IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
Bisik Angin Tuk Bidadari

cinta

Cinta
Beribu orang mengatakan tentang cinta
Tapi aku meratapi dan memuskilkan cinta
Aku bertanya benarkah ada cinta

Apakah cinta itu
Apakah cinta itu nafsu belaka
Apakah cinta hanya sebuah lelucon jenaka
Apakah cinta hanya butiran air mata

jawablah
Benarkah cinta itu ada
ketika ada rasa menyatu dua hati
Apakah itu yang kau sebut cinta

Cinta
Ketika ibu mengasih anaknya
itu pulakah yang disebut cinta
Mengapa cinta sering berlinang nestapa
bukankah cinta itu harusnya bahagia

Cinta
Tanpanya tak akan ada seribu cerita
Walau beribu duka lahir karena cinta
Karena itulah cinta ada di dunia
dan aku tetap tak mengerti tentang cinta

Depok 20 april 2009
Erwin arianto
http://coretanpena-erwin.blogspot.com

Terawangku menerawang pada gelap malam
Hembusku berlari menerjang mengawang
Membekap rindu yang tergulir dan bersatu
Akankah ada nanti datang yang kan kusebut ESOK

Teruntuk kekasih ku yang lalu
Ku tulis hasrat pada lembar awan
Kuminta angin berhembus mengantar kepadamu
Tentang deru rindu yang selalu menggebu

Kugantungkan cinta Bersama rembulan
Dalam sebuah hati yang tertawan
Diantara senandung langkah bumi
terurai harap akan kisah itu

Bilakah engkau akan bersama
Segurat senyum sejuk jiwamu
Menentram hati yang gelisah
Mengarungi cerita dalam lautan hidup

Kini ada keindahan yang pergi menjauh
pasrah diri dalam penantian jiwa
Seluruh jiwa raga hati meskipun samar
Tak pernah berhenti mencintainya

Dearest my past lovely angel

Depok, 11 April 2009
Erwin Arianto

Mungkin aku merindumu

Sebuah pertanyaan selalu menyeruak di hati
Ketika dada masih bergetar
Ketika Sebersit lamunan tentang mu datang
mengapa masih ada bayangan indah waktu lalu

Mungkin aku merindumu
Merindu indah bola matamu
Merindu rambut itu yang jatuh bergerai dikeningmu
merindu cerita-ceritamu tentang kita dan cinta

Oh, Mengapa masih terus ada
mengapa tak pernah sirna
Semua makin membuat ku terlena
dalam buaian impian semata

mengapa mesti ada butiran air mata
Saat namamu kembali hadir
saat kueja namamu dalam suara tak terdengar
Walau ku sadar kita tak akan pernah bersatu

Tidakkah waktu bisa membantu melupa
Ataukah aku harus terus terjaga dalam mimpi lalu
Biar waktu itu menjadi sebuah kenangan semata
Biar kucumbui cinta dan indahmu dalam sebuah cerita

Depok, 6 April 2009
erwin Arianto
http://coretanpena-erwin.blogspot.com


kaulah yang selalu berdendang di ruang hatiku
Mencoba menghapus segala penat didada
Adalah engkau yang tersenyum dengang ceria
laksana setetes embun pada padang sahara

Adalah cantik Wajahmu
Yang selalu menanti
Disetiap kepulanganku pergi berlari
Setiap waktu yang terlalui

Sesesok tangan mungilmu
Mengusap wajahku dengan sebuah kehangatan
memberi keteduhan jiwa
Setelah lelah terlalui

Segurat senyum cantikmu
Memberi rasa bahagia
yang tercipta di dada
Menghapus penat dan duka

Tuhanku
Terimakasih telah kau berikan
Seorang peri kecil kepadaku
sebuah anugrah dalam perjalanan indahku

Depok 6 april 2009
Dear My Little Princess
Quineisha Namia Zhafira

Tuhan

Tuhan
Bimbing aku menapaki setiap goresan takdirku
Buat aku mengerti makna di dalam nafasku
Berilah sabar atas semua yang terjadi
Biarkan aku selalu bersyukur atas semua yang ada

Tuhan
Aku terkadang lemah
mempertanyakan tentang keberadaanmu
Meragukan uluran tanganmu disetiap deritaku
Melupakan mu disetiap Gembiraku

Tuhan
Aku ini manusia tak berilmu
Yang selalu merasa semua adalah karenaku
Terkadang aku lupa menghadirkanmu dalam hidupku
Terlalu bodoh menyingkap takdir yang kau berikan

Tuhan
Ijinkan aku bersukur atas semua pemberianmu
Ijinkan Aku mendekat dan mencintaimu
Ijinkan aku merasakan keberadaanmu
Ijinkan aku Memujamu dan berbakti padamu

Terimakasih tuhan
Atas Nafas dan Kehidupan yang kau beri
Semua goresan takdir yang terlewati
Semoga hati ini bisa selalu memujimu
Kini ku yakin kau selalu ada untuku

Trimakasih Tuhanku..............

Depok, april 2009
Erwin arianto
http://coretanpena-erwin.blogspot.com
http://blog.360.yahoo.com/arianto_erwin
http://erwinarianto.multiply.com

tersimpan hikmah

air mata yg tlh jatuh
membasahi bumi.....
tak kan sanggup menghapus penyesalan....

penyesalan yg kini ada
jd tak berarti......
karena waktu yg terisi akan terus pergi

menangislah bila harus menangis...
karena kita semua manusiaaaaa......
manusia bisa terluka
manusia pasti menangis
dan manusia pun bisa mengambil hikmah...

dibalik segala duka
tersimpan hikmah
yg bisa kita petik pelajaran

dibalik segala suka
tersimpan hikmah...
yg kan mungkin bisa jadi cobaan...

Oleh: Tari Hermawan (tarijoss@yahoo.com)
Terimakasih mba tari

menikah

*Banyak orang yang masih single berpikir bahwa alangkah menyenangkannya hidup pernikahan itu. Ada seseorang untuk berbagi, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat dan sakit, sebagaimana yang dinyatakan dalam janji pernikahan.

Itu benar adanya, saya tidak pernah memungkiri betapa benarnya kenyataan itu! Namun di lain pihak, terdapat harapan dan impian Hollywood, sebagaimana film-film dramanya memberikan gambaran, betapa kehidupan yang diarungi berdua itu indah-indah saja dan pasti endingnya sebagian besar adalah "HappyEnd".

Saya tidak mengatakan bahwa kehidupan perkawinan tidak ada unsur yang menyenangkan. Sama sekali tidak! Namun sejak saya pribadi menjalani kehidupan perkawinan yang masih seumur jagung ini, saya pun mulai menyadari bahwa untuk benar-benar bertahan dalam kehidupan perkawinan, mimpi romantisme saja tidaklah cukup.

Kehidupan sebagai seorang lajang, tidak lepas dari begitu banyak kebebasan. Kalaupun ada yang mengikat tentunya hanya sang pacar dan keluarga kita. Namun ketika kita memutuskan untuk menikah, keterikatan itu tidak lagi sebatas apel di malam minggu, nonton atawa makan bersama yang mungkin cuma makan waktu sekitar 2-3 jam seminggu 2-3 kali misalnya. Keterikatan itu menyangkut penyesuaian diri dengan seseorang yang bisa-bisa selama 24 jam bersama-sama dengan kamu dan itu bukan main-main, untuk seumur hidupmu!

Dua pribadi yang dipersatukan, tentunya memiliki banyak perbedaan. Mungkin ketika berpacaran, kamu dengan gampang menemukan begitu banyak persamaan antara kamu dengan pasangan. Dan ketika kamu memasuki mahligai perkawinan, kemudian kamu menjadi bingung, mengapa kamu semakin melihat begitu banyak perbedaan? Untuk itu penyesuaian dan pengertian yang terus menerus amat dibutuhkan oleh kedua belah pihak dalam rumah tangga.

Dan bukan itu saja, keterikatan itu termasuk perkawinan plus plus di Indonesia. Kenapa saya katakan perkawinan ++ (baca: perkawinan plus plus)? Karena keterikatan dalam suatu perkawinan juga termasuk dengan keluarga suami/istri dan seluruh kerabatnya. Keluarga besar, begitu istilahnya. Dan tiba-tiba saja, saudara kita bertambah amat banyak, dikarenakan tali
pernikahan yang kita jalani. Mungkin kamu pernah dengar pernyataan begini, " Itu lho… Pak Ade, adik dari ipar saya…" Atau mungkin, " Itu keponakan dari mertua saya…" Belum lagi terkadang istilah-istilah yang begitu kompleksnya, yang pasti
ujung-ujungnya ada hubungan saudara dikarenakan perkawinan …

Berhadapan dengan semakin banyak orang, tentunya berhadapan pula dengan semakin banyak karakter. Dan disadari atau tidak, tentunya banyak kepala semakin banyak permasalahan yang dihadapi. Untuk banyak pasangan, pertengkaran tidaklah terjadi antarmereka, namun banyak kali dikarenakan campur tangan dari pihak ketiga, keempat, bahkan kelima yang semakin
memperkeruh suasana. Jadi, pasangan yang menikah dengan kekerabatan plus plus hendaknya pandai-pandai memilah situasi, sehingga mereka tidak gampang terhasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, walaupun itu adalah dari pihak
keluarga sendiri.

Perkawinan mengajarkan saya untuk hidup lebih realistis. Tidak selamanya pasangan kita berada pada 'top performance' sebagaimana yang ditunjukkan selama masa berpacaran atau masa ketika sang wanita tengah 'dikejar' oleh sang pria atau sebaliknya sang pria yang 'dikejar' wanita. Perkawinan membawa seseorang ke tahap di mana harus menerima kalau
pasangannya tengah kelelahan selepas kerja dan mendengar celotehan yang penuh amarah adalah hal terakhir yang diinginkan pada saat itu karena tubuhnya penat amat membutuhkan istirahat.

Menikah, apabila mendapatkan seseorang yang cocok, memang memberikan satu ketenangan batin dan ketentraman. Yang paling penting adalah azas yang diterapkan, tetap bersama dalam keadaan apa pun, tetap dijalankan.

Jujur saja, kehidupan lajang yang belum memiliki pacar alias jomblo atau sedang 'kosong' sebetulnya juga sangat menyenangkan. Kamu bisa lakukan apa saja yang kamu mau, mau pergi karaoke keluarga bersama teman-temanmu, mau nonton, mau jalan-jalan ke luar negeri, mau pelayanan sana-sini, mungkin tidak jadi masalah. Itu bakal jadi sesuatu yang berbeda ketika ada seorang
pacar dan kemudian menjadi pasangan, suami atau istri kita, harus dilakukan penyesuaian di sana-sini dan tentunya saling toleransi antara satu dengan yang lain.

Namun, yang namanya manusia, sering kali tidak pernah puas, dan tidak jarang ada perasaan bosan menghinggapi hati kita apabila rutinitas itu-itu saja yang kita alami. Yang single berkeinginan segera mengakhiri kehidupan melajangnya dan melabuhkan hatinya kepada seseorang yang cocok. Sementara tidak jarang yang sudah menikah dan punya anak merindukan saat-saat lajang, di mana kebebasan menjadi begitu berarti di mata mereka. Rumput tetangga sepertinya kelihatan selalu lebih hijau…
Bagaimana mencari penyelesaian agar kita bisa mensyukuri kehidupan yang kita jalani pada saat ini, sebetulnya merupakan kunci permasalahan.

Pada akhirnya, saya menilai bahwa kehidupan perkawinan akan jadi sangat menyenangkan bila:

Menikah dengan seorang yang cocok, dari segi intelektual, kepercayaan/agama, strata sosial, dan pemikiran akan masa depan berkeluarga yang bakal diarungi bersama. Menjalani cinta romantisme- denyut jantung yang berdetak semakin cepat saat
bertemu dengan si Dia, muka yang memerah (blushing)- dengan penuh rasa syukur namun tidak terbius olehnya. Sehingga tidak kecanduan akan cinta romantis ini dan bisa menerima keadaan ketika cinta romantis menjadi cinta realistis.

Berusaha mengerti kondisi pasangan, terutama pada saat-saat pasangan tengah menghadapi hal yang kurang menyenangkan ataupun menghadapi masalah besar. Pengertian adalah dasar yang utama yaitu dengan berusaha menempatkan diri
pada posisi pasangan.

Tanggung jawab yang tinggi akan keputusan untuk menikah dan menjalani kehidupan bersama. Dalam kondisi apa pun! Tetap setia dan menyertakan Tuhan dalam relasi ini. Adalah sangat beruntung apabila kedua orang yang terikat dalam satu mahligai rumah tangga adalah orang yang sama-sama memiliki hubungan pribadi yang indah dengan sang Pencipta. Karena banyak kali dalam kehidupan ini, kita mengalami kekecewaan dengan pasangan kita. Mungkin yang paling sering mengecewakan kita adalah
pasangan kita, namun apabila kita punya relasi yang baik dengan Tuhan, yakinlah bahwa kita akan dimampukan memaafkan dan mengasihi pasangan kita. Namun, bila hanya salah satu pihak yang lebih dekat relasinya dengan Tuhan, sebaiknya mendoakan pasangannya agar bisa merasakan cinta Tuhan secara pribadi dan setia menunggu saatnya Tuhan tiba bagi pasangannya untuk
merasakan hal itu.


Jika belum menemukan yang cocok, apa yang harus dilakukan?

Tetaplah mengasihi Tuhan secara sempurna, jangan marah-marah atau 'complain'. Kalaupun ada 'complain' nyatakan kerinduan dan kegelisahan hatimu kepada Tuhan. Nikmati ke-single-an itu sebagai berkat Tuhan juga, karena kamu tidak pernah tahu apa yang harus kamu hadapi ketika kamu menikah. Tanggung jawab yang lebih berat, juga masalah yang lebih besar. Ketika kamu menghadapi itu semua, mungkin kamu tidak kuat, makanya Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan seseorang yang tepat pula untuk kamu. Dan yakinlah, apabila Tuhan sudah bertindak, dan memberikan yang terbaik untukmu, Dia tidak pernah lepas tangan! Dia dengan setia terus membimbing agar kita siap mengalami semua perubahan yang terjadi. Dengan demikian, sebagai seorang single, kita hidup dalam kepenuhan, dan kita mampu mengucap syukur dengan kehidupan melajang itu. Dan ketika saatnya kamu harus menikah, kamu pun memiliki rasa syukur yang tinggi atas kehidupan single yang sudah kamu jalani selama ini, dan mampu mengambil tanggung jawab akan kehidupan berumah tangga yang Tuhan percayakan kepada kamu.

Jadi, lajang atau menikah, tidaklah jadi masalah asal kita menjalani kehidupan ini dengan realistis, sekaligus penuh pengharapan di dalam iman kita kepada Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap kita, jangan pernah ragukan itu!
Bersyukur atas apa yang Dia beri, itu adalah yang terbaik yang bisa kita
lakukan pada saat ini… *

;;