IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
Bisik Angin Tuk Bidadari

Dalam perjalanku kutemui seekor kupu lucu, tak pernah sadar akan ada sebuah cerita karena  banyak cerita dalam kehidupan, terdapat beragam sifat dan perbuatan begitu juga makna dari kehidupan itu sendiri. Tanpa memperdulikan panjang usia yang dimiliki, seperti halnya kupu-kupu. Saya yakin semua orang menyukai kupu-kupu, akan tetapi apakah kita juga menyadari bahwa keindahan itu dimulai dari proses yang panjang, dan mungkin sangat menyakitkan.

begitupun awal permulaan bertemu dengan kupu itu aku ragu, aku takut. untuk memulai rasa ini untuknya bagai mengenggam mawar berduri, harumnya memang menenangkan kalbu, tapi durinya pun dapat melukai jariku. aku adalah wayang yang tak berdaya yang menanti digerakkan oleh dalang. Aku hanya bisa pasrah dan berserah. pada akhirnya takperlu waktu lama ketika rasa ini mulai tumbuh, aku kembali terjebak di hempasan gelombang rasa, seperti riak ombak, seperti pasang surut laut. Aku didera rindu dan cemburu, canda tawa dan air mata, harapan dan keputusasaan.

Aku bertanya apakah ketika aku terikat rasa kembali padanya, aku harus mengalami itu semua lagi. Aku berharap rasa ini berbeda, berbeda dengan yang dulu pernah kurasa, yaitu seperti menggenggam mawar, harum sekaligus melukai. Aku ingin rasa ini laksana lentera, yang menerangi sisi kelam dalam ruang jiwa dan memberi damai di hati. Aku ingin rasa ini lebih murni hingga kuasa nafsu tak lagi mengganggu, sehingga andai kisah ini kembali terangkai, alurnya lebih mencerahkan, mendewasakan.

Mencintai kupu-kupu berarti ikhlas membiarkannya tetap terbang kesana kemari, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Bila kau menangkapnya, kau hanya bisa menikmati keindahan sayapnya tapi pada hakikatnya kau menyiksa dirinya, karena kau telah memenjarakannya, membuatnya kehilangan kebebasannya. Dan tahukah kau sumber kebahagiaan kupu-kupu ? yaitu kebebasannya untuk terbang sesuka hatinya. Bila kau mencintai kupu-kupu, kau hanya bisa merayunya tuk singgah di sekitarmu, karena itu buatlah taman bunga seindah mungkin sehingga dengan keikhlasan hatinya, jiwanya, dia akan mengunjungi tamanmu dan ia akan mempersembahkan tarian lewat kepakan sayap-sayapnya. Itu adalah tanda terima kasihnya, tanda kalau dia peduli, tanda bila dia mencintai.

Kupu-kupu memang tak pernah diam, bila kau mencintainya dan kau berusaha menangkapnya maka dia malah akan terbang menjauh. Semakin kau berusaha mengejarnya maka semakin jauh dia meninggalkanmu, lari darimu. Karena bukankah kau tahu kalau kebebasan adalah kebahagiaan sejati dari kupu-kupu. Biarkan kupu-kupu hidup dalam dunianya, biarkan bakat dan potensinya terus berkembang. Karena tariannya dipersembahkan untuk semesta, untuk matahari, untuk bunga yang bermekaran, untuk iringan awan, untuk hembusan angin. Janganlah kau membuat semesta bersedih hanya karena keegoisanmu. Buatlah dia selalu bahagia, maka semesta akan membuatmu bahagia. Dan mungkin Tuhan memberi tanda dengan seekor kupu lucu sepertinya aku perlu belajar dari kupu-kupu, sepertinya aku perlu belajar mencintai... seperti mencintai kupu-kupu, Maka terbanglah kupu merah lucuku... Aku kan mencintai mu kemarin, hari ini dan esok... tiada yang dapat menghentikan sampai tuhan menentukan selanjutnya.... maka aku akan mencintainya seperti mencintai kupu-kupu...

Halo....

Bagaimana kabarmu...

Melihatmu di dalam pigura maya, seperti melihat sesuatu masa lalu...

mungkin hanya daya hayalku saja, ingatkah Aku yang pernah berlalu di hidupmu, aku yang memintamu untuk selalu tersenyum, aku yang pernah bahagia karenamu, aku yang pernah menjadi orang pertama segala keluh kesahmu. Aku yang pernah selalu di hari-harimu. Aku yang selalu ingin bertemu kamu. Aku yang pernah selalu siap mendukungmu di kala kamu terpuruk. Aku yang pernah mengajakmu untuk bangkit. Aku yang menjadi penyemangatmu meskipun kamu lelah.

Kamu yang dulu selalu membuat hatiku berdegup kencang. Kamu yang selalu menumbuhkan senyum dan bahagia. Kamu yang dulu aku pernah perusaha menggapaimu  dengan segala caraku. Kamu yang dulu menjadi tempat untuk menabung segala rinduku. Kamu yang dulu pernah mencuri hatiku, Kamu yang mampu sekejap mengalihkan duniaku, mimpi-mimpiku dan inginku.

Kamu yang pernah mengukir luka, mendatangkan kecewa, membuat hatiku mendung, air mata yang menguras emosi yang tak terbendung, menguras semua rasa yang ada alam hidupku, tahukah kamu beta besar tembok yang kubangun untuk membendung deburan rindu dan kecewaku ketika kamu pergi... tapi aku akan tetap mengatakan aku tetap mencintaimu kemarin, hari ini dan esok, walau semua terlihat dalam balutan warna yang berbeda...

Seperti katamu cinta tak harus memiliki, cinta membebaskan, terbanglah dan bahagialah itu sudah membuat ku cukup, karena aku tahu semua yang bersayap pasti akan terbang, aku pun bahagia pernah merawat ke pompong mu, sehingga kamu bisa menjadi kupu merah yang indah.... maka terbanglah gapailah mimpimu... aku akan mengiringi hidup mu dengan semua doa yang terbaik.. karena dunia kita sudah berbeda... maka terbanglah kupu merahku... hmmmmmmm....

Sekali lagi ingin menulis tentang Hujan. Seharusnya tidak ada yang luar biasa darinya, memang sudah musimnya jika sekarang ini air akan lebih sering turun membasahi jalanan. Aku benci hujan. hujan itu identik lembab, basah, dingin, suram. Apa istimewanya? Membuatku harus lebih sering menghabiskan waktu di balik jendela, memegang secangkir teh hangat, memandang ke luar sana. Ah…lagi-lagi hujan yang membawa pikiranku kemana-mana, membuatku mengingat apa yang seharusnya kulupa.

Entah sudah berapa kali musim hujan aku lewati dengan seperti ini, seperti tidak ada yang menemani, di tengah kerumunan pun terkadang aku masih merasa sepi, merasa sendiri. Kamu lagi, lagi-lagi kamu yang muncul di kepala ini. Jujur sebenarnya aku sudah bosan, bukankah merindukan orang yang nyata-nyata sudah pergi hanyalah akan membuatku payah sendiri? Ah siapa yang peduli, toh sejak kamu pergi aku sudah sangat terbiasa menyimpan rapat-rapat setiap kesedihan dalam hati.

Seperti biasa, hujan kali ini memaksaku mengingat kembali apa yang sudah kulalui, tentang kamu, tentang sakit yang dulu kau beri, tentang rindu yang hanya bisa kupendam sendiri. Tentang bagaimana aku pernah bermutasi seperti zombie, yang hidup tapi sebagian diri tidak lagi berfungsi. Tentang mimpi yang rasanya bisa digapai sedikit lagi, tentang harapan yang berkembang biak dalam angan namun harus diakhiri, tepat setelah kamu pergi.

Sejujurnya aku pun bingung harus menyebutmu sebagai apa. Kamu bukan yang pertama, tapi aku merasa denganmu lah semua bermula. Pastinya kamu bukan yang terbaik, karena yang terbaik tidak akan datang dan pergi seenaknya. Kamu juga bukan yang tanpa cacat cela, aku sudah melihat kekuranganmu dimana-mana. Ah apa pentingnya, toh nyatanya aku cinta! Ya sudah, dipersingkat saja, mungkin kamu lah yang terdalam dari semua cerita.

Tapi lihatlah, bagimu perjuanganku ternyata tidak berarti apa-apa. Kamu pergi dengan seenaknya, kali ini tanpa ada kemungkinan untuk kembali menyapa. Namun jika rindu masih muncul di dada, aku harus menyalahkan siapa? Aku sudah berusaha menjauh darimu semampunya. Saat ini aku tidak lagi tahu dimana kamu berada, sedang melakoni hidup macam apa, mengejar mimpi seperti apa, atau apakah kamu benar-benar bahagia dengan dia yang kamu punya.

Hatiku mungkin bisa seluas langit yang membentang
Tapi tidakkah kau ingat, bahwa langit pun bisa menangis dalam tetasan hujan
Pada akhirnya aku harus memilih ditinggalkan atau meninggalkan
Hanyut dalam tangis atau ditangisi

Perputaran waktu mengajarkanku tidak ada yang bisa kita ulang kembali
Hingga aku belajar untuk menghargai waktu
Aku melangkah untuk meninggalkanmu
Menerima semua dalam balutan takdir tersisa

Biarkan aku menangis hari ini saja?
Melepas semua perih dan kesedihan
Aku menyadari cinta akan sulit untuk lenyap
Walau wujudnya telah habis

Maka izin kan aku menangis bersama hujan
dalam titisan airnya hadir dalam semua angan
tentang dia, dia yang selalu di hati
kamarin, hari ini dan esok lusa

Dalam kotak sepi

Gerimis menghampiri
Ketika sepi memenjarai
Secangkir rindu menemani

Sebersit rindu merasai
dalam sebersit ingin hati
Wahai kupu merah ini

Hujan meresonasi
Kenangan 180 hari
Ku ingin dia kembali
Dengan senyum indah tiada terperi

Sudirman - Dalam kotak sepi  2018

Ciuman terakhir, terasa seperti tembakau
Aromanya pahit dan sedih
Besok, di kisaran waktu ini
Kira-kira dimana kau berada?
Kira-kira siapa yang kau pikirkan?

Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru

Waktu yang terhenti
Sepertinya mulai bergerak
Ada banyak hal yang tak ingin ku lupakan
Besok, dikisaran waktu ini
Aku pasti menangis
Mungkin aku akan memikirkanmu

Kau akan selalu ada di dalam hatiku
Akan selalu ada tempat di dalam hatiku untukmu
Ku harap aku juga punya tempat di dalam hatimu
Sekarang dan selamanya kau tetap nomor satu
Ini masih meruapakn satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru

Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Sekarang dan untuk selamanya...


By: Utada Hikaru - First Love

Sebagian hidup manusia berhubungan dengan kehilangan: kehilangan barang (entah kecopetan, entah lupa taruh, entah diberikan ke orang lain), kehilangan teman, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, termasuk kehilangan kesempatan. Seolah telah digariskan, maka hingga ke ujung dunia pun, bila sudah saatnya kehilangan, ya, yang ada hanyalah kehilangan itu terjadi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Kapan saja.

Menurut saya, itu dampak paling dahsyat dari sebuah kehilangan yang pernah saya rasakan.
Kehilangan membuat kita susah move on.
Kehilangan membuat kita sulit untuk merubah kondisi.
Yang paling parah, kehilangan membuat kita merasa kita ga pantas lagi untuk bahagia.

Sesabar dan setegar apapun seseorang, pasti jiwanya terusik ketika merasa kehilangan Memang tidak mudah menyandingkan kata ‘rela’ dan ikhlas’ dengan kehilangan yang kita hadapi. Tetapi bukan juga kita mesti larut dan tenggelam dalam kehilangan tersebut, ‘kan? Harus ada saatnya kita sadar dan berdamai dengan keadaan.

Ketika kehilangan, kita kadang tak mampu berpikir jernih dan menerimanya begitu saja. Namun pada akhirnya kita selalu dihadapkan pada hikmah-hikmah akan kehilangan tersebut. Tak jarang ketika seorang kikir kehilangan hartanya, ia akan segera introspeksi diri dan menyadari bahwa dalam hartanya ada hak orang lain. Tak jarang pula ketika seorang suami menyia-nyiakan istrinya demi hal lain, ia justeru akan segera sadar, menyesali dan memperbaiki diri pada saat sang istri tak ada di sisi, dst.

Banyak cara orang menghadapi rasa kehilangannya, mulai dari yang terpuruk dalam kurun waktu yang nggak masuk di akal, ada pula yang dengan tegar dan ikhlas, merelakan apa yang sudah terjadi. Seperti salah satu kalamullah dalam Al Qur'an: "Kun Faayakuun", apa yang Dia kehendaki maka terjadilah, kita sebagai manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha, hasil akhir hanya Yang Maha Esa yang tahu

Sulit. Oleh karenanya jangan terlalu memanjakan perasaan. Selalu yakin bahwa Allah Swt tengah memberi bimbingan untuk kehidupan yang lebih baik. Dia tentu menyelipkan makna di segala peristiwa. Maka serahkanlah bagian dari skenario Tuhan tersebut dan berdoa semoga kita bisa segera melalui dan berdamai dengannya. 


To all yang baca, coba lah berdamai dengan kehilangan, karena sesuatu akan bergerak dari tiada menuju ada dan kembali tiada.. Ikhlas dan Sabar adalah senjata utama menghadapi keadaan dimana kita akan berhadapan dengan situasi yang kita tidak siap

;;