan sigap leika berdiri, memegang tanganku lalu memelukku.

“Papa…,” bisiknya dengan suara bergetar. “Saya memang sengaja mendaftar kerja di sini untuk mencari pak Sobaeradi, melihat anda dari dekat. bahkan tanpa sengaja saya memilih anda sebagai penasihat warta saya. Sebetulnya ingin saya katakan nanti saja, tapi entah kenapa sedari tadi saya tadi tak bisa menahan diri.” ucap leika dengan cerdasnya

Mendengar itu aku langsung memeluk leika, dan tak kupedulikan apakah tangisanku terdengar dari luar ruang kerjaku. Seperti kukuras semua kepedihan dan kesepianku. Kutumpahkan semuanya di wangi

rambutnya. Bagai mendekap anak kecil, leika mengelus-elus rambutku sambil terisak. Dipanggilnya aku beberapa kali sambil terus menangis.Setelah dilihatnya aku mampu menguasai diri, leika berkata lagi, masih dengan suara menggeletar.

“Papa tahu, sejak pergi dari sini, Mama pulang ke Semarang dan meski dimarahi habis-habisan tapi tetap tak mau menggugurkan kandungannya. Dia tak mau membuang bayi itu, tak mau membuang saya. Kakek dan Nenek akhirnya luluh, apalagi setelah Mama menyatakan kesanggupannya untuk terus kuliah hingga meraih gelar sarjana di Universitas Negeri di Semarang. Tapi kekerasan hati mereka tetap tak terusik untuk mau mengakui Papa sebagai menantunya. Demi saya, Mama akhirnya mengalah dan tak mau memberi kabar kepada Papa.”

“Selalu dikatakannya, saya adalah buah hati dengan lelaki yang dicintainya. Mama menangis habis-habisan ketika Papa pernah datang ke rumah, dan diberitahu oleh Oom kalau Mama tak pernah ada di rumah lagi. Saya ingat, ketika itu Mama mengurung diri hingga berhari-hari.”

Aku terdiam. Sungguh, aku tak menyangka jika Tiwi berkeras kepala mempertahankan bayi yang dikandungnya. Kubayangkan, betapa dalam penderitaannya dalam usia muda harus melahirkan tanpa suami, lalu meneruskan kuliah dengan bayi di rumah. Dan Betapa besar rasa cinta Tiwi Kepadaku.

“Papa, kembalilah kepada kami. Mama tak pernah menikah, karena dia selalu yakin bahwa Papa juga melakukan hal yang sama.”

Aku tertunduk, ucapan leika begitu menyayatku. Tiwi ternyata memegang teguh kesetiaan yang pernah diucapkannya, ketika kami pertama kali melanggar larangan itu. Ketika aku melontarkan cemburuku melihat banyak mahasiswa lain, bahkan yang senior tak henti menggodanya. Dan saat kami senang untuk melihat bintang.

“Kami tahu adanya Papa ketika suatu hari televisi menayangkan wawancara Papa sebagai nara sumber. Sejak itu, Mama selalu rajin mencari tahu, bahkan sampai membeli buku novel Papa di jakarta karena di Semarang waktu itu belum ada toko buku yang mengedarkanya.”

“Saya sendiri akhirnya minta ijin mama dan kakek untuk bisa melamar di perusahaan ini, saat perusahaan media ini menulis membutuhkan seorang wartawan. Mama mengijinkan, sambil berpesan agar jangan buru-buru membuka identitas diri. Kakek juga berpesan, agar membawa Papa ke Semarang karena mereka sudah lama mencair kekerasan hatinya. Mereka tak peduli Papa masih miskin atau tidak.”

Sambil berlinang air mata, kuanggukkan kepalaku sambil membentangkan kedua tanganku lebar-lebar, dan kembali memeluknya dengan air mata yang terus mengalir. Akhirnya aku dan Laika Segera pulang ke Semarang untuk menjemput tiwi.

Aku, Tiwi, dan Leika ditemani gugusan bintang yang kami lihat malam itu semua hanya diam. Tak ada kata apa-apa yang mampu untuk kuucapkan. Hanya angin yang masih mau berhembus mengelus-elus Awal pertemuan tadi bagiku sangat-sangat mengharukan, aku bahkan merasakan suatu memori masa muda yang sangat indah ketika bertemu dengan Tiwi Aku serasa ingin mendekapnya untuk sekian lama, untuk mengobati kehilangan setelah Dua Puluh lima dua tahun tak bertemu. Kini aku telah menjadi seorang ayah dari seorang yang amat ku cinta. "Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj'alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin. Allhamdulilah Atas semua Karuniamu yang luar biasa untuku Ya Allah." Lafal doakku dalam hati

Sepasang tangan menyentuh siku, membimbing aku berdiri. Tak percaya saya melihat, wajah putih bersih Tiwi muncul di hadapan Ku, Setelah berpuluh-puluh tahun. Kapal sudah tertambat dengan rapi, tanpa butuh tiang pancang. Jangkar sudah diturunkan dengan doa abadi. “Apakah kau bersedia, menerima kapal butut ini jadi mahar untuk menikahiku dan pria biasa ini jadi suamimu?” ujar aku kepada tiwi. Tak ada yang mampu berkata apa-apa lagi. Dalam hati penuh Hamdallah, wujud fisik hanya mampu bertukar dua senyum bahagia dalam siraman rahmat. Harumnya serbuk bunga yang menyelamati kami, tak seharum ijab kabul yang menunggu setelahnya. “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak.” Alhamdullilah, Terima Kasih ya Allah atas Mukjizat Cinta Mu

Depok, 8 April 2008

Pergilah Cinta

Pergilah Cinta
By: Erwin Arianto
Depok, 4 April 2008


Waktu terasa begitu cepat jalannya. Sebentar lagi dia akan berusia 35 tahun. Dan teman-teman lainya sudah asik menimang-nimang anak. Di dalam hati ada kesepian yang sangat. sebenarnya akupun membutuhkan perhatian dan cinta. Namun aku takut memulai. Tak banyak wanita yang ku kenal di sekeliling hidupku. mungkin aku telah patah arang.

Benar kata orang, bila wanita putus cinta, mereka akan bertambah cantik dan bertambah gaya. Bila pria putus cinta makin kusam, hidup ngak teratur dan tampang makin jelek. Itulah yang terjadi pada ku. dalam Masa 3 tahun bersama Wina hilang begitu saja, saat Wina mengabarkan dia menerima tunangan dari mamanya. Baginya itu adalah alasan yang dibuat-buat.

"Wahai jiwa yang berada di dalam rasa dan diriku, apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sehingga aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku ? Apakah aku adalah orang yang selalu berpikir picik dalam kehidupan ini? Apakah aku terlalu egois terhadap diriku sendiri?" pertanyaan batin ini menyeruak dan bermain dalam lamunan hati aku pun bertambah hancur.

Ini adalah cinta ke 2 yang kandas. Satu tahun aku menjadi kacau sampai-sampai aku pernah hampir di PHK dari pekerjaan. Sebab jarang masuk kerja dan kalaupun masuk ngak ada kerjaan yang beres pada waktunya. Untunglah atasanku sangat baik padaku dan sering memberi semangat hidup. Kebiasaan minum di bar sudah setahun ini dia hentikan. Dan dia tidak pernah bikin malu lagi dengan teller di bar atau di jalanan.

sering Gelap dalam pikiranku tak seperti terangnya sinar matahari. Kulihat cahayanya menyilaukan mata, panasnya membuat dahi mengeluarkan keringat. Aku hanya bisa mengusap keringat itu dengan lenganku sebagai tanda bahwa aku kelelahan. Mana sempat aku bawa sapu tangan dari rumah dengan kondisiku saat itu. "Ya Allah, sepertinya aku tak sanggup lagi menahan semua ini",
begitulah gelora dalam batinku.

*****************

Pukul tujuh sore telah tiba, akupun buru-buru pulang untuk menepati janjiku harus bertemu dengan wina di sebuah resto favoritku. Dan Kamipun duduk berdua di sebuah meja makan. Untuk makan malam.
Cahaya lampu neon berubah wujud wina menjadi bidadari cantik, menggetarkan hati ku. Begitulah kiranya hasil proyektor otak ku. Kulitnya yang putih tak mungkin terbakar oleh sinar itu, , saat-saat seperti ini hatiku

membutuhkanmu untuk memadamkan asmara yang kian memuncak ketika aku merindukanmu setelah 3 tahun berlalu. Isi hatiku pun tak mampu keluar dari mulutka. Ah, yang bisa dilakukannya hanya diam, bicara hanya mampu melalui mimpi atau saat Ia lagi sendiri.

Wina ternyata telah berubah, makin gemuk dan wajahnya tak secantik dulu. Ada raut penderitaan di bola matanya. Setelah selesai makan merekapun bicara ke inti persoalan. Tak terasa ada air mata di wajah Wina. aku pun mendadak terharu. Cerita yang dia lontarkan cukup mengagetkan ku. Aku berpikir Wina pasti bahagia hidupnya.

Ternyata tak seperti perkiraanku. Suaminya ternyata seorang don juan. Punya banyak simpanan wanita. Jarang pulang dan kalau pulang pun hanya pertengkaran yang ada. Sejak anak pertamanya lahir suaminya berubah. Kasar dan suka memukul.

aku hanya terdiam dan tak sanggup berkata. aku adalah orang lain sekarang bagi Wina. Dan semuanya tak akan bisa kembali seperti dulu. aku sadar, tak baik bagiku menjadi orang ketiga di keluarga wina. Itu akan menambah persoalan baru.

Lamunanku kembali buyar.wina menyadarkan aku, mungkin karena hatiku menghibur diriku yang selalu kesepian ini, membuatku dapat tersenyum cerah tanpa beban dihadapan wina.

"gus..maafkan Wina ya. Wina telah menghancurkan hati kamu, dalam hati kecil Wina, Wina masih mencintai kamu. Dan tak akan hilang sampai kapan pun, terimakasih kamu telah mau menemani malam ini". Wina pun mencium pipi ku sebelum berlalu naik taxi pulang.

Tanpa terasa hari sudah kian malam, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. waktu yang sempit sekali pun harus kusyukur

rembulan malam tepat berada di tengah-tengah ketika nada-nada itu tiba-tiba lenyap digantikan keheningan yang luar biasa. Keheningan yang membawaku menyadari ternyata aku benar-benar sendiri, dan aku yang telah terbiasa sendiri ini menjadi ketakutan, bukan takut karena aku seorang diri disini, tapi takut dengan kesendirianku yang selalu menyendiri, seperti sekarang ini. Aku tetap terdiam merenungi kesendirianku, kenapa aku selalu ingin sendiri ? dan berulang kali aku mencoba untuk bisa hidup dengan orang lain ternyata tetap tidak nyaman tidak seperti ketika aku sendiri. Mungkin aku selalu merindukan kesendirianku.

Aku termenung…aku tak tahu mesti berkata apa. aku pada posisi yang salah. Bagaimanapun rasa suka masih ada. Tapi cinta nya telah hilang buat Wina.Saat aku pulang samar-samar di radio di mobilku terdengar lagu dari "Selamat jalan kekasih... Manis yang berujung perih...Kisah ini terlalu indah tuk jalani ini semua". Tanpa sadar air mataku menetes di pipi. "Tuhan…kuatkan iman hamba" aku berdoa. Dan aku sadari aku pun tidak bisa memiliki wina ku lagi.. pergilah biarkan ku nikmati indah dirimu hanya dalam bayang-bayang sepi.

Aku terus berdoa kepada Allah. "Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih" biarkan aku ikhlas dalam melepas wina. takdirmu adalah nya segalanya bagiku. Pergilah cinta dengan rasa yang selalu kujaga. raihlah hidupmu. bukankah cinta tidak harus selalu memiliki. hanya pikiran itu yang ada di benak ku kini.

cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan kisah adalah tidak disengaja. Saran dan kritik dapat dikirim ke Erwinarianto@ gmail.com

Depok 3 April 2008




Auf Wiedersehen meine Liebe (selamat tinggal kekasihku)
By: Erwin Arianto
Depok, 2 April 2008


Kuhembuskan nafasku untuk kesekian kalinya. Kemudian, seakan ada angin segar yang masuk ke dalamjiwaku. Kucari angin itu dalam relung-relung tersembunyi, kutemukan ia di sana, dan memanggilku.Ya, aku tahu bahwa saat ini aku tak sendiri, masih banyak hal yang menyertaiku sampai ujung perjalanan ini.

"Bruk.." aku menabrak seorang wanita dengan mobilku, entah karena banyak fikiran yang menggangguku membuat aku tidak konsen dalam mengendarai mobil ini. "Mba maaf ya, engga pa-pa kan" tanyaku kepada wanita itu yang aku tabrak.

"engga pa-pa kok pak" jawab wanita itu, "saya antar kerumah sakit ya" permintaan ku sebagai rasa sesalku akibar kecerobohan ku, "tidak usah, aku tidak apa-apa" jawabnya dengan lembut, "ya sudah aku antar kamu ke tempat tujuanmu ya" aku ucapku. Akhirnya wanita itu pun ikut dalam mobilku ke rumah sakit. "namaku Fachrizal Legowo" sambil aku menodorkan tanganku kepada wanita tersebut. "aku Citra Putri Rijkiah" jawabnya "Anda, saya mau antar kemana, maaf ya saya tadi lagi bengong, kamu tidak apa-apa?" tanyaku kepada citra. "tidak apa-apa, tolong antarkan aku ke kos, aku hanya sedikit terkilir saja" ucapnya. "itu belokanan masuk gang mesjid, rumah yang coklat ya pak" penjelasan wanita tersebut tentang rumah kosnya.

"biar aku bantu, kubawakan tasmu, dan kupapah kamu sampai ke ruanganmu" pintaku, "Baiklah" citra terujar. dan akupun membantu citra sampai ruanganya, setelah itu aku menawarkan untuk membawa citra untuk ke tempat urut yang terkenal. "maaf aku pulang dulu, sudah malam, aku harus menjemput kekasihku di kantornya" ucapku pamit. "Baiklah terimakasih ya" ucap citra kepadaku.

Akupun melaju mobil ku ke kantor kekasihku kania di bilangan sudirman, "Halo, sayang aku sudah piparkiran ya" aku menelphone kania, "oke aku turun sayang" kania segera menhampiri ku. Aku dankania telah berpacaran selama 2 tahun, kania adalah anak seorang yang berpunya dengan sikap keraskepala dan sedikit egois. "kok telat sih sayang' tanya kania kepadaku" iya tadi aku sempat nabrakorang dan aku harus mengantar orang tersebut dulu sayang" ucapku kepada kania

setelah hampar dua jam di rumah kania, aku pun segera pamit pulang " sayang aku pulang dulu ya"aku pamit kepda kania, "iya hati-hati ya, nanti kamu dimariahin mas zakaria" nasihat kania kepadaku. "Iya aku harus kembaliin mobil ini tepat waktu, bye sayang."

Aku tak tau sudah kali keberapa kuhembuskan nafasku pada hari ini. Entah mengapa, aku merasakan ehampaan yang membuat hidup ini seakan tidak bermakna. pukul 10.00 aku sampai di depan rumah. sebuah rumah sederhana dimana aku tinggal bersama ayahku, ibuku telah meninggal ketika melahirkan
aku. aku hidup tinggal berdua dengan ayah. 2 kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan ku sudah
menikah. kini ayah berusia 48 tahun, kata ayah dulu dia menikah muda usia 16 tahun.

"assalamualaikum.." aku mengucap salam, memasuki pondok ku tercinta, "wa'alaikum salam.." jawab ayah membukakan pintu. "ayah sudah makan malam belum" tanya ku kepada ayah, aku begitu mencintai ayah karena dia yang mendidiku hingga saat ini. dia dulu dtemani kakak-kakaku sebelum mereka menikah."Ayah belum makan Jal, ayah hari ini tidak memasak nak, males makan sendiri" kata ayah kepadaku. "yuk kita makan yah sama ijal" ajakku kepada ayah.

"wah makannya enak ya jal, kamu beli dimana" tanya ayah kepadaku, "ijal di kasih kania yah" aku menjelaskan, "kania baik ya jal" ucap ayah lagi, "iya walau sedikit keras kepala dan egois" cerita ku kepada ayah, "Wanita seperti itu jal, tapi ibumu dulu seorang wanita yang lembut jal"
ayah bercerita sambil matanya menerawang. "yah, mungkin lebih baik ayah menikah lagi biar ada yang menemani ayah, ijal engga, pa-pa kok, lagian kan mas zakaria, mas bayu, Mba istifadah, Mba asmarani juga setuju kalau ayah menikah lagi" aku sedikit berbincang kepada ayah, dan ayah hanya menjawab dengan sebuah senyum.

*********************

hari ini hari minggu, aku bangun kesiangan, dan aku juga janji dengan citra orang yang kutabrak untuk mengantarnya pijit di tempat langgananku yang memang ahli dalam memijit/urut. karena kaki citraagak keselo karena aku tabrak kemarin. aku segera mandi dan menyambar kunci mobil mas zakaria yang belum aku kembalikan kerumahnya.

"assalamualaikum.." aku mengetok pintu kos temapat citra berada
"waalaikum salam" citra membukakan pintu

kami pun segera melaju kan mobil ke tempat yang dituju, dalam perjalanan kami banyak bercerita bertukar fikiran, citra seorang yang luwes. Entah mengapa wanita ini mempunyai daya tarik tersendiri buatku. Dia cantik kah ? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab iya terhadap pertanyaan tersebut. Tetapi yang aku perhatikan adalah tingkah lakunya yang terbilang unik. lembut dan penuh kasih sayang. seperti yang bapak sering lukiskan tentang ibu, aku merasakan erbedaan dengan kania, ya kania orang yang egois dan keras kepala.

"kamu dah baikan, sakit engga setelah diurut tadi" aku bertanya kepada citra, "tidak Sakit, sudah baikan, terimakasih ya jal udah nganterin aku di urut" citra mengucapkan terimaksih kepadaku, dan kali ini hatiku kembali membandingkan bahwa kania hampir jarang mengucapkan terimakasih kepadaku. 'iya engga pa-pa aku bertanggung jawab karena telah menabrakmu" jawabku

Dalam proses penyembuhan kaki citra, aku harus kembali ke tempat urut 3 kali lagi, dalam proses mengantar citra, aku mulai merasakan benih-benih cinta bersemi diantara kami, citra berbeda dengan kania, begitu argumenku dalam hati membela diri atas perasaan ini.

Pulang mengantar citra aku bermain kerumah doddi sahabat karipku semenjak smu. "Dod, gue jatuh cinta lagi, sama cewek namanya citra" jelasku kepada dodi, sahabat karib ku, terus kania gimana" tanya dodi kepadaku. "Kania, aku bingung dod" jelasku kepada dodi. "gila loh jal, masa punya dua cinta sih. engga mungkin loh" dody menjelaskan kepadaku.

"jal ada informasi beasiswa s2 nih ke German, mo ikut engga loh, ini informasinya" tanya dody kepada ku, sambil menyerahkan sebuah selebaran kepadaku. "oke dod, gue pulang dulu ya, thanks informasinya" dan aku pun ngeloyor pergi dari tempat doddy.Aku memang memimpikan untuk bisa mendapat s2 di german.

Setelah itu aku Menemui kania. Aku beritahukan informasi tentang keinginanku untuk mencooba ikut test beasiswa s2 di german, "sayang aku mau coba ikut beasiswa ke german, aku ingin kuliah disana seperti bapak Habbie, idolaku" jelasku kepada kania, "mas jangan kejerman, kamu lanjutin kuliah disini aja ya, nanti aku minta ayahku membantu kamu untuk biayanya, aku engga mau jauh-jauh dari kamu" kania melarang aku ikut beasiswa itu. "tapi ini mimpi aku kania" jelasku kepada kania. "Pokoknya tidak boleh, titik" kania dengan muka kesal melarang aku mengikut kuliah di jerman. dan kala itu kami pun bertengkar. ini adalah salah satu contoh ke egoisan kania.

**********************

Kesokan harinya ketika aku dan ayah sedang duduk di teras rumah untuk berbincang, aku kemukan keinginan ku untuk kuliah di german "yah kalau aku ingin mengambil kuliah s2 di german boleh..." tanya ku kepada ayah, "boleh, tapi mang kamu punya biaya jal, ayah tidak sanggup membiayai kamu, ayah cuma seorang dosen nak" ayah mengingatkan biaya yang besar. "ijal sedang mendaftar beasiswa untuk kuliah di jerman yah, biar pintar seperti pak habibie yah' jelas ku kepada ayah. Ayah tahu aku begitu mengidolakan Habibie dari aku kecil."Alhamdulillah nak, semoga kamu dapatkan beasiswa itu ya" ayah memberi ku dorongan kepadaku.

Dua hari setelah perbincangan dengan awah, kini waktu untuk untuk mengantar citra untuk urut kembali. entah mengapa waktu bersamanya waktu yang berharga, dan sepertinya sudah ada butiran kasih antara aku dan citra, walau tidak sempat terucap dalam untaian kata.

"senangnya bisa bertemu kamu kembali dengan mu citra" aku mencoba menggoda citra, dan mukanya merona merah. "hari ini aku terakhir di urut ya mas, kakiku sudah kembali sembuh" ucap citra kepadaku. "masih bolehkah aku tetap bersahabat dengan mu citra" aku bertanya kepada citra sambil ku genggam tanganya dengan erat. citra tersenyum, "Mas ingat kamu dah punya pacar, nanti aku dimarahi sama kania" citra berkata kepadaku.

"tapi jujur citra, dalam hati ini aku menyayangi mu citra" entah keberanian dari mana tiba-tiba aku mengatakan isi hatiku kepada citra. dan ku kecup tangan citra saat itu. "mas maksudnya apa,jangan mas, aku takut mas, aku juga mencintai kamu, tapi kania mas, kekasih kamu, bukan aku" citra berlinang air mata. tak kusangka citra pun memendam rasa yang sama kepada ku tetapi dia masih menghargai kania.

Hari ini aku mengikuti tes beasiswa untuk ke german, kania tidak menemaniku karena dia tidak
setuju aku untuk belajar di german, dan aku meminta citra untuk menemaniku, citra dengan setia menemaniku untuk mengikuti tes itu. "mas ijal, berjuang ya mas, semoga kamu berhasil mas" ucap citra kepadaku dengan penuh kelembutan yang membuat aku semangat untuk mengikuti tes itu.

************************

Sebulan setelah tes beasiswa berlangsung, dan hari ini adalah hari pengumumam kelulusan atas beasiswa itu. ternyata aku lulus, dan enam bulan lagi aku berangkat ke jerman. dan aku pun mengikuti program pelatihan bahasa german selama enam bulan. aku mengurus pasport, visa dan eperluan lainnya.

Aku dan dan citra semakin dekat, "citra, kita nonton yuk di atrium senin" tapi pulang kerja aku
ya, ajakku, kepada citra, dan aku semakin dekat dengan citra, "tert..tert" hap ku bergetar, dari
kania, "mas kamu dimana, kok engga jemput aku" suara kania dari seberang telp. "maaf sayang akuhari ini lembur banyak kerjaan, menjelang akhir bulan, harus closing" ucapku berbohong kepada kania,dan tanpa sepatah kata lagi telp tersebut dimatikan oleh kania.

"siapa mas yang telp" suara lembut nan teduh dari citra menanyakan kepadaku, siapa yang barusan menelphone ku. "dari kania, dia minta di jemput" kata ku kepada citra. "mas aku merasa bersalahkepada kania" citra berkata dengan mata penyesalan "sudah lah, cit, aku lagi kesal dengan dia, dia tidak memperbolehkan aku untuk menggapai mimpiku" jawabku. aku dan citra melanjutkan menonton film tersebut.

Dalam periode 6 bulan menjelang ke berengkatan ku ke german aku harus mengikuti kursus bahasa german, pada saat aku mendaftar kursus bahasa german pada suatu lembaga bahasa, ternyata citra ikut mendaftar. "kenapa kamu ikut mendaftar kursus bahasa german" tanyau dengan muka bingung ke citra. "tidak, aku hanya ingin belajar saja, aku menyukai bahasa german yang memang sulit dalam pengucapannya" jawab citra.Berbeda dengan kania yang melarangku untuk mengambil beasiswa s2 ku di german, citra sangat mendukung impianku ini.

Kania, mungkin bagi kebanyakan orang, aku sangat beruntung mendapatkannya, dia wanita yang cantik, dengan rambut panjang, mata yang indah, dan bibir yang menawan. dan terlahir sebagai anak tunggal dari seorang jendral dari TNI angkatan darat, dan ibu seorang pengusaha makanan. bagi sesorang yang menginginkan wanita yang cantik dan kaya, mungkin kania ayuningrum adalah wanita yang banyak diinginkan orang, tetapi sifat angkuh dan egoisnya yang membuat kami sering bertengkar. memang aku dulu jadian dengan kania saat aku masil kuliah, dan aku tidak mengetahui sifa keras kepalanya, mungkin dulu aku hanya menilai dari paras wajahnya yang cantik, dan dulu aku bersaing dengan doddy untuk mendapat kan kania.

Siang itu aku menelphone doddy sahabat karibku, "Doddy, gue dapat beasiswa itu" teriaku di telp "kalem dong, jangan teriak, tapi suksesya" ucap doddy menjawab telp ku. "tapi kania tidak membolehkan aku pergi ke german, dia melarang impian aku" curhatku kepada doddy sahabat "sabar, bukan lo dah tau tabiatnya kania seperti apa" nasihat doddy menenangkan aku. "terus gue harus gimana dod.. kesempatan tidak datang dua kali, impian gue dah di depan mata, masa gue dilarangsahut ku kesal. "iya gue ngerti perasaan lo jal.. ya udah kania buat gue aja, kan loh ada ada cewek baru, siapa tuh namanya..citra ya" jawab doddy asal. "dasar lo, bukan buat teman tenang malah manasin teman sendiri, emang lo suka kania" aku sedikit mengomel kepada doddy. "engga lah, masa gue makan teman sendiri, ya duah coba lo jelasin aja sama kania, pelan-pelan gue rasa dia mau kok dengerin lo" cerita doddy. "eh, jal sorry nih, gue lagi banyak gawean, ntar lo sambung lagi ya" doddy memutus telp karena ada kerjaan.

Malam itu malam ju'at, biasa aku mengaji alquran bersama ayah, dan aku biasa mengungkapkan permasalahan kepadaku, dan ayah memberi nasihat kepadaku, "menurut perkataan Al Hasan Al Bashri Rahimahullah: Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik.Allah tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya" nasihat yang mendinginkan dari ayah. "ayah aku mencintai kania, tapi aku bingung dengan dia yah dengan sifatnya" aku kembali curhat kepada ayah.

"sabar nak, mungkin sifatnya memang seperti itu" jawab ayah, dan ayah kembali memberiku nasihat " "Katakanlah: jika kalian mengaku mencintai Alloh, maka ikutilah jalanku, niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Alloh Maha Pengampun dan Pengasih." (QS Ali imran:31)." sebuah firman allah dibacanan Ayah kepadaku.

***************************
"Gutenmorgen, mein kleiner Engel" ucapku kepada citra dalam bahasa jerman pada pagi itu, "gutenmorgen, mein Hansomprinz" balas citra kepadaku. "wie du heute bist" sapa ku, "aku baik-baik saja,, lagi kerja nih banyak kerjaan, cie yang mau ke german pagi-pagi dah ngajakin bahasa
jerman" ucap citra meledek aku. "weg vom Kurs mÃchte ich meine Sprache üben" jawab ku tetap dalam

bahasa jerman. "iya, tapi aku masih belum fasih bahasa german" citra menjawab. "kamu kerja sana, jangan gangguin aku pagi-pagi" citra memarahiku agar aku segera kembali bekerja. "oke, Auf Wiedersehen mein Liebling" jawabku dan telephone pun aku matikan.

aku dan citra sering berlatih bahasa german, citra orang yang sama ikut kursus seperti ku, andai kania yang bisa kuajak bercanda dan berbagi seperti citra adalah hal yang paling bahagia, kenapa kania seperti itu, terlalu over protektif atau terlalu egois ya.

pulang kerja aku kembali jemput kania, tetapi, aku jemput menggunakan motorku, karena mas zakaria , ingin memakai mobilnya. "sore kania, aku dah di tempat parkir motor, aku jemput kamu pakai motor ya" aku ingin memberi surprise kepada kania. tetapi terlihat kania kurang tertarik dengan aku membawa motor. "mas kamu taruh motor di rumah ku, kamu bawa mobil aku saja ya mas" pinta kania. dan aku pun tertunduk lesu, kuikuti kemauan kania, ku titip motor ku dirumah kania,

"Malam pak min, aku mau taruh motorku nih, disuruh kania bawa si centil" kata ku kepada penjaga rumah kania. Si centil adalah mobil kesayangan kania sebuah mobil bmw merah milik kania untuk menjemputnya.

"kenapa sih kamu jarang mau naik motor aku" tanya ku kepada kania, "mas kamu tahukan aku alergi debu, pernah beberapa waktu yang lalu aku naik motor kamu kulitku langsung memerah" jelas kania.aku terdiam malas membalas perkataanya, "kita nonton dulu yuk, di pelaza semanggi" ajaku kepada kania. "aku engga mau di plangi, kita nonton di plaza senayan di premiernya aja" pita kania.

"Kenapa harus di premier, aku sedang tidak cukup membawa uang kania" ucapku kepada kania. "Mas pakai uangku saja" ucap kania. "kamu terlalu mewah kania, aku orang biasa, aku ingin dihargai, aku tidak ingin selalu di bayari kamu kania" ucapku marah. "mas aku tidak suka di tempat umum, tidak nyaman, enakan di premier mas, jangan takut aku yang bayarin, aku paham kok mas, lagian aku ada masih ada uang" jawab kania tidak mau kalah. walau akhirnya dengan hati dongkol aku mengikuti kemauan kania. kania susah di bantah, dan selalu bergaya hidup glamor itulah yang kadang membuat aku malas berdebat dengan kania.

Sebenarnya malam itu aku sudah membelikan sebuah arloji untuk keberikan kepada kania, seharga 2 bulan gaji ku, yang telah kutabung selama 4 bulan ini, tapi urung ku berikan karena kuliahat arloji kania lebih baik dari pada arloji yang ku beli, sebuah arloji emas, mungkin seharga 4-5 bulan gajiku. oh tuhan, apakah ini sebuah rahmat mendapat wanita cantik dan kaya, tatapi akumerasa tidak dihargai sama sekali dengan usaha yang telah aku lakukan.

Malam itu setelah nonton, jam 10 malam aku telah pulang dari rumah kania, ku langkahkan motorku untuk pulang, tatapi di pertengahan jalan, kuarahkan motorku ke kost citra. "assalamulaikum.." aku memanggil citra. "walaikum salam" citra dengan baju kaus sederhana berwana pink keluar menyapaku. "ada apa mas malam-malam kesini" citra bertanya kepadaku. "Ich mÃchte dir ein Geschenk geben"jawabku dan kuserahkan kotak kado yang berpita kepada citra. dan citra tersenyum. Bahagianya aku meras di hargai atas jerih payah ku. Tuhan terimakasih telah kau berikan kebahagian untuku.

****************************
sebulan lagi aku berangkat ke jerman, hari minggu ini kakak-kakaku pada kumpul, biasa sebulan sekali keluarga kami sering berkumpul, mas zakaria, mas bayu, Mba istifadah, Mba asmarani dgn suami dan keponakan ku yang lucu-lucu datang kerumah ayah.

"Jal katanya kamu mau ke jerman" tanya mas bayu kakak keduaku, "iya mas, aku ikut beasiswa dan berhasil doain ya mas, mungkin awal mEi aku berangkat" kataku kepada mas bayu, "ayah bagaimana siapa yang nemanin nanti" tanya mba asmarani. "Iya mba aku bingung, ayah kasihan sendiri, tapi biar dipaksa bagaimana pun kan ayah tidak mau tinggal dengan anaknya, biasa ayah alasannya pasti tidak mau merepotkan anaknya" jawabku kepada mba asmarani.

"yah, kalau bulan depan fachrijal berangkat ke jerman, ayah tinggal dirumah kusaja, bair engga kesepian" pinta mba istifadah kepada ayah," mas galuh tidak keberatan kok" lanjut mba istifadah memberi alasan bahwa suaminya mas galuh tidak keberatan jika ayah tinggal dengan mba istifadah.

"Maaf, saya masih kuat kok, saya masih bisa tinggal sendiri, kalian saja yang sering main kesini, aku tidak mau jadi beban buat kalian, aku bahagia disini, aku bisa menikuti pengajian, aku bisa
mengadu catur dengan si ucok tetangga sebelah atau aku suka berdebat dengan pak husin tentang negara indonesia yang salah urus" jawab ayah ku menolak mba istifadah.

"yah gimana kalau ayah menikah lagi" ucap mas zakaria, "Apa, kamu tidak menghargai almarhum ibumu, dialah satu-satunya cinta buat ayah, tidak ada satupun sampai saat ini yang ayah cintai" ucap ayah marah terhadap mas Zakaria. "bukan begitu yah, saya tahu betapa ayah mencintai ibu, kami pun tahu begitu setia ayah kepada ibu, tapi saya rasa ibu pun rela jika ayah mencari pendamping lagi, tanpa melupakan ibu" balas mas zakaria kepada ayah. "sudah lah kak, ayah jangan didesak" pintaku kepada mas zakaria, karena aku melihat rona tidak suka dari ayah.

"Eh, dek, boby, lagi apa, kangen sama kakek ya.." mencoba mengalihkan suasana tegang itu dengan menggendong keponakanku, dan memberi kepada ayah. dan ayah pun tesenyum. ayah memang menyayangi cucunya.

Tiba-tiba ayah berkata dalam hening yang terjadi. "kalaupun ayah menikah lagi, bukan karena ayah melupakan ibu kalian, mungkin itu takdir dari Allah, biarlah waktu yang akan menjawabnya, ayah akan berdoa istigharah, tapi tolong jangan paksa ayah" ayah kembali berkta mengenai tentang hal pernikahannya lagi.

*********************
satu minggu berselang sebelum keberangkatan ku kejerman, aku dan kania semakin jauh, sepertinya kania benar-benar marah ketika aku memberi tahu sebentar lagi aku akan berangkat ke german. "Mas kalau kamu tetap berangkat ke german, kita putus" ungkap kania kepada ku "Oke, kita putus, aku tidak mau mengikuti egomu lagi, jawabku kepada kania" dan aku pun putus dengan kania dengan suatu pertengkaran hebat dengan kania. aku hanya tertunduk dan membisu mengar perkataan kania.

Malam itu aku sholat tahujud bertanya dan meminta kepada Allah tentang suatu hal yang telah terjadi "apakah ini suatu anugrah atau bencana ya allah" dalam tangisku pada malam hari aku bersimpuh kepada Allah, tuhan yang maha tahu atas segala hal yang ada di dunia ini baik yang erlihat maupun yang tersembunyi.

hari berganti hari, samakin dekat aku dengan perjalanan ku ke german, kania tidak bisa ku hubungi, hanya citra yang bisa ku ajak tukar pikiran. citra, "kamu bolos kerja sehari aja ya" kita jalan-jalan, aku mau mewujudkan mimpi kamu" pintaku kepada citra. "mimpi apa mas" tanya citra kepadaku, aku ingin mengajakmu ke Dunia fantasi" jawabku. "benar mas" jawab citra. "iya"

Dan keesokan hari aku dan citra berangkat ke dunia fantasi untuk mewujudkan keinginan citra yang ingin ke dunia fantasi. "aku belum pernah ke dunia fantasi mas, terakhir ketika aku smp" jawab citra, citra adalah seorang perantau dari semarang, dia ke jakarta untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Tiga hari hari menjelang keberangkatan ku, aku masih mencoba menghubungi kania, tetapi selalu tidak da tanggapan, dan aku kesal dengan hal ini, "mas sebelum berangkat ke jerman, mau engga kita nonton film butterfly" sebuah sms dari citra kepadaku. "mit meinem Vergngen" balas smsku. Aku menonton film butterfly dengan citra. dan selesai film tersebut aku melihat citra menangis.

"kenapa cit" tanyaku kepada citra "aku takut kehilangan kamu" jawab citra. dan kupeluk erat citra. "Kamu antar aku ya ke kos mas" citra memintaku. aku mengantar citra dengan motor. dan sampai di kos citra, hujan deras sekali, aku tidak bisa segera pulang. aku bermalam di kos citra. kami terbawa suasana, aku kecup kening citra, citra memeluku erat sekali, dan hal yang terlarang itu terjadi. "cit, maafkan aku.. aku tidak bermaksud", ucapaku d potong oleh citra, "sudah lah mas..aku rela kok" dan aku menginap di kos citra.

Esoknya, citra bertugas keluarkota, aku tiadak bisa bertemu citra. aku beli sebuah kalung yang berpotong dan bila digabungkan menjadi sebuah gambar hati, kutulis sebuah surat "cit aku berikan ini sebelum kita berpisah. ini tanda ikatan kita." ku titip kalung itu dan foto ku kepada ibu kos tempat citra kos.
**********************
Pagi itu diantar ayah dan keluarga besar ku ke bandara sukarno hatta, Disela-sela menunggu jadwal penerbangan ke Jerman yang hampir 9 jam Kemudian kulanjutkan tugas- tugas yang lain seperti pengurus berbagai administrasi di kantor imigrasi badara berupa pengurusan bebas viskal ,lapor ke kantor maskapai penerbangan, menukar uang rupiah yang tersisa dengan uero dilanjtkan bording pass tiket pesawat.

kulambaikan tangan dan kupeluk seluruh keluarga tercinta, dan ayah menitikkan air mata melepas anak bungsunya yang dibilang nya nakal, itu pergi. ayah memberi secari kertas kepadaku.sempat kubaca sekilas.

"Dan sesunguhnya kami akan menguji kalian, sehingga terbukti siapa diantara kalian yang melakukan jihad sebenarnya dan siapa yang sabar. Dan Kami akan menguji sepak terjang kalian." (QS. Muhammad[47] ; 31)

" Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum Mu'min pria dan wanita, yang mengenai dirinya, hartanya dan anaknya, tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dlam keadaan tiada berdosa" (H.R. Turmudzi) "Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu".(Al-Baqarah: 153). "

Sebuah nasihat yang indah, yang disalinkan ayah kepadaku, kupeluk erat ayah, seakan aku berat untuk berpisah. dan aku sempat mengirim pesan ke kania & citra "Kania/citra, hari ini aku berangkat, maafkan kesalahan ku padamu selamat ini" tetapi sampai detik ini tak ada jawaban dari kania. "Auf Wiedersehen mein Held"sebuah sms dari kania. dan akupun berangkat menuju pesawat kuTepat jam 19.45 WIB perjalanan dilanjutkan menuju kuala lumpur menumpang maskapai penerbangan Malaysia air line menggunakan pesawat boing 737. Selama kurun waktu 2 jam perjalanan tersebut kunikmati layanan kru awak pesawat berbahasa melayu, nampah sungguh indah kepulauan nusantara , tanah airku yang akan kutinggalkan, dan cintaku yang tertinggal untuk citra dan kania untuk sebuah mimpi.Nampak dari kejauhan diatas awan samudera indonesia yang luas, pulau jawa dan sumatera yang menjadi bagian dari tanah air ku yang kucinta.

Sampailah perjalanan ini di bandara kuala lumpur pukul 23.30 waktu setempat dengan selisih perbedaan 1 jam antara kuala lumpur dan Jakarta. Penumpang kemudian berpindah ke pesawat air bus yang berbadan lebar dan lebih besar dengan kapasitas penumpang 400 orang. Sekitar pukul 24.15 waktu kuala lumpur berangkatlah pesawat menuju Jerman dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 12 jam tanpa henti (non stop)

*******************
Jerman, merupakan sebuah negara yang terletak tengah-tengah uni – eropa. Negara ini berbatasan dengan laut utara,Denmark dan laut baltik di utara, Polandia dan Republik czeh di timur, Autria dan Switzerland di selatan, Perancis, Luxembourg, Belgium dan Belanda di barat. Selesai perang Dunia II negara ini telah terpisah oleh kekuasaan barat. Akhirnya pada tahun 1990 Jerman timur dan Jerman barat telah bersatu kembali. Kini Jerman merupakan salah satu anggota Uni-eropa, NATO dan negara G8. Jerman adalah negara ketiga terbesar didunia.

kursi pesawat hampir terisi penuh, yang 90 % lebih penumpangnya adalah orang dengan badan tinggi, kulit putih dan hidungnya mancung. Kulihat dari udara samudera india, negeri india, pakistan, turkmenistan, laut kaspia negara-negara kawasan baltik, azerbaijan, moldova, slovakia, republik czech. Meskipun rasa capek dan jenuh karena duduk disatu tempat yang cukup lama dengan terbang di ketinggian lebih 12000 meter di atas permukaan laut , jarak yang ditempuh lebih dari 11.000 km. Terasa nikmat juga penerbangan tersebut hingga tiba saatnya pesawat mendarat di bandara frakfrut Jerman 05.45 waktu setempat. "Alhamdulilah aku tiba di negeri impianku" puji syukurku kepada Sang pencipta yang telah mengabulkan doa ku agar aku bisa sampai di jerman.

Setelah berbagai pemeriksaan administrasi imigrasi dilalui dan barang bawaan di bagasi sudah ditemukan perjalanan di lanjutkan dengan menumpang kereta ICE (internationla city express ) dengan tiket (sekitar Rp 450.000) menuju kota karlsruhe yang berjarak 150 km dari bandara Frankfurt dengan waktu tempuh 1 jam. Sampailah di internasional departemen schollplaz

uni-karlsruhe pukul 9.30 waktu setempat, dengan beda waktu antara kota karlsruhe dengan kota jakarta 6 jam lebih lambat. Aku Sampai di kota Karlsruhe, kotanya cukup indah, kecil berpenduduk sekitar 300.000 orang.Dahulu kota ini adalah ibukota negara bagian Baden, tapi semenjak digabung dengan Würtemberg, ibukota dipindah ke stuttgart.

Karlsruhe tidak lepas dari sejarah kota kecil disisi timur kota tersebut, yakni Durlach. Raja durlach memiliki seorang anak bernama pangeran Carl dan ia membuatkan istana untuknya sebagai tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan tersebut sangat hening dan tenang. Setelah beberapa tahun kemudian berkembanglah daerah tersebut menjadi sebuat kota kecil dan diabadikan dengan nama

Karlsruhe, Karl diambil dari nama Carl sang pangeran tadi dan ruhe dari kata ruhig artinya tenang.Penduduk kota karlsruhe yang berjumlah sekitar 300 ribu tersebut mempunyai komposisi anak kecil lebih sedikit dari orangtua, hal ini disebabkan keengganan anak muda jerman untuk menikah, apa lagi punya anak mereka pikir punya anak itu repot sekali, tidak heran ketika masa tua mereka kesepian karena tidak ada memiliki sanak saudara, dengan jumlah penduduk yang semakain menurun tersebut menjadi persoalan yang serius pada masa yang akan datang. Aku jadi teringat ayah

****************************
Aku berkuliah di Hochschule Karlsruhe (Karlsruhe university of applied sciences) Hochschule Karlsruhe merupakan sekolah Ingineur terbesar dinegara bagian Baden-Würtemberg, memiliki sekitar 6000 student. Didirikan pada tahun 1878, sekolah ini telah menghasilkan ribuan Ingineur yang tersebar dan berkarir diberbagai bidang industri di jerman sebut saja raksasa automotive dunia Daimler-Benz AG.

Universitas dimana aku mengikuti program sit in mendapat predikat sebagai satu dari 3 universitaselit se-jerman, menjadikan Uni-Karlsruhe semakin atraktif menarik minat pelajar dari seluruh penjuru dunia. Ditambah biaya hidup dikota ini yang sangat jauh lebih murah ketimbang kota munich yang memiliki universitas elit (TU-Manchen), karlsruhe dalam kurun waktu 2 tahun telah diinvasi ratusan mahasiswa khususnya dari RRC. Mereka diberi kelonggaran untuk kuliah di jerman dikarenakan banyak sekali proyek-proyek di negara tersebut yang diberikan kepada pemerintah dan kalangan industri jerman. Bisa dibayangkan RRC setelah 10-20 tahun lagi? nah sekarang dimana pelajar dari indonesia yang tiap tahunnya menyusut? "adakah perhatian dari pemerintah indonesia ya untuk mahasiswa disana belajar ke jerman ini", tanya ku dalam hati.

"Gutenmorgen mein Freund" sapa seorang malaysia, yang mendapat beasiswa bersama ku, kami tinggal satu apartemen. biasa ku menyapanya dengan ahmedk. "wadest du coffe oder Milch trinken" aku menawarkan kopi atau susu kepada ahmed. sudah hampir 2 tahun aku disini. terkadang aku kangen dengan citra, kania, ayah, kakak-kakaku dan sahabat ku doddy.

pagi itu sebuah telphone berdering di apartmentku "dieses Telefon von deinem Vater, indonesia"
ahmed. "hallo, assalamualaikum" sapa ku kepada orang disana. "assalamulaikum, jal, ini ayah nak,ayah kangen sama kamu, sudah dua tahun kamu di sana, kapan pulang nak" ternyata ayah menyapakku"alhamdulillah, berkat doa ayah aku baik-baik saja, aku sehat, bagaimana dengan ayah" tanyaku kepada ayah.

sebuah kabar yang membuatku terkejut "jal, boleh tidak jika ayah menikah nak" tanya ayah kepada ku. "boleh yah, aku setuju, tapi dengan siapa yah,sudah ada calon" tanyaku kepada ayah. "ada nak, dia masih muda seusiamu, tapi dia lembut seperti ibumu, dia bia memahami ayah" jelas ayahku. "alhamdulillah, kapan ayah akan menikah yah", tanya ku penasaran. "mungkin 2 bulan lagi ucap ayah, kamu bisa pulang nak" tanya ayah kepadaku. "dua bulan lagi, kebetulan yah, aku libur,d an aku sudah punya cukup uang untuk membeli tiket pesawat, aku akan pulang yah" dan telp berhenti.

"hast du hattest guten Nachrichten" tanya ahmed kepadaku. "iya ayahku akan menikah 2 bulan lagi" jawab ku dalam logat melayu. "ayahmu hendak berkahwin kah", syukur alhamdulillah" jawab ahmed."auf folgendem zweimonatigem werde ich, nach Hause gehend nach Indonesien" kataku kepada ahmed. Tiba-tiba pikiran ku melayang ke citra, dan kania, masihkah mereka ingat kepadaku, citra no hpnya kemungkinan sudah ganti, aku tidak bisa menghubungnya lagi, kania, sepertinya masih marah kepadaku. oh aku kangen dengan indonesia. negeri indah yang memang sedikit salah urus kataku dalam hati.

Setalah perjalan jauh yang melelahkan aku tiba kembali ke indonesia, aku bawa banyak oleh-oleh untuk sepupu-sepupuku. dan kubawakan hadiah laptop untuk kania, yang ku dapat dari hasil kerja sampinganku, hari ini aku pulang ke indonesia, tepat satu hari sebelum hari resepsi ayahku, Ketika pulang aku sengaja menginap di rumah mas bayu, "mas aku mau buat kejutan buat ayah, jangan beritahu aku dirumah mas bayu ya" pintaku kepada kakakku yang satu ini. "iya adikku yang nakal" ucap mas bayu kepadaku. aku lupa bertnaya keapda ayah dan kakak-kakaku siapa calon ibuku. aku hanya bisa membayangkan bagaimana pilihan ayah terhadap calon ibuku.

*******************************
Aku mendengar ijab-qabul itu diucapkan, tetapi masih terdengar samar-samar"Saya nikahkan Citra Putri Rijkiah binti Maemunah, dengan mas kawin seperangkat alat sholat" ucap ayah saat ijab-Qabul, aku baru datang saat ijab-qabul itu selesai, aku belum bisa beradaptasi denngan cuaca di indonesia. Saat aku datang ke resepsi itu, kulihat ayah dengan gagah menggunakan Setelen jass putihnya,dan seorang pengantin putri yang cantik.

"mas zakaria, siapa mempelai putri, atau calon ibu ku yang baru" tanyaku kepada mas zakaria ambil setengah berbisik kepada kakaku. "ibu mu namanya citra putri rijkiah" jawab mas zakaria kepadaku. dan sesaat aku bermain dengan pikiran ku dengan segala kemungkinan yang ada, mungkin kah citra itu citraku, mungkin kah citra menjadi ibuku? tanya ku dalam hati, semoga dia buakan citraku setengah ku berharap itu bukan menjadi kenyataan.

Setelah acara resepsi, ayah meminta kami sungkem kepada ayah dan ibu baru kami, ternyata itu adalah citra ku, citra yang selalu kusayangi kini menjadi ibuku. "astagfirullahalazim" bisiku
dalam hati. aku tidak kuat, dadaku tertekan, nafasku sesak dan pandanganku berputar-putar dan
akupun pingsan.

"Jal, kamu kenapa jal" tanya mba istifadah kepadaku, "tidak apa-apa mba, hanya kurang enak badan,mungkin kecapean baru balik dari jerman" jawab ku berbohong kepada mba istifadah. "mba bisa biarkan aku disini sendiri, aku mau istirahat mba" pintaku kepada mba isti. dan mba isti pun keluar. "Ya allah, ya tuhanku mengapa ini terjadi, mengapa orang yang aku cintai kini menjadi istri ayahku, mengapa dia menjadi ibuku" aku bertanya dan menitikan air mata. entah air mata penyesalan, entah air mata apa aku tidak bisa mendeskripsikannya, yang jelas hatiku hancur, sehancur-hancurnya.

"Asalamualaikum" ayah ku dengar mengetuk pintu kamarku, "waalaikum salam" jawabku, ku hapus airmataku untuk berusaha tegar dan tidak ingin mengecewakan ayahku. "kamu kenapa jal" tanya ayah,"hanya capek yah" mengulangi alasan yang sama yang kuberikan ke mba isti. "ayah menikah dengan citra, karena ayah menemukan kelembutannya seperti ibumu, dan, ayah telah mendiskusikan dengan kakak-kakakmu mereka pun telah menyetujuinya jal, ayah kenal dengan citra dari seorang sahabat baik ayah, yang kebetulan ayah citra, ayah melamar citra untuk bisa mengurus ayah, dan menemani ayah, ayah kesepian, ayah butuh teman, kamu pergi ke jerman, ayah disini sendiri jal"yah bercerita panjang lebar. dan aku pun memeluk ayah.

**************
"Warum du Mary mein Vater, warum du mich nicht wartest" tanya ku kepada citra, ketika ayah ,memintaku mengantar citra kerumah sakit dua hari setelah pernikahan ayah dan citra. "aku menikahiayah mu, karena aku merasa nyaman, dan aku tidak tahu kapan kamu kembali. orang tuaku mendesak aku untuk segera menikah, aku menikahi dia karena aku tidak tahu dia ayahmu, dan aku tidak mencari suami karena dia tampan, karena yang tertampan untuk ku adalah kamu mas ijal" ucap citra mencoba menjelaskan.

"jangan panggil aku mas ijal, sekarang kamu adalah ibuku, sudah terlarang buatku untuk bisa menyayangimu, aku haru berbakti kepadamu. dan sudah tidak bisa ada cinta diantara kita" jawabku,
citra mencoba memegang tanganku. "meine Hand nicht halten, itu sudah jadi haram saat ini" kataku berteruiak. dan kami hanya kembali dalam hening.

Dan laptop yang sekira ingin kuberikan kepada citra, ku berikan kepada mas zakaria. karena aku tak sanggup membayangkan keinginan terindah yang pernah ada dalam benakku.

Esok hari aku main kerumah kania, untuk bertemu dan bercerita tentang kejadian ini. ASssalamualaikum" aku mengetuk rumah kania, "walaikum salam" jawab kania asambil menggendong seorang bayi. aku pun terkejut "hai, bayi siapa itu" tanyaku. "ini anakku mas, namanya fachrijal legowo, aku menamainya sama dengan namamu" dan aku kembali terkejut. ternyata setelah sepeninggalan aku kania telah menikah. "siapa yang jadi ayahnya" aku kembali bertanya. "Doddy mas, sahabat kamu" jawab kania. aku pun segera meninggalkan rumah kania. kembali pikiran ku kacau.

Aku berggas menuju tempat doddy kerja, "hai.. gimana kabarmu" tanya doddy, "baik, bisa kita berbicara sebentar sambil makan di tempatku" ajak aku, kepada doddy. dan aku ajak doddy untuk makan ditempatku. "dodd, kita ke dojjo, pintaku" tampat biasa kamid dulu berlatih tae kwon do bersama. "pakai dob mu" pintaku kepada doddy" kami pun mengenakan pakaian berlatih dengan alat pengaman. aku dan doddy berkelahi "kenapa kamu ambil kania ku berengsek" tanyaku "aku tidak mengambil kaniamu, aku menikahi kania ketika dia sudah putus dengan kamu" ucap doddy. dan kami pun saling baku hantan dengan keras.

Malam itu aku menginap di rumah mas bayu, karena aku tidak ingin melihat citra lagi, dan aku berdoa kepada Allah "Ya Allah.. terimaksih atas cobaan mu, aku akan berusaha ikhlas ya Allah, semoga ujian ini bisa menjadikan aku menjadi kekasihmu ya Allah, dan bisa menghapus dosa-dosaku, Ya Allah berikan aku kekuatan ".

Tanpa sengaja secarik kertas jatuh ke pangkuan, yang aku selipkan dalam buku harian ku, sebuah kertas dari ayah,sebelum aku berangkat ke jerman dan kubaca kembali tulisan itu.

"Dan sesunguhnya kami akan menguji kalian, sehingga terbukti siapa diantara kalian yang melakukan jihad sebenarnya dan siapa yang sabar. Dan Kami akan menguji sepak terjang kalian." (QS. Muhammad[47] ; 31)

" Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum Mu'min pria dan wanita, yang mengenai dirinya, hartanya dan anaknya, tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dlam keadaan tiada berdosa" (H.R. Turmudzi) "Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu".(Al-Baqarah: 153). "

Seminggu kemudian, aku pamit ke ayah, aku kembali berangkat ke jerman, dengan tetes air mata, dengan kepedihan yang sangat mendalam, selamat tinggal indonesia, aku pun memutuskan untuk menetap di jerman. aku ingin melupakan semua kepedihan, tentang cintaku yang tertinggal di indonesia. Auf Wiedersehen meine Liebe, Auf Wiedersehen mein Land Indonesien, Deutscher hier komme ich.


Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, latar belakang adalah ketidak sengajaan penulis. saran dan kritiknya kirim ke erwinarianto@gmail.com

***********************
* Auf Wiedersehen meine Liebe, Auf Wiedersehen mein Land Indonesien, Deutscher hier komme ich=Selamat tinggal cintaku, selamat tinggal negaraku indonesia, german ini aku datang
* meine Hand nicht halten=jangan pegang tanganku
auf folgendem zweimonatigem werde ich, nach Hause gehend nach Indonesien=dua bulan lagi aku akan
pulang keindonesia
* hast du hattest guten Nachrichten=apakah kamu mendapat kabar yang baik
Warum du Mary mein Vater, warum du mich nicht wartest=kenapa kamu menikahi ayah saya, kenapa kamu tidak menunggu saya
* dieses Telefon von deinem Vater=ini telp dari ayah mu
* Auf Wiedersehen mein Held=selamat jalan pahlawanku
* Gutenmorgen mein Freund=selamat pagi temanku
* würdest du coffe oder Milch trinken=mau minum kopi atau susu
* mit meinem Vergnugen=dengan senang hati
* Ich mÃchte dir ein Geschenk geben=Aku ingin memberi mu hadiah
*Gutenmorgen, mein kleiner Engel=selamat pagi bidadariku
gutenmorgen, mein Hansomprinz=selamat pagi pangeran ku yang tampan
* wie du heute bist=bagaimana keadaan mu pagi ini
Auf Wiedersehen mein Liebling = good bye my darling
*weg vom Kurs mÃchte ich meine Sprache üben
=tentu saja aku hanya ingin melatih bahasa german ku



7x365 Hari Yang Lalu
By: Erwin Arianto
Depok, 24 Maret 2008

Waktu ini, penuh lamunan. Langit cerah, tetapi hujan deras. Sepertinya langit sedang menangis. Menangis untuk mengenangmu, Cinta. Hari ini genap 7 x 365 hari yang lalu aku mengenalmu. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tak terasa usai sudah sesuatu yang kita sebut ‘hidup’. Karena ternyata waktu tak menunggu.

Rasanya seperti mimpi. Aku masih mendengar tawamu yang ceria ketika kita berlari kecil menelusuri bilik satu ke bilik di rumah sakit itu. Aku masih mendengar suara banggamu karena tubuhmu mulai menggemuk. Masih tertawa karena leluconmu tentang kepala ku yang dicukur botak. Masih melihatmu berdandan, dan memakai eyeshadow itu.

Rasanya baru kemarin aku memeluk tubuhmu yang kecil. Baru kemarin engkau menyuruhku untuk menjaga kesehatan. Baru kemarin engkau mengucapkan kata ‘Selamat ulang tahun’. Rasanya seperti mimpi. Kini telah kau pergi. Dan tak mungkin kembali.

Banyak pertama kali yang kulakukan denganmu. Banyak yang telah kau beri dalam hidupku. Kau mengajarkan aku kekuatan, mengajarkan aku untuk tak pernah menyerah. dan memberikan aku pengertan tentang mimpi-mimpi kita.

Lucu. Karena rasanya baru kemarin engkau menampar pipiku hingga merah. Dan keluar aroma cinta dari hatiku yang lebam-lebam. Rasanya baru kemarin kau mengecup keningku, dan mengatakan betapa engkau mencintaiku.

Aku masih ingat betul, Sayang. Saat kau mencaci-maki aku. Kata-kata itu masih terekam jelas di otakku. Yang membuatku bertanya-tanya, mengapa katamu kau mencintaiku. Yang membuatku semakin ragu akan yang kau sebut dengan cinta.

Dan teringat ketika akhir itu mereka bertanya, ‘mengapa? Mengapa harus engkau?!’ Tapi aku tahu pasti jawabannya, karena Tuhan pasti begitu mencintai mu.

Kau mengeluh sakit, tapi kau tetap tertawa. Kau terus berjuang melawan penyakit yang melanda tubuhmu yang mungil itu. Di kala deritamu engkau masih mengingat aku. Dan kau tak lupa pada satupun keluargamu. Kau berjuang. Kau kuat. Kau tidak kalah, Sayang, kau tidak kalah pada penyakit itu. Tapi Tuhan punya rencana lain. Rencana yang tak dapat dimengerti nalar manusia, tetapi pasti yang terbaik untukmu.

Tahukah kamu, siapa yang setiap malam mendoakan engkau dan kesehatanmu? Siapa yang setiap malam menaruh secarik kertas harapan mimpi indah di balik bantalmu? Siapa yang setiap malam menenangkan engkau dari racauan-igauanmu yang nampak sangat meresahkan itu? Itu aku.

Aku melihatmu terkulai di sana, 7 x 365 hari yang lalu dengan nafas yang parau Semua menangis melihatmu, semua prihatin. Tapi mereka tahu kau tidak kalah melawan penyakit. Mereka tahu betapa kuatnya engkau. Mereka tahu betapa indahnya hidupmu. Mereka tahu kau tidak lagi menderita, dan betapa bahagianya dirmu cinta, Mereka tahu hidupmu selalu dipenuhi oleh kebaikan, Sayang. Jadi tak ada yang perlu disesali. dan ditangisi hanya doa-doa yang keluar dari mulut mereka

Hari itu, adalah yang terakhir kalinya aku melihatmu. Setelah sekian lama aku menunggu untuk dapat menatap dirimu. Engkau tertidur, di sana, dan wajahmu bagai tersenyum. Aku menjemputmu, Sayang. Berharap kau akan melihatku kembali, setelah bertahun-tahun lamanya engkau buang pandanganmu sejauh mungkin dari seonggok hati berisi cinta padamu ini.

Di atas peti wajahmu begitu damai, kau meninggalkan kita. Tapi kenangan tentangmu selalu ada. Hingga akhir jaman. Kenangan yang kau tinggalkan tak pernah sia-sia.

Maka lonceng waktu itu berbunyi 7 x 365 hari yang lalu, dan saatnya untuk pergi. Permintaan terakhirku dikabulkan sudah. Dan saatnya untukmu kembali di sisinya.

Maaf, Sayang, tapi kali ini tak lagi aku menemani. Karena aku tak bisa membantumu menemanimu ke taman-taman syurga yang telah di janjikan Allah SWT. Karena tubuhku kini berat, setelah sekian lama kau beri aku dengan beribu kata-kata Cinta. Maafkan aku, Sayang. Ini adalah pertama kalinya aku meninggalkanmu, melupakan arti cintaku padamu. ini tak perlu lagi ditangisi. Tak perlu lagi kami kuatir. Kau tak akan pernah mengeluh sakit lagi. Tak perlu memakan semua sayur-sayuran tanpa rasa yang selalu kau makan setiap hari.

Karena kini Tuhan menjagamu, menjadi sahabatmu, menggantikan kami. Kini engkau telah bertemu dengan pendahulu-pendahulumu, dan bercanda bersama mereka di alam sana. saat ku sholat jenazah, aku menitikkan air mata duka. Bukan duka lazimnya terhadap yang meninggal dunia, namun duka terhadap diriku sendiri yang fana. dan doaku
"Allahumma anta rabbi Laa ilaaha illa anta khalaqtani Wa anaa abduka wa anaa alaa 'ahdika Wawa'dika mastatho'tu Abuu ulaka bi ni'mati alayya wa abuu bidzanbin"
"FAGHFIRLIII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZDZUNUUBA ILLAA ANTA "

(Ya Allah, engkaulah Rabb ku Tiada ilah melainkan Engkau, yang telah menciptakanku Dan aku hanyalah hambaMu, yang terikat janji denganMu Kan kupenuhi janji itu semampuku Kuakui segala nikmatMu padaku, dan kuakui pula segala dosaku"
UNTUK ITU AMPUNILAH DAKU ...KARENA TIADALAH YANG MAMPU MENGAMPUNI DOSA MELAINKAN ENGKAU)

sudah dan akan selalu ku titipkan doaku setiap ku bersimpuh kepada-Nya agar engkau selalu berbahagia, berada di sisi-Nya. ya kekasihku, tidurlah disisinya untuk selamanya kekasihku yang tercinta.


Selingkuh

Selingkuh
By: Erwin Arianto
Depok, 24 Maret 2008

Keinginan itu muncul lagi walau sudah kucoba untuk menguburnya dalam-dalam. Tapi, ia rupanya tak mudah menyerah, kali ini. Tiba-tiba saja ia datang mengahmpiri benakku. Begitu lama ia menari di pikiranku. Memaksa aku agar menuruti keinginannya. Ia begitu lincah bergerak, setiap aku mau menghindarinya¡mencoba untuk sembunyi tak pernah lepas dari sergapannya. Meneteskan secuil mimpi

yang indah¡lepas di awan, terbang di hamparan langit biru.

Dari mana sebaiknya kumulai jalinan yang rumit kita ini? Darimu, dariku, dariNya? Atau, dari hati paling dalam: hatimu, hatiku, hatiNya? Ah, entahlah. Lama kurenung sepenuh pertimbangan, tetapi sejujurnya, aku belum menemukan arah yang pasti. Tetapi, sudahlah. Begini saja lebih baik. Kita bersepakat dalam perasaan yang penuh teka-teki. Bukankah hubungan tak selamanya harus terbuka? Jadi, karena kau masih menyimpan perasaanmu, sementara Dia tentu saja tahu, bagaimana bila kumulai dari awal pertemuan kita? Aku tahu, pasti kau tertawa, dan Dia bergumam, "Ah, ada-ada saja."

"Raisa, aku tak dapat menolak permintaan takdir, aku tak sanggup membantah. Apalah kekuatanku yang hanya seorang insan yang lemah. Setelah kecambuk di dalam dada Tapi akhirnya ini jualah yang aku alami." Masih kuingat kata demi kata yang tertulis berat di surat itu. Biarkan. Biarkan matahari tersenyum di balik dedaunan. Biarkan burung-burung berkepakan di reranting hijau. Biarkan alam raya ikut tertawa bersama kita. Bukankah keindahan pertanda kemesraan menyulam hubungan kita?

"Kau memang bodoh!" Sebuah suara mendengung tiba-tiba, tajam mengejekku. Suara siapakah? Mungkinkah suara malaikat? Atau, suara Tuhan yang menegur ku?

Bukan. Aku tahu itu bukan suaraNya. Pasti bukan Dia yang menegur dengan keras di tengah siang. Sebab, siapa pun percaya, suaraNya lebih lembut dari dentingan harpa, lebih merdu dari lagu burung-burung menyambut pagi.Duh. Benarkah aku bodoh? "Kau memang bodoh! suara itu kembali mendesing di telingaku. Nyaring dan menusuk jantung. Demi keinginan semu, kau membuang hal terbaik yang telah kau terima."

Aku terpana. Lama mereka-reka makna kebodohan yang ditujukan kepadaku. Dan, aku menghempas resah, menyadari kebodohanku. Ah, entah mengapa, aku malah grogi saat berbincang dengannya. Ya, di depanmu, saat itu, aku jadi kurang konsentrasi. Rasanya aku ingin memukuli kepalaku sembari bermunajat meminta ampun pada mu Ya Allah: "Astagfuirullah! subhanallah! Allahu akbar! Berhentilah untuk memikirkan keindahan tubuh perempuan yang bukan milikmu! Berhentilah bermimpi!

harus kusingkirkan jauh keinginan itu, sejauh aku bisa. Malah, aku harus terus bangun dasar-dasar kokoh pernikahanku yang suci. Tentu aku tak ingin buah-buah pernikahanku membusuk oleh nafsu tololku. O, mengapa aku jadi begini? Haruskah aku selemah ini? Maka, kuserukan agar Dia mengerbangkan tangan, membungkusku dalam kuasaNya.

"Untuk apa kau ditolong?" tiba- tiba suara itu kembali menegurku.

"Agar aku tidak tersesat ya Robku!" balasku pada suara itu

"sadarlah! Bukankah selama ini kau tersesat?"

"Ya, Kau adalah Insan tersesat di lorong kekelaman."

Bahkan, kau senantiasa bangga atas kesesatan itu, dan menari-nari dalam lumpur kesesatan yang menenggelamkanmu.

"Aku tahu... dan aku tidak bisa terlepas, semakin menikmatinya"

"Lalu, mengapa kau bersujud setiap malam, dan bercucur air mata meminta pertolonganku?"

"Karena Hamba ingin kembali. Tak kuasa hamba keluar dari lubang lumpur jika sang Maha kuasa tak menolong," jawabku serak. "Tanpa Dia, aku akan semakin tersesat. Itu sebabnya, kumohon dengan sangat, Dia mengulurkan tangan," lanjutku mulai terisak-isak. Tanpa kusadari airmataku mengalir mencari muara.

Kulihat seperti Tuhan pun tersenyum. O, dalam senyum-NYa, kulihat paras istriku. Dan, kau tertawa. O, dalam tawamu, kudengar keluargaku. Alhamdulilah, betapa gembira aku, sesuatu yang nyaris hilang oleh ketololanku keluargaku adalah anugerah tak terhingga.

Rumah tanggaku adalah jejak langkahku menuju hari esok yang lebih baik. Keluargaku adalah ikatan suci kehidupanku. Lalu, mengapa harus kutepis basuh keindahan? Mengapa harus kunodai selendang putih dengan gelitik berselingkuh? O, dosa , terkutuklah aku!

*******************

"Bolehkah kita Bertemu Mas?" tanyamu Raisa sesaat sebelum aku berlalu bersama waktu .
Aku terdiam. Di dalam hati aku bilang, tidak. Tetapi, edan, kepalaku mengangguk. Boleh. "Silakan," tanggapku.

Seminggu kemudian, kala hujan gerimis menghias jendela senja, kuterima SMS darimu: "Mas, aku ingin menjadi sahabatmu. tidak keberatankan mas." Pesan singkat itu ternyata memperpanjang hubungan kau dan aku. Sehingga hatiku jadi geleng-geleng kepala. Maka, godaan kembali menggelitikku. Bisikan iblis kembali menyeruak dada. Ya Allah dimanakah engkau, bantulah aku mengatasi permasalahan ini

Tetapi, entah kenapa aku semakin larut dalam lautan kelabu. Jurnalis? Cita-cita Aneh apa itu? Mengapa kau tidak memilih menjadi diplomat, bankir, atau sekretaris? Parasmu cantik.

Kulitmu kuning langsat, mulus selembut sutra. Rambutmu panjang, agak pirang. Matamu bulat cemerlang. Apa lagi yang kurang? Mengapa tidak menjadi model saja? Malah,meski aku belum tahu bakatmu, aku yakin, kau dapat menjadi artis sinetron, dan bakal sejajar dengan bintang-bintang lainnya yang berpendaran di langit jingga.

Tanpa kusadari, aku kembali terayun-ayun di ujung tali kebimbangan. Haruskah kujawab? Atau, kudiamkan saja? Ah, aku memutuskan untuk tidak merespons, tetapi konyolnya, tanganku malah meraih HP dan membalas via SMS.

Sejak itu, aku dan kau terus saling berbalas kabar, mencoba tak peduli atas kegelisahanNya. Astaga! Jika istriku tahu, wah, bisa berabe. Aku bisa dinilai kurang ajar, lelaki brengsek, suami tak bermoral, makhluk hidung belang. Ah, untunglah istriku tak pernah mengutak-katik HP-ku. Tak pernah bercuriga.

Selalu percaya. Dan, kian sempurna kebejatanku karena tega menepis segala kepercayaan istriku untuk godaan selingkuh yang tak jelas. Tetapi, oh, lihat, kita tak bisa lari dari tatapanNya. Sejauh kita pergi, lari, sembunyi, Dia senantiasa mengawasi.

"Raisa.." ratapku memanggil nama gadis manis ini yang telah memudar nafas-nafas cinta di dadaku yang kian sesak

"Raisa, walau bagaimanapun caranya, keputusan itu tak akan dapat dirubah. Sebaiknya Aku harus pergi. Meninggalkan impian kita, melewati batas waktu janji yang aku berikan padamu "
Kutarik nafas dalam-dalam. Pikiran melayang hinggap dilembaran kisah yang termulai

Hasrat itu terus-menerus datang, walau aku tak mengharapkan kehadirannya. Apa boleh buat kedatangannya tak dapat kutolak. Barangkali, aku terlalu sentimen terhadap hal yang satu ini. Ya,
barangkali. Apa harus kuhindari saja? Tak pernah bisa. Bayangannya selalu menghantui, tak
berhenti. Ia ada di setiap langkahku, bergerak di sekujur tubuhku. Membuat aku jadi amnesia.
Barangkali harus kuacuhkan saja apabila ia datang-- kudiamkan agar ia jadi bosan sendiri. Tapi,
itulah masalahnya. Setiap ia berada dekat denganku ada-ada saja yang dikerjakannya. Membuat aku
jadi bingung sendiri. Memaksaku untuk menyapanya. Ber-say Hello ria. Gombal sih. Habis bagaimana
lagi.?

Tahukah kau makna hubungan kita ini? Benarkah aku dan kau berselingkuh? Hubungan saling bertukar informasi dan pendapat tergolong selingkuh? Dapatkah kau jelaskan padaku? Sebab, aku tak tahu. Sama sekali tak kupahami. Demikian aku berusaha berkelit, seperti penyamun. Lihat, Iblis tertawa parau. Burung-burung tertawa, kupu-kupu tertawa mengejek tingkahlaku ku.

**********************************

Di langit, malam tak berbintang. Lampu temaram memoles wajahmu. Angin mengusap dedaunan, memberiku keberanian. Aku menatapmu dalam-dalam. Aku nikmati bolamata raisa yang segar, ingin memetik bibirmu yang ranum. Sementara ular mulai liar, menggerogotiku. Beberapa pekan lalu ular itu menyusup ke dalam jantungku, dan bersarang. Beberapa hari lalu, ular itu menggeliat, gelisah. Kini ular itu meronta ingin memangsa. Oh, di manakah Dia? Mengapa Dia masih diam? Mengapa Dia tidak segera datang menjamah, memutus jalinan busuk ini?

Kau tersenyum teramat sulit kuartikan. Matamu bekerjapan mengalahkan kecantikan kerlap-kerlip lampu. Aku terpana. Semakin mabuk anggur jingga. Aku memang tak tahu menahu hubungan seperti ini, hubungan dua jenis yang berbeda. Yang aku tahu jika rasa itu ada, ya memang sudah kodratnya demikian, dan aku memang tidak begitu peduli dengan hubungan seperti itu, aku tidak peduli, walaupun terkadang ingin merasakannya.

Apakah aku mengetahui segala tentang seorang wanita ini? Tidak juga. Tapi kuanggap ia adalah
wanita yang tidak biasa, yang bersinar-sinar dalam aura magisnya tiap kali berkelebat dari pandanganku. Ah, sebenarnya tidak secara harafiah demikian. waktu itu jam berputar lambat sekali, seolah tak bergerak. Detik-detik yang berupa jarum ketika kupandangi terlihat diam. Apa aku sudah gila sekarang ? Gila melihat kenyataan hidup bahwa dunia tak pernah menyisakan satu ruang pun untuk orang seperti aku ? Dan, nyatanya keinginan semakin kuat dan deras. Bertempur menghadapi hasrat hati. Berjudi sedikit-sedikit terhadap keinginan ini. Apa ini hanya jadi arena taruhan diri? Sehingga diwajibkan untuk ku agar terus melakoni sandiwara yang kita perani.

"Betapa senang hatiku, Mas. perasahabatan ini, kini aku yakin akan rasa kita ini" ceria, saat kita kembali bertemu di rumah kosmu Raisa, tempat pertemuan yang kerap kita sepakati. Dan, aku tak ingat, ini pertemuan yang ke berapa. Pertemuan dengan alasan kamu butuh seorang sahabat yang terus kita lanjutkan, entah sampai kapan. Terima kasih, ya, Mas," bisikmu.

Aku tersenyum juga tak kumengerti maknanya. Sebab, jalinan ini mulai kunikmati. Bahkan, aku mulai berani memunggungiNya, dan sering pura-pura tidak tahu kehadiranNya dalam keperihan. Padahal aku tahu, ke langit pun kita terbang, dengan sayap-sayap fajar kita melayang, Dia pasti tahu. Ah. Betapa terluka hatiNya atas kekejian yang kulakukan. Beberapa kali Dia menangis getir berbaur gelegar petir. Sementara aku tetap berharap kau juga tidak memedulikanNya. Biarkan saja Dia terseret gelombang nestapa. Dan kita merajut jalinan teka-teki ini dalam keringat biru kelabu.


*********************
Dan Senja kala itu, ketika ku teringat dirinya yang ranum dan menawan hati, entah dari mana sebuah buku jatuh dari sebuah almari tempatku duduk, dan sebuah halaman terbuka menuliskan sesuatu nasihat. Abu Umamah bercerita, bahwa Nabi saw. pernah didatangi seorang pemuda dan berkata, "Ya Rasulullah, ijinkan saya melakukan zina." Mendengar perkataan pemuda itu, para sahabat berang dan memarahinya sambil memaki-maki karena dianggap tidak sopan. "Cukup! Bawalah pemuda itu mendekatkepadaku," lerai Nabi saw. Kemudian pemuda itu dibawa mendekat kepada beliau.

"Wahai pemuda," sapa Nabi saw. lemah lembut, "Apakah kamu suka kalau perbuatan zina itu dilakukan
orang lain terhadap ibumu?"

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah yang menjadikan aku sebagai tebusan anda, saya tidak ingin itu terjadi," jawabnya. "Begitu juga kebanyakan manusia, tidak menyukai atau menginginkan perbuatan zina itu dilakukan terhadap ibu mereka," ujar Nabi.

"Apakah kamu senang zina itu dilakukan terhadap putri-putrimu kelak?" tanya beliau selanjutnya.
"Sama sekali aku tidak menginginkan hal itu terjadi, ya Rasulullah. Demi Allah, bermimpi pun saya
tidak ingin."

"Begitu pula kebanyakan manusia, mereka tidak senang kalau sampai perbuatan zina itu terjadi pada
putri-putrinya. Apakah kamu senang kalau zina itu dilakukan terhadap saudari-saudarimu?" tanya beliau.

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah saya tidak senang."

"Begitu juga dengan orang lain, sama dengan anda, tidak senang kalau zina itu dilakukan terhadap saudari-saudarinya. Apakah kamu ingin itu terjadi pada bibi-bibimu?"

"Tidak, ya Rasulullah. Demi Allah tidak," tandasnya.
"Kebanyakan manusia juga tidak ingin itu terjadi pada bibi-bibinya."

Nabi saw. kemudian meletakkan tangan beliau pada tubuh pemuda itu dan mendo'akannya: "Ya Allah, ampunilah dosa pemuda ini, bersihkanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya."

Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, aku bolak-balik memandang buku tersebut Aku bukan hanya tidak sanggup berpikir. Mungkin Allah telah memberi petunjuk atas jalanku yang salah. Tapi tubuhkku tenggelam dalam kekakuan yang bisu.

Depok 24 Maret 2008


Gemini Di Spanjang Jalan Itu
By: Erwin Arianto
Depok, 15 Maret 2008

Gemini..! Wanita berlambang zodiak Anak kembar ini telah meninggalkan kesan bagiku. Entah itu kesan baik ataupun tidak, yang penting telah menggoreskan kenangan dalam kehidupanku. Sebelum mencari tahu tentang Gemini dari buku astrologi dan membandingkannya dengan bintangku, terlebih dahulu aku ingin memberi perbandingan dengan sifat ayah, karena Gemini adalah juga zodiak Neneku!

Kemudian kotak cinta ku mulai terisi helai demi helai hari, dengan penuh warna-warni. Aku ingin katakan bahwa ketika itu aku sangat berubah. Sebelum bertemu kamu, hidup terasa serius buatku. Tetapi kamu merubahnya, ternyata hidup itu lebih indah dari yang pernah aku duga. Aku pun agak berani dalam menyiasati hidup agar bisa bertemu dan meneleponmu. Selain itu, sungguh senyumanmu sangat indah dalam waktu-waktu yang biru. Ketika melihat lautan, biasanya yang kulihat hanya biru. Namun ketika melihatnya bersamamu, yang terasa adalah hati yang biru. Penuh kehangatan, kecerian, semangat, harapan, impian, dan hidup. Alangkah penuh warna-warni. Aku masih menyayangimu, Fatmujhe tumse mohabbat kartaho (hmm, katanya sih bahasa pakistan)

Gemini mungil dengan kacamata ini romantis....Matanya ditumbuhi tunas-tunas impian, serupa nadi ia menjalar di setiap bagian tubuhku. orang gemini biasanya punya semacam jurus rayuan gombal buat menyenangkan pasangannya, dan orang gemini cenderung mengekspresikan perasaan sayangnya ke arah yang lebih romantis atau sifat punya komunikasi yang baik...bisa merubah dan sebagai pengatur suasana dimanapun, supel bgt pembawaannya..kalo ada org yang gampang suka ama gemini biasanya karena pembawaan dirinya yang mudah akrab dgn org lain alias friendly bgt kalo di lingkungan baru.

Yup gemini satu ini begitu membawa ku terbang.. aku adalah seorang taurus "kata orang Bahkan ketika ia sedang jatuh cinta, ia tetap menjadi seekor burung lepas. Ia adalah sebutir pasir di telapak tangan anda, semakin anda ingin memegangnya, semakin mudah ia lepas. Jika anda bertahan dan mempertahankannya, maka ia akan tinggal dan menetap. Jangan membuat aturan buat dia, karena ia akan segera meninggalkan anda."

"Taurus Ia tidak terlalu mudah mengerti sesuatu, maka ia akan secara bertahap mempelajari anda sampai akhirnya semua pertanyaan akan terjawab. Ia kenal begitu banyak orang, tetapi hanya sedikit teman. Ia mencari teman berkualitas daripada kuantitas. Ia akan dekat dengan cepat dengan beberapa teman, dan akan terus bergerak. Ia selalu merasa kesepian walaupun banyak teman ada di sekelilingnya" begitulah selalu gemini membacakan sifatku berdasarkan zodiaku

Ah, warung pinggir jalan di sepanjang otista yang penuh kenangan. Tidak ada yang tidak aku kunjungi mulai dari seafood, pecel ayam, tahu campur hingga nasi goreng bersama sang gemini ini. Hmm, kok wajah itu lagi yang muncul? Memang nama itu yang telah memberikan banyak kenangan dibandingkan wanita yang lain. Sejak beberapa bulan aku memang ikut dalam milis di yahoo, sebagai awal pertemuan ku dengan dia, kita selalu saja mencicipi makanan yang berbeda. Ada petualangan baru yang kurasakan.

Tapi sekarang geminiku telah terbang dangan sayap yang dimilikinya, Ah, betapa tidak enaknya pergi sendiri di pagi yang sunyi ini. Biasanya ada my lovely gemini yang menemani. Kadang geminiku yang membawa kendaraan ini, kenangan-demi kenagan telah kulalui bersamanya. geminiku adalah pribadi yang menyenangkan. Ia selalu bercerita apa saja sepanjang perjalanan. Ia seperti pendongeng klasik bercerita tentang kisah hidupnya.

"Pelan-pelan dong kalau bawa kendaraanya."

Itulah yang selalu dilontarkan nya saat aku terburu menarik gas dalam-dalam. Seandainya disalip oleh kendaraan lain, geminiku selalu santai, tidak pernah marah atau memaki. Ia selalu berkata, "Orang itu pasti kebelet pipis. Jadi biarkan saja ia duluan. Toh, kita nggak pengen pipis."

Tidak lucu, menyebalkan, tetapi selalu membuat kangen. Itulah geminiku Itulah sosok wanita yang telah mencuri hati ku selain wanita-wanita berbintang Virgo dan Aquarius.

Kita pasti akan bertemu lagi," katamu menatap mataku. Akh, apa kau bisa tahu, kalau aku merasakan bahwa tidak ada lagi pertemuan selanjutnya untuk kita. Ketika aku memandang matamu, aku menemukan samudera dengan ombak yang ganas. Aku selalu memandang dari daratan. Tapi, itu sebelum karung-karung pasir itu kau tumpuk menjadi pagar. Sejak itu kau lakukan mataku jadi terhalang dan tidak bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa mendengar desirannya, tanpa melihat ia bermain atau bergurau.

kendaraan ku terus membelah jalanan matraman kearah cikini yang sunyi. Tiada busway. Tidak ada metromini yang kebut-kebutan. Tidak ada bus patas yang seruduk sana sini. Minus klakson dari kendaraan yang tidak sabar. Dan tidak ada bajaj yang benar-benar menyebalkan. Yang ada hanyalah jalan yang lengang dan kenangan yang tidak lekang dengan wanitaku berbintang gemeni. By the way, di mana ya gemini berada kini? Kok, ia seperti lenyap ditelan bumi?

kendaraan ku berhenti di perempatan otista. belok kiri menuju cawang, Ah, di sini dulu gemini ku minta turun ke tempat kos-kosannya . Lampu hijau menyala. aku menjalankan kendaraanku menuju Gatot subroto. Ah, geminiku di mana sih kamu sekarang?

Sial! Ini lagu kesukaanya geminiku "Could It be Right" suka mendengarkan tembang jazz, mirip sekali dengan yang terjadi saat ini? Sepanjang malam aku seorang diri mengendarai dari cawang hingga cikini. Tiada teman kecuali rembulan dan gemintang. Sepanjang malam, teringat dan mengenang kembali geminiku. Sepanjang malam, Aku mencoba mengingat kembali kisahnya dengan gemini. Mirip sebuah perjalanan yang seakan tiada berujung.

Sayup-sayup malam pun mulai terdengar mengantarkan sebagian orang untuk melepas lelah sesaat setelah sibuk seharian. Sepanjang perjalanan aku memandang bulan purnama yang menempelkan bayanganya . Tapi, tidak sepenuhnya bulan itu melekat pada mataku karena aku hanya berusaha mengalihkan perhatian dari bayangan senyummu geminiku.Aku tak dapat melihatmu.Tak dapat menyentuhmu. Aku hanya bisa mencium baumu. Mendengar napasmu.Menghitung detak jantungmu.Juga menikmati suara lembutmu. Suara yang memang diciptakan untukku. Suara merdu sekaligus tegas.Suara serak sekaligus ramah.

"Halo?"

"Sayang Kamu sudah di mana?"

"Sudah dekat rumah. Tidak lama lagi kok."

"Oke. Hati-hati, ya."

"Papa cepetan pulang dong? wira kangen sama papa. Kok, pulangnya malam terus sih?"

"Iya, sayang. Sebentar lagi papa pulang sudah dekat ke rumah kok. Bimo sama mama dulu, ya."
"Iya, pa."

Dengan genggamanku HP tersebut ku matikan. aku masih mengemudikan kendaraanku dengan perlahan. Masih mengenang geminiku. Masih mengingat semua tentang wanita geminiku itu. Kenangan sepanjang jalan. Kenangan tak terlupakan. Tentang seseorang yang selalu dirindukan. dan selalu dihatiku. Oh Geminiku tahukah hatiku tak pernah bisa terbagi sampai saat inipun. "seandainya aku masih punya waktu dan kesempatan, akan ku cari kau dan menikahimu geminiku." Lalu kubiarkan alunan musik dari radio tersebut mengalunkan lagu sendu "all by my self... Loving you.."

Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya sebuah imajinasi penulis, jika ada kesamaan kisah adalah tidak disengaja, saran dan kritik dapat diajukan ke erwinarianto@gmail.com


;;