senja di Bilangan Cawang
Kali Ini hati tiada mencari cinta
Diatara jembatan dan gedung-gedung
Tak ada bekas aroma rasa
Pada Pelataran ruang penyimpanan roda
telah hilang jejas dan bekas
Aku mencari untuk menemukan
Tak ada noktah romansa yang tersisa
Sebuah rindu yang lalu
Berjalan dalam sepi dan gerimis
Mengenang perjumpa dua hati mencinta
pada satu halte cinta yang manis
Ada tiup angin menghembusku
Ada desir debu menggebu
Ada banyak mata menatapku
Aku tak menjumpanya lagi
Kini Semua Telah hilang pergi
Aku hanya menapak tilas
Jejak rindu lenyap tak berbekas
Hati hanya berkata semua telah berlalu
Depok 10 Juni 2009
Erwin Arianto
http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Label: Puisi Cinta
Aku hanya manusia biasa
Aku memiliki sebuah hati
Aku memiliki sebuah rasa
yang tertuju untuk mu bidadari
Aku hanya Manusia biasa
Yang tak bisa tawarkan surga
Tak bisa membawamu terbang ke angkasa
Karena yang kupunya hanya cinta
Aku Hanya Manusia Biasa
Yang tak dapat menembus ruang waktu
Hanya untuk berjumpa dengan kamu
Tapi aku selalu mempunyai rindu untuk mu
Aku Hanya Manusia Biasa
aku hanya mempunyai cinta biasa
Cinta yang selalu kupegang kukuh
tak terganti hingga akhir waktu
Karena cinta ku hanya satu
Cinta untukmu bidadari hatiku
Label: Puisi Cinta
Waktu terus berlalu, tanpa bisa ku hentikan sedikit pun, aku hanyalah anak lelaki dari tujuh bersaudara, ayahku hanya seorang petani penyewa ladang, yang harus membayar kepada juragan karta agar sawahnya bisa digarap, sebenarnyanya ayah mempunyai sepetak sawah kecil yang telah digadaikan untuk membayar biaya sekolahku kerana biaya sekolah disini sangatlah berat bagi ayah yang hanya petani kecil dengan 7 anaknya, ya memang yang tersisa tinggal lima, dua kakakku telah pergi merantau katanya mau merubah nasih, tapi entahlah sampai sekarang tidak pernah pulang, entah telah berhasil atau memang telah hilang di makan perantauan.
"Tegar, kenapa kamu melamun" sapa seorang kawan saat SMK tempat ku belajar telah memberi ku selembar Ijasah yah memang itu yang selama ini aku perjuangkan selama tiga tahun aku sekolah di smk ini, sesuai dengan anjuran pemerintah yang katanya sekolah biar pinter, tapi setelah pinter aku harus apa? aku tidak bisa hidup dengan pintar, atau selembar ijasah ini, tapi aku harus hidup, aku butuh makan, dan keluarga ku pun butuh makan, katanya dengan sekolah bisa memperbaiki kehidupan kami kenyataanya apa, semua omongan pemerintah adalah bohong, kataku berterik, aku tak bisa makan ijasah, ucapku.
"Nak, kamu sudah lulus, coba kamu cari kerja buat bantu bapak mbiayai empat adik kamu" ucap bapak pagi itu didipan bambu itu, aku hanya diam dan tertunduk lesu, "iya pak" jawab ku. Sebulan telah berlalu, aku sudah sudah dah berkeliling dari satu perusahaan lain di kotaku, semua perushanan memberiku jawaban klasik:
“Ekonomi sedang sulit. Tidak ada lowongan.”
Aku sebagai remaja yang menuju besar tak tahu apa yang harus ku lakukan, usaha sudah kulakukan, bahkan tabungan ku hasil menjadi kuli anggkut dipasar telah aku pergunakan untuk menulis beribu lamaran, dan aku pernah menyogok seorang yang menawariku pekerjaan tapi hasilnya adalah nihil hanya kecewaan yang aku dapati, dan juga hasilnya aku berkelahi memukuli orang itu sampai hampir mati, kalau tidak di lerai seorang polisi yang melintas mungkin aku sudah menjadi pembunuh.
“Kita hanya bisa berikhtiar, Tegar,” kata ayah. Ayah Tangannya sudah berkeriput namun tenaganya bekerja di sawah masih luar biasa. Aku tahu diri. Selama bersekolah akupun sering juga membantu ayahnya di sawah, dan juga menanam sayuran di sepetak kebun kosong di tanah tempat mereka menumpang mendirikan rumah. Tanah itu mereka pinjam atas kebaikan pemilik sawah yang mereka garap yang kebetulan juga memmpunyai beberapa petak kebun kosong di kota itu. Katanya, tanah-tanah itu untuk tabungan anak-anak mereka kalau mereka sudah dewasa. Hebatnya juragan tanah itu, sedang aku dan keluarga hidup sangat pas-pasan, bahkan kami termaksud keluarga yang mendapat BLT, atau Golongan keluarga yang miskin.
“Coba minta tolong Pak supri,” kata ayah. “Ada penerimaan pegawai baru mungkin beliau dapat menolong.”
Dan aku memang sudah menghadap Pak supri, tetapi lelaki itu hanya mengangkat kepalanya dan berkata: “Wah, maaf, Bapak tak punya jaringan di sini.”
akupun bisa memahani kata-kata lelaki itu. Teman-temannya mengatakan, kalau tak ada koneksi mana mungkin bisa diterima. Jadi dia mahfum. memang sekarang semua harus ada Uang, dan Koneksi, aku pernah membaca dalam koran disekolah katanya reformasi itu memberantas KKN, tapi kenyataanya keadaan saat ini lebih parah, susah cari kerja, susah cari uang, bahkan untuk kami rakyat kecil kami susah untuk hidup.
"Ya Allah dimana letak keagunganmu, dimana letak keadilanmu Tuhan, apakah aku dan keluarga ku harus selalu hidup dalam himpitan kemiskinan Tuhan " ungkapku marah, kareana aku belum juga mendapat pekerjaan, "aku benci padamu ya Allah, dan aku berjanji tak akan menyembahmu lagi, kau sering mempermainkan hambamu yang susah Ya Allah" ucapku
Dalam keadaan dimana akalku tak bisa merapal lagi benar dan salah maka aku pun ikut serta ketika si udin sahabat kecil ku untuk mengitkutinya berlatih suatu ilmu, ya sebuah Ilmu hitam. pada seorang guru, entah guru apa itu namanya karena Guru yang ini lain. aku harus mengikutinya bergadang sampai menjelang pagi, sering di hutan atau ditepi sungai. Sering gurun mengajakku berendam di air sungai semalam suntuk tanpa boleh mengantuk dengan merapalkan bacaan-bacaan yang harus dihafalnya. Entah berapa pekan berapa bulan hal itu Aku akukana, dan selama itu aku meninggalkan rumah dengan pesan:
“AKu mau belajar hidup. Ayah jangan cari sebab saya baik-baik saja. Kalau sudah berhasil pasti saya pulang.”
Berhasil. Itu harapan dan keyakinan Ku. Aku juga bertani membantu guru mencuci pakaiannya, berpuasa, berlatih sepanjang malam. Dan sampailah hari ujian itu. Mereka duduk berdua di bawah gemintang di langit, di hamparan padang yang luas. Tak terdengar bunyi apa selain suara jengkerik. Setelah berdiam diri berdua lebih dari tiga jam lamanya, gurunya berkata:
“Kamu lulus, Kamu harus mempratekkan ilmumu sendiri, dan semuanya tergantung padamu apa kamu akan berhasil atau tidak. Seberangilah laut dan ujilah dirimu dalam praktek di kota besar di sana"
Akhirnya dengan modal kenekatan ku, aku berlari dan merantau hanya berbekal baju di badan, aku menumpang pada sebuah truk pengangkut sayuran menuju kota yang ku idam-idamkan dengan mimpi membawa perubahan dalam hidupku ini,
“Mau apa ke kota le?” tanya supir itu kepada ku
“Cari Kerja agar dapat penghasilan.” ujarku
“Punya keluarga atau teman disana di kota?” tanyanya lagi
“Tidak.” jawabku sambil sedikit mengantuk
“Lalu, mau tinggal di mana.” aku hanya diam dan supir itu seperti mengerti bahwa aku hanya bermodal nekat disana.
***********************
Satu minggu aku sudah di jakarta, hidup dari jalan-ke jalan lain, aku hanya berjalan dan beristirahat dari satu toko ke toko lain, aku sudah mencoba bekerja menjadi seorang juru parkir, tapi ketika aku bekerja segerombolan orang datang menghampiriku
"eh loe siapa, nyerobot lahan parkir gue" ujar orang itu membentak sambil menghujam pukulan ke tangan ku, aku bisa melumpuhkanya, tapi gerombolan orang itu terlalu banyak mungkin 7-9 orang karena fikirku tak mungkin menang aku pun berlari menghindar semua itu.
Dan tibalah aku di kawasan penuh sampah, sambil melihat orang-orang disana memunguti sampah, aku pun bertanya kepada beberpa orang sekitar, untuk apa bu munguti sampah? tanya ku kepada orang-orang sekitar, untuk di jual mencari makan nak, ujar seorang ibu kepadaku.
Karena tak ada uang aku pun ikut melakukan nya aku ikut memulung dan menjual sampah itu kepda cukong yang gemuk itu, tapi dalam hatiku menjerit apakah ini yang harus aku lakukan, lari dari kampung hanya untuk jadi pemulung batin ku berteriak.
Kulewati malam dengan menyelusuri perumahan megah, tergoda aku dengan ilmu yang diberikan oleh guru Rumah-rumah megah berderet. pasti mereka orang kaya. Di bawah pohon di seberang jalan aku duduk beristirahat lalu menutup matanya. Kemudian setelah mengucap rapal aku bangkit dari duduk, dengan tenang menyeberang jalan dan masuk ke pekarangan rumah itu dengan memanjat pagar depannya. Tak ada salak anjing hanya suara jengkerik yang tiba-tiba berhenti. ku panjat tembok samping lalu naik ke atas atap dan menunggu lagi beberapa saat. Di langit hanya gemintang, bulan tak nampak. Mulailah aku menggeser beberapa genting, memotong dua bilah kayu reng dan masuk ke langit-langit rumah dari lubang menganga itu. kudengardengkur dari salah satu kamar aky perkirakan dimana ruang tengah. Tak ada bunyi tv. Kemudian pelahan Aku menemukan penutup langit-langit dan menggesernya sedikit. Dari tempatnya dia bisa mengintip ruang yang ditujunya: kamar makan. Dia turun dengan cekatan dan dengan keyakinan penuh duduk di kursi meja makan. Pesan gurunya, dia tak boleh ragu dalam bekerja.
Ternyata di atas meja makan, di bawah tutup saji, dia menemukan lauk: ayam goreng, sayur terong, tempe goreng, dan sambal. Nasi rupanya harus diambil dari penanak nasi listrik di dekat dinding. Dia mengisi piring penuh dengan nasi panas dan kembali ke meja makan, dan menyambar ayam goreng, sayur terong dan tempe goreng. Dimakannya dengan lahap sampai perutnya terasa penuh. Dia merasa puas.
Sesudah itu dia ingat pesan gurunya, maka tanpa basa-basi di ruang yang sama dia melorotkan celananya dan berhajad besar. Bau menyengat disambutnya dengan senyum. Setelah itu dia berhasil memasuki salah satu kamar. Seorang perempuan tidur di situ. Lelap. Dengan mudah dia membuka almari pakaian dan menemukan sejumlah kotak perhiasan berisi gelang dan kalung yang segera berpindah ke dalam saku celana ku.
"luar biasa emas ini pasti cukup untuk membuka usaha" pikirku, setelah itu aku keluar tanpa ketahuan oleh pemilik rumah, antara takut dan cemas ketahuan orang aku melompat pagar. tiba-tiba satpam komplek memergoki, "maling-maling....." terikanya hingga membangunkan seluruh warga semua warga ikut mengejarku, dan polisi jalan raya ikut pula membantuku.
"dor..dor..dor" letusan tembakan peringatan dikeluarkan tapi aku tak peduli, aku lari, aku takut tuhan, aku tak ingin mati, Sebuah timah panas mengenai kakiku, tapi akuk tetap terus berlari, hingga sebuah kali besar di hadapinku, tak ada fikiran lain aku melompat dan menceburkan diri, didalam deras arus sungai nafasku timbul dan tenggelam... "aku pasrah tuhan, aku pasrah jika aku mati kali ini" ucapku, "tuhan masihkah Dia mau membantuku, bukanya aku semenjak selesai sekolah aku mengutuknya, mungkinkah dia ada
"Nak kamu masih hidupkah" tanya seorang kakek tua kepadaku, "aku diam dan membisu dengan memandang kakiku dan tubuh ku yang menggigil. "saya tidak apa-apa kek" jawabku, kamu kenapa nak, "aku terjatuh dan tertembak penjahat kek", ujarku berdusta kakek tua yang bijaksana itu membantu merawatku hingga sembuh.
"Kamu dari mana nak?" tanya kakek itu yang ternyata dia tinggal sebatang kara tak punya keluarga, tapi dia memiliki usaha yang cukup maju, saya dari desa kek, saya sendiri disini kek" setelah kejadian itu kakek tua itu menjadikanku sebagai Cucu, lalu dia bercerita bahwa istrinya telah meninggal dan anaknya hilang ketika musibah sunami 15 tahun lalu entah berada dimana liburan ke jawa, hingga dia tidak memiliki siapapun. dia bercerita bahwa harta yang dimilikinya tak membawanya bahagia, dia hanya bekerja untuk mengisi hari-harinya, dia merindukan anak.
Aku teringat ibu, ayah dan adiku dikampung disana mereka hidup bersama dalam kebahagian walau dalam keadaan kekuarnagan, etlah kejadian itu kakek tua tersebut mengijinkan aku mengelola usahanya, dan suatu hari aku berbicara kepada kakek itu dan mengatakan bahwa aku rindu ayahku, aku ingin pulang ke desa, dan kakek tua itu yang bernama Suganda ikut pergi ke kampungku.
Ini kek kampung ku, disana aku mempunyai 5 adik-adik yang masih kecil, dan bapakku hanya seorang petani, ketika masuk rumah bilik bambu, Suganda ulur tangan kakek itu, Karta Ucap ayah ketika aku memperkenalkan ayah dan kakek suganda, ada hal aneh ketika kakek suganda melihat ayah... "Kamu karta.." ucapnya sambil terus menatap ayah..
"ya saya karta..." kamu siapa jawab ayah bingung..." saya suganda, ayah mu... kamu anak ku yang hilang saat sunami" ucap kakek suganda.... "bapak..." ucap ayah kepada kakek sugan.. "jadi benar kamu anaku nak.." jawab kakek suganda, suasana haru melingkupi kami ternyata kakek suganda adalah kakek ku sendiri.... ya tuhan terimakasih telah kau pertemukan aku, kakek, dan ayah. Semenjak itu kehidupan aku dan keluarga berangsur membaik... kakek membantu kehidupan ayah, dan membelikan ayah beberapa hektar sawah, dan kakek menyekolahkan aku lagi untuk menyandang gelar sarjana.
Dan semua terjadi begitu cepat aku tidak percaya atas semua yang terjadi, seperti sebuah dongeng, seperti sebuah fiksi dalam komik aku tidak percaya, dan aku hanya bisa bermunajat terimaaksih kepada Allah, aku telah salah dengan semua teriakanku hinaan ku terhadap tuhan... semua begitu cepat berubah dan aku percaya bahwa roda kehidupa itu terus bergulir, sekarang roda kehidupan membawa keluarga ku naik diatas dimana sebelumnya aku berada dibawah..... ketika aku meminta tanaman yang indah dan berbunga ternyata tuhan memberiku kaktus, tapi tak lama kaktus itu pun berbunga indah. Alhamdullilah ya Allah, setelah semua ini.... Terimakasih tuhan
Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardlohu wa adkhilnii bi rohmatika fi ‘ibaadikash-sholihin. Irhamna Ya arhamarrohimiin.
“Ya Tuhanku, berilah aku kekuatan untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi, serta memasukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. Kasihilah kami wahai Yang Maha Penyayang diantara para penyayang.”
Label: Cerpen
Putri kecil ku yang cantik
Kau bisikan suara mu yang menarik
Kau menyapaku dengan tangis dan bahagia
Ku serasa tak memerlukan apapun didunia
Putri Kecilku Yang tersayang
Kehadiran dirimu membuatku riang
Selalu syukur terucap dari bibir ini
Karena kau adalah anugrah yang tak terganti
Putri kecilku yang tercinta
Kau bawa aroma bahagia
Dalam tawa mu yang merona
Terpancar sejuta Pesona
Putri Kecilku yang manja
Selalu mengalir celoteh kecilmu yang jenaka
Walau dalam gundah gulana
Membuat hati selalu gembira
Oh tuhan terima kasih
diantara sapa tawa dan cengkraman lembut,
jemari kecilnya maknai nafas Tersisa
Terima kasih Tuhan kau berikan putri kecil yang tercinta
Depok 27 mei 2008
Erwin Arianto
Label: Puisi Cinta
Embun air mata menetes perlahan
Dalam hijau pucuk dedaunan
ketika Cinta bermandi cahaya
Tanpa celah nafas asmara bertanya
Memupus sebiduk penantian khayal
terlanjur tereguk aroma mewangi
Beralaskan angin kau tiup hirupan pesona
Terlanjut membasahi sebuah nuansa kisah kita
Ketika hati terberi tak terpendar
Kutapaki jejak langit memenjarakanku
aku terlempar aku terhanyut aku terbuai
Dalam sebuah anggur senyum yang terkulum
Bidadari, kuberi angin untuk kepak sayapmu
Kau beri aku suara surutkan badai samudra
Kau beri dekapan memberi sejumput senyuman
Kau beri sutra untuk sebuah kehangatan
Kini lambaian kepak sayapmu tinggal kenangan
Hanya tersisa memori sendu kisah kita
Diantara cinta dan rinduku yang membara
Kuharus hentikan alunan irama kita
Selamat jalan bidadari hatiku
Dan kita tetap satu dalam satu prasati itu.
Depok 18 Mei 2009
erwin arianto
Label: Puisi Cinta
Sudah empat bulan aku bergelut dengan pekerjaan yang menumpuk, lupa waktu dan keluarga, karena kerja begitu menggairahkan bagiku, begitu banyak tantangan yang harus kutunaikan begitu aku berfikir, mungkin hasrat kerja ku ini dikarenakan keinginan ku untuk meraih jawaban kosong di kantor itu, sehingga aku sering mengabaikan keluarga kecil ku dirumah.
Pulang Kerja pukul 9.00 sampai dirumah, ketika buah hati tercinta mengajak ku bermain, walau sebenernya ku tahu Reina putri ku tercinta telah mengusahakan untuk menahan kantuknya agar bisa bertemu ayahnya nya tercinta, tetapi aku hanya acuh dan menanggap dingin ajakan mainya.
"Ayah, Reina baru diajarin sama buguru buat gambar ini" Raina dengan bangga berusaha menunjukan kepadaku bahwa dia telah berhasil menggambar sepasang burung merpati, sekilas aku memperhatikan gambar itu, tetapi hati ini acuh tak acuh, pikiranku masih melayang ke kantor, dimana aku berhasil menyumbangkan gagasan dan dipuji pak Indra Direktur Keuangan ku. Aku tetap larut dalam pikiran ku sendiri sedang Reina masih berusaha menceritakan sesuatu dan berusaha untuk mendapat perhatian dariku.
Sabtu minggu pun aku masih terlarut dalam proyek yang ku kerjakan, aku tidak pernah mengajak reina dan istriku untuk berlibur, sabtu minggu ku habiskan waktu di kantor, terkdang reina merajuk. "ayah kerja terus sih... kapan main sama reina" protes putriku tercinta. "nanti ya sayang ayah harus bekerja keras untuk cari uang" elakku kepada reina.
****************
Ya Tuhan sembuhkanlah ayahku, agar ayah bisa bermain sama raina lagi ya Allah.... Reina sayang sama ayah.... Amin
tersentak kaget seperti orang terbangun dari tidur, ketika aku mendengar doa anak ku yang cantik, dengan rambut kuncir dua dan wajahnya yang lugu itu. Reina sedang berdoa kepada Tuhanya, meminta agar ayahnya cepat sembuh, dengan wajah dan mimik serius tak elak aku tersenyum memandangnya. Selesai berdoa ia mendatangi ku, dengan senyum manisnya, dan wajah lugunya dan seakan dia berharap bahwa ayahnya bisa sehat kembali.
Aku meneteskan air mata, aku terharau, tak pernah menyangka aku memiliki peri kecil yang baik, yang dianugarahkan oleh Allah kepada ku. Aku kini sedang terbaring lemas tak berdaya diatas tempat tidurku, karena penyakit Tifus yang sedang menyerangku dan aku tersadar bahwa empat bulan ini aku terlalu memforsir diri melupakan keluarga kecilku, merupakan peri kecilku yang cantik.
" Makasih ya sayang, reina anak yang baik sekali " ketaku sambil mengelus rambutnya
" Iya ayah, raina mau merawat ayah, " jawabnya dengan senyum termanis di bibirnya
" Memang kamu bisa merawat ayah" Tanya aku
" iya kan kalau besar reina mau jadi dokter" sebuah celetukan yang polos terlontar darinya.
" Ayah sayang reina " ujarku sambil berusaha memeluk peri kecilku yang tercinta
" Reina Sayang sama Ayah" ujarnya dengan tulus
Ya Allah... aku tak ingin ini semua berakhir, aku telah melupakan dia peri kecilku, aku terlarut dalam mimpi-mimpi dan mengabaikanya, ini adalah saat-saat yang membahagiakan ya Allah. Begitu pintarnya peri kecilku menjaga dan merawatku saat aku sakit, sedang selama ini aku tak punya waktu dan acuh kepadanya. Padahal dialah peri kecilku yang pada awal nya begitu kunanti kehadiranya.
Ingat dulu saat kamu pertama ada di dalam perut ibumu, reina.. ayah bahagia menitikan air mata saat ibumu memberi tahu ayah bahwa ada kamu disitu, saat dimana menjalani waktu 9 bulan membantu ibumu menjaga hingga saat kau terlahir, dimana saat ibumu meminta Jambu Monyet di saat ngidamnya, walau susah ayah berhasil mendapatkanya di daerah sukabumi di tempat teman kantor ayah disana, dan juga ayah memanjat sendiri pohon jambu monyet itu. Walau ternyata ketika segigit jambu itu ibu mu ternyata tidak menyukainya nak.
JUga saat kami berburu informasi tentang bagaimana menghasilkan kamu yang sehat nak, saat ibumu ayah paksa makan tomat dan meminum air kelapa hijau agar kulitmu bersih dan cantik, walau sebenarnya ibumu tidak menyukainya nak. atau ketika setiap malam ibumu meminta pijit karena kelelahan menggendong mu setiap malam, dan ayah menjadi tukang pijatnya. begitu ayah menginginkamu nak.
serta bagaimana sakitnya detik-detik kelahiran mu dimana ayahmu selalu setia mendampingi kedatangan kedunia ini, dengan susah payah ibu mu berhasil melahirkan mu, atau saat ayah begitu bahagia saat kau pertama menapakan kebumi, dengan suara yang keras kau kalahkan dunia nak. Ayah tersedar kini keadaan kita memang lebih baik. tidak seperti dulu saat kami masih tinggal dirumah kontrakan sederhana disana nak.
Maafkan ayah nak, ayah bekerja keras karena ingin membahagiakan mu, ayah ingin kamu dan ibumu hidup dalam keadaan bahagia tidak kesusahan nak, tapai hal itu malah membuat ayah seperti melupakan mu, ayah menyia-nyakanmu, terlalu larut dalam pekerjaan-pekerjaan kantor, yang tak pernah memperhatikan cerita-citamu Raina.
*********
Kemarin-kemarin ayah terlalu memaksakan diri untuk bekerja mengejar mimpi sendiri, bekerja lembur, bekerja denga giatnya, pulang capek, tak menggubris kamu yang memang ingin dimanja oleh ayah raina, walau sering kamu sudah tertidur menunggu ayah pulang, dan terbangun saat langkah kaki ayah memasuki rumah kita, dan tetap kau ceria raina putri kecilku.
Dan Kemarin, tepat kemarin ketika tubuh ayah ini tidak bisa begerak maksimal, dan perut ayah sakit Dan semenjak tiga hari lalu, saat ayah terkena tifus, dokter meminta ayah untuk istirahat diruamah, raina peri kecil ayah selalu tersenyum gembira menjaga ayahmu ini.
" Ayah, reina senang ayah ada dirumah, raina jadi bisa main sama ayah" begitulah kamu bercerita dengan antusias menginginkan bermain dengan ayah mu ini, dan hal itu menyadarkan ayah nak, bukan hanya materi yang kamu butuhkan, tapi juga belaian lembut dan kasih sayang dari ayahmu ini, yang memang terkadang lupa terhadap mu.
Kini, setelah mendengar doanya, ayah baru menyadari. Bahwa selama empat tahun kamu diamanahkan kepada kami, ayah belum begitu bisa menjaganya. Dan selama itu pula, aku tak pernah menyesal. Padahal ayah mungkin telah mengecewakannya begitu rupa.
saat ini ... Sebuah doa tulusmu telah berhasil membangunkan aku dari kekhilafan. ayah berharap, dan akan berusaha berjuang keras... untuk tidak menolak keinginan baikmu. Untuk menyambut perhatian yang ia damba dari ayahnya.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada ayah, untuk dapat berubah menjadi Ayah yang lebih baik buatmu. Karena Allah telah begitu sayang kepadaayah, dengan memberikan putri yang demikian sholih... hingga dalam usianya yang relatif sangat sangat muda, doa tulusmu telah mengalir buat ayah mu ini raina.
Dan semoga kelak ia menjadi anak yang sholih, yang bisa menerangi kubur dan mengangkat derajat kami di Syurga, dengan doa-doa panjangnya yang melimpah, aamiiin... Ayah mencintaimu Raina.... Selamat tidur nak, ayah akan berusaha membahagia kan mu menjadikan kamu nomer satu dibanding pekerjaan ayah.... Maafkan ayah ya raina...
Depok, 6 May 2009
Erwin Arianto
Http://coretanpena-erwin.blogspot.com
Label: Cerpen
Ada Kamu-kamu dalam jumlah tak terbilang
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Selasa, Mei 05, 2009Waktu ini
Menatap layar maya
Hati terpana merana
Gelisah resah tak terarah
Sebab di ruang maya ini
Ada persahabatan yang menghilang
Ada Amarah yang meradang
Ada Permusuhan yang tak kunjung usang
Ada Kamu-kamu dalam jumlah tak terbilang
tetap tertawa kosong tak bermakna
tersenyum walau sebingkai sedikit
kata-kata maya hanya raga tak berjiwa
Membaca hati dalam sebuah pristiwa
Karena saat ini;
ruang maya Semua memaki menggila
Hanya meninggalkan luka menganga
Tabah dan sabar seperti tak guna
Mau lari pun tak bisa
Aku terjebak dalam kegilaan maya
Bersama dengan mereka tak terbilang namanya
Kini hanya tatapan kosong
Dan Aku hanya terbengong seperti sapi ompong
Dalam diskusi maya yang melompong
5 Mai 2009
Didepan Layar membaca milist Nongkrong bareng2 yang aneh
Http://coretanpena-erwin.blogspot.com
