karena aku tahu semua yang bersayap pasti akan terbang
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Kamis, Januari 24, 2019
Halo....
Bagaimana kabarmu...
Melihatmu di dalam pigura maya, seperti melihat sesuatu masa lalu...
mungkin hanya daya hayalku saja, ingatkah Aku yang pernah berlalu di hidupmu, aku yang memintamu untuk selalu tersenyum, aku yang pernah bahagia karenamu, aku yang pernah menjadi orang pertama segala keluh kesahmu. Aku yang pernah selalu di hari-harimu. Aku yang selalu ingin bertemu kamu. Aku yang pernah selalu siap mendukungmu di kala kamu terpuruk. Aku yang pernah mengajakmu untuk bangkit. Aku yang menjadi penyemangatmu meskipun kamu lelah.
Kamu yang dulu selalu membuat hatiku berdegup kencang. Kamu yang selalu menumbuhkan senyum dan bahagia. Kamu yang dulu aku pernah perusaha menggapaimu dengan segala caraku. Kamu yang dulu menjadi tempat untuk menabung segala rinduku. Kamu yang dulu pernah mencuri hatiku, Kamu yang mampu sekejap mengalihkan duniaku, mimpi-mimpiku dan inginku.
Kamu yang pernah mengukir luka, mendatangkan kecewa, membuat hatiku mendung, air mata yang menguras emosi yang tak terbendung, menguras semua rasa yang ada alam hidupku, tahukah kamu beta besar tembok yang kubangun untuk membendung deburan rindu dan kecewaku ketika kamu pergi... tapi aku akan tetap mengatakan aku tetap mencintaimu kemarin, hari ini dan esok, walau semua terlihat dalam balutan warna yang berbeda...
Seperti katamu cinta tak harus memiliki, cinta membebaskan, terbanglah dan bahagialah itu sudah membuat ku cukup, karena aku tahu semua yang bersayap pasti akan terbang, aku pun bahagia pernah merawat ke pompong mu, sehingga kamu bisa menjadi kupu merah yang indah.... maka terbanglah gapailah mimpimu... aku akan mengiringi hidup mu dengan semua doa yang terbaik.. karena dunia kita sudah berbeda... maka terbanglah kupu merahku... hmmmmmmm....
Bagaimana kabarmu...
Melihatmu di dalam pigura maya, seperti melihat sesuatu masa lalu...
mungkin hanya daya hayalku saja, ingatkah Aku yang pernah berlalu di hidupmu, aku yang memintamu untuk selalu tersenyum, aku yang pernah bahagia karenamu, aku yang pernah menjadi orang pertama segala keluh kesahmu. Aku yang pernah selalu di hari-harimu. Aku yang selalu ingin bertemu kamu. Aku yang pernah selalu siap mendukungmu di kala kamu terpuruk. Aku yang pernah mengajakmu untuk bangkit. Aku yang menjadi penyemangatmu meskipun kamu lelah.
Kamu yang dulu selalu membuat hatiku berdegup kencang. Kamu yang selalu menumbuhkan senyum dan bahagia. Kamu yang dulu aku pernah perusaha menggapaimu dengan segala caraku. Kamu yang dulu menjadi tempat untuk menabung segala rinduku. Kamu yang dulu pernah mencuri hatiku, Kamu yang mampu sekejap mengalihkan duniaku, mimpi-mimpiku dan inginku.
Kamu yang pernah mengukir luka, mendatangkan kecewa, membuat hatiku mendung, air mata yang menguras emosi yang tak terbendung, menguras semua rasa yang ada alam hidupku, tahukah kamu beta besar tembok yang kubangun untuk membendung deburan rindu dan kecewaku ketika kamu pergi... tapi aku akan tetap mengatakan aku tetap mencintaimu kemarin, hari ini dan esok, walau semua terlihat dalam balutan warna yang berbeda...
Seperti katamu cinta tak harus memiliki, cinta membebaskan, terbanglah dan bahagialah itu sudah membuat ku cukup, karena aku tahu semua yang bersayap pasti akan terbang, aku pun bahagia pernah merawat ke pompong mu, sehingga kamu bisa menjadi kupu merah yang indah.... maka terbanglah gapailah mimpimu... aku akan mengiringi hidup mu dengan semua doa yang terbaik.. karena dunia kita sudah berbeda... maka terbanglah kupu merahku... hmmmmmmm....
Sekali lagi ingin menulis tentang Hujan
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Kamis, Oktober 18, 2018
Sekali lagi ingin menulis tentang Hujan. Seharusnya tidak ada yang luar biasa darinya, memang sudah musimnya jika sekarang ini air akan lebih sering turun membasahi jalanan. Aku benci hujan. hujan itu identik lembab, basah, dingin, suram. Apa istimewanya? Membuatku harus lebih sering menghabiskan waktu di balik jendela, memegang secangkir teh hangat, memandang ke luar sana. Ah…lagi-lagi hujan yang membawa pikiranku kemana-mana, membuatku mengingat apa yang seharusnya kulupa.
Entah sudah berapa kali musim hujan aku lewati dengan seperti ini, seperti tidak ada yang menemani, di tengah kerumunan pun terkadang aku masih merasa sepi, merasa sendiri. Kamu lagi, lagi-lagi kamu yang muncul di kepala ini. Jujur sebenarnya aku sudah bosan, bukankah merindukan orang yang nyata-nyata sudah pergi hanyalah akan membuatku payah sendiri? Ah siapa yang peduli, toh sejak kamu pergi aku sudah sangat terbiasa menyimpan rapat-rapat setiap kesedihan dalam hati.
Seperti biasa, hujan kali ini memaksaku mengingat kembali apa yang sudah kulalui, tentang kamu, tentang sakit yang dulu kau beri, tentang rindu yang hanya bisa kupendam sendiri. Tentang bagaimana aku pernah bermutasi seperti zombie, yang hidup tapi sebagian diri tidak lagi berfungsi. Tentang mimpi yang rasanya bisa digapai sedikit lagi, tentang harapan yang berkembang biak dalam angan namun harus diakhiri, tepat setelah kamu pergi.
Sejujurnya aku pun bingung harus menyebutmu sebagai apa. Kamu bukan yang pertama, tapi aku merasa denganmu lah semua bermula. Pastinya kamu bukan yang terbaik, karena yang terbaik tidak akan datang dan pergi seenaknya. Kamu juga bukan yang tanpa cacat cela, aku sudah melihat kekuranganmu dimana-mana. Ah apa pentingnya, toh nyatanya aku cinta! Ya sudah, dipersingkat saja, mungkin kamu lah yang terdalam dari semua cerita.
Tapi lihatlah, bagimu perjuanganku ternyata tidak berarti apa-apa. Kamu pergi dengan seenaknya, kali ini tanpa ada kemungkinan untuk kembali menyapa. Namun jika rindu masih muncul di dada, aku harus menyalahkan siapa? Aku sudah berusaha menjauh darimu semampunya. Saat ini aku tidak lagi tahu dimana kamu berada, sedang melakoni hidup macam apa, mengejar mimpi seperti apa, atau apakah kamu benar-benar bahagia dengan dia yang kamu punya.
Entah sudah berapa kali musim hujan aku lewati dengan seperti ini, seperti tidak ada yang menemani, di tengah kerumunan pun terkadang aku masih merasa sepi, merasa sendiri. Kamu lagi, lagi-lagi kamu yang muncul di kepala ini. Jujur sebenarnya aku sudah bosan, bukankah merindukan orang yang nyata-nyata sudah pergi hanyalah akan membuatku payah sendiri? Ah siapa yang peduli, toh sejak kamu pergi aku sudah sangat terbiasa menyimpan rapat-rapat setiap kesedihan dalam hati.
Seperti biasa, hujan kali ini memaksaku mengingat kembali apa yang sudah kulalui, tentang kamu, tentang sakit yang dulu kau beri, tentang rindu yang hanya bisa kupendam sendiri. Tentang bagaimana aku pernah bermutasi seperti zombie, yang hidup tapi sebagian diri tidak lagi berfungsi. Tentang mimpi yang rasanya bisa digapai sedikit lagi, tentang harapan yang berkembang biak dalam angan namun harus diakhiri, tepat setelah kamu pergi.
Sejujurnya aku pun bingung harus menyebutmu sebagai apa. Kamu bukan yang pertama, tapi aku merasa denganmu lah semua bermula. Pastinya kamu bukan yang terbaik, karena yang terbaik tidak akan datang dan pergi seenaknya. Kamu juga bukan yang tanpa cacat cela, aku sudah melihat kekuranganmu dimana-mana. Ah apa pentingnya, toh nyatanya aku cinta! Ya sudah, dipersingkat saja, mungkin kamu lah yang terdalam dari semua cerita.
Tapi lihatlah, bagimu perjuanganku ternyata tidak berarti apa-apa. Kamu pergi dengan seenaknya, kali ini tanpa ada kemungkinan untuk kembali menyapa. Namun jika rindu masih muncul di dada, aku harus menyalahkan siapa? Aku sudah berusaha menjauh darimu semampunya. Saat ini aku tidak lagi tahu dimana kamu berada, sedang melakoni hidup macam apa, mengejar mimpi seperti apa, atau apakah kamu benar-benar bahagia dengan dia yang kamu punya.
Biarkan aku menangis hari ini saja?
0 komentar Diposting oleh Erwin Arianto di Rabu, September 26, 2018
Hatiku mungkin bisa seluas langit yang membentang
Tapi tidakkah kau ingat, bahwa langit pun bisa menangis dalam tetasan hujan
Pada akhirnya aku harus memilih ditinggalkan atau meninggalkan
Hanyut dalam tangis atau ditangisi
Perputaran waktu mengajarkanku tidak ada yang bisa kita ulang kembali
Hingga aku belajar untuk menghargai waktu
Aku melangkah untuk meninggalkanmu
Menerima semua dalam balutan takdir tersisa
Biarkan aku menangis hari ini saja?
Melepas semua perih dan kesedihan
Aku menyadari cinta akan sulit untuk lenyap
Walau wujudnya telah habis
Maka izin kan aku menangis bersama hujan
dalam titisan airnya hadir dalam semua angan
tentang dia, dia yang selalu di hati
kamarin, hari ini dan esok lusa
Tapi tidakkah kau ingat, bahwa langit pun bisa menangis dalam tetasan hujan
Pada akhirnya aku harus memilih ditinggalkan atau meninggalkan
Hanyut dalam tangis atau ditangisi
Perputaran waktu mengajarkanku tidak ada yang bisa kita ulang kembali
Hingga aku belajar untuk menghargai waktu
Aku melangkah untuk meninggalkanmu
Menerima semua dalam balutan takdir tersisa
Biarkan aku menangis hari ini saja?
Melepas semua perih dan kesedihan
Aku menyadari cinta akan sulit untuk lenyap
Walau wujudnya telah habis
Maka izin kan aku menangis bersama hujan
dalam titisan airnya hadir dalam semua angan
tentang dia, dia yang selalu di hati
kamarin, hari ini dan esok lusa
Gerimis menghampiri
Ketika sepi memenjarai
Secangkir rindu menemani
Sebersit rindu merasai
dalam sebersit ingin hati
Wahai kupu merah ini
Hujan meresonasi
Kenangan 180 hari
Ku ingin dia kembali
Dengan senyum indah tiada terperi
Sudirman - Dalam kotak sepi 2018
Ketika sepi memenjarai
Secangkir rindu menemani
Sebersit rindu merasai
dalam sebersit ingin hati
Wahai kupu merah ini
Hujan meresonasi
Kenangan 180 hari
Ku ingin dia kembali
Dengan senyum indah tiada terperi
Sudirman - Dalam kotak sepi 2018
Ciuman terakhir, terasa seperti
tembakau
Aromanya pahit dan sedih
Besok, di kisaran waktu ini
Kira-kira dimana kau berada?
Kira-kira siapa yang kau pikirkan?
Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru
Waktu yang terhenti
Sepertinya mulai bergerak
Ada banyak hal yang tak ingin ku lupakan
Besok, dikisaran waktu ini
Aku pasti menangis
Mungkin aku akan memikirkanmu
Kau akan selalu ada di dalam hatiku
Akan selalu ada tempat di dalam hatiku untukmu
Ku harap aku juga punya tempat di dalam hatimu
Sekarang dan selamanya kau tetap nomor satu
Ini masih meruapakn satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru
Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Sekarang dan untuk selamanya...
By: Utada Hikaru - First Love
Aromanya pahit dan sedih
Besok, di kisaran waktu ini
Kira-kira dimana kau berada?
Kira-kira siapa yang kau pikirkan?
Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru
Waktu yang terhenti
Sepertinya mulai bergerak
Ada banyak hal yang tak ingin ku lupakan
Besok, dikisaran waktu ini
Aku pasti menangis
Mungkin aku akan memikirkanmu
Kau akan selalu ada di dalam hatiku
Akan selalu ada tempat di dalam hatiku untukmu
Ku harap aku juga punya tempat di dalam hatimu
Sekarang dan selamanya kau tetap nomor satu
Ini masih meruapakn satu lagu cinta yang sedih
Hingga ku bisa menyanyikan lagu baru
Kau akan selalu menjadi orang yang ku cintai
Walaupun suatu hari nanti, aku jatuh cinta dengan orang lain
Aku akan ingat ingat pada cinta
Yang kau ajarkan padaku
Kau akan selalu menjadi yang nomor satu
Ini masih merupakan satu lagu cinta yang sedih
Sekarang dan untuk selamanya...
By: Utada Hikaru - First Love
Sebagian hidup manusia berhubungan dengan
kehilangan: kehilangan barang (entah kecopetan, entah lupa taruh, entah
diberikan ke orang lain), kehilangan teman, kehilangan anggota keluarga,
kehilangan pekerjaan, termasuk kehilangan kesempatan. Seolah telah
digariskan, maka hingga ke ujung dunia pun, bila sudah saatnya
kehilangan, ya, yang ada hanyalah kehilangan itu terjadi sesuai jadwal
yang telah ditentukan. Terjadi dan bisa menimpa siapa saja. Kapan saja.
Menurut saya, itu dampak paling dahsyat dari sebuah kehilangan yang pernah saya rasakan.
Kehilangan membuat kita susah move on.
Kehilangan membuat kita sulit untuk merubah kondisi.
Yang paling parah, kehilangan membuat kita merasa kita ga pantas lagi untuk bahagia.
Sesabar dan setegar apapun seseorang, pasti jiwanya terusik ketika merasa kehilangan Memang tidak mudah menyandingkan kata ‘rela’ dan ikhlas’ dengan kehilangan yang kita hadapi. Tetapi bukan juga kita mesti larut dan tenggelam dalam kehilangan tersebut, ‘kan? Harus ada saatnya kita sadar dan berdamai dengan keadaan.
Ketika kehilangan, kita kadang tak mampu berpikir jernih dan menerimanya begitu saja. Namun pada akhirnya kita selalu dihadapkan pada hikmah-hikmah akan kehilangan tersebut. Tak jarang ketika seorang kikir kehilangan hartanya, ia akan segera introspeksi diri dan menyadari bahwa dalam hartanya ada hak orang lain. Tak jarang pula ketika seorang suami menyia-nyiakan istrinya demi hal lain, ia justeru akan segera sadar, menyesali dan memperbaiki diri pada saat sang istri tak ada di sisi, dst.
Banyak cara orang menghadapi rasa kehilangannya, mulai dari yang terpuruk dalam kurun waktu yang nggak masuk di akal, ada pula yang dengan tegar dan ikhlas, merelakan apa yang sudah terjadi. Seperti salah satu kalamullah dalam Al Qur'an: "Kun Faayakuun", apa yang Dia kehendaki maka terjadilah, kita sebagai manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha, hasil akhir hanya Yang Maha Esa yang tahu
Sulit. Oleh karenanya jangan terlalu memanjakan perasaan. Selalu yakin bahwa Allah Swt tengah memberi bimbingan untuk kehidupan yang lebih baik. Dia tentu menyelipkan makna di segala peristiwa. Maka serahkanlah bagian dari skenario Tuhan tersebut dan berdoa semoga kita bisa segera melalui dan berdamai dengannya.
To all yang baca, coba lah berdamai dengan kehilangan, karena sesuatu akan bergerak dari tiada menuju ada dan kembali tiada.. Ikhlas dan Sabar adalah senjata utama menghadapi keadaan dimana kita akan berhadapan dengan situasi yang kita tidak siap
Menurut saya, itu dampak paling dahsyat dari sebuah kehilangan yang pernah saya rasakan.
Kehilangan membuat kita susah move on.
Kehilangan membuat kita sulit untuk merubah kondisi.
Yang paling parah, kehilangan membuat kita merasa kita ga pantas lagi untuk bahagia.
Sesabar dan setegar apapun seseorang, pasti jiwanya terusik ketika merasa kehilangan Memang tidak mudah menyandingkan kata ‘rela’ dan ikhlas’ dengan kehilangan yang kita hadapi. Tetapi bukan juga kita mesti larut dan tenggelam dalam kehilangan tersebut, ‘kan? Harus ada saatnya kita sadar dan berdamai dengan keadaan.
Ketika kehilangan, kita kadang tak mampu berpikir jernih dan menerimanya begitu saja. Namun pada akhirnya kita selalu dihadapkan pada hikmah-hikmah akan kehilangan tersebut. Tak jarang ketika seorang kikir kehilangan hartanya, ia akan segera introspeksi diri dan menyadari bahwa dalam hartanya ada hak orang lain. Tak jarang pula ketika seorang suami menyia-nyiakan istrinya demi hal lain, ia justeru akan segera sadar, menyesali dan memperbaiki diri pada saat sang istri tak ada di sisi, dst.
Banyak cara orang menghadapi rasa kehilangannya, mulai dari yang terpuruk dalam kurun waktu yang nggak masuk di akal, ada pula yang dengan tegar dan ikhlas, merelakan apa yang sudah terjadi. Seperti salah satu kalamullah dalam Al Qur'an: "Kun Faayakuun", apa yang Dia kehendaki maka terjadilah, kita sebagai manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha, hasil akhir hanya Yang Maha Esa yang tahu
Sulit. Oleh karenanya jangan terlalu memanjakan perasaan. Selalu yakin bahwa Allah Swt tengah memberi bimbingan untuk kehidupan yang lebih baik. Dia tentu menyelipkan makna di segala peristiwa. Maka serahkanlah bagian dari skenario Tuhan tersebut dan berdoa semoga kita bisa segera melalui dan berdamai dengannya.
To all yang baca, coba lah berdamai dengan kehilangan, karena sesuatu akan bergerak dari tiada menuju ada dan kembali tiada.. Ikhlas dan Sabar adalah senjata utama menghadapi keadaan dimana kita akan berhadapan dengan situasi yang kita tidak siap
Kurasa semua di dalam hati
kucoba berpaling agar ku bisa melupakanya
Tapi cinta terlahir dari hati
Hati inilah yang telah memilihnya
Fikiran hati terus berputar
Tak perduli ku lelah
Tak perduli ku sakit
selalu tertuju pada nya
Aku Ingin bahagia
Ingin ku berontak dari duka
Ingin ku tersenyum sekali saja
Kenapa selalu siasia!
Wahai Hati
Lihatlah dunia?
Nikmati semua nya
Jangan Kau terlarut
Sudahlah aku pasrah
Ya Sudahlah Aku terima
kucoba berpaling agar ku bisa melupakanya
Tapi cinta terlahir dari hati
Hati inilah yang telah memilihnya
Fikiran hati terus berputar
Tak perduli ku lelah
Tak perduli ku sakit
selalu tertuju pada nya
Aku Ingin bahagia
Ingin ku berontak dari duka
Ingin ku tersenyum sekali saja
Kenapa selalu siasia!
Wahai Hati
Lihatlah dunia?
Nikmati semua nya
Jangan Kau terlarut
Sudahlah aku pasrah
Ya Sudahlah Aku terima
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)
