IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
Mei 2008 - Bisik Angin Tuk Bidadari

jalan telah ditetapkan dalam kita
kadang tak tersirat, kadang berkelana
tapi memang itulah dia,kita tak tahu bakal ke mana
Hanya menikmati sepenggal kisah tercipta

sebuah cerita lembut asmara namanya
bercerita kisah cinta memberi makna
dari mana gerangan ia bisa terasa
sampai tak terasa ia begitu menggoda

bisik cinta kilau sejuta warna
dingin di luar janganlah bekukan hati kita
kau yang mengajarku cinta atas luka
letih batinku sudah mampu terungkap jua

anginlah yang mengehembuskan nafas cinta
Angin yang Berbisik mesra tentang rasa romansa
anginlah yang memilih bidadari tuk dicinta
karena semua nyata Bukan bual belaka

Depok 26 May 2008

Selamat pagi... Denty" sapa lembut seorang suster perawat yang berpapasan denganku pada pagi itu. Di rumah sakit tempat aku menjadi menjalankan kehidupan siangku sebagai asisten dokter, sebagai syarat agar aku menjadi seorang dokter, ini adalah keinginan ibu yang menginginkan aku menjadi dokter. "Ibu mau kamu menjadi dokter, biar bisa menyembuhkan orang, biar ada orang yang mau mengabdi kepada orang yang susah, ibu tidak mau kamu jadi dokter yang matralistis." Ketika aku bingung memutuskan jurusan kuliah yang akan aku geluti kala itu.

Ya ibu sangat traumatik ketika ibu membawa alm. ayahku yang telah meninggal ketika terjadi kecelakaan, dan ibu mendesak aku untuk menjadi seorang dokter yang bisa diandalkan. Ibu begitu bangganya menyambut kehadiranku, tak henti-hentinya mereka mengucap syukur. Aku dibesarkan di pangkuan seorang ibu yang membuatku bangga hadir di dunia ini yang menemaniku menghadapi kerasnya hidup. Aku dibesarkan di sebuah desa di perkebunan teh jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota yang masih dengan bebasnya menghirup udara segar di pagi hari jauh dari polusi.

Mungkin kehidupan siangku berisi dengan penuh pengabdian kepada masyarakat, tapi aku menyukai untuk dunia yang gemerlap kala malam hari. Pergi ke diskotik adalah sebuah menu wajib bagiku, dan aku suka berganti-ganti pacar, yah bertujuan agar aku bisa membiayaiku dalam menikmati remang-remang diskotik, hobi satuku ini cukup menguras uang yang cukup besar, banyak lelaki yang tertarik kepadaku karena aku bertubuh tinggi dan cukup menarik minat mereka, banyak yang mungkin hanya tertarik dengan tubuhku saja, tapi hal itu tidak menjadi permasalahan buatku. "Yang penting aku bisa dugem" itulah alasanku ketika Tini sahabatku memberi nasihat padaku.

Pagi itu aku bertemu seorang wanita yang sholeh, berjilbab menangis sesegukan di depan koridor rumah sakit Cipto Mangunkusumo tempat kupraktik. Aku memandang wajahnya lekat. Dan aku mencoba menyapanya pagi itu. Dan karena percaya kepadaku dia bercerita banyak tentang dirinya. Jiwaku resah mendengar kisahnya. Dengan keraguan yang menggelayut dalam matanya dan air mukanya yang gelisah, aku tidak yakin dia akan menyelesaikan ceritanya, tapi entah dorongan dari mana, dia menuturkan juga pengalamannya yang membuat hatiku koyak.

Perempuan dengan tatapan lembut di hadapanku sedikit terlihat lega, sekaligus takut-takut setelah menyelesaikan ceritanya. Mataku nanar setelah mengetahui kisah hidupnya. Kisah hidup perempuan manis yang selalu tampak ramah dan ceria, yang berusaha keras menjaga dirinya dari setiap jamahan pria-pria tak bertanggung jawab, yang menutup auratnya sempurna, yang cerdas, yang aktif, yang rendah hati, yang sebelumnya tak pernah sebersit pun kukira bahwa ada fragmen dalam hidupnya yang terkoyak yang pernah menghancurkan jiwanya, walaupun kini ia berhasil bangkit.

"Aku sudah terjamah. Aku benci!" tutur wanita itu menyelesaikan kisahnya, dan dia hanya menyebutkan namanya Tika, ketika aku menanyakan siapa namanya.

Aku menimang-nimang, mulai membandingkan kilasan cerita yang ia tuturkan dengan peristiwa yang kualami tiga bulan yang lalu. Jika dia, perempuan berjilbab nan manis itu merasa telah ternoda karena sebuah tangan kotor milik seorang dokter tak bertanggung jawab di sebuah rumah sakit, maka aku adalah perempuan yang lebih hina lagi. Jika jiwanya saja bisa begitu terguncang karena tangan kotor milik dokter itu telah dengan seenaknya menyentuh, meremas, dan menikmati sisi kewanitaannya ketika dia dalam keadaan tergolek lemah setengah sadar di rumah sakit, maka jenis perempuan apakah aku ini, yang liar, menjijikan, dan tak pantas disebut perempuan baik-baik? Jika kejadian yang menimpanya hampir lima tahun lalu, jauh sebelum dia akhirnya memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah, masih saja menggoreskan luka dalam di hatinya, maka hatiku telah hancur lebur mengingat peristiwa manis sekaligus pahit yang kualami akhir beberapa bulan lalu lalu.

Pikiranku melayang waktu kejadian di apartemen Burhan seorang yang berstatus sebagai kekasihku "Kamu mau main ke tempatku" tanya Burhan kala itu, seorang pria pengusaha muda dari negeri jiran yang kukenal di diskotek di bilangan Kemang. Dia berkata begitu menyukai aku atau mungkin hanya menyukai tubuhku. "Kamu dokter kan" tanya Burhan kepadaku. "Betul aku seorang dokter" jawabku. "Berarti kamu tahu bagaimana agar kamu tidak hamil kan, Denty" ucap Burhan yang begitu menggetarkan aku.

"Mas aku bukan pelacur mas" ucapku kepada Burhan kala itu. "Sudahlah Denty, aku tidak mengatakan kamu pelacur, kita melakukannya karena suka sama suka bukan? "Jadi kamu tidak mau bertanggung jawab terhadap bayi yang ada di kandunganku ini?" tanyaku kepada Mas Burhan yang saat itu menjadi kekasihku. "Bajingan kamu mas" ungkapku. Dan Burhan hanya tersenyum terkikik melihat sikapku dan meninggalkanku siang itu di depan apartemennya pada pertemuan keduaku.

Dan aku tersadar kembali dan bertatap mata kepada Tika wanita yang tadi menangis di hadapanku. "Jika itu saja kau sebut sudah terjamah, lalu kau sebut apa peristiwa yang terjadi padaku?" Kalimat itu keluar begitu saja tanpa kusadari.

Sejurus dia memandangku lekat. Di balik mata kecilnya aku melihat kejernihan dan kepolosan seorang muslimah yang baik hati. Apakah aku sanggup menceritakan kepahitan ini? Sedang riak wajah gadis di hadapanku menyiratkan keingintahuan dan tanda kesiapan mendengar setragis apapun kisah yang akan kuceritakan.

Lalu, tanpa bisa dibendung lagi, seolah air bah yang mengalir deras karena bendungan tak lagi mampu menahan tekanannya, kalimat-kalimat jujur tentang segala kegundahan hatiku, tentang merananya aku, tentang kekecewaan, tentang hinaan dan deraan yang lama kupendam, kusimpan dan kusembunyikan di balik senyuman yang kupaksakan, akhirnya meluncur deras tanpa bisa lagi kutahan dan kusembunyikan.

Waktu itu hanya sebuah perkenalan biasa yang akhirnya membawa petaka. Sebuah kesenangan yang berakhir duka. Seorang pria mempesona yang menyeretku pada siksa. Dia begitu tampan, bersahaja, dan menyenangkan. Kedalaman matanya membiusku, tutur katanya menggetarkanku, setiap sentuhannya membakarku. Malam itu setelah seharian menemaninya berkeliling kota, tanpa kami masing-masing sadari, kami telah berada di sebuah ruangan di apartmennya, hanya berdua, saling tertarik, saling menginginkan, dan aku terlena, melupakan semua perkara dan fakta bahwa pria yang melenakan ini adalah pria yang baru kukenal, pria yang esok atau lusa akan meninggalkanku kembali ke negaranya. Dan benar saja, setelah malam itu, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Aku menutup wajahku malu. Perempuan dihadapanku tak bergerak, terpaku saja mendengar kisahku. Sedetik kemudian aku merasakan sebuah rangkulan hangat. "Menangislah." Katanya lembut, dan aku menangis sejadi-jadinya. Menyesali kebodohanku, meratapi nasibku, menangisi mahkotaku yang hilang sebelum semuanya halal. Aku bukan lagi wanita suci, aku bukan lagi gadis berbudi, aku tak ada bedanya dengan sampah.

"Kita perempuan adalah objek yang sangat mudah mengalami pelecehan baik kita sadari maupun tidak." Perempuan itu berkata lembut.

"Jika kita tidak menjaga diri baik-baik, semua akan berakhir fatal," kata-katanya menghujam, "Apa yang menimpamu adalah sebuah kesalahan dan dosa, untuk menebusnya kau harus kembali pada-Nya dan bertaubat."

"Tapi, aku hina," ucapku seakan meyakinkan diriku sendiri.

"Pintu maaf Allah begitu luas terbentang terbuka. Dan yakinlah, Allah akan memaafkanmu." ujar Tika dengan lembut kepadaku, walau dengan sedikit airmata menahan perih rasa di dada.

Apa iya? Aku menimang-nimang dalam hati, tapi pandangan tajam menghujamnya seolah menembus ke dalam mataku lalu menancap tepat di hatiku.

"Aku temanmu, aku akan mendukungmu, yakinlah, dunia belum runtuh, kau hanya perlu bartaubat dan tidak mengulangi kesalahanmu." Kata-katanya masih lembut, tetapi menggetarkan hatiku.

Mungkin aku "Neurosis" ujarku kepada Tika seorang wanita yang baru kukenal dan menyadarkan atas kekhilafanku. "Apa itu Neorosis" tanya Tika singkat kepadaku "Kondisi psikologis yang di dalamnya pola perilaku abnormal timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan dalam menghadapi kecemasan dengan cara-cara yang bisa diterima secara sosial"

"Apakah kamu beragama Islam" tanya Tika kepadaku.

"Ya aku Islam" ucapku kepada Tika.

"Tidakkah Kau merindukan Allah" tanya Tika kepadaku.

"Allah" ucapku dalam hati, aku telah melupakanya, Dia yang memberiku kesempatan menjadi saat dokter di tengah status yatimku. Dan hatiku menangis menyesali apa yang pernah aku lakukan. Sambil aku menunduk kepala tertegun memikirkan ucapan Tika, aku berjanji dalam hati untuk menjaga diriku dari mata-mata liar dan tangan-tangan jahil pria-pria tak bertanggungjawab, dan aku berjanji mengubah masa laluku yang kelam ke arah yang benar sesuai petunjuknya. Lalu aku merasakan sebuah tarikan halus, aku menurut saja ketika perempuan lembut itu membimbingku ke mushala. "Shalat taubat, yuk," ajaknya.

Kami pun segera ke mushloa menjalankan sholat Taubat, apa yang terjadi kepada kami. Selesai melaksanakan sholat taubat, Tika menuntunku dalam membaca doa taubat "Ya Allah ampunilah kesalahan kebodohan dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, dan ampunilah kesalahanku yang Kau lebih mengetahui daripada aku, ya Allah ampunilah aku dalam kesungguhanku kemalasanku dan kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku, ya AllAh ampunilah aku atas dosa yang lalu dan yang akan datang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Kau lebih mengetahui dari pada aku, Kaulah yang mengajukan dan Kaulah yang mengakhirkan dan Kau Maha Kuasa atas segala sesuatu"

Dan mulai saat itu aku mengenakan jilbab yang menghias mukaku, serta kututup semua tubuhku dan aku akan mengabdikan ilmu kedokteran yang aku miliki mengabdi sepenuhnya kepada kebutuhan ummat. Terimakasih Ibu, terimakasih Tika, terimakasih Allah atas semua yang kau berikan. Dan sedikit pesan untuk para sahabat perempuan, "Marilah kita menutup aurat kita, kecantikan bisa terpancar dalam pakaian yang terbalut kesopanan, jangan menjadi orang yang menyesal seperti diriku ini".



Depok, 26 April 2008

Mayline

aku sekeluarga telah mengabdi cukup lama dengan cih tjun dan koh Tjia, ayahku adalah buruh jahit dan ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga cih tjun dan koh tjia. aku hanya sebagai supir di empat koh tjia, seorang cina keturunan palembang. aku senang bekerja di tempat koh tjia, karena koh tjia ramah dan memperhatiakan semua pekerja yang ada

"prapto, lu tolong antar si meylin ke kampusnya lo pake, mobil accord hitam gue aja" begitu koh tjia meminta ku mengantar meylin anak perempuan bungsunya untuk ke kampus. "Iya koh.. begitulah jawabanku kepada koh tjia. hari itu tepat tangal 12 mai 1998, saat ini demo sedang marak di ibu kota jakarta, mereka meneriakan penurunan Presiden RI saat itu yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

"Prapto, Gue minta tolong lo jagain meylin di kampusnya ya, gue khawatir dengan keadaan saat ini" cih tjun memintaku mengantarkan meylin, Tjih tjun memiliki dua anak Meylin dan Yunan, keduanya adalah wanita yang cantik, meylin sekarang sudah kuliah tingkat akhir di universitas di bilanga

jalan semanggi. dan yunan masih duduk di bangku kelas 3 SMU.

"prap, kita makan dulu yuk" ajak mey sebelum berangkat kuliah waktu itu, makan apa non may, begitu aku memangilnya. sebenarnya ada perasaan suka ku kepada maylin, dia seorang yang baik dan

ramah, tapi aku tahu diri karena aku hanya sopir dari maylin. "stop si prap, gue mau makan dulu, lo mo ikut engga, ini restoran kwe tiaw kesukaan gue lo ikut aja prap, halal kok, gue bayaran deh" ajay maylin kepadaku.

Kwetiaw sapi, halal Aku bisa baca kalau dua dari daftar menu menyediakan kwetiaw campur. Ada pula dikasih nama Kwetiaw campur Singapore. "lo pilih mana prap" ujar mayline. terlihat dirumah makan itu pelayan disana Berteriak-teriak menawarkan makanan “Hainam campur”, “Bakmi…bakmi”, “Hainam campur”, “Boleh…boleh, silahkan”, “Kwetiau?”, “Teh botol, fruit tea, atau apa?” ucap pelayan tersebut seperti mendesak kami untuk memilihnya.

"Tenang prap,gue pilihin lo yang halal, engga ada babi, karena gue tau lo tuh taat banget kan prap" begitu meylin menyodorkan semangkuk kwetiaw sapi. Jepitan-jepitan kwetiaw menunggu masuk

mulut tidak bertahan lama di udara terangkat dari piring. Sehitungan beberapa detik melucur ke

mulut. Ujungnya kusedot dengan tarikan napas sambil memoyangkan bibir. Ujung lainnya yang masih tertinggal di piring kudorong pelan-pelan dengan sumpit. Bibir berminyak-minyak menambah lancar barisan mi itu meluncur ke rongga mulut lalu dikunyah lembut untuk menikmati lama-rama racikan bumbu yang nikmatnya luar biasa. Ingin aku punya istri pintar memasak mi senikmat ini. Mungkin tidak perlu lagi aku makan nasi. Tiga kali sehari hanya makan mi berminyak. dan kubayangkan itu

adalah maylin.

Melelahkan, sebuah hari kerja yang menyebalkan berakhir sudah. Hari ini lalu lintas lebih macet dari biasanya. Jadinya sore ini lalu lintas diatur secara konvensional seperti puluhan tahun silam, dengan tenaga manusia, oleh polisi lalu lintas, . "Non May, bangun ,sudah sampai" ucapku melihat meylin yang cantik telah selesai tugas ku mengantarnya hari ini.

+++++++++++++++++++++++++++
siang itu tanggal 13 may, kebetulan aku minta ijin cuti dari koh tjia, aku memilih beristirahat di rumah, sampai ibuku membangunkan ku "prato bangun nak," ucap ibu "kenapa bu lo tidak ada kerusuhan pagi ini jalan-jalan di blokir banyak rumah-rumah dijarah to, kita bantu Kok tjia dan cih tjun," ibu dan abapak sudah siap-siap membawa grobak kayu yang ditutup terpal. "ayo kita bantu koh tjia dan keluarganya, ibu takut mereka kenapa-kenapa" begitu kata ibu.

"memang ada apa bu, lo tidak tahu hari ini banyak penjarahan, ibu khawatir dengan koh tjia dan cih tjun.", kata ibu kepadaku, "kenapa khawatir?" tanya ku tidak mengerti, kerena koh tjun dan cih tjia bukan siapa-siapa kami. "sudah lah prapto lo bantu ibu dan bapak mencari koh tjia dan cih tjun" ujak ibu menarik tanganku.

Kulihat suasana sangat mencekam hampir setiap orang bertriak-teriak "jarah..jarah.." "bakar.." "Kita bunuh cina.." Wajah-wajah yang kutemui saat berpapasan gelap semua. Memandang hanya lurus

ke depan tidak peduli dengan aku yang menabrak alur arah mereka yang berjalan cepat di tengah kerumunan masa.

"ibu itu koh tjia dan cih Tjun" teriaku. Masih ada gurat kepedihan di wajahmeraka yang kuning pucat. Seperti bulan langsat yang berlayar di depan jendela. Melewati gelombang awan yang hitam, berarak menuju utara. "koh tjia, ayo masuk di grobak kami" ujar ibu, "cih tjun mana" tanyaku kepada koh tjia, "Dia di dalam prapto, lu tolong cari meylin dan yunan ya plapto" koh tjia memintaku mencari kedua anaknya., "mereka dimana koh tjia" tanyaku kepada koh tjia, "yunan masih sekolah, meylin masih kuliah"

"ini plapto.. lu pakai motor gue aja.. gue minta tolong ya plapto" ujar koh tjia" oke koh, aku berusaha mencari yunan terlebih dahulu, karena lokasi sekolahnya dekat dengan konveksi milik Ci

tjun dan koh tjia, dan aku dapati yunan sedang berdiri di pojok sekolahnya keakutan, "Yunan lo ikut gue, koh tjia dan cih tjun sedang diselamat kan ibu" tampaknya yunan masih shok, sepanjang

jalan dia bercerita banyak teman-temannya sesama etnis cina di rampok, dan di todong, bahkan ada

yang diperkosa.

"ibu..pak.." aku memangil ibu dan bapak " iya prapto. ini yunan, apakah koh tjia dan cih tjun ada sudah disini" tanyaku kepada ayah, "iya prapto, koh dan cih telah disini, meraka trauma dengan keadaan yang terjadi, rumah meraka banyak yang menjarah, habis semua yang ada di konveksi' cerita ayah kepadaku, "lo tolong cari meylin ya prap" ucap ibu, "bu tolong minta si joko, untuk bawa

barang-barang di konveksi, untuk keperluan koh dan cih susatu saat untuk berusaha lagi.

"aku berangkat bu" kepada ibu mencari maylin, ku coba menjemput ke kampusnya, dan kucari erputar-putar di dalam kampusnya, yang ada hanya kosong, aku coba mencari wartel, tapi wartel yang ada tutup semua, suasana jalan terlihat lengang, dan hanya kulihat beberapa orang membawa bawaan yang banyak, ya kulihat orang habis menjarah. Sungguh biadab keadaanya, dimana terlihat kerakukaan dan sifat asli dari manusia yang serakah.

Dimana polisi saat ini, dimana aparat yang serahusnya melindungi kami para warga negara, meraka merangsuk masuk seperti seorang pengecut, disaat kami membutuhkan mereka, apakah polisi hanya bisa menilang orang, saat kerusuhan ini meraka menghilang, apakah kerusuhan ini ulah mereka

sempat aku berfikir seperti itu.

disaat aku kebingungan mencari meylin, aku melihat sebuah tas tangan seorang wanita yang terjatuh disana, dan sebuah Hp tergeletak, "Ya Allah maafkan aku mengambil hp ini dari orang yang tidak kuketahui.." aku berdoa kepada Allah, dan meminta maaf karena mengambil hp dari tas yang tergeletak itu, untuk menephone meylin.

Kutekan angka-angka yang menjadi nomer telp meylin, dan alhamdulillah telp tersebut diangkat oleh maylin. "May lu dimana, gue di jalan sudirman sekitar kampus lo" ucapku. "gue di daerah taman sari prap.., tolongin gue, mobil gue dicegat orang-orang, rame disini tolongin gue prap" begitu suara maylin dengan nada yang ketakutan itu, lalu, kupacu motor ini dengan aksi yang nekat dan gila menuju jalan taman sari.

"ini cina, dia cina, ayo kita rampok" kulihat situasi begitu mencekam, banyak orang cina pria yang ditelanjangin dijalan, ada yang dipukulim ada yang dijarah habis toko-tokonya, kebakaran dan

suasana mencekam di sepanjang jalan. "Astagfirullahalazim" ungkapku, kenapa bangsa ku bisa seperti ini, mengapa bangsa ini menjadi liar, berutal, kenapa mesti membedakan etnis cina atau

bukan, bukankah mereka tetap saudara kita satu tanah air.

Kutemukan mobil meylin di pojok jalan, "meylin,.. may... lu dimana may.." teriku mencari maylin, mataku menerawang dan mencari maylin yang tampak hanya wajah-wajah beringas, dengan hasil jarahan ditangan mereka, aku tetap mencari kepojok-pojok ruko taman sari, kulihat beberapa orang sedang menyeret tubuh meylin kesana, tampaknya mereka berusaha memperkosa maylin.

ada beberapa orang yang berusaha membuka baju mayline, dan mayline yang memakai rok, sudah dalam keadaan terlepas sangat mengenaskan keadaanny saat itu, dan kulihat beberapa orang berusah memperkosa meyline, "astagfirullah... apa yang harus kulakukan, mereka ber5 orang yang berusaha memperkosa mayline..." sambil celingak-celinguk kumencari sesuatu, tapi kalau aku maju itu nekat namanya.

Dan aku terpikir untuk menuju mobil tempat maylini, kulihat kunci mobil itu masih menyangkut disana, hanya dasboard mobil itu terbuka dan tas may yang berantakan, ku duga may di berhentikan di tengah jalan dan diseret kepojok ruko itu, karena terdapat sobekan rok may disana, kunyalakan mesin mobil may.. dan ku arahkan kepada orang-orang yang ingin memperkosa mayline.. dan meraka melompat semua, "alhamdulillah, aku datang saat may hampir di perkosa oleh orang-orang tersebut,

ketika may hanya mengenakan bra dan celana dalam saja, ketika sempat kuliahat seorang dari kawanan pemerkosa itu ingin menurunkan celana dalam mayline.

aku berlari dan menggendong may yang dalam keadaan pingsan ke dalam mobil itu, aku berusaha bergerak cepat, sebelum orang-orang yang kutabrak sadar dan bagkit menyerangku. dan langsung ku pacau mobil mayline keluar ke arah sudirman, di perjalanan awal, orang yang mau memperkosa mayline tersebut menimpuki kami, dan beberpa penjarah juga berushaa menghalangi jalan kami,tapi aku berusaha menabrak meraka, karena kalau aku berhenti adalah konyol. ku tinggalkan motor koh tjia disana, karena aku memilih menyelamatkan may.

"may..may.." bangun tepuk ku membangunkan mayline ketika sudah berada di tempat yang aman, keadaan nya sungguh tragis hanya memakai bra dan celana dalam saja, "may.. aku menepuk pipinya" "jangan perkosa gue.. tolong jangan perkosa gue.. gue ini warga negara indonesia, gue memang pcina, tapi gue cinta indonesia" begitu mey berteriak saat aku membangunkannya. "may ini gue. prapto.. may..." aku setengah berteriak memnangunkan mayline.

"prapto.." may berujar.. "iya gue prapto" jawab aku, "prap gue kenapa begini..seakan may sadar dengan keadaan dirinya. "ini may pakai jaket gue" aku kasih jaket itu ke mayline, "terima kasih

prapto" ujar may sambil memeluk akku saat itu "terimaksih lo nolongin gue..." may mengucapkan terimakasih. 'sudah lah may.. ini permintaan koh tjia untuk nyari lo" ucap aku. "Baba dimana prap.." tanya may, "sudah bapak,ibu dan adik lo sudah aman di rumah aku.

"ayo may kita pulang" aku kembali menyalahkan mobil may menuju kerumah. dan dirumah ku kulihat oh tjia, koh tjun, dan yunan adiknya mayline sudah disana, dan beberapa barang berharga dari konveksinya sudah berhasil dirumahku.
*************************************
Beberapa malam dirumah, ku yangs sempit, keluarga koh tjia berada dirumahku, kulihat Mayline masih merenung akibat ketakutan yang amat atas tragedi dirinya hampir diperkosa, atau koh tjia yang selalu diam dan termenung memikirkan nasib konveksinya yang habis terbakar. begitupun koh tjia dan yunan. keluarga bosku semua dirumah kami yang sempit dan sederhana.

Aku mencoba menyalakan televisi kulihat dimana terjadi kerusuhan dan ada berita orang-orang cina anyak di jarah dan diperkosa, Tiba-tiba may menghampiriku dan menyapaku "Prap.. makasih ya lu dah olongin gua dan keluarga gua di ruamah" ucap mayline kepadaku, "sudah jadi tanggung jawab gue ayline, lu dan keluarga dulu yang menghidupi gue dan keluarga gue, sekarang saat nya gua bales budi may.." jawabku. "Menurut lo kenapa gue hampir di perkosaa orang apa salah gue" tanya mayline kepadaku, "karena lo cina.." jawabku, "memang kenapa kalau gue cina? mereka boleh memperkosa gue, apakah mereka lebih memiliki indonesia, tidak kah lu liat cina di indonesia bahu-membahu dengan pribumi membangun indonesia?, malah banyak cina yang lebih nasionalis dibanding pribumi...? Lo lihat pemimpin pribumi yang serakah...?" ungkap meyline tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

"ya mungkin sejarah yang membedakan cina dan pribumi, bangsa lo tuh selalu bergelimangan harta, sedang pribumi itu selalu susah, mungkin mereka iri." ucap ku, "prap, lo tahu, bangsa gue cina selalu bekerja keras, hidup sederhana, dan selalu berjuang, kami tidak menjadi kaya karena turun dari langit" ucap may lagi. "lu bener, tapi cina kadang hidup dalam komunitasnya mereka terkesan ekskelusif, mereka tidak mau berbaur" aku menerangkan. "gimana engga mau berbaur, kami selalu dibedakan, kami selalu disulitkan, memang mata kami sipit, kulit kami berbeda, tapi hati kami indonesia" ucap may. "betul.. tapi lo engga bisa merubah persepsi orang disana, karena lo memang cina" ucapku. mayline menjawabku dengan sebuah senyum.

"prapto.. kenapa nolongin gua" tanya mayline, "karena di agama gue islam, kita harus tolong menolong, “…Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya“. begitu aku menjelaskan kepada Mayline. tampak meyline begitu menyimak perkataan ku tentang petikan surat al maidah. "prap bukanya orang yang membakar, menjarah, dan hampir memperkosaku juga islam" tanya Mayline kapadaku. "iya tapi mereka tidak menjalankan agama dengan baik mungkin". jawabku. "islam itu damai, islam itu ditakdirkan sebagai rahmat untuk alam" aku mencoba menjelaskan sebisaku.

"prap, orang tua gue tidak pernah memaksaku megikuti agama, tapi aku lihat dari keluarga lo begitu damai, sejuk, dan indah walau keluarga loe itu kekurangan mereka selalu bersukur" ucap mayline, "ya itu lah keluarga kami, karena ayah dan ibu selalu mengajarkan aku bersyukur atas apa yang kami terima" ucapku. "aku lihat kamu tidak pernah melihat aku, dan sewaktu aku dalam keadaan hampir diperkosa, apa sebagai laki-laki kamu tidak tertarik" tannyanya. "kalau aku mengikuti nafsu birahiku aku sangat tertarik dan tergoda tapi Allah melarangku" ucapku, "maksud melarang kamu bagaimana" tanya mayline kepadaku. "Janganlah kamu menghampiri zina , sesungguhnya zina itu amat keji dan jalan yang sesat, bunyi sebuah ayat alquran" jawabku, "sungguh aku terpesona dengan islam prap, maukah loe membimbingku menjadi islam prap" jawab mayline. "apakah kamu sungguh-sungguh may.." tanayaku terprajat.

Dan semenjak itu mayline dan keluarganya mulai menjadi islam, dan suatu hikmah yang terjadi aku dan mayline melangsungkan pernikahan secara islam. enam bulan setelah pernikahan itu, aku bersama keluarga mayline kembali membangun lonveksi dari barang-barang yang dulu sempat kuamankan. walau terkadang Koh Tjia atau bapak mertuaku masih trauma setiap ada kerusuhan kok tjia memilih menutup konveksinya.

Satu pertanyaan dalam hatiku, mengapa kita bangsa indonesia selalu membedakan pribumi dan nonpribumi. bukankan ini tanah air kita, tanah air yang satu tanah air indonesia. bukankah kita hidup di bumi yang sama, di bumi indonesia. dan aku berharap bangsa Indonesia bisa memahami perbedaan. seperti perbedaan aku dan istriku mayline yang berbeda untuk dipersatukan. Semoga Allah menyatukan Indonesia, dan Menjadikan indonesia yang makmur, dan krisis 10 tahun yang lalu tidak akan pernah berulang lagi.

Saat Kau Tanya Seberapa Dalam Cintaku Padamu
Aku hanya diam dan tersenyum
saat Kau Tanya Kenapa tersenyum
Aku lalu terdiam dan membisu

Lalu kau kembali menyanyakan Kepadaku
Apakah Benar Kamu Mencintaiku
lagi-lagi mulut ini kembali membatu
Sedikit aura murka tersirat pada mukamu yang ayu

Lalu kau kembali bertanya kepadaku
Maukah kau mencintai ku seperti matahari kepada bumi
seperti sebelumnya aku hanya diam dan membisu
Dan Kau Mulai Marah dengan Apa yang Terjadi

Tapi tetap kau tanyakan lagi kepadaku
Apakah kau bisa mencintaiku seperti bulan kepada malam
Lagi-lagi aku kembali terdiam seperti yang lalu
kali ini Kau mulai mensuarakan kekesalan mu.

Lalu aku menjawab, Aku akan mencintaimu seperti angin
Tidak seperti matahari yang mencintaimu hanya pada siang hari
Tidak Seperti Bulan yang mencintaimu hanya pada malam hari
Cintaku ada seperti Angin yang kau butuhkan untuk Hidup mu

Angin Itu ada tidak hanya siang, Tidak Juga pada Malam
Angin selalu ada disaat kau masih bernyawa tidak peduli siang atau malam
Angin bisa menghiburmu disaat kau gundah
Angin juga ada saat kau sedang tertawa bahagia

aku ada tuk menerbangkan sayap-sayap indahmu tuk gapai impianmu
aku Angin yang selalu kau butuhkan tetapi tak kasat dalam matamu
cintaku kepada mu, seperti angin akan ada disetiap detik waktumu
Begitulah aku mencintaimu, karena Aku adalah angin untuk bidadari hatiku

Depok 26 May 2007
Original by Erwin Arianto


Malam dengan kemegahan sang kelam
terkihat bintang mencumbui sang rembulan
kunang-kunang bersinar bersahabat dengan gelap malam
Tak ada sang hujan Menambah indahnya Alam

Angin meringkuk sepi di peraduan
Menanti sayap Bidadari tak pergi tertahan
Dengan airmata angin mengadu pada hujan
menyirat rintik grimis mulai berjatuhan

pada kepedihan yang jauh tertahan
pada Perih peluh mulai mengering
terbawa ayunan melangkah mengiring
angin merindukan senyum bidadari nan menawan

Angin terbelenggu tak bisa pergi
Angin teriak Tak terdengar lagi
Angin berlari tak terhampiri
Karena Bidadari telah Pergi tak Kembali

angin pun bercerita pada malam tentang kisah panjang
hembusan Sepoy angin pada malam memenatkan
Sekali lagi angin terkalahkan oleh keadaan
tuk pertahankan cinta terasa menyakitkan


Depok, 17 May 2008
Erwin Arianto
Bidadari Still Love U dengan Segala keterbatasan


Keysia dan Mantan Preman Tua
By; Erwin Arianto

Siang itu saat putri kecil ku pulang dari sekeloh.. "Assalamualaikum..." teriaknya dengan muka lugu penuh dosa memberi salam kepada ku "Walaikum salam... Kamu dah pulang Keysia" jawabku kepada keysia. "sudah bunda...bunda masak apa?" tanya Keysia kepada ku sambil membuka sepatu dan mengganti seragamnya. "bunda masak sayur sop dan goreng empal deging.." seru ku kepada Keysia.

"bunda... kakek mana..?" Keysia menanyakan keberadaan kakeknya, bapakku, memang Keysia begitu dekat dengan bapak, entah karena cucu pertama entah karena adanya persamaan sikap yang sama-sama keras kepala. "kakek di belakang sedang berbaring di balai-balai.." jawabku. memang rumah kami tidak terlalu besar, tetapi di halaman belakang ada balai bambu tempat beristirahat disamping sisi dari pohon durian yang rimbun.

Kulihat keysia dan bapak sudah bercanda bersama lagi, dan tampaknya keysia sedang menceritakan tentang pengalaman sekolah yang dialami nya hari itu. setelah puas bermain berdua Kulihat bapak terbaring di atas balai bambu sambil bersenandung bersama keysia Cucu perempuannya tampak membaringkan kepalanya di sisi bapak ikut menikmati nyanyiannya walaupun keysia itu jelas tidakmengenal lagunya.dan kulihat keysia menyodorkan sebuah Buku tata cara sholat untuk kakeknya/bapakku. bapak hanya tersenyum, tahu akan apa yang bakal dikatakan cucunya.

“Ayo kek, Keysia ajarin caranya sholat seperti diajarin ibu guru disekolah ya” pintanya polos dengan mata berharap.

“lagi? Kemarin kan sudah…” elak bapak dengan nada bercanda, walau suaranya terdengar parau, akibat tubuhnya yang kian melemah.

“kemarin kan kakek belum aku kasih taunya” protes Keysia sebal.

“kakek ngantuk Keysia, kakek kan sakit” elak bapak lagi kemudian langsung membalikkan tubuhnya pura-pura mendengkur.Keysia tidak melanjutkan protesnya, dia percaya kakeknya benar-benar tidur. Gadis kecil itu berjinjit untuk mencium kening kakeknya dengan sayang.

“maafin Keysia ya udah ganggu kakek, met bobo kakek sayang” bapak taampak tetap pura-pura tidur.

Sebenarnya bapak sudah sejak lama Dulu selalu menjalankan sholat, bahkan hampir semua sholat sunnah dikerjakanya. Bukankah dulunya Bapak Anak seorang guru ngaji sebelum terjerembab dalam kehidupan sebagai pereman. bapak sering bercerita tentang peristiwa lalu, kejadian pahit yang telah merubah hidupnya.

**********************

PAda awal pernikahanya dengan ibu, bapak bekerja sebagai buruh pabrik dan mereka bahagia dengan kehidupannya walau dijalani dengan indah. dan aku pun mendapat kasih sayang yang penuh dari bapak dan ibu. walau kami dulu tinggal di rumah kontrakan yang terbilang sangat sempit tami kami bahagia, samapi suatu saat pabrik garment tempat bapak dan ibu bekerja gulung tikar dikarenakan

Krisis ekonomi dan kenaikan harga BBm yang mempengaruhi kenaikan harga bahan baku, dan penurunan penjualan."Bu... Pabrik tempat kita bekerja tutup, kita harus bagaimana ya bu" aku ingat ucapan bapak waktu itu, aku waktu itu msih duduk di bangku kelas 5 SD, "Sabar pak, kita coba usaha saja" jawab ibu dengan penuh kesabaran, ibu adalah seorang yang sabar dan penyayang terhadap aku dan adikku.

Setelah tidak bekerja pada pabrik garment tersebut, kehidupan kami mengalami penurunan yang drastis, ibu mencoba berjualan lauk matang di rumah, dan bapak Mencoba menjadi pedagang kaki lima dan berjualan di depan perkantoran elite.

Musibah yang datang tetap kami jalani sekeluarga dengan sabar, orang tuaku begitu ihlas menjalani semuanya. dan bapak pernah berkata kepada kami sekeluarga "“Hidup itu berat, tetapi tetap harus di jalanin, seberat dan sesusah apapun. Jangan mengeluh dan merepotkan orang lain.” itulah prinsip bapak, aku salut kepada bapak, walau dalam keadaan susah beliau tetap tegar sebagai tulang punggung keluarga.

Tetapi awan hitam masih menyelimuti keluarga kami, ketika aku pulang sekolah dulu aku melihat banyak orang berlari-lari di dekat rumah kontrakan kami sambil berteriak-teriak dan membawa ember untuk memadamkan api, "kebakaran-kebarakaran..." begitulah orang-orang berteriak. Dan begitu pilu melihat rumah kontrak kami habis di lalap si jago merah. Lalu aku pun panik,mencari Ibu dan Bapak "bang roni..ibu mana.. bapak..., kemana" tanyaku dan aku pun menangis sekencang-kencangnya melihat kejadian itu. dan seorang yang kusapa bang roni, adalah seorang tetangga kami dalam rumah petak kontrakan kami mengantarkan aku ke ibu.

Kulihat ibu sedang menangis sesedukan di pojok mushola, dan bapak masih berusaha menyelamat kan barang berharga yang tertinggal dirumah kami, walau memang kami sebenernya tidak memiliki apapun dirumah. "Gusti Allah... Mengapa kau tidak berhenti memberi kami cobaan" begitulah ratap ibu kala itu. sambil menggendong Adiku Budi, dan dalam kondisi hamil 6 bulan. Begitu kulihat guratan kepedihan yang dialami ibu.

Setelah kebakaran padam, kami sekeluarga sekarang tidak mempunya tempat tinggal lagi, "ibu lalu kita tinggal dimana...?" tanya budi dengan polos menanyakan kemana kami akan tinggal. Ibu hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan budi ketika budi baru pulang sekolah kala itu dan diam melihatrumah kontrakan kami habis di lalap api.

Kulihat bapak membawa beberapa benda berharga yang kami miliki, berupa radio butut, dan beberapa pakaian kami sekeluarga, keringat dan air mata tampak jelas di muka bapak kala itu. sungguh duniaseakan runtuh, dan bapak ku seorang yang tegar pun seakan tidak kuat menanggung beban yang dihadapinya.

Dalam hati tangan mungil ku waktu itu hanya bisa mengadah menghadap langit dan berdoa. "Tuhan kenapa rumah Ika dibakar.. sekarang ika,budi, bapak, dan ibu harus tinggal dimana...?" aku pun menangis sekencang-kencangnya. Dan bapak dengan tangan yang kasar memeluk aku dan budi seakan ingin begkata "sabar nak.. bapak akan mencari jalan keluar terbaik untuk kalian".

********************************

karena tidak memiliki uang dan apapun, akhirnya dengan suatu pilihan berat, diajak oleh pak nainggolan teman bapak sewaktu berjualan di emperan, kami tinggal di bawah kolong jembatan,

"inilah rumah baru kita ka, bud" terlihat bapak dengan muka yang dibuat seolah bapak bahagia dengan sesuatu yang dibilangnya rumah, walau hanya terdiri dari tumpukan-tumpukan kardus bekas dibawah kolong jembatan.

Walau terbuat dari kardus, rumah kami begitu nyaman, aku nyamana dengan bekap kedua orang tua, bapak dan ibu begitu memberi rasa cinta meraka kepada aku dan budi. bapak kini berusaha mencari nafkah dengan menarik becak. aku dan budi karena tetap ingin sekolah kami berdua memutuskan untuk mengamen di jalan, dan uang nya aku kasih ke ibu.

"bu ini hasil ngamen aku dan budi, bu.. ika mau sekolah lagi..." ucapku sambil memberi uang receh sebesar Rp.10.000 "iya bu.. budi kangen sama temen-temen budi, budi mau sekolah lagi..." ibu hanya diam dan menangis.

"bapak pulang..." teriak budi. "eh bapak.." ucapku menyambut kedatangan bapak waktu itu. "bapak membawa Nasi bungkus nak, buat kalian makan" bapak membawa nasi bungkus, plus tempe, tahu, dan krupuk. itulah yang biasa kami makan. Nasi tersebut oleh ibu dibagi 4 untuk aku, bapak dan ibu.

Walau hanya makan seadanya, Alhamdulillah kami masih bisa makan 3 kali sehari, dengan porsi seadanya.Dan kuliahat bapak tetap tegar menjalani harinya, aku lihat bapak tetap menjalankan sholat lima waktu, bapak selalu menggunakan baju koko kebesaran yang tersisa dari kebakaran rumah kami

yangdulu. "bapak.. kayaknya ibu sudah mau melahirkan deh 1 bulan lagi.."ucap ibu waktu tengah malamsaat aku pura-pura tidur dan mendengar percakapan bapak dan ibu. "Iya bu.. tapi melahirkan

dimana.. bapak tidak punya uang untuk biaya melahirkan gimana ya bu" kulihat bapak melamun disana.

Sore itu sepulang mengamen dengan budi kulihat bapak duduk diam di pojok rumah, "sore pak.. kok tidak narik pak" tanya ku polos kepada bapak. "Becak Bapak di sita oleh Polisi", katanya Bapakmelanggar peraturan lalu lintas polisi mengatakan “Anda gak lihat di tiang depan sana ada gambar becak di larang masuk di area sini?!” begitu kata bapak tentang kejadian diambilnya becaknya.kulihat bapak menangis didepan rumah kardus kami.

Bapak mengepal tangannya sambil memukul tanah tanda kekesalannya, kekesalan tentang garis hidup dan kemiskinan yang menimpa kami. dia berteriak "Aku benci pada mu ya Allah.. tidak habis pikir aku, pekejerjaanku, rumah ku, kini becakku kau ambil semua.. kenapa.. apa salah ku, aku benci pada mu ya Allah" begitu lah teriak bapak menyalahkan Allah, karena mungkin tidak ada siapapun atau Apapun yang bisa disalahkan lagi.Ibu hanya diam, tidak ada sepatah kata, hanya tersenyum dan memeluk bapak dari belakang, seakan berusaha menenangkan bapak.

Sudah tiga bulan ini Bapak menganggur, dan sejak saat itu kerjaan Bapak cuma luntang lantung tidak jelas, ibu mencoba mencari nahkah kami dengan memulung. dan aku dan adiku tetap mengamen. saat aku mengamen di prempatan lampu merah, kulihat seseorang seperti bapak melakukan pencopetan, dan orang tersebut dikejar-kejar oleh masa, tetapi untung nya orang itu berhasil menyelamatkan diri dari amukan masa.

ketika dirumah aku bertanya kepada bapak, "pak tadi aku lihat seorang pencopet dikejar masa, kasihan orang itu pak, kenapa dia mencopet ya pak" tidak seprti biasanya bapak yang ku kenal ramah membentaku "Sudah lah anak kecil tau apa sih.." bentaknya kuliahat bapak memegangi sebuah luka dikakinnya, yang sama kulihat dengan pencopet yang kulihat sempat terjatuh di lampu merah tadi.

PAda awalnya bapak tidak berterus terang kepada ibu, aku dan adiku, tapi lama-lama kami tahu bahwa bapak telah bergabung dengan kelompok preman bang hasan Palembang, sebuah geng preman yang sering merampok, menodong, dan berbuat kekerasan lainya."ini uang untuk Ika dan Budi sekolah bu" suatu hari bapak menyerahkan uang kepada ibu, "dan ibu tolong jangan memulung lagi, sebentar lagi ibu sudah akan melahirkan" kata bapak kepada ibu. "ini uang dari mana pak" tanya ibu kepada bapak, "sudah lah kamu tidak perlu tahu" bentak bapak kala itu.

Tetapi suatu hari aku melihat tangan bapak berdarah-darah, seperti habis berkelahi, dan banyak kawan-kawan bapak yang datang kerumah “Cung, aku nggak nyangka kalau kamu tega membunuh lelaki itu!,” “Itu masalah pilihan Met, aku terdesak waktu itu, nggak ada pilihan lain!!,” bapak membela diri.“Tapi tidak harus dengan membunuhnya kan?,” “Aku tidak menyangka kalau sabetan ku mengantarnya meregang nyawa,”, “Bodoh kamu, hasil sabetanmu nyaris memutuskan lehernya, mana mungkin nggak mati” “Oke oke.., aku mengaku salah saya kira kita tidak usah memperpanjang masalah ini, Oke!,” sahabat bapak yang dipangil memet diam.

Aku bercerita kepada ibu tentang kejadian yang terjadi dan bahwa bapak menjadi preman, tetapi ibu diam, seakan tidak bisa berkata lagi. "sudah lah ika, kamu sekolah saja, biarkan bapak mu mencari uang, kita doakan saja bapak mu selamat" ucap ibu pasrah dengan penjelasan ku tentang bapak. Makin lama nama bapak sebagai preman semakin berkibar dan bapak terkenal dengan julukan si Kuncung dari semarang, apakah aku harus bangga atau sedih perasaan yang tidak bisa aku deskribsikan, sekarnag aku anak jagoan, anak preman, banyak orang takut terhadap aku, mungkin karena keangkeran nama bapak.

PErnah suatu hari, aku menunggak membayar uang sekolah selama 5 bulan, dan aku tidak bisa mengikuti ujian sekolah, aku menceritakan hal ini kepada ibu, lantas ibu menceritakannya kepada bapak, dan ternyata bapak membawa teman-temanya menyatroni rumah kepala sekolah kami, dan hampir melukai kepala sekolah, walau pada akhirnya kepala sekolah tersebut dapat memahami dan memperbolehkan aku mengikuti ujian. semenjak kejadian kepala sekolah di datangi bapak, semenjak itu

Dikelas aku pun ditakuti tidak ada orang yang berani menggangguku, karena takut kepada bapak, semua teman-temanku dan guru-guruku tidak berani menggangguku. tapi walau aku anak preman, aku bukan seorang yang menggunakan nama bapak, prestasiku sangat bagus dan memuaskan pada kelas 1-3 SMP aku selalu menjadi yang terbaikdi sekolah, begitupun budi adiku dia termaksud anak yang cerdas.

Dan aku berhasil lulus smu dengan nilai yang sangat memuaskan, aku mencoba mendaftar melamar kekelurahan dekat rumah kardusku, dan alhamdulillah aku diterima menjadi pegawai honorer di sana. tetapi bapak ku masih tetap seorang preman, walau seorang preman tetapi bapak tidak pernah main judi, Minum-minuman keras atau pun main prempuan. bapak tetap seorang yang hangat di keluarga, walau diluar bapak ditakuti.

******************************

Aku sangat beryukur karena aku bisa diterima sebagai karyawan di kelurahan, walaupun aku mejadi pegawai rendahan dikelurahan, dengan begitu aku bisa sedikit mengangakat kehidupan keluargaku, alhamdullah aku bisa mengontrak rumah untuk kami sekelurga walau hanya sebuah rumah petak seperti dulu rumah kontrkan kami yang kebakaran. memang itu tekadku semenjak dulu, yaitu mengangkat martabat keluarga, dan ibu sudah tidak aku perbolehkan memulung lagi. kini ibu mulai membuka usaha menjual makanan di depan rumah kontrakan.

Tetapi bapak, masih dengan kegiatanya menjadi preman jalanan, tetapi sudah tidak seberingas dulu lagi, bapak kita hanya memegang lahan parkir, tidak ikut mencopet, menodong atau tindak kekerasan lagi, dan kini bukan hanya aku dan budi, aku memiliki adik juga bernama Andi, andi lahir ditengah kesusahan ekonomi keluarga kami.

Sebagai pegawai kelurahan tugasku mengurus pembuatan KTP, dari pengurus KTP aku bertemu dengan Mas Sapto, seorang yang ternyata menaruh hati padaku, memang banyak orang yang menyukai aku karena kata orang aku cantik, dengan tubuh mungil, dan kulit putih. Tapi beberapa orang takut terhadap bapak, atau meraka menghindar ketika awal aku bekerja aku tinggal dikolong jembatan, memang aku telah biasa dilecehkan sebagai orang yang berekonomi sangat rendah, mungkin kami yang hidup di kolong jembatan sudah tidak dianggap dalam catatan pemerintah, hal ini aku ketahui setelah aku bekerja di kelurahan.

Tentang Permalahan cinta, Ibu melarang aku untuk berpacaran, karena ibu bilang jangan mau dipermainkan laki-laki, "laki-laki itu buaya semua nduk" begitulah kata ibu dalam menasihatiku aku selalu mengikuti saran dari ibu, dan aku ingin berbakti kepada kedua orang tua, karena aku tahu mereka sudah susah bapak membesarkan aku dengan liku hidup yang begitu sulit.

"Nama kamu ika ya" begitulah pertemuan aku tidak begitu istimewa, dialah Iwan Subrata, seorang pegawai bank swasta yang menaruh hati padaku, pada awalnya aku hanya menanggapi dingin. karena aku takut berakhir kekecewaan. tetapi iwan berhasil meluluhkan hati ku yang membeku.

"Ika, maukah kamu menikah dengan aku" pada suatu hari mas iwan bertandang kerumahku, dan memberi sebuah kertas yang isinya sangat menggemparkan hatiku, dia memintaku untuk menikah denganya, aku hanya diam dan bingung dengan perasaan yang ada pada diriku.

"Kamu serius atau mau mainin aku, kalau kamu mau mainin aku, lebih baik kamu pergi, aku takut kamu di hajar bapak, bapak ku preman mas, dan aku hanya hidup sebagai orang yang tidak punya, apa kamu siap menikah dengan aku dengan kondisi yang memprihatinkan" tulisku singkat dalam surat balasan ku berikan kepada budi waktu itu.

"Aku tidak takut dengan bapakmu, seorang bapak akan melidungi anaknya, itu pasti, tapi aku serius ika, aku ingin menikah dan menghabiskan sisa hidupku dengan kamu, keluargamu adalah keluargaku, aku siap dengan kondisi seperti apapun" sebuah inti surat yang dikirim kepadaku.akhirnya aku menyetujui untuk menikah denganya, semua tidak berjalan mulus, aku tau bahwa

keluarga mas iwan datang dari keluarga yang terhormat, sedang aku dari keluarga yang teramat miskin, pada awalnya ibu mas iwan sangat menentang keinginan mas iwan, dia bilang aku berasal dari bibit, bobot,bebet yang tidak jelas, bapak ku preman, dan aku tnggal dirumah kardus. tapi hal itu tidak menyurutkan tekad mas iwan untuk menyuntingku.

Mas iwan menemui bapak pada hari minggu sorre, "assalamualaikum" mas iwan datang saat bapak ada dirumah, "masuk ada apa" tanya bapak dengan accuh, "Begini pak, nama saya iwan subrata, saya datang dengan maksud ingin menikahi putri bapak ika tapi sebelum orang tua saya datang, saya memberanikan diri untuk menanykan kesedian bapak untuk memperbolehkan saya menikahi anak bapak" jelas mas iwan kepada bapak kala itu. Bapak pada awalnya sangat terkejut, tapi bapak adalah seorang yang bijaksana dan memperbolehkan putrinya untuk dinikahi mas Iwan

Dan dalam waktu 6 bulan setelah pemintaan mas iwan itu akhirnya kami menikah sebuah pernikahan sederhana dirumah itu, dan aku bahagia bersama dengan mas iwan yang sanagat baik, berkat mas iwan adiku budi bisa melanjutkan kuliah dan menjadi seorang Sarja Ilmu Komputer dan budi telah bekerja sebagai seorang Staff IT di perusahaan Multinasional. sedang Andi adiku terkecil bisa sekolah dengan baik, sekarang dia telah SMU, bapak dan IBu kini tinggal bersama kami

Aku pun kini telah mempunyai seorang putri kecil yang cantik dan ceria, yang bernama Keysia, seorang yang bersifat mirip seperti bapak, keras kepala. bapak kini telah meninggalkan pekerjaannya sebagai preman, dia membuka usaha bengkel dengan modal dibantu oleh Budi adiku yang telah bekerja. tetapi mungkin rasa sakit hati bapak terhadap Tuhan masih membekas di hatinya, sampaisaat ini bapak tidak mau untuk sholat.

Pada suatu hari bapak sakit, aku membawa bapak kerumah sakit. dan bapak mendapat pernyataan bahwa bapak menderita penyakit paru-paru akut, dan bapak sakit parah dan susah diobati. “pak…” Aku memandangnya lekat-lekat, ingin memulai pembicaraan.Mataku sembab habis menangis.

“dokter bilang umur bapak tidak lama lagi kan?” tebak bapak. Aku menggeleng lemah.

“dokter tidak bilang begitu, dia hanya bilang kalau bapak sakit parah dan sulit diobati”

“itu sama saja” kata bapak Pandangan matanya mengabur seakan ada ribuan kunang-kunang mengitari dirinya. dia lalu mengenang hidupnya yang sangat keras.

Satu yang bapak pernah cerita kepada Ibu, bahwa bapak sanagat menyesali bahwa bapak pernah mengutuk Allah dan bapak tidak pernah Sholat. Rasa ego dan tekanan hidup masa lalu, bapak bercerita bahwa Dia takut ibadahnya tidak diterima. Kini bapak bahkan hampir lupa bagaimana caranya Sholat.

Mas Iwan, Aku, Budi, bahkan Keysia berkeinginan kembali mengajarkan bapak sholat, tapi kadang masih ada kegalauan dalam hati bapak. “bapak belajar Sholat ya?” aku sering mengajak bapak, tapi teguran kut tadi membuat bapak terkejut, karena selama bapak menganggap aku tidak tidak pernah mempermasalahkan keislamannya.

“bapak biarlah yang dulu kekerasan hidup dan cobaan hidup telah berlalu, Allah selalu menguji kita karena Allah sayang kita kan pak, buktinya kini Allah memberi sesuatu yang indah Budi tetap bisa kuliah seperti mimpi bapak dulu, dan aku Telah menikah dengan Mas IWan orang yang menyangi aku dan keluarga kita, serta Ada Keysia Cucu Bapak yan sangat mencintai bapak" Ujarku

Tampak sebuah senyum dari wajah bapak seakan dia setuju tentang apa yang telah aku terangkan kepadanyanya. dan setelah pembicaraan itu aku melihat keysia masuk kedalam kamar “eh kakek udah bangun, sini Keysia ajarin Cara sholat”

“boleh, tapi ajarinnya pelan-pelan ya” bapak pernah berkata tentang harapanya bahwa dia ingin kembali berbakti kepada Allah dan menjalankan printahnya sebelum dia Meninggal.Dan Suatu keajaiban telah terjadi dalam Hidupku, Aku melihat Bapak telah melaksanakan sholat Ashar berjamaah dengan Keysia Putriku. Alhamdulillah. Seorang Preman tua, telah kembali insyaf dan Sholat karena seorang putri kecil yang begitu mencintainya, Keysia putri kecilku yang cantik yang bisa meluluhkan seorang preman tua itu, dan menuntunnya kejalan Allah, bukan karena kepintaranya tapi ketulusan yang pancarkan dari tubuh kecil itu.

Aku pun terharu atas kejadian yang kusaksikan,dan kupanjatkan doa kepada Allah Atas semua Karunia yang telah diberikan kepadaku. "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri Amin".

Cerpen ini hanya imaginasi penulis, kesamamaan nama, Pristiwa, adalah tidak disengaja bila ada kritik saran, Komentar, Sanggahan harap ditujukan pada erwinarianto@gmail.com

Depok 16 Mey 2008
Erwin Arianto


Pernyataan Maaf

Assalamualaikum Wr.Wb

Mengamati Situasi Yang berkembang Saat ini mengarah ke keadaan yang kurang nyaman untuk rekan-rekan semua, Dengan Ini saya Erwin Arianto, Menyatakan Permohonan Maaf Yang Sebesar-besarnya Kepada Pihak yang Merasa Dirugikan Karena kesalahan dan Kekhilafan saya. Dan saya tidak bermaksud melakukan pengulangan Hal-hal yang telah Terjadi.

Sebagai mahluk Tuhan yang lemah dan kurang berilmu, Saya Menyadari saya bukan mahluk yang luput dari salah dan dosa, Maka kiranya seluruh pihak yang merasa tidak berkenan dapat memaafkan kesalahan saya baik yang disengaja atau pun tidak disengaja.

Atas Perhatian Dan kerjasama dari semua rekan Saya Ucapkan terimakasih. Dan bila masih ada rekan yang masih kurang berkenan dan berkeinginan untuk melakukan klarifikasi dengan yang terjadi dapat mengirim email ke Erwinarianto@gmail.com

Salam hormat
Erwin Arianto


Mengapa Kau diam Sahabat?
Aku Diam Karena aku tidak ingin bicara
Aku menikmaati suasana Hening
Karena Hening dapat memberikan Nuansa

Tidak kah kau lihat mereka berbicara Sahabat?
Kenapa Kau memilh selalu diam
Aku Bukan mereka, aku tidak suka banyak bicara
Itu menunjukan meraka tidak Mempunyai Makna

Tidak Kah Kau Sakit atau Marah atas ulah mereka sahabat?
Marah? kenapa harus marah.. aku hanya tertawa
Lihatlah mereka, Badut-badut panggung melakonkan drama
Itulah Kwalitas Mereka yang tak bijaksana

bukan kah diam tak menyelesakai Masalah Sahabat?
Kamu salah, Diam menjawab dengan seribu bahasa
Apakah tidak kau lihat congor mereka berbusa
Dengan kata-kata yang hanya sebuah bisa

lalu apa yang akan kau lakukan sahabat?
Aku hanya akan melihat dan terus tertawa
Melihat Ocehan badut-badut panggung itu disana
tidak kah kau terhidur oleh meraka

Kau betul sahabat ku yang sangat kucinta
Memang dengan banyak berbicara kita terlihat merana
Dengan diam kita bisa memaknai yang ada
Kau memang sahabat ku yang bijaksa

Depok 08 Juni 2008
Original ID By; Erwin Arianto


Secangkir Teh hangat Pagi Ini
Mengingkatkan Aku akan dirimu bidadari
Saat Selalu kau buatkan Secangkir Teh Hangat setiap Pagi
Membawaku Bersemangat Menjalani Hari

Dalam butiran teh hangat agak terasa sepat
terselip makna cintamu yang tersirat
Dengan cinta kau racik dengan tepat
Memberi nuansa hati yang semakin Hangat

Teh Hangat itu kau tuangkan dalam gelas Biru
Kubawa Selalu menemaniku dalam waktu ku itu
Segelas teh Hangat yang kau ramu dengan Jitu
Secangkir Teh Hangat itu kini selalu kurindu

Kini tak bisa kutemui Secangkir teh hangat itu lagi
Kini Saat kau tak ada lagi di sisi
Ku Coba meracik Teh hangat ku lagi
Agar Kudapatkan aromamu Bidadari Hati


Depok, 8 Mei 2008

Kutemukansebuah kertas surat kumal telah termakan oleh waktu yang jatuh dari arsip lamaku saat aku membereskan tumpukan kertas di kamarku. dan kubaca sebuah surat itu.

"Aku yang selalu menunggu ketika kau pulang dengan segenap tenaga mengayun kakiku agar langkah

sepeda motor mus berputar semakin cepat dan membuatmu nyaman akan selalu bersamaku, itu janjiku

ketika kau berikan cintamu kepadaku. Aku pun yang selalu menjadi pelabuhan ketika kau merasa sedih dan senang. ku ucapkan terimakasih atas cinta yang kau berikan, dan kau datang di saaat yang tepat saat aku hancur dengan kekasihku.

Sepenggal kisah cinta yang kita alami walau berakhir tidak akan pernah hilang untuk selamanya.

Setahun atau pun seribu tahun kemudian ketika jasadku menyentuh tanah dan kembali bangun, cintamu akan selalu abadi dalam hidupku.

Salam Cinta Astried Suwandri"

Sepenggal kertas kusam itu menceritakan kisah laluku yang sangat indah dengan Astried Suwandri, seorang yang hadir dalam kisah ku yag dulu segelumit kisah yang sangat teringini batin ini.

kertas kusam itu membuka lembaran kisah lamanya yang telah tersimpan rapi dalam lemari kotak bersejarah yang menjadi saksi hidup ketika cinta kembali bersemi setelah peninggalan (Alm) Wida seorang calon pengantin ku yang berpulang saat kami akan menikah. pertama kali bersemi sepuluh tahun lamanya dulu.teringat olehnya seorang wanita yang pernah menjadi bagian indah dalam sejarah hidupku hingga kini abadi tidak terlupakan.

Kini sepuluh tahun lamanya telah berlalu, dunia telah berubah, zaman telah berubah bahkan wajahnya pun mulai pudar dalam bayangan ingatanku. Mimpi kembali mempertemukan kami walau hanya sekejab bayangan itu kembali seolah memanggilku untuk kembali mencarinya. Tapi dimana.. dimana akan ku cari? Inilah jawaban yang tak pernah kudapatkan. (EA)

************************************************

Aku menarik nafas panjang memulai awal mula aku berkerja ditempat baruku. Aku menyebutnya sebagai awal hidup setelah aku menikah. Rutinitas baru dan segalanya sungguh baru, setelah mengerti dengan jenis pekerjaan yang harus aku lakukan dan kini aku mendapat posisi Manajerial seperti yang aku impikan selama ini. aku kembali ke kantorku melalui sebuah lift yang cukup panjang , bandingkan sendiri sebuah kantor besar dengan gedung 60 lantai. Perjalanan panjang menuju kembali ke ruangku.

Tidak ada yang aneh untuk saat ini. Namun ketika sebuah pintu lift terbuka dengan seorang wanita muncul, membuatku mencuri pandang sesaat akan sosok wanita itu. Terasa tidak asing, ditambah senyumnya seolah memberikan kehangatan di ruang dingin ini.untuk sesaat aku mulai menduga duga siapa gerangan wanita ini. Mengapa aku begitu seolah mengenalnya.

“Maaf sepertinya anda mengikutin saya terus..!!” ujar wanita itu

“oh tidak.. maaf.. saya…!!” aku mencari alasan

“anda kenapa..!!” ujarnya

“tidak.. saya Cuma pengen ke…!” ujarku bingung

“anda ingin ikut saya juga ke wc wanitan..!” wanita itu menunjukkan dirinya seolah berada tepat di garis pengumuman besar Toilet wanita

“maaf.. bukan maksud saya..!” aku merasa malu tak menyadari berada di depan toilet wanita..

“ok kalau gitu bisa biarkan saya tenang di dalam toilet ini!!”

“oh ya silakan..!” aku tersenyum malu

Terlalu mengikuti naluriku tak menyadari berada didepan toilet wanita membuatku malu tak berujung. Dengan tarikan nafas akhirnya aku pun perlahan meninggalkan wanita itu. Sesekali aku mencoba untuk berbalik berharap dia mau mengenalku walau hanya sesaat untuk membuang rasa penasaranku akan dia. Dan tanpa kusadari wanita itu meliriku sekilas sambil tersenyum di balik pintu toilet.

Aku merasa seperti pernah dekat denganya, mirip seperti dalam mimpi-mimpiku. dengan nakal kucuri-curi pandang pada dia. untuk meyakinkan diri ini.

"Pak. DJoko, maaf ini surat dari bapak direktur tentang rencana audit tahunan anda"

"oh.. i..ya" jawab ku tergagap karena terguran lita sekretraris Direktur itu membuyarkan lamunanku.

"dan ini rencana Budget, dan target dari department ini dalam satu tahun" ucap lita kembali menjelaskan Rencana kerja dan Budget Department yang aku minta persetujuan Dari Directur Keuangna.

"oke Bu lita, terimakasih" ucapku merespon pemberian laporan yang diberikan kepadaku.(EA)

*****************************************

Pulang kantor, ku lihat wanita yang kulihat di depan lift pagi tadi sedang duduk sendiri di cafe dekat kantor sedang menikmati segelas Jus alpukat waktu itu. aku coba menyapa wanita yang kutemui saat pertama ku menjejakan kakiku di kantor ini. "Maaf, apakah kamu Astried" aku coba menyapanya. "ya saya Astried" jawabnya deangan lugas saat itu.

Postur tubunhnya tak berubah sedikitpun. Wajah dan senyumyapun tak berubah. Hanya terlihat sedikit lebih dewasa. Selain itu semuanya masih sama seperti waktu yang lalu. Saat ini matanya menatapku tanpa berkedip, begitu juga denganku. Aku benci melihat tatapan matanya. Tatapannya begitu tajam. Tatapan yang selalu membuatku luluh.

"Kamu siapa ya.."tanya mungkin dia telah melupakan ku. "saya Manager Audit baru disini" ucapku.

" Oh Ada Apa ya" tanya kembali.

"Kamu Astried Suwandri" aku menegas kan kembali bahwa sosok di depan ku adalah Astried, seseok Cintaku yang ku tinggal menikah karena keinginan Orang tuaku. dan kupersiap kan diri untuk sesuatu yang terjadi.

"kamu Ingat Aku?" tanyaku mencoba menanyakannya kepadanya. "Tidak" jawabnya kepada ku saat itu.Wah waktu yang terlalu lama atau kepedihan yang sangat dalam yang membuatnya melupakan aku. "Aku Djoko Susilo...." ucapku. dan kulihat Wajah astrid berubah dan mengernyikat mukanya seakan dia berpikir sesuatu.

"Mas.. Djo...ko" ucapny dengan sedikit terbata kepadaku. seakan tidak mempercayai seseorang yang ada didepannya adalah aku.

“Kok diem?” tanyaku memecah keheningan diantara kami berdua. Tapi Astrid belum bereaksi. Entah masih tak percaya dengan kedatanganku atau karena menahan kekagetan hatinya melihat aku berdiri di hadapannya lagi.

“Astried??” tegurku lagi. Sedetik kemudian dia mulai tersadar dari lamunannya. tanpa berkata aku sudah mengerti apa yang ingin ia tanyakan. Aku langsung mengangguk. Pada anggukan pertama, airmataku sudah ikut mengalir. Tanpa sadar ia langsung meraihku dalam pelukannya dan aku mulai menagis disana. Ternyata rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tak ada yang berubah. Setidaknya itulah yang kuinginkan saat ini.

"kenapa kamu datang lagi mas, setelah kamu dulu menghancurkan aku" ucapnya kepadaku.

"maaf Astried... biar aku menjelaskan " UCapku kepadanya,

"MAAF!" Suara Astrid pun meninggi.

"Kamu mengatakan maaf setelah apa yang kamu lakukan?" dengan suara tinggi beruapa sebuah pertanyaan.

Aku tak menjawab pertanyaan itu, karena aku pun tak tahu harus menjawab atau berkata apa selain "maaf" atas apa yang aku lakukan.

"Kita udah pacaran selama setahunan waktu itu dan kamu tiba-tiba bilang kalau kamu harus menikahi orang lain. Kamu tuh maunya apa sih?" kata Astried dengan nada yang sama kerasnya diiringi isak tangis sesekali. dan kulihat ruangan Kafe di dalam gedung kantor mulai sepi.

Kami memang dulu pernah berpacaran selama setahun, tapi selama itu juga aku telah mengkhianatinya beberapa kali. Isak tangis Astried semakin sering. Matanya tak sanggup menahan air mata yang mengalir dari kesedihannya.Aku tahu bahwa yang pernah aku perbuat membuatnya sedih, hanya saja hal itu baru ku sadari kini. Setelah aku mengaku semua perbuatanku padanya.

"pada awalnya , kamu yang selalu nolak lebih serius. Tapi waktu malah kamu yang mengkhianati aku. Aku..." katanya yang tak menyelesaikan kalimatnya karena air mata kesedihan semakin mengalir kencang. seakan menumpahkan kekesalannya kepadaku yang tidak pernah terungkap semenjak aku menikah

"Orang tuaku memaksaku Tried. Aku sudah mencoba menolaknya, tetapi aku di hujat orang tua ku habis-habisan, dan orang tuaku mengancam bunuh diri," kataku dengan jujur mengatakan alasanku untuk menikahi orang lain selain Astrid pacarku yang aku sayangi. Dan Aku dan Astried telah menjalin hubungan indah Selama kurang lebih satu tahun kisah indah yang selalu terukir dalam memori hatiku.

Setelah berkata itu, aku memejamkan mataku sembari berharap tamparan melayang di pipiku, meski aku tahu aku lebih berhak menerima lebih dari itu. Tapi tamparan itu tak pernah datang.

“Jadi Apakah aku harus hamil dulu biar kita bisa menikah? Maaf, buat aku, itu sama sekali bukan sebuah pilihan,” bentak Astried lalu berlari menjauhiku dan meninggalkan air matanya dalam jejak pelarian itu.

Aku ingin sekali mengejar dirinya, tapi aku tak mungkin melakukan itu. Aku tak mau mengkhianati cinta untuk yang kedua kalinya. Aku memang selingkuh dengan orang lain yang memberikan hubungan yang lebih intim, meski rasa sayangku lebih besar pada Astried. Aku terlalu membiarkan gairahku menyesatkan cinta yang aku miliki.

Seandainya dia menanyakan apakah Aku mencintai Istirku, Sungguh! Tapi Istiriku ada di posisi nomor dua, sedangkan dia masih terus bertahan dan selalu menduduki hatiku selalu menjadi yang pertama. Aku benci mengakui itu. Sudah beribu-ribu cara aku lakukan untuk melupakannya tapi tak ada satupun yang berhasil. Sampai satu titik aku merasa lelah dan aku tersadar. Aku harus tetap menjalani hidupku.dengan atau tanpanya.

Walau kini harus kujalani hidup 1 kantor dengan astried, yang ada duniaku akan terus berkecambuk antara penyesalan cinta yang ada. Sudahlah. Alasan apapun yang aku berikan tak akan mampu mengusir kesedihan Astried dan tidak akan mampu menghapus kesalahanku. Aku pun hanya mampu berkata, "maaf, aku tak bisa menikahi dengan dirimu". Lebih baik aku jalani hidupku daripada harus memberikan alasan-alasan yang tak berarti untuk Astried dan juga untuk diriku.

Biarlah Dia menjadi indah dalam kenangan yang selalu bermain dan berputar dalam ingatan ku, tentang kejadian lampau yang masih kuat akan angan ku yang begitu menginginkannya menjadi istriku. Biarlah aku tetap Mencintaimu dalam Relung hati, walau terus dalam penyesalan dan Keperihan Yang Dalam. Dan aku akan terus mengatakan dalam hatiku, Teruslah Menjadi Kekasih Hati Dalam nurani, Dan Semoga aku hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa membahagiakan mu Cintaku.(EA)

Cerpen ini hanya fiktif belaka, Jika ada kesamaan Nama tokoh, Pristiwa, adalah kebetulan belaka, Dan jika terdapat Tanggapan, Celaan, atau kritik Harap dikirim langsung pada email erwinarianto@gmail.com. Terimakasih

Depok 7 Mei 2008

malam Itu Saat Gugusan Gemintang menari
Menggurat Nuansa Indah pada cakrawala tak terganti
Rembulan malam Bercumbu rayu menyatakan isi Hati
Menangis tertawa membawa sebutir rasa tercuri

Hembusan Mimpi tentang ingin hati
Menggapai Suatu cinta yang putih dan suci
Cinta yang menembus batas garis sang mega
Memberi Aroma Romansa yang terus terjaga

Dimanakah Perempuanku saat ini
Kala Hati begitu syahdu Merasa Apa yang terjadi
Menikmati secuil kisah lampau yang berseri
Kisah bersama seorang bidadari hati

Dan Kini dalam Sejengkal Mimpi Diri
Diri mu hilang pergi dan membenci
Sebongkah Hati Yang begitu menyayangi
selalu teriringi doa terucap mengamini

Sabda Sebuah Hati yang terlanjur mencintai
Tak akan pernah berganti menjadi caci Maki
Begitulah Rasa Yang terukir dan terpatri
ikhlas menanti Senyuman Indah cinta sang Bidadari
Depok, 5 Mei 2008



Bayangan Kekasih

Angan ku kembali berpihak kepada Novita kekasih sejatiku, yang sangat kuigini, kami saling mencintai, tapi takdir memisahkan aku dengan dirinya lagi. karena aku berjumpa dengan novita 3 bulan sebelum aku meinkah dengan Intan istri ku saat ini. Bayangan novita begitu erat menghantui setiap langkah yang kuayun dalam hidupku.

Setelah kukuatkan tekad yang kupunya, Ini kesekian kalinya aku ingin pergi. Dari rumah yang lima tahun lalu kubeli dari tabungan saat ku pertama bekerja, ku cicil sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Intan, istriku. Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis. aku bertegur sapa dengan seorang gadis yang sangat anggun dan begitu mempesonaku berjumpa dengannya

Dan dia telah mengambil tempat di hatiku yang paling dalam dan dia telah menjadi kekasih hatiku, dan kami saling jatuh cinta. dia begitu mencintaiku, dan dia mengagumiku dari beberapa tulisan yang telah aku buat, Ia bilang telah menungguku begitu lama. Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia. Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu. Kukatakan padanya aku akan datang menujunya. Ia bertanya, "Kapan?", seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku. Kujawab, "Segera." Dan dia berjanji untuk menungguku hingga aku bisa kembali berdua memadu kasih dengannya.

Setelah pertemuan itu aku mencoba mencari cara agar aku terus bisa berjumpa dengan Novita, sesok yang seharusnya tidak boleh ada dalam relung nurani, karena aku telah memiliki intan sebagai kekasih ku. "Oh tuhan apa yang harus ku lakukan, aku mencintai nya, dan rasa ini terlalu menggebu, aku mencintai intan" ucapku dalam hati.

Aku terus mencoba untuk pergi dari rumah untuk meninggalkan intan tak pernah ada yang berhasil. Aku masih di sini, di rumahku bersama Intan, istriku. Saat itu intan tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi. Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku. Katanya sikapku semakin aneh di matanya. Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat. Mencium keningnya dan berkata, "Tidak ada yang aneh. Semua biasa saja." Setelah itu intana diam. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.

**********************
12.54 malam hari, aku baru menyelesaikan sebuah naskah dan mengirimkannya melalui email ke sebuah media. Sementara dua gelas kopi, segelas air putih, sebotol sirup multivitamin, sebotol obat tukak lambung, dan sebuah asbak dengan satu, dua, tiga, hmm….tujuh puntung rokok berserakan di sisi kiriku.

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot punggungku yang kaku dengan berbaring di sofa. Sementara bayangan Novita begitu jelas, teringat janjiku padanya "Mas kapan kamu akan datang kepadaku" ucap bayangan Novita begitu menggoda dan menggangguku, membuat aku semakin pusing tujuh keliling.

Jujur ku akui Beberapa kali kekasih hatiku datang menemuiku. Terutama ketika intan tidak sedang berada di sampingku. Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan. dalam menungguku. dalam perbincangan itu dia begitu menginginkanku, dengan padangan muka manja dia terus menggoda ku.

"Kau kenapa?" tanyaku ragu-ragu karena cemas. Aku laki-laki pencemas. Terutama terhadap seorang yang kucintai.

"Terlalu lama aku menunggumu. Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu. Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru. Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu. Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur. Melemah. Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang. Tapi kau tak datang juga padaku. Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku. Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan. Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup. Kau menduakanku dengan kesementaraan. Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu. Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu. Kita terlampau lama terpisah."

Aku melihat jelas mata kekasih Novita meredup. Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama. Rindu yang menuntut penuntasan yang segera. Aku pun sangat menginginkan dalan mengisi hidupku. Aku menginginkan dia jadi Pendampingku untuk selamanya

"Aku akan pulang. Untuk bersamamu," kataku.
Tetapi tubuh Novita berguncang. Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku. Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.

*************************

Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi. Sengaja aku tak membawa apa pun dari rumahku, karena aku tahu Intan akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi. Namun baru sampai teras rumah, intan melihatku. Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi. Ia marah padaku.

"Kau mau pergi? Meninggalkanku?" tanyanya dengan ketus.

Aku menjawab dalam hati. "Ya, istriku. Aku akan pergi. Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan. Tapi aku bukan mau meninggalkanmu. Aku akan meninggalkan kesementaraan ini. Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi. Maka aku akan pergi, jauh dari kematian hati ini berasama dirimu disini dirumah ini."

Intan , istriku, memasang wajah kecewa. Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona. Sinar matanya meremang. Seperti mata Novitakuku yang lelah menungguku. Aku mendadak cemas. Bukan pada Intan, tapi pada dia Novita. Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini. Intan, istriku, menahanku. "Jangan pergi," katanya. Langkahku terhenti. Bayangan Novita hilang di benakku.

Intan memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian. Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh. Jangan kemari, kekasihku. Batinku. Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini. Kubiarkan Intan terus memelukku erat. Peluklah aku sekuat yang kau mampu perempuanku. Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku. Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku Novita. Dan kau tak pernah tahu itu.

"Katakan. Kenapa kau ingin meninggalkanku?" tanya Intan di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Intan. Menemui kekasihku yang abadi. Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan. Kematian singkat yang menyedihkanku. Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku. Seperti aku juga merindukannya sejak dulu.

Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta. Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian. Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian. Seperti pelukan ini yang kau tawarkan padaku. Membuatku mual oleh aroma kehinaan. Aku harus pulang, Intan. Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini. Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku. Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku? Tidakkah kalian juga saling merindu? Dan kita tinggalkan pemakaman ini. Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.

*******************************

"Mengapa kau diam? Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini bagimu?" Intan makin erat memelukku.
Ayolah, Intan. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak. Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar. Aku mati dalam kekerdilanku. Kelemahanku. Kesementaraanku yang sangat singkat. Melindungimu pun aku tak dapat. Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku. Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar. Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang. Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat. Intan, aku akan pergi. Pulang menuju kekasihku. Dan aku tak perlu minta maaf padamu.

"Kau tidak mencintaiku lagi?"
Intan, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya. Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku. Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian Hati, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku. Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi? Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan? Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan? Intan, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku. Aku mulai tak tahan.

"Jangan katakan kau punya seorang yang lain," Intan mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang. Ya, aku mempunyai seorang yang lain. Kekasihku dari kehidupan yang abadi.

"Aku takkan melepaskanmu."
Intan, istriku, ini ancaman darimu? Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian? Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku. Intan, sudahlah. Biarkan aku pergi.

Dan Intan tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.

Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian. Intan tengah terlelap dalam mimpi malamnya. Lagi-lagi Novita kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya. "Apa yang kau tunggu? Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?" Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.

"Intan adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini. Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri. Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya."

"Pulanglah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya. Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?"

Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu. "Aku pulang bersamamu," kataku. Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.

Dan ini adalah yang kesekian kalinya Intan mencoba menahan kepergianku. Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku. Tidak, jangan lagi. Pikirku.

"Baiklah. Kau boleh pergi. Bukankah kau selalu ingin pergi? Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis. Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan. Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu. Seperti itukah kali ini yang kau lakukan? Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan kepenulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku? Betapa egoisnya kau."

Suara Intan menjadi petir di malam itu. Benarkah? Batinku. Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian? Peninggalan? Intan, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda. Kesedihan yang lain. Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan? Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali? Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan? Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama? Aku demikian cemas. Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.

Intan mendekat. Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang. Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal. Pelukan beraroma kematian. Intan mendekapku erat. Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah ke mana. Tunggu aku, kekasihku. Aku akan datang. Segera.

Aku berduka. Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda. Tapi pikiranku memberiku jalan lain. Mungkin kelak aku mesti mengajak Intan, istriku. Untuk meninggalkan kematian ini. Berkenalan dengan kekasihku yang abadi. Tetapi Ma
ya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Malam itu, dan malam-malam yang lain. Tunggu Aku Novita, kita akan bersatu dalam angan dan menebus segala penantian mu. Karena aku begitu mencintimu dalam hatiku.. mencintaimu dengan Hatiku kekasihku

Musim Terus berganti
PAda Ufuk Timur terpancar aurora hati
Menggapai Mahligai senja putih
Menabur imagi pada relung suci tak berbuih

Hatiku sebutir salju putih
Mencair meleleh karena pancaran kasih
Menuai indah rasa yang tak terperi
mengagumi Pada Rasa yang terus menguji

Ketika cinta lampau berubah jadi benci
Hati ini tetap terus memuji bidadari
Memandang terus mengagumi bidadari dalam jiwa murni
Walau ku tahu kau tak akan bisa termiliki

Nurani menuai bangga karena pernah mencintai
Menjadi kenangan yang tak bisa terganti
Dalam hujan butiran ini rasa terpatri dan terus begini
Walau harus tegar melepas bidadari dengan senyum dan cinta sejati

Depok, 5 Mei 2008




Temaran Senja Kelabu
Ketika sebuah hati mempertanyakan
Tentang Sebuah rasa yang berkembang membiru
Tentang Asa yang Menari dalam nurani

ketika lampau hanya sebuah kebohongan
Secercah cinta itu adalah kebenaran
Bukan Untaian kata yang memuja rayu
Membuat hati termenung mengugu

Hilangkan Keraguanmu Bidadariku
Tentang Rasa yang pernah ada di kalbu
Tentang CInta kita yang menjadi sejati
Berkata tentang hembusan itu palsu

Tidak Kau lihat rasa itu
Rasa yang mengalir sejati
Rasa yang selalu kuberi kepada bidadari
Bukan hanya buaian dan Sebuah Narasi

Cintaku Tulus untuk bidadari
Cintaku bukai buaian menemani mimpi
Cintaku Hanya satu dan tak terbagi
Cintaku hanya untuk Bidadari Hati

bukan cinderamata yang kusuguhkan...
bukan sebuah buku yang kuberikan
bukan pula sebuah lagu yang kan kuciptakan

bukan sekotak tart yang tercicipi
bukan seribu lilin yang buatmu menari
bukan pula selarik puisi indah yang tergubah

bukan sebuah tanya
bukan sebuah kebersamaan
bukan pula sejuta bait senyuman

bukan dan bukan...
hanya kata yang sederhana
SELAMAT ULANG TAHUN KAK ERWIN...

c-yakuw
http://cheya.blogspot.com



Aku sayang sekali padamu," bisikmu lirih hampir tak terdengar oleh telingaku, ditingkah bising kendaraan yang lewat. Telingaku hampir tak menangkap makna kalimat yang kau ucapkan, sampai kesadaranku memaksaku memahaminya. "Mimpikah aku saat ini ?" hanya segitu yang bisa terlontar dalam benak ku . di bawah rumah persewaan, ditemani motor merah itu.

Aku tahu ungkapan itu hanyalah kebohongan kita, di tengah ketidak mungkinan kita untuk bisa menyatu. AKuingin kau berbohong lagi kepadaku . Seperti yang kau utarakan kemarin, Sebelumnya, dan seperti Waktu lampau dulu itu. Ketika redup mentari berpendar di pucuk daun dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. dengan kau kecup tanganku kala itu.

Sebuah kecupan mendaarat di keningku, saat kita berjumpa, Dan Bisikan lirih rasa sayangmu kepadaku seolah memberi pesan akan sesuatu yang terlontar spontan dan kau sendiri terkejut mendengarnya. Duniaku berhenti beberapa detik. Senyap. Kosong. Harmoni mengisinya.

Aku merindukan Kebohongan mu tentang sesuatu bermakna cinta. Kurasa itu tak kan lagi terjadi. Tetapi aku adalah pemimpi dan mimpiku sering bertolak belakang dengan kenyataan. Ketika itulah bohongmu yang kedua melantun bagai nada yang baru tercipta. Kau ucapkan beserta segala daya pikatmu yang hampir selalu merobohkan hati setiap perempuan yang ada di seluruh jagad raya ini.

Aku, pun terinfeksi virus pikatmu. Tapi tidak terlena dan mengejarmu bersama kertas yang kupaksa untuk kau tanda tangani seperti yang lain. Kelelahan yang selalu kulihat dalam sorot matamu, seolah tak kan pernah kupahami maknanya. Roda yang kita mainkan tidak pernah berputar lamban, selalu cepat dan amat cepat, sering kita terengah bersamanya. Namun, lelahmu bukan karena itu. Rasa dalam hatiku merindu akan jawab itu, yang kutahu takkan pernah kudapat darimu. Bukan pula
dari mereka, wajah-wajah cantik itu.

Aku tahu tentang bohongmu karena kau telah terkurung oleh cinta lain yang telah lama terjalani, lalu kau anggap apa ini? apakah hanya sebuah permainan dalam kebohonganmu. tapi aku dan kamu terlanjur permainan yang kita ciptakan.., permainan cinta yang penuh kebohongan, penuh sanjung dan puji, penuh dengan untaian makna dalam bait-bait kata puisi yang kita tulisakan dalam menunjang semua kebohongan kita, tentang kebohongan makna Cinta yang seharusnya suci.

Tak lagi mampu kukendalikan diriku padamu. Kau pun berikan dirimu kepadaku. Waktu tergenggam oleh tangan-tangan kita yang semakin menyatu dalam gengaman yang saling mengeratkan dan tidak ingin terpisahkan oleh apapaun. dan suatu kebohongan yang selalu kita nikmati.

Dan itu terulangi! Tidak seperti kali pertama kebohonganmu, kali ini bohongmu terdengar lebih jelas dan membuatku membeku sekaligus menjentikkan api rasa yang selama ini padam dalam hatiku.

"Aku sayang kamu."

Aku tahu, itu. Tetapi aku mulai menikmati bohongmu dan kuletakkan peranku pula disitu. Karena kita adalah pemain yang tak kan berhenti untuk peran-peran dalam naskahNya. Begitulah katamu, disuatu waktu. Meyakinkanku pada sesuatu yang kau yakini.

"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya di waktu yang akan datang.

"Tak berartikah ini bagimu?" aku belum puas dengan penjelasan retoris itu. Dan mulai memaksanya. Selintas beberapa wajah cantik mencoba mengingatkanku pada posisiku. Tanpa makna.

"Kau memberikan padaku warna lain pada kanvasku, itu berarti banyak sekali." Itulah yang terucap darimu dan menepis tanganku dari tanganmu. Kehangatan tiba-tiba lenyap. Aku mulai menggigil.

"Aku harus pergi!" katamu waktu terakhir kita bertemu, saat kau ingin menikahi dirinya

"Jangan. Kataku, jangan pergi," kuulangi pintaku lirih.

"Tinggallah," kuingin tetap berbagi peran denganmu, kalau bisa selamanya.

"Baiklah." Janjimu begitu yang kau ucap kala itu.

"Selamat malam, terima kasih," dan itulah kata yang terdengar dari bibirmu. Hanya punggungmu yang kulihat meninggalkanku dalam semua renunganku akanmu. Tak kan aku berdiam dalam tamansari ini jika tanpamu. Kupupus semuanya tentangmu dan menegaskan diriku akan segala kebohonganmu yang lalu. Tak bisa!

Ku tak mungkin jatuh cinta kan ? tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, dan ku akan selalu menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan kepadaku, termasuk yang itu...yang dua kali kau sampaikan padaku.

* * *


Tapi kemudian, hal itu terjadi, seperti setiap aku marah padamu. kau seperti bertelepati padaku. Kau selalu tahu tentang apa pun yang kupikirkan. akanmu.

Senyummu mengembang. Kupandangi matamu, berharap bisa menguak kebohongan itu dari sana.

Agak sulit menciptakan kebohongan pada mata, dan aku melihat segalanya disana mengatakan itu. Kerinduanmu terpancar dari kedalaman pandanganmu. Kau ulurkan tanganmu menyentuhi jariku. Kurasa inginkan lagi. Kau yang seolah tak pernah kehabisan kata kini terdiam dalam pandang yang bertemu, terkunci disana oleh kekuatan yang lebih besar dari yang kita bisa pahami.

"Sadarlah, betapa indahnya persahabatan ini. Dan jika waktu membawa kita saling jauh, kita akan tetap bertemu lagi dalam indahnya rasa ini."

Air mataku mulai menderas tanpa mampu lagi kutahankan. Persahabatankah ini semua bagimu? Sesalku dalam hati. Kutinggalkan engkau dengan tumpukkan laporan akhir tahun yang bahkan tak sempat kau sentuh. Bergegas menuju ruanganku, dan berencana membenamkan diri disana sementara waktu.

Telepon di mejaku berdering. Kau. Segera kututup lagi. Semenit kemudian kau telah duduk di mejaku.

"Apa yang membuatmu sedih?" tanyaku, pelan.

Aku hanya mengajakmu melihat realitas yang ada. Kita adalah manusia - manusia rapuh yang seringkali salah melihat pertanda dalam hidup kita sendiri. Aku tak ingin kita salah langkah dalam hal ini. Aku bersamamu sekarang, kau tahu ini adalah ketulusan yang ...

"Tapi, kenapa ? Kau telah membuatku jatuh cinta padamu, dan kau katakan kini kita akan berpisah esok hari!" raungku memotong kata-katanya.

"Karena kita tidak tahu pada apa yang terjadi besok, sayang."

Sapaan itu selalu berhasil meluluhkan hatiku. Tapi kini aku butuh lebih dari hanya sekedar sapaan "Sayang" itu. Di tengah tetesan air mataku, kulihat dia melakukan sesuatu yang akan kukenang selama hidup, dikeluarkannya saputangan dan menghapus air mataku dengan sabar.

Kini ia berpindah berdiri di belakangku, membimbingku menuju rautan besi tua di pelataran rumah persewaan itu. Di rengkuhnya kepalaku dan ciuman lembut itu menghapus habis isakku.

"Aku tak pernah bisa berbohong, pada siapapun, juga padamu. Aku tak kan pernah katakan janji yang tak bisa kupenuhi karena mungkin alam ini tak mendukungnya."

"Kau pernah berbohong padaku." Kembali aku terisak kini.

"Kapan ?"

"Ketika kau katakan kau sayang padaku." Dia mengerutkan dahinya, tak mengerti.

"Kau bohong dengan mengatakan kau sayang padaku," kataku meneruskan. Dan aku ingin sekali kau tetap berbohong padaku, jangan katakan kita akan berpisah suatu hari nanti. Itu sungguh menyakitkanku.

"Aku sayang kamu " itu terucap lagi darimu....... dan dengan menghapus lagi air mataku kau memintaku bersamamu makan siang.

"Jangan katakan itu kalau hanya untuk sementara." desisku

"Kau membuatku makin tak mengerti sayang. Sudahlah, mari kita makan malam sekarang."

"Aku pasti jelek karena menangis."

Kau menggelengkan kepala kuat-kuat sambil berjalan menuju pintu.

Kupandangi punggungnya yang melangkah pergi, seperti kala itu. Tapi aku tahu kini, aku harus berada di sampingnya, selalu. Untuk makan malam, dan untuk hari-harinya, dengan ketulusanku pada kebohongannya.

Tetapi Untuk anginku terus lah berbohong, dengan bisikmu untuk bidadari ini yang selalu merindukan nyanyian indah di balut dalam kebohongan, agar bidadari ini teguh dalam menjalani hidup. Oh angin dimanakah nyanyian kebohongan mu kini, terasa gersang kehidupan ini tanpa kata-kata bohong yang kau ucapkan pada hati ini. teruslah berbohong tentang rasamu wahai anginku....

;;