Jilbab Biru
Gubahan Dari Cerita : Ketika Mas Gagah Pergi
Mas Ariesta Wirastiawan, telah bekerja disuatu perusahaan yang cukup baik. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !dahulu Mas Ariesta juga udah mampu membiayai Kuliahnya sendiri dari hasilmengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami.Iaselalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang Kuliah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku. Karena kami berdua adalah yatim piatu.
sampai saat ini dia Bekerja di suatu perusahaan dan dia juga memiliki kios koran di stasiun, dia melakukan itu untuk membiayai kehidupan ku dan kuliahku. dialah satu-satunya saudara yang kumiliki didunia ini.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Ariesta yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan mobil hasil jerih payahnya sebuah
sedan putih ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan- Ancol. "aku Ingin Membahagiakan Adikku satu-satunya" begitulahmas Ariesta selalu berkata, karena dia sangat menyayangiku.
Tak ada yang tak menyukai Mas Ariesta. Jangankan tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya. "Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?" tanya banyak teman ku "Sari, gara-gara kamu bawa Mas Aries ke rumah, sekarang orang rumahkusuka membanding-bandingk an teman cowokku sama Aries lho! Gila, berabe
kan?!""Gimana ya Sar, agar Mas Ariesta suka padaku?"
Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cumamesem-mesem bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Ariesta mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?
"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kerja. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran, . Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Ariesta pura-pura serius. "lebih baik mas biayain buat adikku yang cantik satu ini" mas Ariesta sambil memainkan poni rambutku.akupun hanya bisa tersenyum ringan.
Mas Ariesta dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!
Itulah Mas Ariesta! Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan
ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Ariesta yang kubanggakan kini entah kemana…
"Mas Ariesta! Mas! Mas Arieeesssta! " teriakku kesal sambil mengetuk Padahaltadi aku lihat Mas
Ariesta ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Ariesta. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisamembaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamu'alaikum! "seruku. Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Ariesta.
"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa sari? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya. "Matiin kasetnya!"kataku sewot. "Lho memangnya kenapa?""Sari kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Ariesta! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku
cemberut."Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Sari!""Bodo! "teriakku
"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Ariesta sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Sari ngambek.., Mas bingung. Jadinya ya dipasang di kamar." iya inilah rumah peninggalan warisan orang tua kami, tidak bagus tapi cukup untuk kami berdua melanjutkan hidup.
"Tapi kuping Sari terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Nidji yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!" "Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…""Pokoknya kedengaran!" "Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"
"Ndak, pokoknya Sari ndak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Ariesta. Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Ariesta jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Nidji, Dewa, Letto, Queen, Glen Fredlynya?" mas Ariesta adalah seorang pecinta lagu JAZZ, kenapa sekaranng menyukai Nasyid.
Aku sekarang berkuliah, di UNJ, Jurusan Akuntansi,dan IP ku termaksud bagus, aku hampir menyelesaikan studi ku, aku sekarang sedang mengulang Mata kuliah yang paling ku benci, audit, dan Statistik bisnis, untuk audit aku telah melakukan pengulangan selama 3 kali. kata mas Ariesta, aku naksir dengan dosennya, jadi aku mengulang terus. aku hanya tersenyum mendengar
penuturan mas ariesta tersaebut
Aku sering curhat dan berbagi dengan mas ariesta, tentang cinta, kampus, pelajaran, atau apapapun, mas ariesta adalah orang yang cerdas, dia sering membantu aku belajar akuntansi, aku selalu salaut dengan kakakku semata wayang itu. dia yang mengambil alih menanggung biaya hidup ami setelahorang tua kami meninggal.
"Wah, ini nggak seperti itu Sari! Dengerin Nidji atau Dewa belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Sari mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Ariesta. Oala...
Di satu sisi kuakui Mas Ariesta tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang
dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Sari, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"
Uh. Padahal dulu Mas Ariesta oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. saja! Mas Ariesta juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Sarong, bukan Sari! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!
Ya, dalam pandanganku Mas Ariesta kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan Hansip yang biasa berkeliling lingkungan kami. "Untung aja masih lebih ganteng."
Mas Ariesta cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Ariesta lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Ariesta nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah
kebingungan. "Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan samaTasya teman ku? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Sari tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"
"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya,
lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Sari lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!" Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya? " Mas Ariesta membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca! " Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim." Mas Ariesta tersenyum.
"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Ariesta sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?" Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Ariesta dengan mangkel.
Hasil penyelidikan ku berhari-hari, ternyata mas Ariesta sedang jatuh cinta dengan seroang yang taat, Namanya adalah Hening dwiastuti, seorang yang cantik dan lincah, tapi dia taat sekali, baru kali ini aku lihat mas ariesta begitu jatuh cinta. hal itu yang membuat mas ariesta berubah.
"Mas lagi jatuh cinta ya.." selidiku, "tidak.." mas ariesta menjawab dengan muka yang merona merah. "kalau mba hening siapa mas" dengan nakal ku bertanya kepada mas ariesta. Mas ariesta hanya tersenyum dan berlalu.
"Mau kemana Sari?" tanya mas airesta
"Nonton sama temen-temen. " Kataku sambil mengenakan sepatu.
"Habis Mas Ariesta kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya." "Ikut Mas ajayuk!" "Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Sari kayak orang bego di sana!"
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Ariesta mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan
memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Ariesta menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.
************ ********* ******
Tertulis sebuah nama dalam diary mas Ariesta "Hening, Sosok muslimah yang menyentuhku qolbuku, aku ingin menjadikannya sebagai istriku" Ternyata mba hening begitu berpengaruh dalam kehidupan mas ariesta, dan ketika kembali membaca diari mas ariesta "aku Ingin menikah, dengan hening, tapi belum ada biaya, dan bagaimana dengan Sari belum lulus kuliah, aku harus menanggung biaya sari, dan aku harus belajar menjadi kepala rumah tangga. "Ya Allahyang maha pengasih lagi maha penyayang bantu lah aku berikan aku jalan atas cobaan yang terindah yang sedang aku hadapi"
"mas Kok sekarang jarang pakai celana jean belelnya, dan sekarang mas ariesta jelek tidak kayak cover boy lagi" celetuku pada suatu hari kepada mas Ariesta. Mas Ariesta cuma senyum. "Suka begini sar. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
"mas memang kalau dalam islam tidak boleh pacaran ya" tanya ku sepontan kepada mas ariesta. "tidak kalau islam murni kita tidak boleh pacaran, melihat muka wanita pun tidak boleh, haram hukumnya" mas ariesta menjelaskan kepadaku, "memang kenapa apa kamu lagi jatuh cinta lagi" mas ariesta menanyakan kepadaku.
Menurutku Mas Ariesta saat ini terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dialagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sokagamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas ariesta orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh empattahun tetapi sudah menyelesaikan kuliah di FT-UI, bahkan sudah bekerja dan memiliki usaha sendiri. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
"Assalamualaikum! " terdengar suara beberapa lelaki.Mas ariesta menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Ariesta dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas ariesta. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku, persis kelakuannya Ariesta.
"Lewat aja nih, Sari nggak dikenalin?"tanyaku iseng.
Dulu nggak ada teman Mas Ariesta yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Ariesta bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.Mas ariesta menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab yaa begitu deh!
"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru dian setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya."Ikhwan? ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?"
Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin kampusku melirik kami. "Hus..., untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Dian sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di kampus ini."
"Oh apakah ini karena pengaruh mba hening, atau memang keinginan mas ariesta untuk menjadi ikhwan ya..?" otak ku terus berfikir mencoba menerka penyebab mas ariesta berubah
"Dian, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Ariesta" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih" tututku ke dian, dan dian hanya tersenyum saja. "yan apakah dalam islam kita tidak boleh pacaran, aku menduga perubahan mas ariesta karena sesorang wanita bernama hening, sepertinya mas ariesta sangat menyukai hening, dan itu sebab mas Ariesta
berubah" tanya ku ke dian "Udah deh Sar. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya
Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, ahmad atau Mas Ariesta bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham. dan Kalau itu yang menyebabkan
mas Ariesta berubah itu hanya jalanya untuk mas ariesta berubah, yang sebenarnya Allah telah membukakan pintu hatinya, ikhlasin aja, kan mas ariesta sudah dewasa, mungkin sudah waktunya menikah" dian menjelaskandengan bijak tetang pertanyaanku.
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Dian, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa. "Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap
dekat Dian mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Dian tiba-tiba. orang tua dian sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri, karena aku juga menganggap mamanya dian adalah ibuku sendiri
"nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Fika
"Mbak fika?" tanyaku
"Sepupuku yang kuliah di jerman! Lucu deh, pulang dari kuliah di jerman malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.
"Hidayah." dengan ekspresi bingungku
"Nginap ya.lagian kan sekarang malem mingu, Kita ngobrol sampai malam denganMbak fika!"
"Assalaamualaikum! " Aku mengucapkan salam
˜Eh adik Mas Ariesta! Dari mana aja? selesai kuliah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Ariesta pura-pura marah, usai menjawab salamku.
kulihat mas ariesta sedang membaca buku "Mas lagi baca buku apa... Tunjukkin dong, Mas...buku apa sih?" desakku.
"Eiit, eiitt Mas Ariesta berusaha menyembunyikan bukunya. Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah
memerah.
"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Ariesta juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku tersebut "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" teriaku. "mas kamu mau nikah ya..?, tanya ku kepada mas ariesta setelah kami selesai membaca buku tersebut.
"sar, mas mau bicara agak serius sar" mas ariesta memasang muka serius kepadaku. "Iya bicara aja, memang kenapa mas" jawabku kepada mas ariesta. "Sar, mungkin mas berkeinginan menikah dengan seseorang ahkwat" terang mas Ariesta kepadaku.
"Sari akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Sari akhwat atau bukan? Ayo jawab" tanyaku manja.
Mas ariesta tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk
pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Ariesta yang dulu.
Mas Ariesta dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya."Mas kok nangis?"
"Mas jujur mas takut kamu, tidak bisa beradaptasi dengan hening, dengan islam, mas takut tidak bisa membiayakan kamu, kamu adalah adik mas, mas sayang kamu, kamu tanggung jawab mas, kamu rela tidak jika suatu saat mas menikah sar..?" Penjelasan yang dalam dari mas Ariesta, seperti air yangselama ini tersumbat mengalir begitu lancarnya kepadaku. Sesaat kami terdiam. Ah Mas Ariesta yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli
"Memangnya sari ngerti yang Mas katakan?" tanya mas
"Tenang aja. Sari bisa ngerti kok!" kataku jujur.Ya, Mbak fika juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam. Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas ariesta. dan aku memikirkan tentang keinginan menikah mas Ariesta.
************ ******
3 bulan berlalu, suatu hari mas ariesta berkata kepadaku "Sar besok mas mau meminang Hening, mas mohon doa dari sari, karena sari satu-satunya saudara mas yang mas miliki, besok temani mas ya"
mas ariesta berkata kepadaku. "sari ikhlas mas, sari ridho mas ariesta menikah, karena sudah banyak pengorbanan mas ariesta kepada sari, mas telah menggantikan mama-dan papa"
Dan esok harinya ditemani oleh teman-teman pengajian mas ariesta, kami menuju rumah hening calaon mempelai mas Ariesta, dan mas ariesta mengutarakan keinginan untuk meminang hening dan menikahi hening.
"Assalamualaikum, ya bapak orang tua hening, saya kesini bertujuan untuk melamar hening dan ingin menikah dengan hening, semoga kedatang saya ini mendapat ridho dari Allah" begitulah mas ariesta berbicara kepada orang tua hening, tanpa wali mas ariesta begitu gagah, lembut, tenang dan berwibawa. Acara dirumah mba hening begitu islami, tamu-tamu pun duduk terpisah dengan nuansa islam yang kental. dan dari acara pelamaran tersebut diputuskan akan diadakan pernikahan 5 bulan lagi.
Pernah juga Mas Ariesta mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Ariesta memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.Aku hanya nyengir kuda.
Tampaknya Mas ariesta mulai senang pergi denganku atau inikah detik-detik sebelum pernikahnya, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan."Nyoba pakai jilbab. sari!" pinta Mas ariesta suatu ketika."Lho, rambut sari kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh mas.
Mas ariesta tersenyum. "sari lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak dian,sahabat mu."
"Sari mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Ariesta seolah mengerti jalan pikiranku.Akumengge lengkan kepala.
********************
Suatu hari diadakan ceramah di kampusku. Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Ariesta. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan kampusku yang dibuka untuk umum ini, Mas ariesta menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Ariesta-ku!"
Mas Ariesta tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Ariesta fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Ariesta kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.
Pada kesempatan itu Mas Ariesta berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai
identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Ariesta.Mas ariesta terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang kuliah, aku mampir ke rumah Dian. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Fika yang masih ada ditempat dian senang dan berulang kali mengucap hamdallah.
Aku mau kasih kejutan kepada Mas Ariesta. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Ariesta. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
"Mas Ariest! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Ariesta dengan riang.
"Mas Ariesta diundang ceramah ke bogor" sebuah surat tergeletak di ruang kamar mas ariesta. Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Ariesta.
"assalamualaikum. ." dian mengetok pintu rumahku, tadi aku sengaja menelphone dian untuk menemaniku karena aku kesepian dirumah sendiri. "Waalaikumsalam wr.wb" sahutku " Dian masuk aja, aku lagi nyuci piring nih" kataku mempersilahkan dian masuk
"Eh, jilbab sari mencong-mencong tuh!" Dian tertawa.Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Dian. Sudah lepas Isya Mas ariesta belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur dian lagi. Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas ariesta belum pulang juga. "Nginap barangkali, sar." Duga dian
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Ariesta segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriiiinggg! " telpon berdering.
"Hallo. Ya betul. Apa? Mas Ariesta?"
"Mas Ariesta" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Rumah sakit pasar rebo. Aku dan dian menangis berangkulan.
Jilbab kami basah.
Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Ariesta terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah mobil menghantam Motor yang dikendarai saat Mas Ariesta, sedang fotocopy bahan ceramahnya.satu teman mas ariesta, mas hendra tewas seketika sedang Mas
Ariesta kritis.Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.
Dan Kulihat mba Hening dan beberapa kawan mas ariesta sudah berkumpul disana.. "Sabar ya sar" suara lembut mba hening memberiku semangat. Tanpa kusadari kupeluk mba hening calon kakak iparkku. "terus berdoa untuk Mas Ariesta"
"Bagaimana keadaan kakak ku Dok" tanya ku kepada dokter. "Berdoa saja ya dik.. sekarang kondisinya parah, masih pendarahaan. . darah masih keluar dari kuping dang hidungnya, kondisinya 13%, sedangkan selama ini yang pasien yang bertahan hidup daya peluangnya sekitar 17% jadi dibawah kondisi normal, bantu doa saja semoga ada mukjijat" Dan seketika aku pingsan mendengar
penjelasan dari dokter.
"Sar..sari.. ." terdengar sayup-sayup suara mba hening, " dan kubuka mataku, "dimana aku... bagaimana kondisi mas ariesta" tanyaku sambil terus terurai air mata. "Sabar ya sar.. mas Ariesta telah ditemani ahmad dan kawan-kawan pengajian lainya" mba hening menenangkan ku, "dan untuk sementara aku nginap di rumah kamu, untuk jaga-jaga sar" mba hening memberi tahuku.
"Sar, aku juga sudah ijin sama mamah, dan aku bersama mba fika akan menginap juga disini sar" dian sahabatku berada di samping mba hening.Malam itu, di rumah ku, banyak kawan mas ariesta datang, ihkwan dan ahkwat teman sepengajian mas ariesta menggelar pengajian untuk mendoakan kesembuhan mas ariesta.
"mba hening aku mau ke rumah sakit, aku mau menunggui as ariesta" pintaku kepada mba hening, "Oke besok aku antar sar" jawab mba hening kepadaku.Keseokan a "Dian, Mba fika, saya titip rumah ya, saya mau antara sari kerumah sakit, kebelan saya bawa mobil untuk kesana" mba sari memberi tahu kepada dian dan mba fika.
************ *********
"Dok ijinkan saya masuk k untuk menemui kakak saya" pinta ku kepada suster, "Maaf dik, belum bisa, karena kondisinya belum stabil" jelas suster kepada ku.
" Tetapi saya Sari adiknya, su! Mas Ariesta pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku. Mba hening merangkulku. "Sabar sayang, sabar." Di pojok ruangan sahabat mas ariesta dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas
Ariesta. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Ariesta akan hidup terus kan, suster? Dokter? " tanyaku. "tuhan, Mas ariesta bisa hidupkan, karena dia satu-satunya saudara yang kumiliki" Air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.
"Mas Ariesta, sembuh ya, Mas..Mas..Ariesta, Sari udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Ariesta" bisikku setengah lirih.
Setalah tiga hari kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan beberapa orang sahabat mas ariesta dan seorang bapak tua paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Ariesta. Sari, Mba hening,butuh Mas mas Ariesta, eh umat juga butuh juga deh sosok mas ariesta."
"tuhan jika kau berikan kesembuhan pada mas ariesta aku, akan selalu memakai jilbab ini, dan aku berjanji akan merubah hidupku, aku akan lebih mendekatkan diri kepamu Allah" ituklah doa yang kupanjatkan saat sholat tahujud dan sholat hajat ku di koridor rumah sakit
esok Siang tak kusangka Dokter Budi yang menangani Mas Ariesta menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Sari, siapa yang bernama sari "
"Sari" suaraku serak menahan tangis. Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan sayalukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Budi mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.
"Mas ini Sari Mas.." sapaku berbisik.
Tubuh Mas Ariesta bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu. Kudekatkan wajahku kepadanya. "Sari sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."Tubuh mas Ariesta yang Gagah itu bergerak lagi.
"Dzikir Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas ariesta yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.
"Sari"Kudengar suara Mas ariesta! Ya Allah, pelan sekali. "sari di sini, Mas" Perlahan kelopak matanya terbuka. "ku tersenyum. "Sari udah pakai jilbab" kutahan isakku.Memandangku lembut Mas Ariesta tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.
Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyakMas, " kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Ariesta terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Ariesta,aku pasrah pada
ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas ariesta.
"Laailaahailla. .llah Muhammad Ra..sul Allah suara Mas Ariesta pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa Ku dengar.
Dan detik-detik seperti ini terus berlalu selama hampir 4 minggu, seorang sahabat mas ariesta memberikan aku sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna pink, dia bilang mas Ariesta pergi ke tukang fotocopy selain ingin memfotokopy bahan untuk ceramah, mas Ariesta juga ingin membeli pita untuk menghiasi bungkus kado yang ingin diberikan kepadaku.
Kubuka dan kudapat kartu ucapan Mas Ariesta. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab Biru langit , manis sekali. Akh, ternyata Mas ariesta telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Dan Dokter budi, menghampiri ku. "kondisi ariesta sungguh luar biasa, ini suatu kejaiban melihat perkembanganya yang sangat luar biasa, sebenernya kami tim dokter sudah hampir lepas tangan, dan memperkirakan yang terburuk, tapi dia bisa bertahan dan mulai membaik" begitu dokter budi menjelaskan. "alhamdulillah. ." hanya itu yang ucapan yang keluar dari mulutku, dan seketika aku pun sujud syukur kepada Allah karena telah menyelamatkan mas Ariesta ku.
6 bulan berjalan, mas Ariesta telah sembuh total, dan hari ini adalah hari pernikahan mas Ariesta dan mba hening, kupakai gamis dan jilbab yang diberikannya kepada ku saat aku ulang tahun. yang merupakan kado terindah yang pernah diberikan Mas ariesta dan Allah.
"mas terimakasih, atas hadiahnya, dan selamat menempuh hidup baru, mas arista adalah harta ku yang paling berharga"dan kuberikan selamat kepada mas ariesta setelah acara akad, dan kupeluk mas Ariesta dengan lingan air mata kebahagian. Alhamdulliah ya Allah, kau bukakan hidayah yang besar kepadaku! Jilbab Biru itu kembali kuletakan dalam kotak penyimpanan yang terbaik di dalam tempat yang kubuat istimewa, dan jilbab ini adalah harta ku yang paling berharga yang kumiliki.
19 Maret 2008
Cikarang-Sanyo
Catatan: Cerpen ini gubahan dari cerpen "ketika mas gagah pergi" karangan mba Helvy Tiana Rosa. abis cerita nya keren sih
Gubahan Dari Cerita : Ketika Mas Gagah Pergi
Mas Ariesta Wirastiawan, telah bekerja disuatu perusahaan yang cukup baik. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !dahulu Mas Ariesta juga udah mampu membiayai Kuliahnya sendiri dari hasilmengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami.Iaselalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang Kuliah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku. Karena kami berdua adalah yatim piatu.
sampai saat ini dia Bekerja di suatu perusahaan dan dia juga memiliki kios koran di stasiun, dia melakukan itu untuk membiayai kehidupan ku dan kuliahku. dialah satu-satunya saudara yang kumiliki didunia ini.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Ariesta yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan mobil hasil jerih payahnya sebuah
sedan putih ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan- Ancol. "aku Ingin Membahagiakan Adikku satu-satunya" begitulahmas Ariesta selalu berkata, karena dia sangat menyayangiku.
Tak ada yang tak menyukai Mas Ariesta. Jangankan tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya. "Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?" tanya banyak teman ku "Sari, gara-gara kamu bawa Mas Aries ke rumah, sekarang orang rumahkusuka membanding-bandingk an teman cowokku sama Aries lho! Gila, berabe
kan?!""Gimana ya Sar, agar Mas Ariesta suka padaku?"
Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cumamesem-mesem bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Ariesta mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?
"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kerja. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran, . Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Ariesta pura-pura serius. "lebih baik mas biayain buat adikku yang cantik satu ini" mas Ariesta sambil memainkan poni rambutku.akupun hanya bisa tersenyum ringan.
Mas Ariesta dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!
Itulah Mas Ariesta! Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan
ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Ariesta yang kubanggakan kini entah kemana…
"Mas Ariesta! Mas! Mas Arieeesssta! " teriakku kesal sambil mengetuk Padahaltadi aku lihat Mas
Ariesta ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Ariesta. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisamembaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamu'alaikum! "seruku. Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Ariesta.
"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa sari? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya. "Matiin kasetnya!"kataku sewot. "Lho memangnya kenapa?""Sari kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Ariesta! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku
cemberut."Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Sari!""Bodo! "teriakku
"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Ariesta sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Sari ngambek.., Mas bingung. Jadinya ya dipasang di kamar." iya inilah rumah peninggalan warisan orang tua kami, tidak bagus tapi cukup untuk kami berdua melanjutkan hidup.
"Tapi kuping Sari terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Nidji yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!" "Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…""Pokoknya kedengaran!" "Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"
"Ndak, pokoknya Sari ndak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Ariesta. Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Ariesta jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Nidji, Dewa, Letto, Queen, Glen Fredlynya?" mas Ariesta adalah seorang pecinta lagu JAZZ, kenapa sekaranng menyukai Nasyid.
Aku sekarang berkuliah, di UNJ, Jurusan Akuntansi,dan IP ku termaksud bagus, aku hampir menyelesaikan studi ku, aku sekarang sedang mengulang Mata kuliah yang paling ku benci, audit, dan Statistik bisnis, untuk audit aku telah melakukan pengulangan selama 3 kali. kata mas Ariesta, aku naksir dengan dosennya, jadi aku mengulang terus. aku hanya tersenyum mendengar
penuturan mas ariesta tersaebut
Aku sering curhat dan berbagi dengan mas ariesta, tentang cinta, kampus, pelajaran, atau apapapun, mas ariesta adalah orang yang cerdas, dia sering membantu aku belajar akuntansi, aku selalu salaut dengan kakakku semata wayang itu. dia yang mengambil alih menanggung biaya hidup ami setelahorang tua kami meninggal.
"Wah, ini nggak seperti itu Sari! Dengerin Nidji atau Dewa belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Sari mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Ariesta. Oala...
Di satu sisi kuakui Mas Ariesta tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang
dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Sari, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"
Uh. Padahal dulu Mas Ariesta oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. saja! Mas Ariesta juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Sarong, bukan Sari! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!
Ya, dalam pandanganku Mas Ariesta kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan Hansip yang biasa berkeliling lingkungan kami. "Untung aja masih lebih ganteng."
Mas Ariesta cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Ariesta lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Ariesta nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah
kebingungan. "Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan samaTasya teman ku? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Sari tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"
"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya,
lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Sari lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!" Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya? " Mas Ariesta membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca! " Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim." Mas Ariesta tersenyum.
"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Ariesta sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?" Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Ariesta dengan mangkel.
Hasil penyelidikan ku berhari-hari, ternyata mas Ariesta sedang jatuh cinta dengan seroang yang taat, Namanya adalah Hening dwiastuti, seorang yang cantik dan lincah, tapi dia taat sekali, baru kali ini aku lihat mas ariesta begitu jatuh cinta. hal itu yang membuat mas ariesta berubah.
"Mas lagi jatuh cinta ya.." selidiku, "tidak.." mas ariesta menjawab dengan muka yang merona merah. "kalau mba hening siapa mas" dengan nakal ku bertanya kepada mas ariesta. Mas ariesta hanya tersenyum dan berlalu.
"Mau kemana Sari?" tanya mas airesta
"Nonton sama temen-temen. " Kataku sambil mengenakan sepatu.
"Habis Mas Ariesta kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya." "Ikut Mas ajayuk!" "Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Sari kayak orang bego di sana!"
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Ariesta mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan
memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Ariesta menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.
************ ********* ******
Tertulis sebuah nama dalam diary mas Ariesta "Hening, Sosok muslimah yang menyentuhku qolbuku, aku ingin menjadikannya sebagai istriku" Ternyata mba hening begitu berpengaruh dalam kehidupan mas ariesta, dan ketika kembali membaca diari mas ariesta "aku Ingin menikah, dengan hening, tapi belum ada biaya, dan bagaimana dengan Sari belum lulus kuliah, aku harus menanggung biaya sari, dan aku harus belajar menjadi kepala rumah tangga. "Ya Allahyang maha pengasih lagi maha penyayang bantu lah aku berikan aku jalan atas cobaan yang terindah yang sedang aku hadapi"
"mas Kok sekarang jarang pakai celana jean belelnya, dan sekarang mas ariesta jelek tidak kayak cover boy lagi" celetuku pada suatu hari kepada mas Ariesta. Mas Ariesta cuma senyum. "Suka begini sar. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
"mas memang kalau dalam islam tidak boleh pacaran ya" tanya ku sepontan kepada mas ariesta. "tidak kalau islam murni kita tidak boleh pacaran, melihat muka wanita pun tidak boleh, haram hukumnya" mas ariesta menjelaskan kepadaku, "memang kenapa apa kamu lagi jatuh cinta lagi" mas ariesta menanyakan kepadaku.
Menurutku Mas Ariesta saat ini terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dialagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sokagamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas ariesta orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh empattahun tetapi sudah menyelesaikan kuliah di FT-UI, bahkan sudah bekerja dan memiliki usaha sendiri. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
"Assalamualaikum! " terdengar suara beberapa lelaki.Mas ariesta menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Ariesta dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas ariesta. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku, persis kelakuannya Ariesta.
"Lewat aja nih, Sari nggak dikenalin?"tanyaku iseng.
Dulu nggak ada teman Mas Ariesta yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Ariesta bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.Mas ariesta menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab yaa begitu deh!
"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru dian setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya."Ikhwan? ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?"
Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin kampusku melirik kami. "Hus..., untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Dian sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di kampus ini."
"Oh apakah ini karena pengaruh mba hening, atau memang keinginan mas ariesta untuk menjadi ikhwan ya..?" otak ku terus berfikir mencoba menerka penyebab mas ariesta berubah
"Dian, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Ariesta" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih" tututku ke dian, dan dian hanya tersenyum saja. "yan apakah dalam islam kita tidak boleh pacaran, aku menduga perubahan mas ariesta karena sesorang wanita bernama hening, sepertinya mas ariesta sangat menyukai hening, dan itu sebab mas Ariesta
berubah" tanya ku ke dian "Udah deh Sar. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya
Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, ahmad atau Mas Ariesta bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham. dan Kalau itu yang menyebabkan
mas Ariesta berubah itu hanya jalanya untuk mas ariesta berubah, yang sebenarnya Allah telah membukakan pintu hatinya, ikhlasin aja, kan mas ariesta sudah dewasa, mungkin sudah waktunya menikah" dian menjelaskandengan bijak tetang pertanyaanku.
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Dian, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa. "Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap
dekat Dian mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Dian tiba-tiba. orang tua dian sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri, karena aku juga menganggap mamanya dian adalah ibuku sendiri
"nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Fika
"Mbak fika?" tanyaku
"Sepupuku yang kuliah di jerman! Lucu deh, pulang dari kuliah di jerman malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.
"Hidayah." dengan ekspresi bingungku
"Nginap ya.lagian kan sekarang malem mingu, Kita ngobrol sampai malam denganMbak fika!"
"Assalaamualaikum! " Aku mengucapkan salam
˜Eh adik Mas Ariesta! Dari mana aja? selesai kuliah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Ariesta pura-pura marah, usai menjawab salamku.
kulihat mas ariesta sedang membaca buku "Mas lagi baca buku apa... Tunjukkin dong, Mas...buku apa sih?" desakku.
"Eiit, eiitt Mas Ariesta berusaha menyembunyikan bukunya. Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah
memerah.
"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Ariesta juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku tersebut "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" teriaku. "mas kamu mau nikah ya..?, tanya ku kepada mas ariesta setelah kami selesai membaca buku tersebut.
"sar, mas mau bicara agak serius sar" mas ariesta memasang muka serius kepadaku. "Iya bicara aja, memang kenapa mas" jawabku kepada mas ariesta. "Sar, mungkin mas berkeinginan menikah dengan seseorang ahkwat" terang mas Ariesta kepadaku.
"Sari akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Sari akhwat atau bukan? Ayo jawab" tanyaku manja.
Mas ariesta tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk
pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Ariesta yang dulu.
Mas Ariesta dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya."Mas kok nangis?"
"Mas jujur mas takut kamu, tidak bisa beradaptasi dengan hening, dengan islam, mas takut tidak bisa membiayakan kamu, kamu adalah adik mas, mas sayang kamu, kamu tanggung jawab mas, kamu rela tidak jika suatu saat mas menikah sar..?" Penjelasan yang dalam dari mas Ariesta, seperti air yangselama ini tersumbat mengalir begitu lancarnya kepadaku. Sesaat kami terdiam. Ah Mas Ariesta yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli
"Memangnya sari ngerti yang Mas katakan?" tanya mas
"Tenang aja. Sari bisa ngerti kok!" kataku jujur.Ya, Mbak fika juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam. Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas ariesta. dan aku memikirkan tentang keinginan menikah mas Ariesta.
************ ******
3 bulan berlalu, suatu hari mas ariesta berkata kepadaku "Sar besok mas mau meminang Hening, mas mohon doa dari sari, karena sari satu-satunya saudara mas yang mas miliki, besok temani mas ya"
mas ariesta berkata kepadaku. "sari ikhlas mas, sari ridho mas ariesta menikah, karena sudah banyak pengorbanan mas ariesta kepada sari, mas telah menggantikan mama-dan papa"
Dan esok harinya ditemani oleh teman-teman pengajian mas ariesta, kami menuju rumah hening calaon mempelai mas Ariesta, dan mas ariesta mengutarakan keinginan untuk meminang hening dan menikahi hening.
"Assalamualaikum, ya bapak orang tua hening, saya kesini bertujuan untuk melamar hening dan ingin menikah dengan hening, semoga kedatang saya ini mendapat ridho dari Allah" begitulah mas ariesta berbicara kepada orang tua hening, tanpa wali mas ariesta begitu gagah, lembut, tenang dan berwibawa. Acara dirumah mba hening begitu islami, tamu-tamu pun duduk terpisah dengan nuansa islam yang kental. dan dari acara pelamaran tersebut diputuskan akan diadakan pernikahan 5 bulan lagi.
Pernah juga Mas Ariesta mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Ariesta memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.Aku hanya nyengir kuda.
Tampaknya Mas ariesta mulai senang pergi denganku atau inikah detik-detik sebelum pernikahnya, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan."Nyoba pakai jilbab. sari!" pinta Mas ariesta suatu ketika."Lho, rambut sari kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh mas.
Mas ariesta tersenyum. "sari lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak dian,sahabat mu."
"Sari mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Ariesta seolah mengerti jalan pikiranku.Akumengge lengkan kepala.
********************
Suatu hari diadakan ceramah di kampusku. Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Ariesta. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan kampusku yang dibuka untuk umum ini, Mas ariesta menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Ariesta-ku!"
Mas Ariesta tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Ariesta fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Ariesta kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.
Pada kesempatan itu Mas Ariesta berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai
identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Ariesta.Mas ariesta terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang kuliah, aku mampir ke rumah Dian. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Fika yang masih ada ditempat dian senang dan berulang kali mengucap hamdallah.
Aku mau kasih kejutan kepada Mas Ariesta. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Ariesta. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
"Mas Ariest! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Ariesta dengan riang.
"Mas Ariesta diundang ceramah ke bogor" sebuah surat tergeletak di ruang kamar mas ariesta. Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Ariesta.
"assalamualaikum. ." dian mengetok pintu rumahku, tadi aku sengaja menelphone dian untuk menemaniku karena aku kesepian dirumah sendiri. "Waalaikumsalam wr.wb" sahutku " Dian masuk aja, aku lagi nyuci piring nih" kataku mempersilahkan dian masuk
"Eh, jilbab sari mencong-mencong tuh!" Dian tertawa.Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Dian. Sudah lepas Isya Mas ariesta belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur dian lagi. Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas ariesta belum pulang juga. "Nginap barangkali, sar." Duga dian
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Ariesta segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriiiinggg! " telpon berdering.
"Hallo. Ya betul. Apa? Mas Ariesta?"
"Mas Ariesta" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Rumah sakit pasar rebo. Aku dan dian menangis berangkulan.
Jilbab kami basah.
Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Ariesta terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah mobil menghantam Motor yang dikendarai saat Mas Ariesta, sedang fotocopy bahan ceramahnya.satu teman mas ariesta, mas hendra tewas seketika sedang Mas
Ariesta kritis.Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.
Dan Kulihat mba Hening dan beberapa kawan mas ariesta sudah berkumpul disana.. "Sabar ya sar" suara lembut mba hening memberiku semangat. Tanpa kusadari kupeluk mba hening calon kakak iparkku. "terus berdoa untuk Mas Ariesta"
"Bagaimana keadaan kakak ku Dok" tanya ku kepada dokter. "Berdoa saja ya dik.. sekarang kondisinya parah, masih pendarahaan. . darah masih keluar dari kuping dang hidungnya, kondisinya 13%, sedangkan selama ini yang pasien yang bertahan hidup daya peluangnya sekitar 17% jadi dibawah kondisi normal, bantu doa saja semoga ada mukjijat" Dan seketika aku pingsan mendengar
penjelasan dari dokter.
"Sar..sari.. ." terdengar sayup-sayup suara mba hening, " dan kubuka mataku, "dimana aku... bagaimana kondisi mas ariesta" tanyaku sambil terus terurai air mata. "Sabar ya sar.. mas Ariesta telah ditemani ahmad dan kawan-kawan pengajian lainya" mba hening menenangkan ku, "dan untuk sementara aku nginap di rumah kamu, untuk jaga-jaga sar" mba hening memberi tahuku.
"Sar, aku juga sudah ijin sama mamah, dan aku bersama mba fika akan menginap juga disini sar" dian sahabatku berada di samping mba hening.Malam itu, di rumah ku, banyak kawan mas ariesta datang, ihkwan dan ahkwat teman sepengajian mas ariesta menggelar pengajian untuk mendoakan kesembuhan mas ariesta.
"mba hening aku mau ke rumah sakit, aku mau menunggui as ariesta" pintaku kepada mba hening, "Oke besok aku antar sar" jawab mba hening kepadaku.Keseokan a "Dian, Mba fika, saya titip rumah ya, saya mau antara sari kerumah sakit, kebelan saya bawa mobil untuk kesana" mba sari memberi tahu kepada dian dan mba fika.
************ *********
"Dok ijinkan saya masuk k untuk menemui kakak saya" pinta ku kepada suster, "Maaf dik, belum bisa, karena kondisinya belum stabil" jelas suster kepada ku.
" Tetapi saya Sari adiknya, su! Mas Ariesta pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku. Mba hening merangkulku. "Sabar sayang, sabar." Di pojok ruangan sahabat mas ariesta dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas
Ariesta. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Ariesta akan hidup terus kan, suster? Dokter? " tanyaku. "tuhan, Mas ariesta bisa hidupkan, karena dia satu-satunya saudara yang kumiliki" Air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.
"Mas Ariesta, sembuh ya, Mas..Mas..Ariesta, Sari udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Ariesta" bisikku setengah lirih.
Setalah tiga hari kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan beberapa orang sahabat mas ariesta dan seorang bapak tua paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Ariesta. Sari, Mba hening,butuh Mas mas Ariesta, eh umat juga butuh juga deh sosok mas ariesta."
"tuhan jika kau berikan kesembuhan pada mas ariesta aku, akan selalu memakai jilbab ini, dan aku berjanji akan merubah hidupku, aku akan lebih mendekatkan diri kepamu Allah" ituklah doa yang kupanjatkan saat sholat tahujud dan sholat hajat ku di koridor rumah sakit
esok Siang tak kusangka Dokter Budi yang menangani Mas Ariesta menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Sari, siapa yang bernama sari "
"Sari" suaraku serak menahan tangis. Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan sayalukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Budi mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.
"Mas ini Sari Mas.." sapaku berbisik.
Tubuh Mas Ariesta bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu. Kudekatkan wajahku kepadanya. "Sari sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."Tubuh mas Ariesta yang Gagah itu bergerak lagi.
"Dzikir Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas ariesta yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.
"Sari"Kudengar suara Mas ariesta! Ya Allah, pelan sekali. "sari di sini, Mas" Perlahan kelopak matanya terbuka. "ku tersenyum. "Sari udah pakai jilbab" kutahan isakku.Memandangku lembut Mas Ariesta tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.
Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyakMas, " kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Ariesta terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Ariesta,aku pasrah pada
ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas ariesta.
"Laailaahailla. .llah Muhammad Ra..sul Allah suara Mas Ariesta pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa Ku dengar.
Dan detik-detik seperti ini terus berlalu selama hampir 4 minggu, seorang sahabat mas ariesta memberikan aku sebuah kotak dibungkus kertas kado berwarna pink, dia bilang mas Ariesta pergi ke tukang fotocopy selain ingin memfotokopy bahan untuk ceramah, mas Ariesta juga ingin membeli pita untuk menghiasi bungkus kado yang ingin diberikan kepadaku.
Kubuka dan kudapat kartu ucapan Mas Ariesta. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab Biru langit , manis sekali. Akh, ternyata Mas ariesta telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Dan Dokter budi, menghampiri ku. "kondisi ariesta sungguh luar biasa, ini suatu kejaiban melihat perkembanganya yang sangat luar biasa, sebenernya kami tim dokter sudah hampir lepas tangan, dan memperkirakan yang terburuk, tapi dia bisa bertahan dan mulai membaik" begitu dokter budi menjelaskan. "alhamdulillah. ." hanya itu yang ucapan yang keluar dari mulutku, dan seketika aku pun sujud syukur kepada Allah karena telah menyelamatkan mas Ariesta ku.
6 bulan berjalan, mas Ariesta telah sembuh total, dan hari ini adalah hari pernikahan mas Ariesta dan mba hening, kupakai gamis dan jilbab yang diberikannya kepada ku saat aku ulang tahun. yang merupakan kado terindah yang pernah diberikan Mas ariesta dan Allah.
"mas terimakasih, atas hadiahnya, dan selamat menempuh hidup baru, mas arista adalah harta ku yang paling berharga"dan kuberikan selamat kepada mas ariesta setelah acara akad, dan kupeluk mas Ariesta dengan lingan air mata kebahagian. Alhamdulliah ya Allah, kau bukakan hidayah yang besar kepadaku! Jilbab Biru itu kembali kuletakan dalam kotak penyimpanan yang terbaik di dalam tempat yang kubuat istimewa, dan jilbab ini adalah harta ku yang paling berharga yang kumiliki.
19 Maret 2008
Cikarang-Sanyo
Catatan: Cerpen ini gubahan dari cerpen "ketika mas gagah pergi" karangan mba Helvy Tiana Rosa. abis cerita nya keren sih
Label: Cerpen
Menikahlah Dengan ku
Jika kau mendapati ku tersenyum
Saat tak apa pun yang terjadi
Abaikan saja aku
Karena aku hanya sedang jatuh cinta
Jika kau mendengar aku bernyanyi dari pagi hingga malam tiba
Itu bukan karena aku jadi gila
Tapi Karena aku sedang jatuh cinta
Cinta kepada dirimu kekasih tercinta
Selalu berharap kau pun merasakannya
Cinta yang bersemi dalam dunia kita
Dan telah menghilangkan lara
Dan membuat diriku sedikit menggila
Hati ini telah menjatuhkan pilihan
Dengan suatu kepastian
Apapun akan kulewati
Untuk membuatmu teryakini
Kuminta padamu Menikahlah dengan ku
Tuk Kita jalani hidup bersama
Untuk menjalani duka dan bahagia
Mendayung bahtera bersama untuk selamanya
Cimanggis-Kelapa Dua Depok 13 August 2007, 22:35
Erwin Arianto
Just come and see my story, just click http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Jika kau mendapati ku tersenyum
Saat tak apa pun yang terjadi
Abaikan saja aku
Karena aku hanya sedang jatuh cinta
Jika kau mendengar aku bernyanyi dari pagi hingga malam tiba
Itu bukan karena aku jadi gila
Tapi Karena aku sedang jatuh cinta
Cinta kepada dirimu kekasih tercinta
Selalu berharap kau pun merasakannya
Cinta yang bersemi dalam dunia kita
Dan telah menghilangkan lara
Dan membuat diriku sedikit menggila
Hati ini telah menjatuhkan pilihan
Dengan suatu kepastian
Apapun akan kulewati
Untuk membuatmu teryakini
Kuminta padamu Menikahlah dengan ku
Tuk Kita jalani hidup bersama
Untuk menjalani duka dan bahagia
Mendayung bahtera bersama untuk selamanya
Cimanggis-Kelapa Dua Depok 13 August 2007, 22:35
Erwin Arianto
Just come and see my story, just click http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Pergilah Cinta
By: Erwin Arianto
Depok, 4 April 2008
Waktu terasa begitu cepat jalannya. Sebentar lagi dia akan berusia 35 tahun. Dan teman-teman lainya sudah asik menimang-nimang anak. Di dalam hati ada kesepian yang sangat. sebenarnya akupun membutuhkan perhatian dan cinta. Namun aku takut memulai. Tak banyak wanita yang ku kenal di sekeliling hidupku. mungkin aku telah patah arang.
Benar kata orang, bila wanita putus cinta, mereka akan bertambah cantik dan bertambah gaya. Bila pria putus cinta makin kusam, hidup ngak teratur dan tampang makin jelek. Itulah yang terjadi pada ku. dalam Masa 3 tahun bersama Wina hilang begitu saja, saat Wina mengabarkan dia menerima tunangan dari mamanya. Baginya itu adalah alasan yang dibuat-buat.
"Wahai jiwa yang berada di dalam rasa dan diriku, apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sehingga aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku ? Apakah aku adalah orang yang selalu berpikir picik dalam kehidupan ini? Apakah aku terlalu egois terhadap diriku sendiri?" pertanyaan batin ini menyeruak dan bermain dalam lamunan hati aku pun bertambah hancur.
Ini adalah cinta ke 2 yang kandas. Satu tahun aku menjadi kacau sampai-sampai aku pernah hampir di PHK dari pekerjaan. Sebab jarang masuk kerja dan kalaupun masuk ngak ada kerjaan yang beres pada waktunya. Untunglah atasanku sangat baik padaku dan sering memberi semangat hidup. Kebiasaan minum di bar sudah setahun ini dia hentikan. Dan dia tidak pernah bikin malu lagi dengan teller di bar atau di jalanan.
sering Gelap dalam pikiranku tak seperti terangnya sinar matahari. Kulihat cahayanya menyilaukan mata, panasnya membuat dahi mengeluarkan keringat. Aku hanya bisa mengusap keringat itu dengan lenganku sebagai tanda bahwa aku kelelahan. Mana sempat aku bawa sapu tangan dari rumah dengan kondisiku saat itu. "Ya Allah, sepertinya aku tak sanggup lagi menahan semua ini",
begitulah gelora dalam batinku.
****************
Pukul tujuh sore telah tiba, akupun buru-buru pulang untuk menepati janjiku harus bertemu dengan wina di sebuah resto favoritku. Dan Kamipun duduk berdua di sebuah meja makan. Untuk makan malam.
Cahaya lampu neon berubah wujud wina menjadi bidadari cantik, menggetarkan hati ku. Begitulah kiranya hasil proyektor otak ku. Kulitnya yang putih tak mungkin terbakar oleh sinar itu, , saat-saat seperti ini hatiku
membutuhkanmu untuk memadamkan asmara yang kian memuncak ketika aku merindukanmu setelah 3 tahun berlalu. Isi hatiku pun tak mampu keluar dari mulutka. Ah, yang bisa dilakukannya hanya diam, bicara hanya mampu melalui mimpi atau saat Ia lagi sendiri.
Wina ternyata telah berubah, makin gemuk dan wajahnya tak secantik dulu. Ada raut penderitaan di bola matanya. Setelah selesai makan merekapun bicara ke inti persoalan. Tak terasa ada air mata di wajah Wina. aku pun mendadak terharu. Cerita yang dia lontarkan cukup mengagetkan ku. Aku berpikir Wina pasti bahagia hidupnya.
Ternyata tak seperti perkiraanku. Suaminya ternyata seorang don juan. Punya banyak simpanan wanita. Jarang pulang dan kalau pulang pun hanya pertengkaran yang ada. Sejak anak pertamanya lahir suaminya berubah. Kasar dan suka memukul.
aku hanya terdiam dan tak sanggup berkata. aku adalah orang lain sekarang bagi Wina. Dan semuanya tak akan bisa kembali seperti dulu. aku sadar, tak baik bagiku menjadi orang ketiga di keluarga wina. Itu akan menambah persoalan baru.
Lamunanku kembali buyar.wina menyadarkan aku, mungkin karena hatiku menghibur diriku yang selalu kesepian ini, membuatku dapat tersenyum cerah tanpa beban dihadapan wina.
"gus..maafkan Wina ya. Wina telah menghancurkan hati kamu, dalam hati kecil Wina, Wina masih mencintai kamu. Dan tak akan hilang sampai kapan pun, terimakasih kamu telah mau menemani malam ini". Wina pun mencium pipi ku sebelum berlalu naik taxi pulang.
Tanpa terasa hari sudah kian malam, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. waktu yang sempit sekali pun harus kusyukur
rembulan malam tepat berada di tengah-tengah ketika nada-nada itu tiba-tiba lenyap digantikan keheningan yang luar biasa. Keheningan yang membawaku menyadari ternyata aku benar-benar sendiri, dan aku yang telah terbiasa sendiri ini menjadi ketakutan, bukan takut karena aku seorang diri disini, tapi takut dengan kesendirianku yang selalu menyendiri, seperti sekarang ini. Aku tetap terdiam merenungi kesendirianku, kenapa aku selalu ingin sendiri ? dan berulang kali aku mencoba untuk bisa hidup dengan orang lain ternyata tetap tidak nyaman tidak seperti ketika aku sendiri. Mungkin aku selalu merindukan kesendirianku.
Aku termenung…aku tak tahu mesti berkata apa. aku pada posisi yang salah. Bagaimanapun rasa suka masih ada. Tapi cinta nya telah hilang buat Wina.Saat aku pulang samar-samar di radio di mobilku terdengar lagu dari "Selamat jalan kekasih... Manis yang berujung perih...Kisah ini terlalu indah tuk jalani ini semua". Tanpa sadar air mataku menetes di pipi. "Tuhan…kuatkan iman hamba" aku berdoa. Dan aku sadari aku pun tidak bisa memiliki wina ku lagi.. pergilah biarkan ku nikmati indah dirimu hanya dalam bayang-bayang sepi.
Aku terus berdoa kepada Allah. "Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih" biarkan aku ikhlas dalam melepas wina. takdirmu adalah nya segalanya bagiku. Pergilah cinta dengan rasa yang selalu kujaga. raihlah hidupmu. bukankah cinta tidak harus selalu memiliki. hanya pikiran itu yang ada di benak ku kini.
cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan kisah adalah tidak disengaja. Saran dan kritik dapat dikirim ke Erwinarianto@ gmail.com
Depok 3 April 2008
By: Erwin Arianto
Depok, 4 April 2008
Waktu terasa begitu cepat jalannya. Sebentar lagi dia akan berusia 35 tahun. Dan teman-teman lainya sudah asik menimang-nimang anak. Di dalam hati ada kesepian yang sangat. sebenarnya akupun membutuhkan perhatian dan cinta. Namun aku takut memulai. Tak banyak wanita yang ku kenal di sekeliling hidupku. mungkin aku telah patah arang.
Benar kata orang, bila wanita putus cinta, mereka akan bertambah cantik dan bertambah gaya. Bila pria putus cinta makin kusam, hidup ngak teratur dan tampang makin jelek. Itulah yang terjadi pada ku. dalam Masa 3 tahun bersama Wina hilang begitu saja, saat Wina mengabarkan dia menerima tunangan dari mamanya. Baginya itu adalah alasan yang dibuat-buat.
"Wahai jiwa yang berada di dalam rasa dan diriku, apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sehingga aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku ? Apakah aku adalah orang yang selalu berpikir picik dalam kehidupan ini? Apakah aku terlalu egois terhadap diriku sendiri?" pertanyaan batin ini menyeruak dan bermain dalam lamunan hati aku pun bertambah hancur.
Ini adalah cinta ke 2 yang kandas. Satu tahun aku menjadi kacau sampai-sampai aku pernah hampir di PHK dari pekerjaan. Sebab jarang masuk kerja dan kalaupun masuk ngak ada kerjaan yang beres pada waktunya. Untunglah atasanku sangat baik padaku dan sering memberi semangat hidup. Kebiasaan minum di bar sudah setahun ini dia hentikan. Dan dia tidak pernah bikin malu lagi dengan teller di bar atau di jalanan.
sering Gelap dalam pikiranku tak seperti terangnya sinar matahari. Kulihat cahayanya menyilaukan mata, panasnya membuat dahi mengeluarkan keringat. Aku hanya bisa mengusap keringat itu dengan lenganku sebagai tanda bahwa aku kelelahan. Mana sempat aku bawa sapu tangan dari rumah dengan kondisiku saat itu. "Ya Allah, sepertinya aku tak sanggup lagi menahan semua ini",
begitulah gelora dalam batinku.
****************
Pukul tujuh sore telah tiba, akupun buru-buru pulang untuk menepati janjiku harus bertemu dengan wina di sebuah resto favoritku. Dan Kamipun duduk berdua di sebuah meja makan. Untuk makan malam.
Cahaya lampu neon berubah wujud wina menjadi bidadari cantik, menggetarkan hati ku. Begitulah kiranya hasil proyektor otak ku. Kulitnya yang putih tak mungkin terbakar oleh sinar itu, , saat-saat seperti ini hatiku
membutuhkanmu untuk memadamkan asmara yang kian memuncak ketika aku merindukanmu setelah 3 tahun berlalu. Isi hatiku pun tak mampu keluar dari mulutka. Ah, yang bisa dilakukannya hanya diam, bicara hanya mampu melalui mimpi atau saat Ia lagi sendiri.
Wina ternyata telah berubah, makin gemuk dan wajahnya tak secantik dulu. Ada raut penderitaan di bola matanya. Setelah selesai makan merekapun bicara ke inti persoalan. Tak terasa ada air mata di wajah Wina. aku pun mendadak terharu. Cerita yang dia lontarkan cukup mengagetkan ku. Aku berpikir Wina pasti bahagia hidupnya.
Ternyata tak seperti perkiraanku. Suaminya ternyata seorang don juan. Punya banyak simpanan wanita. Jarang pulang dan kalau pulang pun hanya pertengkaran yang ada. Sejak anak pertamanya lahir suaminya berubah. Kasar dan suka memukul.
aku hanya terdiam dan tak sanggup berkata. aku adalah orang lain sekarang bagi Wina. Dan semuanya tak akan bisa kembali seperti dulu. aku sadar, tak baik bagiku menjadi orang ketiga di keluarga wina. Itu akan menambah persoalan baru.
Lamunanku kembali buyar.wina menyadarkan aku, mungkin karena hatiku menghibur diriku yang selalu kesepian ini, membuatku dapat tersenyum cerah tanpa beban dihadapan wina.
"gus..maafkan Wina ya. Wina telah menghancurkan hati kamu, dalam hati kecil Wina, Wina masih mencintai kamu. Dan tak akan hilang sampai kapan pun, terimakasih kamu telah mau menemani malam ini". Wina pun mencium pipi ku sebelum berlalu naik taxi pulang.
Tanpa terasa hari sudah kian malam, dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. waktu yang sempit sekali pun harus kusyukur
rembulan malam tepat berada di tengah-tengah ketika nada-nada itu tiba-tiba lenyap digantikan keheningan yang luar biasa. Keheningan yang membawaku menyadari ternyata aku benar-benar sendiri, dan aku yang telah terbiasa sendiri ini menjadi ketakutan, bukan takut karena aku seorang diri disini, tapi takut dengan kesendirianku yang selalu menyendiri, seperti sekarang ini. Aku tetap terdiam merenungi kesendirianku, kenapa aku selalu ingin sendiri ? dan berulang kali aku mencoba untuk bisa hidup dengan orang lain ternyata tetap tidak nyaman tidak seperti ketika aku sendiri. Mungkin aku selalu merindukan kesendirianku.
Aku termenung…aku tak tahu mesti berkata apa. aku pada posisi yang salah. Bagaimanapun rasa suka masih ada. Tapi cinta nya telah hilang buat Wina.Saat aku pulang samar-samar di radio di mobilku terdengar lagu dari "Selamat jalan kekasih... Manis yang berujung perih...Kisah ini terlalu indah tuk jalani ini semua". Tanpa sadar air mataku menetes di pipi. "Tuhan…kuatkan iman hamba" aku berdoa. Dan aku sadari aku pun tidak bisa memiliki wina ku lagi.. pergilah biarkan ku nikmati indah dirimu hanya dalam bayang-bayang sepi.
Aku terus berdoa kepada Allah. "Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih" biarkan aku ikhlas dalam melepas wina. takdirmu adalah nya segalanya bagiku. Pergilah cinta dengan rasa yang selalu kujaga. raihlah hidupmu. bukankah cinta tidak harus selalu memiliki. hanya pikiran itu yang ada di benak ku kini.
cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama dan kisah adalah tidak disengaja. Saran dan kritik dapat dikirim ke Erwinarianto@ gmail.com
Depok 3 April 2008
Label: Cerpen
Hujan Gerimis
Hujan gerimis jatuh satu-satu
Membasahi bumi dengan perlahan
Wahai wanita pujaanku
Kau pun datang menyuburkan bunga hati ditaman
kumimpikan kita tuk bersatu
dalam hati ini yang ada hanya dirimu
kau bagai lilin kecil
kau terangi gelap hati yang kerdil
tak pernah percaya ku temukan kau permata
sesuatu yang sangat berharga
yang akan selalu kusayangi dan akan kujaga
kau buat diriku menjadi berharga
wahai wanita pujaanku
tak ada niat ku untuk menyakitimu
ku selalu jatuh cinta dan takan bisa bila tak ada kamu
ku yang selalu merindu dan tak pernah mampu
bila tak ada kamu di dekatkukau lah keajaiban terindah untukku
Hujan gerimis jatuh satu-satu
Membasahi bumi dengan perlahan
Wahai wanita pujaanku
Kau pun datang menyuburkan bunga hati ditaman
kumimpikan kita tuk bersatu
dalam hati ini yang ada hanya dirimu
kau bagai lilin kecil
kau terangi gelap hati yang kerdil
tak pernah percaya ku temukan kau permata
sesuatu yang sangat berharga
yang akan selalu kusayangi dan akan kujaga
kau buat diriku menjadi berharga
wahai wanita pujaanku
tak ada niat ku untuk menyakitimu
ku selalu jatuh cinta dan takan bisa bila tak ada kamu
ku yang selalu merindu dan tak pernah mampu
bila tak ada kamu di dekatkukau lah keajaiban terindah untukku
Erwin Arianto
Untuk Bidadari Hati
Untuk Bidadari Hati
Label: Puisi Cinta
(Cerpen) Ketika Semua sudah berbeda
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Selasa, Januari 30, 2018
"Sudahlah rudi, aku sudah tidak bisa bersama mu lagi, Semua sudah tertutup karena ulah mu sendiri" ujar ainun kepada rudi pagi itu, "Stock Maafku sudah habis untuk mu, kamu selalu menuliskan cerita yang sama untuk ku, kamu selalu meminta maaf tapi kamu mengulangi nya lagi" Ainun mengungkapkan emosi yang ada kepada rudi. Rudi dan ainun bukanlah sepasang kekasih, rudi hanya orang yang mencintai ainun dengan setulus hati, sedangkan ainun dengan segenap hati berusaha menolak rudi. Mungkin sudah satu bilangan masehi rudi berusaha mendekati ainun, selama itu pula ainun selalu menolak rudi, karena ainuin tidak mau menjalin hubungan dengan rudi yang sudah berkeluarga.
Disuatu pagi, "Rudi kamu ya yang mengirim sms teror kepada ku" tanya ainun kepada rudi, "Tidak, aku tidak melakukan itu" ucap rudi menjelaskan semua permasalahan kepada ainun, tetapi ainun yang keras kepala tidak bisa menerima penjelasan dari rudi. "Aku di katain cewek murahan yang bisa di booking" ujar ainun, "Astgfirullah, aku tidak melakukanya ainun, untuk apa?" ungkap rudi kepadanya, "adakah orang lain yang mengetahui kisah hidup kamu selain aku" sambung rudi kepada ainun. "Ya ada, kusuma namanya, aku baru mengenalnya beberapa waktu, tetapi kami hanya teman biasa ngobrol ringan masalah kami, dan aku pun sudah menanyakan kepadanya, masalah ini, diapun katanya di gebuk pakai balok oleh peneror itu, lalu motornya di rampas" jelas ainun kepada rudi. "lalu kamu menuduh aku" ujar rudi kepada ainun. "Tidak rudi, aku hanya bertanya" jawab ainun. "berapa nomer sang peneror" tanya rudi kepada ainun "085612345678, terdaftar atas nama joko, terakhir terdeteksi di daerah simprug itu setelah aku mencari tau lewat teman ku yang bekerja di provider" ujar ainun kepada rudi.
Setelah pertemuan itu rudi pun berfikir apa yang harus dilakukan, "Rudi kamu bisa cari nomer ini dan lokasi dimana" tanya ainun, "Insha Allah" tidak janji ujar rudi kepada ainun. rudi berusaha menghubungi teman kantornya untuk menindak lanjuti permintaan ainun wanita yang di cintainya "Pak agus, saya boleh diskusi" ujar rudi kepada pak agus seorang Debt Collector yang biasa mencari masalah barang tarikan di bank tempat rudi bekerja. "ada apa pak rudi?", tanya agus kepada rudi
"Begini pak teman saya di terroer orang dengan menggunakan nomor provider xxx, bisakah kita melacak nomer tersebut pak" tanya rudi, "Bisa saja kalau kita bekerjasama dengan Polisi, tetapi bayaranya mahal, lalu kenapa bapak tidak melaporkan ke polisi aja" Tanya agus kepada rudi, "Tidak pak saya hanya ingin tahu siapa orang yang meneror teman saya", rudi pun berfikir untuk menghubungi kawanya yang bekerja di provider XXX, tetapi dia tidak menemukan informasi yang di dapat.
"Rudi, kalau kamu susah mendapat nomer si peneror" bisa kah kamu mencari tau siapa kusuma ini, dapatkan informasinya" ucap ainun pada pertemuan ainun dan rudi. "rudi kembali berfikir bagaimana cara mendapatkan terror itu, rudi pun menghubungi kawan nya untuk mencari tau tentang kusuma, rudi melakukan pelacakan sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh ainun. "Kalau kamu mau ngomong sama aku malam ini rudi, itu kalau kamu mau menyelesaikan permasalahan kita" ucap ainun, ketika rudi mengatakan ingin menyelesaikan masalah ini kepada ainun. tetapi waktu bersamaan dengan janjian rudi dengan pak agus ke wisma jamsostek untuk mencari tau tentang kusuma, rudi sudah membayar orang untuk mencari tau kusuma untuk keperluan ainun, selama hampir 1 minggu orang suruhan rudi nongkrong di wisma jamsostek untuk mencari tau kusuma. rudi sempat kesal dan tidak percaya kepada orang itu karena belum ada hasil. dan rudi meminta ikut mencari tau kusuma di wisma jamsostek bersama pak agus, pada hari rabu itu, tetapi ainun memaksa rudi untuk bertemu pada saat yang sama. akhirnya dengan terpaksa rudi pun berbohong kepada ainun bahwa ia ada kesibukan lain.
padahal rudi nongkrong di jamsostek dari jam 2 siang hingga jam 10 malam hanya untuk menyakinkan bahwa info kusuma sering menaruh motor disana adalah tidak benar.
Seperti biasa ainun dengan nalar yang luar biasa, marah kepada rudi, "Kamu bohong kemarin bilang ada kesibukan malah kamu cari tau tentang kusuma, coba kamu fikir benar gak informasi seperti itu" tetapi rudi hanya diam disalahin oleh Ainun. "ya sudah hari ini saja kita selesaikan masalah kita, setelah ini kita tidak usah ketemuan lagi ucap ainun" Akhirnya sore itu mereka pergi ke kelapa gading untuk ketemuan dan janjian makan di hanamasa, tetapi kondisi tidak memungkinkan hanamasa penuh dan mereka tidak dapat tempat. yang terjadi mereka berdua bertengkar di mall tersebut, dan mereka melanjutkan makan di saung mengengkin di bekasi dekat rumah mereka. "sudah rudi kamu mau bicara apa" tanya ainun kepada rudi, "aku ingin menyelesaikan semua, aku terlalu mencintai mu ainun", "sudah lah rudi yang menjadi masalah adalah ego kamu, sudah aku ingatkan kamu aku tidak mau sama kamu, kamu bukan tipe aku" ujar ainun, rudi pun berusaha menjelaskkan semuanya. dan mereka pun bertengkar kembali, rudi pun mengantar ainun pulang, di sepanjang perjalanan mereka bertengkar kembali "Itulah kamu rudi, kamu selalu berusaha menang, kamu egois, kamu biasa mendapat kan apa yang kamu mau, tapi tidak untuk hati aku rudi" ujar ainun sambil memukul rudi, mencubit rudi meluapkan kekesalan yang ada kepada rudi.
tapi seperti tom and jerry, setelah bertengkar mereka kembali berbaikan, hal itu karen kedewasaan ainun, yang bisa memaafkan rudi, walau tidak bisa melupakan, "sudahlah rudi aku capek, aku muak dengan sikap kamu" ujar ainun kepada rudi, "Please ainun aku bayar waktu kamu 1 hari untuk dapat menjelaskan semua, tentang perasaan ku" jawab rudi. "Apa lagi akan ada hal yang sama dan selalu berulang, kamu seperti anak kecil rudi" ujar ainun. "Ainun, aku yakin yang melakukan teror ke kamu adalah kusuma"ucap rudi, "Rudi kamu gak boleh picik, gunakan asas praduga tidak bersalah, kusuma pun aku ceritain tapi dia dewasa dan bilang itu belum tentu kamu" ujar ainu.
rudi pun hanya terdiam dan berfikir, aku salah lagi.
"Ainun aku minta waktu ya untuk terakir, aku ingin semua ini berakhir" ujar rudi kepada ainun, "Apa lagi sih yang mau kamu omongin dari dulu kejadian cideng, kejadian sunter, kamu selalu bilang hal yang sama, kamu sampe bawa tuhan mu, apakah aku harus percaya sama kamu rudi" tanya ainun ke rudi, " Iya aku akan selalu mau mengabulkan semua permintaan kamu, selain aku harus meninggalkanu ainun" ucap rudi, "lalu sekarang aku harus percaya kamu lagi" tanya ainun, atas permintaan rudi ainun pun luluh dan mengabulkan permintaan tersebut. dan mereka kembali ketemuan di tempat yang sama sebelumnya ' dari pukul 18-21.30 mereka berdiskusi bertengkar disana "sudah lah rudi sudah malam, aku capek, susah jelasin ke kamu tuh bebel susah di bilangin rudi"
akhirnya komunikasi pun terputus, rudi pun berfikir semua yang tak mungkin kenapa harus dipaksakan, di tengah ke galauan hati rudi memutuskan membuat rencana pelarian dari semua masalah ini, dibuatnya jadwal kerja yang padat yang mengharuskanya keluar kota, "Aku tahu, kamu bilang yang terakhir karena kamu mau membuat jadwal ke luar kota kan rudi" Ainun menebak, iya dalam blog yang dibuat rudi untuk menyimpan semua kenangan mereka rudi menulis " Di suatu titik kamu akan sadar kalau kamu sudah memberikan begitu banyak untuk seseorang, sehingga yang bisa kamu lakukan akhirnya hanyalah berhenti. Pergilah. Bukan berarti kamu menyerah, dan bukan berarti kamu tidak mencoba. Kamu harus mengetahui bedanya determinasi dan keputus-asaan. Apa yang memang milikmu pasti akan jadi milikmu, dan apa yang bukan, sebagaimanapun kamu mencoba, tidak akan pernah jadi milikmu" karena kebiasaan Ainun adalah memblok semua saluran komunikasi mereka.
Ainun adalah wanita cerdas, supel ramah, pintar, cantik, tetapi sedikit keras kepala, Rudi begitu menyayanginya walau tau Ainun selalul menolak rudi berualang kali, tetapi dalam hati rudi selalu bertentangan, karena ratusan kali rudi mencoba untuk meninggalkan Ainun, ratusan kali itu pula rudi gagal move on, tetapi kali ini tekat rudi sudah bulat untuk menghentikan kisah yang menyakitkan ini.
akhirnya rudi pun pergi tugas ke Semarang selama 1 Bulan, namun apa yang terjadi, komunikasi keduanya intens terjadi rudi sering menelpon Ainun, dan komunikasi terbuka kembali, seperti tom and jerry mereka akhirnya bertengkar kembali, "Kamu tuh sebenernya bukan marah sama aku ainun, kamu marah dengan diri kamu sendiri" tulis rudi di pesan singkat Ainun di WA, "Akan ku buktikan, aku tidak marah dengan diri ku, tapi aku muak sama kamu rudi, tolong pergilah dari hidup ku jangan ganggu aku lagi, kamu telah menghancurkan hidupku" ucap airin kembali, dan mungkin ainun telah marah besar karena kecewa terhadap sikap rudi. dan saluran komunikasi tertutup lagi. mungkin kali ini untuk selamanya.
Tetapi suatu hari ainun membuka komunikasi dengan rudi "Rudi tolong kamu hapus semua blog yang kamu buat, karena foto aku bocor di blog dan peneror mengatain aku menjual diri lewat medsos kemungkinan ini dari blog kamu, kamu harus apus atau aku laporkan semua ke istri kamu rudi" Seperti biasa rudi tidak ada pilihan selain menghapus blog tersebut, dan rudi berusaha mencari tau cara untuk menghapus gambar pada google. Rudi pun browsing di sebuah situs http://erwin-informasi.blogspot.co.id tentang cara menghapus Cara Menghapus Foto / Gambar dari pencarian Google, rudi pun mencoba nya dan ternyata berhasil.
"sudah lah rudi, kali ini aku tidak akan membuka blok wa dan hp kamu lagi, sampai kamu ganti nomer hp aku tersinggung dengan tulisan aku adalah wanita matre, buat apa aku bekerja keras seperti ini, kalau aku main pasti aku sudah resign, kamu bilang ikhlas memberi tetapi ada terpikir di blok kamu tentang aku yang banyak menerima dan memanfaatkan kamu, dan kamu email aku ngatain aku menjadiiin kamu babu saja, emang pernah kamu aku minta kamu lap sepatu ku, pernah aku minta kamu gosokin bajuku, kamu belum berubah rudi, setiap kamu marah kamu selalu ngata-ngatin aku, emang kamu fikir aku robot yang gak punya perasaan, kamu gak mau di marahin tapi aku capek dengan ulah kamu, untuk teror sudah lah biar aku hadapi sendiri, pergilah kamu rudi, aku hanya akan buka WA setiap awal bulan untuk membayar semua cicilan kamu sampai lunas, aku bukan wanita matre" Dan rudi hanya tertunduk menyesali, setalah beberapa waktu di mencoba semua kandas bukan cinta ainun yang di dapat, yang di dapat hanya kebencian ainun yang memuncak kepada rudi.
"cinta memang tidak bisa dipaksakan. Untuk apa memperjuangkan sendiri sesuatu yang harusnya dilakukan bersama-sama? Untuk apa tetap bersama kalau memang tidak ada cinta? Dan untuk apa memaksakan diri kalau menjalani hidup sendiri-sendiri adalah jalan terbaik? Ingat, tidak ada yang bisa mengerti kamu melebihi dirimu sendiri. Kalau mau jujur, sebenarnya cinta bisa dipaksakan, namun yang terjadi kemudian adalah timbulnya sakit hati dan rasa kecewa yang mendalam. Bukankah dua hal itu yang ingin kamu hindari dari perasaan cinta dan hubunganmu" rudi berusaha menenangkan diri dengan browsing hal tersebut. dan mencoba menata hatinya yang remuk redam akibat terlalu cepat dan dalam jatuh cinta kepada ainun. walau dalam hati dia berkata, aku mencintaimu ainun, hari ini esok dan lusa.
Sudirman 30/1/2018
Disuatu pagi, "Rudi kamu ya yang mengirim sms teror kepada ku" tanya ainun kepada rudi, "Tidak, aku tidak melakukan itu" ucap rudi menjelaskan semua permasalahan kepada ainun, tetapi ainun yang keras kepala tidak bisa menerima penjelasan dari rudi. "Aku di katain cewek murahan yang bisa di booking" ujar ainun, "Astgfirullah, aku tidak melakukanya ainun, untuk apa?" ungkap rudi kepadanya, "adakah orang lain yang mengetahui kisah hidup kamu selain aku" sambung rudi kepada ainun. "Ya ada, kusuma namanya, aku baru mengenalnya beberapa waktu, tetapi kami hanya teman biasa ngobrol ringan masalah kami, dan aku pun sudah menanyakan kepadanya, masalah ini, diapun katanya di gebuk pakai balok oleh peneror itu, lalu motornya di rampas" jelas ainun kepada rudi. "lalu kamu menuduh aku" ujar rudi kepada ainun. "Tidak rudi, aku hanya bertanya" jawab ainun. "berapa nomer sang peneror" tanya rudi kepada ainun "085612345678, terdaftar atas nama joko, terakhir terdeteksi di daerah simprug itu setelah aku mencari tau lewat teman ku yang bekerja di provider" ujar ainun kepada rudi.
Setelah pertemuan itu rudi pun berfikir apa yang harus dilakukan, "Rudi kamu bisa cari nomer ini dan lokasi dimana" tanya ainun, "Insha Allah" tidak janji ujar rudi kepada ainun. rudi berusaha menghubungi teman kantornya untuk menindak lanjuti permintaan ainun wanita yang di cintainya "Pak agus, saya boleh diskusi" ujar rudi kepada pak agus seorang Debt Collector yang biasa mencari masalah barang tarikan di bank tempat rudi bekerja. "ada apa pak rudi?", tanya agus kepada rudi
"Begini pak teman saya di terroer orang dengan menggunakan nomor provider xxx, bisakah kita melacak nomer tersebut pak" tanya rudi, "Bisa saja kalau kita bekerjasama dengan Polisi, tetapi bayaranya mahal, lalu kenapa bapak tidak melaporkan ke polisi aja" Tanya agus kepada rudi, "Tidak pak saya hanya ingin tahu siapa orang yang meneror teman saya", rudi pun berfikir untuk menghubungi kawanya yang bekerja di provider XXX, tetapi dia tidak menemukan informasi yang di dapat.
"Rudi, kalau kamu susah mendapat nomer si peneror" bisa kah kamu mencari tau siapa kusuma ini, dapatkan informasinya" ucap ainun pada pertemuan ainun dan rudi. "rudi kembali berfikir bagaimana cara mendapatkan terror itu, rudi pun menghubungi kawan nya untuk mencari tau tentang kusuma, rudi melakukan pelacakan sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh ainun. "Kalau kamu mau ngomong sama aku malam ini rudi, itu kalau kamu mau menyelesaikan permasalahan kita" ucap ainun, ketika rudi mengatakan ingin menyelesaikan masalah ini kepada ainun. tetapi waktu bersamaan dengan janjian rudi dengan pak agus ke wisma jamsostek untuk mencari tau tentang kusuma, rudi sudah membayar orang untuk mencari tau kusuma untuk keperluan ainun, selama hampir 1 minggu orang suruhan rudi nongkrong di wisma jamsostek untuk mencari tau kusuma. rudi sempat kesal dan tidak percaya kepada orang itu karena belum ada hasil. dan rudi meminta ikut mencari tau kusuma di wisma jamsostek bersama pak agus, pada hari rabu itu, tetapi ainun memaksa rudi untuk bertemu pada saat yang sama. akhirnya dengan terpaksa rudi pun berbohong kepada ainun bahwa ia ada kesibukan lain.
padahal rudi nongkrong di jamsostek dari jam 2 siang hingga jam 10 malam hanya untuk menyakinkan bahwa info kusuma sering menaruh motor disana adalah tidak benar.
Seperti biasa ainun dengan nalar yang luar biasa, marah kepada rudi, "Kamu bohong kemarin bilang ada kesibukan malah kamu cari tau tentang kusuma, coba kamu fikir benar gak informasi seperti itu" tetapi rudi hanya diam disalahin oleh Ainun. "ya sudah hari ini saja kita selesaikan masalah kita, setelah ini kita tidak usah ketemuan lagi ucap ainun" Akhirnya sore itu mereka pergi ke kelapa gading untuk ketemuan dan janjian makan di hanamasa, tetapi kondisi tidak memungkinkan hanamasa penuh dan mereka tidak dapat tempat. yang terjadi mereka berdua bertengkar di mall tersebut, dan mereka melanjutkan makan di saung mengengkin di bekasi dekat rumah mereka. "sudah rudi kamu mau bicara apa" tanya ainun kepada rudi, "aku ingin menyelesaikan semua, aku terlalu mencintai mu ainun", "sudah lah rudi yang menjadi masalah adalah ego kamu, sudah aku ingatkan kamu aku tidak mau sama kamu, kamu bukan tipe aku" ujar ainun, rudi pun berusaha menjelaskkan semuanya. dan mereka pun bertengkar kembali, rudi pun mengantar ainun pulang, di sepanjang perjalanan mereka bertengkar kembali "Itulah kamu rudi, kamu selalu berusaha menang, kamu egois, kamu biasa mendapat kan apa yang kamu mau, tapi tidak untuk hati aku rudi" ujar ainun sambil memukul rudi, mencubit rudi meluapkan kekesalan yang ada kepada rudi.
tapi seperti tom and jerry, setelah bertengkar mereka kembali berbaikan, hal itu karen kedewasaan ainun, yang bisa memaafkan rudi, walau tidak bisa melupakan, "sudahlah rudi aku capek, aku muak dengan sikap kamu" ujar ainun kepada rudi, "Please ainun aku bayar waktu kamu 1 hari untuk dapat menjelaskan semua, tentang perasaan ku" jawab rudi. "Apa lagi akan ada hal yang sama dan selalu berulang, kamu seperti anak kecil rudi" ujar ainun. "Ainun, aku yakin yang melakukan teror ke kamu adalah kusuma"ucap rudi, "Rudi kamu gak boleh picik, gunakan asas praduga tidak bersalah, kusuma pun aku ceritain tapi dia dewasa dan bilang itu belum tentu kamu" ujar ainu.
rudi pun hanya terdiam dan berfikir, aku salah lagi.
"Ainun aku minta waktu ya untuk terakir, aku ingin semua ini berakhir" ujar rudi kepada ainun, "Apa lagi sih yang mau kamu omongin dari dulu kejadian cideng, kejadian sunter, kamu selalu bilang hal yang sama, kamu sampe bawa tuhan mu, apakah aku harus percaya sama kamu rudi" tanya ainun ke rudi, " Iya aku akan selalu mau mengabulkan semua permintaan kamu, selain aku harus meninggalkanu ainun" ucap rudi, "lalu sekarang aku harus percaya kamu lagi" tanya ainun, atas permintaan rudi ainun pun luluh dan mengabulkan permintaan tersebut. dan mereka kembali ketemuan di tempat yang sama sebelumnya ' dari pukul 18-21.30 mereka berdiskusi bertengkar disana "sudah lah rudi sudah malam, aku capek, susah jelasin ke kamu tuh bebel susah di bilangin rudi"
akhirnya komunikasi pun terputus, rudi pun berfikir semua yang tak mungkin kenapa harus dipaksakan, di tengah ke galauan hati rudi memutuskan membuat rencana pelarian dari semua masalah ini, dibuatnya jadwal kerja yang padat yang mengharuskanya keluar kota, "Aku tahu, kamu bilang yang terakhir karena kamu mau membuat jadwal ke luar kota kan rudi" Ainun menebak, iya dalam blog yang dibuat rudi untuk menyimpan semua kenangan mereka rudi menulis " Di suatu titik kamu akan sadar kalau kamu sudah memberikan begitu banyak untuk seseorang, sehingga yang bisa kamu lakukan akhirnya hanyalah berhenti. Pergilah. Bukan berarti kamu menyerah, dan bukan berarti kamu tidak mencoba. Kamu harus mengetahui bedanya determinasi dan keputus-asaan. Apa yang memang milikmu pasti akan jadi milikmu, dan apa yang bukan, sebagaimanapun kamu mencoba, tidak akan pernah jadi milikmu" karena kebiasaan Ainun adalah memblok semua saluran komunikasi mereka.
Ainun adalah wanita cerdas, supel ramah, pintar, cantik, tetapi sedikit keras kepala, Rudi begitu menyayanginya walau tau Ainun selalul menolak rudi berualang kali, tetapi dalam hati rudi selalu bertentangan, karena ratusan kali rudi mencoba untuk meninggalkan Ainun, ratusan kali itu pula rudi gagal move on, tetapi kali ini tekat rudi sudah bulat untuk menghentikan kisah yang menyakitkan ini.
akhirnya rudi pun pergi tugas ke Semarang selama 1 Bulan, namun apa yang terjadi, komunikasi keduanya intens terjadi rudi sering menelpon Ainun, dan komunikasi terbuka kembali, seperti tom and jerry mereka akhirnya bertengkar kembali, "Kamu tuh sebenernya bukan marah sama aku ainun, kamu marah dengan diri kamu sendiri" tulis rudi di pesan singkat Ainun di WA, "Akan ku buktikan, aku tidak marah dengan diri ku, tapi aku muak sama kamu rudi, tolong pergilah dari hidup ku jangan ganggu aku lagi, kamu telah menghancurkan hidupku" ucap airin kembali, dan mungkin ainun telah marah besar karena kecewa terhadap sikap rudi. dan saluran komunikasi tertutup lagi. mungkin kali ini untuk selamanya.
Tetapi suatu hari ainun membuka komunikasi dengan rudi "Rudi tolong kamu hapus semua blog yang kamu buat, karena foto aku bocor di blog dan peneror mengatain aku menjual diri lewat medsos kemungkinan ini dari blog kamu, kamu harus apus atau aku laporkan semua ke istri kamu rudi" Seperti biasa rudi tidak ada pilihan selain menghapus blog tersebut, dan rudi berusaha mencari tau cara untuk menghapus gambar pada google. Rudi pun browsing di sebuah situs http://erwin-informasi.blogspot.co.id tentang cara menghapus Cara Menghapus Foto / Gambar dari pencarian Google, rudi pun mencoba nya dan ternyata berhasil.
"sudah lah rudi, kali ini aku tidak akan membuka blok wa dan hp kamu lagi, sampai kamu ganti nomer hp aku tersinggung dengan tulisan aku adalah wanita matre, buat apa aku bekerja keras seperti ini, kalau aku main pasti aku sudah resign, kamu bilang ikhlas memberi tetapi ada terpikir di blok kamu tentang aku yang banyak menerima dan memanfaatkan kamu, dan kamu email aku ngatain aku menjadiiin kamu babu saja, emang pernah kamu aku minta kamu lap sepatu ku, pernah aku minta kamu gosokin bajuku, kamu belum berubah rudi, setiap kamu marah kamu selalu ngata-ngatin aku, emang kamu fikir aku robot yang gak punya perasaan, kamu gak mau di marahin tapi aku capek dengan ulah kamu, untuk teror sudah lah biar aku hadapi sendiri, pergilah kamu rudi, aku hanya akan buka WA setiap awal bulan untuk membayar semua cicilan kamu sampai lunas, aku bukan wanita matre" Dan rudi hanya tertunduk menyesali, setalah beberapa waktu di mencoba semua kandas bukan cinta ainun yang di dapat, yang di dapat hanya kebencian ainun yang memuncak kepada rudi.
"cinta memang tidak bisa dipaksakan. Untuk apa memperjuangkan sendiri sesuatu yang harusnya dilakukan bersama-sama? Untuk apa tetap bersama kalau memang tidak ada cinta? Dan untuk apa memaksakan diri kalau menjalani hidup sendiri-sendiri adalah jalan terbaik? Ingat, tidak ada yang bisa mengerti kamu melebihi dirimu sendiri. Kalau mau jujur, sebenarnya cinta bisa dipaksakan, namun yang terjadi kemudian adalah timbulnya sakit hati dan rasa kecewa yang mendalam. Bukankah dua hal itu yang ingin kamu hindari dari perasaan cinta dan hubunganmu" rudi berusaha menenangkan diri dengan browsing hal tersebut. dan mencoba menata hatinya yang remuk redam akibat terlalu cepat dan dalam jatuh cinta kepada ainun. walau dalam hati dia berkata, aku mencintaimu ainun, hari ini esok dan lusa.
Sudirman 30/1/2018
Label: Cerpen, Tentang Cinta, Tulisan
Hujan Pagi ini membawa Duka
Ada hati yang telah tertutup
Ada rasa yang harus padam
ada air mata yang harus diam
Dalam semilir angin membawa hujan
Cerita angin dan kupu hanya amarah
Atas angin yang selalu berhembus kencang
mematahkan sayap kupu yang indah
Kupu sudah terluka
Angin ingin mendekap mengobatinya
tetapi kupu lari bersembunyi dalam kepompong
Angin pun berduka akan semua pristiwa
Angin pun harus melayang
Tanpa ada lagi kupu manis hilang
Kupu dan angin berjalan dalam dunia berbeda
Tak akan ada kisah tertuang dalam rasa
Ada hati yang telah tertutup
Ada rasa yang harus padam
ada air mata yang harus diam
Dalam semilir angin membawa hujan
Cerita angin dan kupu hanya amarah
Atas angin yang selalu berhembus kencang
mematahkan sayap kupu yang indah
Kupu sudah terluka
Angin ingin mendekap mengobatinya
tetapi kupu lari bersembunyi dalam kepompong
Angin pun berduka akan semua pristiwa
Angin pun harus melayang
Tanpa ada lagi kupu manis hilang
Kupu dan angin berjalan dalam dunia berbeda
Tak akan ada kisah tertuang dalam rasa
Banyak orang bertanya apakah ada cinta sejati, Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding menyimpan perasaan mendalam pada seseorang. Dia tetap pergi walau tahu bahwa kamu mencintainya. Kenapa semua orang masih menginginkan cinta sejati? Kenapa? Kenapa? Cinta sejati itu pahit!
Dari namanya saja manis, ‘Cinta’. Semua orang mendengarkan kata cinta pasti langsung terbayang angan-angan manis. Cinta itu indah. Cinta itu tiada duanya. Tidak tahukah cinta datang satu paket dengan kesedihan. Ia terlahir begitu adanya. Jadi beroda untuk mendapatkan cinta sejati sama saja seperti mendoakan untuk kedatangan kesedihan itu.
Cinta sejati adalah ketika kau ikhlas akan hal itu karena yang kau mau dari dirinya hanyalah kebahagiaannya. Kau tidak ingin memilikinya. Untukmu tidak perlu baginya untuk mengucapkan selamat pagi setiap hari untukmu. Bagimu, tidak perlu dapat memeluknya untuk melenyapkan asa. Bagimu, tidak perlu baginya untuk melakukan apapun untuk dirimu, karena kau tidak memerlukan apapun dari dirinya; hanya kebahagiaannya.
Coba bayangkan, kau mencintai seseorang. Kau mencintai seseorang tersebut sudah bertahun-tahun. Dia tidak mencintaimu balik. Tapi kau tetap senang mencintainya karena entah kenapa, dari mencintainya saja tanpa ia memberikanmu timbal balik, kau sudah bahagia. Sudah cukup.
Lalu suatu hari ia jalan bersama teman terbaikmu. Teman yang merupakan pelipur lara. Teman dimana ia adalah tempat ceritamu akan gadis yang kau cintai itu. Jika kau bisa bahagia melihat mereka berdua, barulah itu cinta sejati. Tetapi sangat diragukan seseorang mampu melakukan itu. Karena pada dasarnya, itu bukan sifat alami manusia. Menerima dengan lapang dada begitu saja. Begitu mustahil.
Terkadang ada yang berfikir cinta itu tidak ada karena banyak dari kita yang terlalu memilih dan tidak menyadari bahwa ada didekat kita sesorang yang sangat mencintai kita, maka nikmatilah semuanya sebelum semuanya hilang dan kamu tidak akan dapat apa-apa. Jika cinta bisa datang terlambat, yakinlah tidak ada jodoh yang datang terlambat. Jika dia harus pergi dan kita merasa kehilangan, sejatinya bukan karena kesalahan kita yang terlambat menyadari cinta, tapi karena mungkin ada cinta lain yang sedang menunggu kita di ujung sana.
Dari namanya saja manis, ‘Cinta’. Semua orang mendengarkan kata cinta pasti langsung terbayang angan-angan manis. Cinta itu indah. Cinta itu tiada duanya. Tidak tahukah cinta datang satu paket dengan kesedihan. Ia terlahir begitu adanya. Jadi beroda untuk mendapatkan cinta sejati sama saja seperti mendoakan untuk kedatangan kesedihan itu.
Cinta sejati adalah ketika kau ikhlas akan hal itu karena yang kau mau dari dirinya hanyalah kebahagiaannya. Kau tidak ingin memilikinya. Untukmu tidak perlu baginya untuk mengucapkan selamat pagi setiap hari untukmu. Bagimu, tidak perlu dapat memeluknya untuk melenyapkan asa. Bagimu, tidak perlu baginya untuk melakukan apapun untuk dirimu, karena kau tidak memerlukan apapun dari dirinya; hanya kebahagiaannya.
Coba bayangkan, kau mencintai seseorang. Kau mencintai seseorang tersebut sudah bertahun-tahun. Dia tidak mencintaimu balik. Tapi kau tetap senang mencintainya karena entah kenapa, dari mencintainya saja tanpa ia memberikanmu timbal balik, kau sudah bahagia. Sudah cukup.
Lalu suatu hari ia jalan bersama teman terbaikmu. Teman yang merupakan pelipur lara. Teman dimana ia adalah tempat ceritamu akan gadis yang kau cintai itu. Jika kau bisa bahagia melihat mereka berdua, barulah itu cinta sejati. Tetapi sangat diragukan seseorang mampu melakukan itu. Karena pada dasarnya, itu bukan sifat alami manusia. Menerima dengan lapang dada begitu saja. Begitu mustahil.
Terkadang ada yang berfikir cinta itu tidak ada karena banyak dari kita yang terlalu memilih dan tidak menyadari bahwa ada didekat kita sesorang yang sangat mencintai kita, maka nikmatilah semuanya sebelum semuanya hilang dan kamu tidak akan dapat apa-apa. Jika cinta bisa datang terlambat, yakinlah tidak ada jodoh yang datang terlambat. Jika dia harus pergi dan kita merasa kehilangan, sejatinya bukan karena kesalahan kita yang terlambat menyadari cinta, tapi karena mungkin ada cinta lain yang sedang menunggu kita di ujung sana.
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
