IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
Bisik Angin Tuk Bidadari

Ketika kau berdendang sebuah bintang
bagai titik terang diujung malam
Derai lari waktu menderu mendentam
Mengingat sebuah kisah indah gemilang menerang

Kukirimkan sebuah rindu dari kejauhan
Bersurat cinta dan sebuah nada keinginan
Dalam tatap mata mata yang sembab
Berlari dan kehilangan sebuah harap

Awal pagi itu adalah terakhir kunatap
Sebuah mata indah yang begitu berharap
Semua kan hilang bagai kenanganan
pada bahtera sebuah kehilangan

Biar ku kayuh sampan tak berlabuh
Mengikuti riak sungai yang membiru
Sekulum senyum remuk dari hati yang syahdu
Merelekan semua menjadi sebuah kisah bisu

Depok, 25 Maret 2009
Erwin Arianto



Selintas rindu meradang
Tak tahu arah mana dia datang
telah jauh kulangkahkan kaki
Untuk menghindari bayangmu bidadari

Seribu langkah talah tertempuh
Seribu rasa telah terbunuh
Seribu Rindu semakin bertumbuh
teriring rinduku padamu

Dalam satu cinta
tersirat semua rasa
Tertafsir keinginan bersama
Terhalang takdir tak bersama

Kini walau jemariku tak bisa menyentuh
Hatiku tak jua menjauh
Walau kubunuh dengan dusta
Tapi cintamu tak pernah sirna

Oh pergi lah rinduku
Aku tersiksa dalam keinginan itu
Rindu yang menggebu
Membawa keingan pada waktu itu
Pergilah pergilah rinduku
Jangan kau kembali hampiri diriku
karena sudah terlarang untuku


Riuh melodi rindu kian menggebu
Melepas jejak jalan yang berabu
Saat hati tak bisa bersatu
Saat mata tak bisa bertemu

Sebuah kerinduan membuncah dalam kalbu
Aku sangat merindumu
Seperti malam merindu pagi
Seperti punguk merindu bulan

Sejuta nuansa hati bersatu
Dalam sejuta tanya dan permainan rasa
Aku merindumu kekasih
dan aku terus berteriak dalam hening

Tak adakah suara datang kepadamu
menceritakan rasa rindu yang tertuang
Dalam sebuah bait kata yang meradang
Kepada sebuah cinta yang terhalang


Aku merindumu kasih
Saat aku menelusuri ruang rinduku padamu
sebuah kerinduan yang terpancar pada indahnya bayangmu
dan tak akan lekang dalam satu hitungan waktu

Lelehan air mata itu mengiris ruas sembilu
dalam sayatan-sayatan tipis memilu
terlihat paras kehilangan wajah lugu itu
Yang telah pergi berkesan semu

Kubelai helaian rambut wangimu
tercium semerbak wangi bunga ungu
Sebuah hati tak bisa menahan gejolak hati mengugu
Memberi sebuah rasa yang selalu bertumpu

Tapi kini rasa telah tertinggal hatimu
teralun tangis yang memilu
Kudekap nuansa kejora malam aroma lalu
Tentang cinta yang sudah tertutup di balik pintu

kini semua hanya sebuah cerita bisu
akankah lagi terdengar lantunan sebuah lagu
menyeruak keluar dalam sebuah kisah yang satu
Kisah cinta angin dan bidadari telah berlalu

sejuta ingin menjadi satu
Dalam iringan sebuah cinta yang lalu
Salam dan cintaku untuk mu selalu
hingga tiada satupun tahu pada satu bilangan waktu

Sebuah gugusan imaji berlari
Dalam sebuah ingin yang terangan
Tentang gurat waktu telah berlalu
Selalu terbersit tengtang waktu itu

Dalam Khayalku Kau hidup
Bermain dan bercerita
Tentang dua rasa berpadu dalam cinta
Bergelora menggempar sebuah romansa

Dalam Khayalku kita bersatu
Atas ikrar suci janji terpadu
Mengikat kita dalam satu ikatan nurani
Bersama memadu jalinan kasih

Ya.. Dalam kHayalku
Kau salalu menari, bernyayi tak pernah sepi
Semua bergitu indah dalam kanvas lukisan ini
Semua nyata dalam relung hati

Sebuah Alun kidung rindu tercipta
Sebuah kisah telah terukir
Bercerita kisah bisik angin untuk bidadari
Kisah yang terpatri dalam prasasti hati

kini dalam nyataku kau hanya sebuah ilusi sepi
Kumpulan dari ingin yang tak teringi kembali
Biarkan semua terbang menderu dalam debu
Karena jauh dan sepi tertinggal sebuah mimpi

Depok, 16 Feb 2009


Deru roda takdir dan waktu terus melaju
Adalah satu alur kisah kita telah berlalu
Cinta dan duka telah jadi masa lalu
Walau Di hati Cintaku masih tertuju untuk mu

Masihkah kau simpan amarah mu itu
Saat angin tak bisa memutuskan sebuah ambigu
Angin telah pergi jauh berlalu
Mencoba mengubur semua kenangan kala lalu

Bukan angin tak mencintai lagi pemilik sepasang sayap itu
Yang selalu ku hembus dan ku belai dengan segenap kalbu
Bukan maksud angin untuk meninggalkan luka membatu
Tetapi naskah takdir sudah tertulis begitu

tahukah tentang betapa cinta angin kepada pemilik sayap biru
tentang rasa yang selalu bergelora dan menggebu
Yang selalu hidup dan bermain dalam imajiku
Takbisa bersapa dalam cinta hanya diam membisu

Rasa cinta ini pada pemilik sayap itu
telah menggores luka dalam pada sembilu
masih ingatkan lagu perpisahan ternyanyi kupu-kupu
Kini angin hanya mencintai di balik langin biru
Sampai kini angin tetap mencintai pemilik sayap itu

terbanglah
kepakan sayapmu,
pancarkan sinar indahmu
Karena angin akan tetap mencintaimu...
Sampai kapan pun, dan bukan sebuah cinta semu

Dibalik semburat putih wajahmu teduh
Anganku melayang-melanglang jauh
Sepucuk harapan bermain dan berlabuh
Mengharap kau semakin bertumbuh

mawar mudaku nan ayu bersahaja
Dalam panas mentari elokmu menebarkan makna
Menepiskan duka, menghantarkan bahagia
Menarik segenap alam tuk hening memuja

kaulah pengganti bidadari terbang
Mengalirkan manis madu pada sejuta kumbang
teruslah bernyanyi dalam tangis riang
Besar dan tumbuh dengan senang

Kini Aku menunggu mekarmu penuh
Akan ku jaga dengan segala peluh
Di sini --menanti, kuncupmu tumbuh
teruslah mekar kuncup mawarku teruslah tumbuh

penghujung laju berselimutkan mega
bercanda mesra engkau dengan angin kelana
sang bayu terus saja nakal menggoda
Malu memuji indahmu Putri tercinta

Sepoi-sepoi bercanda di antara kelopak mata lentik
Semilirnya menitipkan embun sepercik
Sebagai sajak rayuan yang lembut menggelitik
mawar muda kuyang teramat cantik

Depok, 16 January 2008
Teruntuk Putriku tercinta " Quineisha... "

;;