Putri kecil ku yang cantik
Kau bisikan suara mu yang menarik
Kau menyapaku dengan tangis dan bahagia
Ku serasa tak memerlukan apapun didunia
Putri Kecilku Yang tersayang
Kehadiran dirimu membuatku riang
Selalu syukur terucap dari bibir ini
Karena kau adalah anugrah yang tak terganti
Putri kecilku yang tercinta
Kau bawa aroma bahagia
Dalam tawa mu yang merona
Terpancar sejuta Pesona
Putri Kecilku yang manja
Selalu mengalir celoteh kecilmu yang jenaka
Walau dalam gundah gulana
Membuat hati selalu gembira
Oh tuhan terima kasih
diantara sapa tawa dan cengkraman lembut,
jemari kecilnya maknai nafas Tersisa
Terima kasih Tuhan kau berikan putri kecil yang tercinta
Depok 27 mei 2008
Erwin Arianto
Label: Puisi Cinta
Embun air mata menetes perlahan
Dalam hijau pucuk dedaunan
ketika Cinta bermandi cahaya
Tanpa celah nafas asmara bertanya
Memupus sebiduk penantian khayal
terlanjur tereguk aroma mewangi
Beralaskan angin kau tiup hirupan pesona
Terlanjut membasahi sebuah nuansa kisah kita
Ketika hati terberi tak terpendar
Kutapaki jejak langit memenjarakanku
aku terlempar aku terhanyut aku terbuai
Dalam sebuah anggur senyum yang terkulum
Bidadari, kuberi angin untuk kepak sayapmu
Kau beri aku suara surutkan badai samudra
Kau beri dekapan memberi sejumput senyuman
Kau beri sutra untuk sebuah kehangatan
Kini lambaian kepak sayapmu tinggal kenangan
Hanya tersisa memori sendu kisah kita
Diantara cinta dan rinduku yang membara
Kuharus hentikan alunan irama kita
Selamat jalan bidadari hatiku
Dan kita tetap satu dalam satu prasati itu.
Depok 18 Mei 2009
erwin arianto
Label: Puisi Cinta
Sudah empat bulan aku bergelut dengan pekerjaan yang menumpuk, lupa waktu dan keluarga, karena kerja begitu menggairahkan bagiku, begitu banyak tantangan yang harus kutunaikan begitu aku berfikir, mungkin hasrat kerja ku ini dikarenakan keinginan ku untuk meraih jawaban kosong di kantor itu, sehingga aku sering mengabaikan keluarga kecil ku dirumah.
Pulang Kerja pukul 9.00 sampai dirumah, ketika buah hati tercinta mengajak ku bermain, walau sebenernya ku tahu Reina putri ku tercinta telah mengusahakan untuk menahan kantuknya agar bisa bertemu ayahnya nya tercinta, tetapi aku hanya acuh dan menanggap dingin ajakan mainya.
"Ayah, Reina baru diajarin sama buguru buat gambar ini" Raina dengan bangga berusaha menunjukan kepadaku bahwa dia telah berhasil menggambar sepasang burung merpati, sekilas aku memperhatikan gambar itu, tetapi hati ini acuh tak acuh, pikiranku masih melayang ke kantor, dimana aku berhasil menyumbangkan gagasan dan dipuji pak Indra Direktur Keuangan ku. Aku tetap larut dalam pikiran ku sendiri sedang Reina masih berusaha menceritakan sesuatu dan berusaha untuk mendapat perhatian dariku.
Sabtu minggu pun aku masih terlarut dalam proyek yang ku kerjakan, aku tidak pernah mengajak reina dan istriku untuk berlibur, sabtu minggu ku habiskan waktu di kantor, terkdang reina merajuk. "ayah kerja terus sih... kapan main sama reina" protes putriku tercinta. "nanti ya sayang ayah harus bekerja keras untuk cari uang" elakku kepada reina.
****************
Ya Tuhan sembuhkanlah ayahku, agar ayah bisa bermain sama raina lagi ya Allah.... Reina sayang sama ayah.... Amin
tersentak kaget seperti orang terbangun dari tidur, ketika aku mendengar doa anak ku yang cantik, dengan rambut kuncir dua dan wajahnya yang lugu itu. Reina sedang berdoa kepada Tuhanya, meminta agar ayahnya cepat sembuh, dengan wajah dan mimik serius tak elak aku tersenyum memandangnya. Selesai berdoa ia mendatangi ku, dengan senyum manisnya, dan wajah lugunya dan seakan dia berharap bahwa ayahnya bisa sehat kembali.
Aku meneteskan air mata, aku terharau, tak pernah menyangka aku memiliki peri kecil yang baik, yang dianugarahkan oleh Allah kepada ku. Aku kini sedang terbaring lemas tak berdaya diatas tempat tidurku, karena penyakit Tifus yang sedang menyerangku dan aku tersadar bahwa empat bulan ini aku terlalu memforsir diri melupakan keluarga kecilku, merupakan peri kecilku yang cantik.
" Makasih ya sayang, reina anak yang baik sekali " ketaku sambil mengelus rambutnya
" Iya ayah, raina mau merawat ayah, " jawabnya dengan senyum termanis di bibirnya
" Memang kamu bisa merawat ayah" Tanya aku
" iya kan kalau besar reina mau jadi dokter" sebuah celetukan yang polos terlontar darinya.
" Ayah sayang reina " ujarku sambil berusaha memeluk peri kecilku yang tercinta
" Reina Sayang sama Ayah" ujarnya dengan tulus
Ya Allah... aku tak ingin ini semua berakhir, aku telah melupakan dia peri kecilku, aku terlarut dalam mimpi-mimpi dan mengabaikanya, ini adalah saat-saat yang membahagiakan ya Allah. Begitu pintarnya peri kecilku menjaga dan merawatku saat aku sakit, sedang selama ini aku tak punya waktu dan acuh kepadanya. Padahal dialah peri kecilku yang pada awal nya begitu kunanti kehadiranya.
Ingat dulu saat kamu pertama ada di dalam perut ibumu, reina.. ayah bahagia menitikan air mata saat ibumu memberi tahu ayah bahwa ada kamu disitu, saat dimana menjalani waktu 9 bulan membantu ibumu menjaga hingga saat kau terlahir, dimana saat ibumu meminta Jambu Monyet di saat ngidamnya, walau susah ayah berhasil mendapatkanya di daerah sukabumi di tempat teman kantor ayah disana, dan juga ayah memanjat sendiri pohon jambu monyet itu. Walau ternyata ketika segigit jambu itu ibu mu ternyata tidak menyukainya nak.
JUga saat kami berburu informasi tentang bagaimana menghasilkan kamu yang sehat nak, saat ibumu ayah paksa makan tomat dan meminum air kelapa hijau agar kulitmu bersih dan cantik, walau sebenarnya ibumu tidak menyukainya nak. atau ketika setiap malam ibumu meminta pijit karena kelelahan menggendong mu setiap malam, dan ayah menjadi tukang pijatnya. begitu ayah menginginkamu nak.
serta bagaimana sakitnya detik-detik kelahiran mu dimana ayahmu selalu setia mendampingi kedatangan kedunia ini, dengan susah payah ibu mu berhasil melahirkan mu, atau saat ayah begitu bahagia saat kau pertama menapakan kebumi, dengan suara yang keras kau kalahkan dunia nak. Ayah tersedar kini keadaan kita memang lebih baik. tidak seperti dulu saat kami masih tinggal dirumah kontrakan sederhana disana nak.
Maafkan ayah nak, ayah bekerja keras karena ingin membahagiakan mu, ayah ingin kamu dan ibumu hidup dalam keadaan bahagia tidak kesusahan nak, tapai hal itu malah membuat ayah seperti melupakan mu, ayah menyia-nyakanmu, terlalu larut dalam pekerjaan-pekerjaan kantor, yang tak pernah memperhatikan cerita-citamu Raina.
*********
Kemarin-kemarin ayah terlalu memaksakan diri untuk bekerja mengejar mimpi sendiri, bekerja lembur, bekerja denga giatnya, pulang capek, tak menggubris kamu yang memang ingin dimanja oleh ayah raina, walau sering kamu sudah tertidur menunggu ayah pulang, dan terbangun saat langkah kaki ayah memasuki rumah kita, dan tetap kau ceria raina putri kecilku.
Dan Kemarin, tepat kemarin ketika tubuh ayah ini tidak bisa begerak maksimal, dan perut ayah sakit Dan semenjak tiga hari lalu, saat ayah terkena tifus, dokter meminta ayah untuk istirahat diruamah, raina peri kecil ayah selalu tersenyum gembira menjaga ayahmu ini.
" Ayah, reina senang ayah ada dirumah, raina jadi bisa main sama ayah" begitulah kamu bercerita dengan antusias menginginkan bermain dengan ayah mu ini, dan hal itu menyadarkan ayah nak, bukan hanya materi yang kamu butuhkan, tapi juga belaian lembut dan kasih sayang dari ayahmu ini, yang memang terkadang lupa terhadap mu.
Kini, setelah mendengar doanya, ayah baru menyadari. Bahwa selama empat tahun kamu diamanahkan kepada kami, ayah belum begitu bisa menjaganya. Dan selama itu pula, aku tak pernah menyesal. Padahal ayah mungkin telah mengecewakannya begitu rupa.
saat ini ... Sebuah doa tulusmu telah berhasil membangunkan aku dari kekhilafan. ayah berharap, dan akan berusaha berjuang keras... untuk tidak menolak keinginan baikmu. Untuk menyambut perhatian yang ia damba dari ayahnya.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada ayah, untuk dapat berubah menjadi Ayah yang lebih baik buatmu. Karena Allah telah begitu sayang kepadaayah, dengan memberikan putri yang demikian sholih... hingga dalam usianya yang relatif sangat sangat muda, doa tulusmu telah mengalir buat ayah mu ini raina.
Dan semoga kelak ia menjadi anak yang sholih, yang bisa menerangi kubur dan mengangkat derajat kami di Syurga, dengan doa-doa panjangnya yang melimpah, aamiiin... Ayah mencintaimu Raina.... Selamat tidur nak, ayah akan berusaha membahagia kan mu menjadikan kamu nomer satu dibanding pekerjaan ayah.... Maafkan ayah ya raina...
Depok, 6 May 2009
Erwin Arianto
Http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Label: Cerpen
Ada Kamu-kamu dalam jumlah tak terbilang
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Selasa, Mei 05, 2009Waktu ini
Menatap layar maya
Hati terpana merana
Gelisah resah tak terarah
Sebab di ruang maya ini
Ada persahabatan yang menghilang
Ada Amarah yang meradang
Ada Permusuhan yang tak kunjung usang
Ada Kamu-kamu dalam jumlah tak terbilang
tetap tertawa kosong tak bermakna
tersenyum walau sebingkai sedikit
kata-kata maya hanya raga tak berjiwa
Membaca hati dalam sebuah pristiwa
Karena saat ini;
ruang maya Semua memaki menggila
Hanya meninggalkan luka menganga
Tabah dan sabar seperti tak guna
Mau lari pun tak bisa
Aku terjebak dalam kegilaan maya
Bersama dengan mereka tak terbilang namanya
Kini hanya tatapan kosong
Dan Aku hanya terbengong seperti sapi ompong
Dalam diskusi maya yang melompong
5 Mai 2009
Didepan Layar membaca milist Nongkrong bareng2 yang aneh
Http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Cinta adalah sebuah cinta
Dengan seribu rupa dan warna
Terkadang memberi bahagia
Terkadang membawa nestapa
Karena Cinta adalah cinta sebenarnya
Cinta adalah sebuah kemenangan hati
Cinta adalah memberi tanpa diminta
Cinta adalah sebuah Bahagia diri
cinta adalah adalah cinta terjalani
menembus batas relung imajinasi
Menembus batas batas nurani
Menemus ruang yang terperi
Begitupun cinta tetap cinta
karena cinta adalah keikslasan
Karena cinta adalah sebuah kedalaman rasa
Karena Cinta Bukanlah sebuah Nafsu belaka
dan Cinta tetaplah cinta
Tanpanya hidup terasa hampa
Dengannya hidup penuh cita-cita
Bersamanya hidupkan lebih bermakna
Depok, 29 April 2009
Http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Label: Puisi Cinta
Dipojok sana aku sering melihatnya dengan semangat pantang menyerah, Kakek tua itu menjajakan Jasa untuk bekerja apapun, dengan modal pengki , dan Sebuah cangkul yang selalu digenggamnya untuk mencari rezeki. Pernah suatu waktu aku mempekerjakanya untuk membantu membersihkan halaman rumah yang tak seberapa."Pak, Bisa bantu saya membersihkan halaman rumah" sapaku saat itu.
Dengan senym sumringah kakek tua itu bekerja membersihkan halaman rumahku, dan dengan rajinya dia bekerja tanpa mengeluh \. "pak ini ada Pisang goreng, dan Kopi" sepintal lalu aku memberi makanan kepada kakek tua itu karena aku tahu bahwa membersihkan rumah ku memang melelahkan. Setelah selasai semua, "berapa saya harus membayar bapak" tanya ku setelah selesai dia merapihkan semua pekerjaanya. "terserah Anak saja" jawabnya singkat, walau dari wajahnya aku lihat sebuah senyuman berharap. Dua Lembar uang ratusan ribu kepadanya. "tidak salah nak, ini terlalu banyak" ucap kakek itu. "terimalah kek, sebagai ucapan terimakasih saya" ucapku memperhalus maksud membantunya.
ketika Langit masih terlihat kelam. Semburat awan kelabu masih mewarnai birunya langit. Pohon – pohon terlihat basah dengan butir – butir air yang masih menempel di daun. Cekungan air berwarna coklat terbentuk pada ruas jalan yang berlubang. Tiap harinya jalan yang sudah berlubang di sana - sini itu, dilalui banyak kendaraan dari truk pengangkut pasir sampai sepeda. Tapi pagi ini, hanya satu dua kendaraan yang terlihat melewati jalan ini, mungkin karena hujan yang baru saja turun.
Di sisi jalan inilah, setiap hari Kakek tua itu berjalan menyusuri tepian jalan, mencari rezeki demi keluarga dengan menjual kayu bakar. Tubuhnya kurus kering, pakaiannya kumal, deretan giginya sudah tidak utuh lagi dan barisan rambut putih telah memenuhi seluruh kulit kepalanya. Walaupun begitu, semangat kakek untuk bekerja tak pernah surut. Seperti semangatnya ketika membela tanah air di masa perjuangan.
Dulu, dengan gagah berani, kakek tua itu pernah bercerita bahwa dia bersama pejuang lain berhasil melawan penjajah dalam peristiwa Hotel Yamato di kota pahlawan ini.Pertempuran sengit di hotel yang kini bernama Hotel Majapahit itu berawal dari penjajah yang berani mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. Saat itu, semua arek Suroboyo merasa terhina dan bertekat mengganti bendera itu dengan bendera merah putih milik Indonesia.
Pertempuran hebat tak bisa dihindarkan, dengan senjata seadanya, mereka melawan penjajah yang bersenjatakan pistol. Beberapa
arek Suroboyo mencoba mempertaruhkan nyawa mereka, termasuk sang kakek, dengan memanjat dinding Hotel Yamato dan berusaha merobek warna biru dari bendera tersebut. Penjajah yang tak mau kalah, menembaki dari bawah semua pejuang yang berusaha memanjat menuju atap hotel. Banyak pejuang yang gugur bersimbah darah dengan pekik perjuangan yang masih menyala. Tapi, akhirnya mereka berhasil merobek warna biru dari bendera tersebut dan menjadikan sang merah putih berkibar di sana.
Sang kakek masih ingat peristiwa itu. Bagaimana kerasnya ia dan teman – teman seperjuangan berjuang mempertahankan kemerdekaan, bagaimana ia melihat satu per satu temannya gugur bersimbah darah dan bagaimana ia dan pejuang lainnya mengusahakan hidup merdeka untuk generasi selanjutnya.
Hingga hari tuanya tiba, tiada kebahagiaan yang berarti selain melihat Indonesia tersenyum. Walaupun tanda penghargaan tertinggi sebagai pahlawan tiada disandangnya. Sambil terus berjalan menyusuri jalan, sambil membawa pengki dan sebuah pacul kakek tua itu berharap ada orang yang memekai jasanya untuk pekerjaan apapun
Sang mentari mulai membagikan kembali sinarnya hari itu tak satu pun orang memkai jasanya. Jalanan yang tadinya lengang dan hanya satu dua kendaraan saja yang lewat menjadi sedikit lebih ramai. Beberapa truk pengangkut pasir lewat dengan pasir bawaannya yang menggunung. Di sampingnya ada pengendara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sang pengendara yang tidak sabar berusaha mendahului truk tersebut. Truk pengangkut pasir yang tidak siap dengan keadaan ini, tak bisa mengerem mendadak sehingga kehilangan kendali dan menabrak pengendara motor itu. Motor tersebut langsung terlempar ke sisi jalan dan……. Brakk!!!
Semua orang di sekitar tempat kejadian segera berlari untuk melihat apa yang terjadi. Sesosok tubuh kurus kering dan bersimbah darah tergeletak di dekat motor yang tadi terlempar, beberapa kayu bakar yang basah, jatuh berserakan di dekatnya. Di dekatnya lagi terdapat sang pengendara motor dengan helm yang masih melekat di kepalanya yang sudah tak bernyawa lagi. Orang – orang hanya bergumam, “ Kasihan kakek tua itu “
Gemuruh petir kembali menggema. Sinar sang mentari tak mampu menghalangi sang langit untuk menangis. Rintik – rintik hujan turun perlahan. Mengiringi kepergian sang pahlawan yang dulu telah mempertaruhkan hidupnya demi generasi muda. Kembali ke Sang Pencipta dengan seribu jalan kebaikan.
Tiada kata yang bisa menggantikan arti pengorbanannya. Yang setia bertaruh jiwa raga, meskipun kata “Sang Pahlawan” tiada dikenang orang. Walaupun kini hanya kata “Si penjual kayu bakar” yang melekat di hati orang,tapi tidak di masa lalu. Saat itu kata “Pahlawan”-lah yang melekat di hati mereka. Selamat jalan Pahlwan ku, selamat jalan Kakek tua... tering doa yang kuucapkan padanya...
Label: Cerpen
pada Suatu Cinta
Malam menghadirkan jelaga bagai jubah hitam dalam rimba . Tak ada noktah gemintang seperti mata peri langit. Sementara kepungan awan tiap sebentar meniriskan gerimis, dan mengusir berpasang-pasang kaki kecil berceloteh riang pada sudut kamar. Aku masih teronggok pada salah satu kenangan silam kita. Betapa banyak remah kepengecutan ku yang menabur di atas luka yang kian hari melebar di hati kita.
Aku duduk termenung menatap hamparan semburat jingga, langit masih menyisakan sisa-sisa hujan sore tadi. Udara dingin mengusap lembut punggung kala aku sedang duduk di Aku terduduk di pojok kamarku, menatap setiap tetesnya. dan tangan ini tetap menekan indah tuts keyborf komputerku menulis sesuatu kutujukan untukmu Angin berhembus membawaku pada kenangan silam saat kita berbagi tawa dan cerita.
Kekasihku, jika engkau membaca e-mail ini, cobalah untuk mulai belajar melupakanku. Aku tahu kenyataan itu memang pahit dan berat buatmu, terlebih lagi buatku. Masih tak lekang oleh waktu saat kita pertama bertemu dibawah jembatan itu kita pertama berjumpa Kamu datang ke arahku dengan pesona kemilau kewanitaan mu yang segera memporak-porandakan hatiku seketika dalam hitungan detik. Aku tak sempat berkata apa pun, saat dengan sopan dan bersahaja, kamu mengajakku untuk menunaikan panggilan Ilahi secara berjemaah, Hatiku tak mampu memungkiri bahwa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.
sejak pertama berjumpa dengan kamu, Jujur hatiku kedap-kedip kesetrum parasmu yang polos. Akhirnya, di suatu malam di sebuah resto siap saji, aku memberanikan diri menyatakan perasaanku padamu. "Jadilah kekasih rahasiaku," Waktu itu kamu hanya diam dan senyum manis mendengar rayuanku. Irama musik bergetar, mengalun memenuhi dadaku yang berdegup kencang, menanti-nanti jawaban dari bibir mungilmu. Kuyakinkan kamu bahwa aku akan menjadi yang terbaik untuk mu. Kukerahkan seluruh perbendaharaan kata-kata romantis yang kudapat sejak rajin membaca buku-buku Kahlil Gibran. Di ambang pintu kost saat mengantarku pulang pada malam berkesan itu. aku lantas mencium dahimu dengan lembut, tanpa perlu menunggu persetujuanmu lebih dulu. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sebuah fenomena yang tak pernah aku rasakan dari wanita manapun yang pernah singgah dalam relung hatiku selama ini.
Aku tak punya kekuatan apa pun untuk menolak rasa cintaku padamu meski aku tahu sesungguhnya aku telah memiliki kekasih yang dengan cemas menungguku . Aku begitu terlena olehmu dan gelora gairah purba yang tiba-tiba muncul dalam diriku telah menghempaskan kita berdua dalam lautan petualangan cinta tak bertepi.
Sejak saat itu, kita merajut hari demi hari dengan ceria. Sorot matamu yang teduh namun tegas membuatku merasa selalu nyaman berada di dekatmu. Aku senantiasa merasa tersanjung ketika dalam setiap e-mailmu kepadaku, kamu selalu menyelipkan sebait-dua puisi cinta yang membuatku seperti melayang ke langit yang ketujuh. Tahukah kamu kekasihku, aku selalu menyimpan rapi puisi-puisi cintamu itu dalam helai demi helai buku harianku yang setiap malam aku buka kembali, membacanya pelan dengan bibir bergetar, berulang-ulang, sampai setiap kata demi katanya meresap dalam setiap sumsum tulangku, mengaliri setiap nadiku dan akhirnya menggelegak dalam sebuah orgasme misterius yang berpendar-pendar dalam setiap relung kamarku. Kamu memang paling tahu bagaimana membuatku berharga, kekasihku. Aku masih ingat betul salah satu momen pertemuan kita yang membuatku senantiasa mengenang betapa indah melewatkan hari demi hari bersamamu.
"Jangan pernah memotong rambutmu, Sayang," kataku padamu saat kita melewatkan senja temaram di teras rumah kost itu sambil membelai ikal rambutmu.
"Kenapa?" tanyamu penasaran.
"Setiap kali membelai rambutmu, aku merasakan sensasi yang berbeda saat jari-jariku memilin dan menelusuri ruas demi ruas rambutmu. Ketika ruas rambutmu bergerak kembali menjadi ikal saat jariku lepas dari ujungnya, rambut itu meretas lurus sejenak, lalu berpilin lagi, perlahan tapi pasti, Aku begitu menyukainya," jawabku tulus.
kamu memegang tanganku dan berkata: “Sejak pertama kali mengenalmu, aku yakin kaulah lelaki pilihanku. Aku siap mendampingimu. Mohon jangan kecewakan aku.”
kamu tersipu dan kemudian kita tertawa bersama, kita merasakan desau angin senja yang sejuk. Kamu kemudian memeluk pundakku erat-erat dan bersama-sama lagi kita terpana menyaksikan keindahan mentari beranjak ke peraduan di ufuk cakrawala meninggalkan jejak-jejak merah jingga.
Bagiku Kamu adalah keindahan, bagiku Kamu adalah kehidupan, bagiku Kamu adalah kenangan tak terlupakan. Dan manusia saling membutuhkan, tidak untuk saling memakan. "huh Mengapa terjadi semuanya" Desis kecilku meratapi kisah lalu. Narnia ya nama gadis cantik itu. Gadis yang ke........., mmhhhhhh, aku tak tahu lagi, yang aku tahu kamu adalah gadis yang sempurna, gadis terakhir yang aku tinggalkan, walau sebenarnya ada keinginan yang terbersit untuk menikahimu.
"Mas, jangan tinggalkan aku sendiri, aku tidak punya siapa-siapa selain Mas". Narnia menangis, air mata beningnya mengalir di pipimu yang selembut sutra, lebih lembut lagi kukira. Aku memandangi wajahmu, lidahku kelu, serasa berton es menempel di lidahku, aku kedinginan di panasnya api cinta yang bergelora. Kupeluk Narnia,mmmmhhhhh, aku tak tahu,tak tahu, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kukatakan. Aku masih mencintainya, tapi aku harus pergi, kembali kepada kekasih selama ini, mencoba menjalani kehidupan yang semestinya harus terjalani.
Aku menangis. Entah, waktu itu aku tidak merasa malu mengucurkan airmata di hadapanmu. Sertamerta berdiri dan memeluk tubuh mungil mu yang kuyup oleh hujan itu. Narnia
Kita memang telah siap menempuh segala resiko dari hubungan rahasia kita. Namun dari lubuk hatiku paling dalam, setelah Dogma keluargaku kemarin, aku tak kuasa untuk segera menetapkan hati berpisah darimu, meski kepedihan melanda jiwaku saat ini. Cinta memang tidak dibangun untuk membuat rasa kehilangan, tapi pada akhirnya aku menyadari cinta antara kita mempunyai batas tepiannya sendiri. Sesuatu yang, sesungguhnya aku sadari akan terjadi sejak awal, cepat atau lambat, namun akhirnya kuingkari saat pesonamu membetotku dan membawaku ke dalam pusaran cintamu yang melenakan.Aku akan simpan rapat-rapat kenangan manis di antara kita dalam bilik hatiku, dan kemudian membiarkannya mengendap dalam senyap.
"Mmmmmhhhhh, kerinduanku pada mu Narnia membara lagi, hatiku telah terpatri namamu, mungkin di antara wanita yang datang pergi" Ucapku lirih, hanya Narnia yang kurindukan, hanya cintamu yang masih membuatku terlena dalam buaian mimpi indah, hanya suaramu yang mampu menentramkan hatiku yang kalut.
tetapi Kekasihku, mulai saat ini, cobalah belajar melupakanku sebagaimana saat ini aku telah mengunci rapat-rapat pintu hatiku untukmu. Aku tetap menyimpan puisi-puisi cintamu padaku sebagai monumen paling berharga tentangmu pada tempat yang aku harapkan tidak akan aku buka lagi sampai kapan pun. Karena Engkaulah orang yang paling Kucintai Narnia, Selalu Untuk Selamanya. Jika ada penyesalan yang terdalam, maka akan menjadi penyelasan terberatku seumur hidupku. Hanya berharap Cintakita dapat bersatu entah kapan... aku kan selalu berharap, sampai nanti aku tidak bisa berharap lagi Narnia.
http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Label: Cerpen
