IqEwVr5RYHY5lcozd7fQs7f4kHQ
Bisik Angin Tuk Bidadari

Kutemukansebuah kertas surat kumal telah termakan oleh waktu yang jatuh dari arsip lamaku saat aku membereskan tumpukan kertas di kamarku. dan kubaca sebuah surat itu.

"Aku yang selalu menunggu ketika kau pulang dengan segenap tenaga mengayun kakiku agar langkah

sepeda motor mus berputar semakin cepat dan membuatmu nyaman akan selalu bersamaku, itu janjiku

ketika kau berikan cintamu kepadaku. Aku pun yang selalu menjadi pelabuhan ketika kau merasa sedih dan senang. ku ucapkan terimakasih atas cinta yang kau berikan, dan kau datang di saaat yang tepat saat aku hancur dengan kekasihku.

Sepenggal kisah cinta yang kita alami walau berakhir tidak akan pernah hilang untuk selamanya.

Setahun atau pun seribu tahun kemudian ketika jasadku menyentuh tanah dan kembali bangun, cintamu akan selalu abadi dalam hidupku.

Salam Cinta Astried Suwandri"

Sepenggal kertas kusam itu menceritakan kisah laluku yang sangat indah dengan Astried Suwandri, seorang yang hadir dalam kisah ku yag dulu segelumit kisah yang sangat teringini batin ini.

kertas kusam itu membuka lembaran kisah lamanya yang telah tersimpan rapi dalam lemari kotak bersejarah yang menjadi saksi hidup ketika cinta kembali bersemi setelah peninggalan (Alm) Wida seorang calon pengantin ku yang berpulang saat kami akan menikah. pertama kali bersemi sepuluh tahun lamanya dulu.teringat olehnya seorang wanita yang pernah menjadi bagian indah dalam sejarah hidupku hingga kini abadi tidak terlupakan.

Kini sepuluh tahun lamanya telah berlalu, dunia telah berubah, zaman telah berubah bahkan wajahnya pun mulai pudar dalam bayangan ingatanku. Mimpi kembali mempertemukan kami walau hanya sekejab bayangan itu kembali seolah memanggilku untuk kembali mencarinya. Tapi dimana.. dimana akan ku cari? Inilah jawaban yang tak pernah kudapatkan. (EA)

************************************************

Aku menarik nafas panjang memulai awal mula aku berkerja ditempat baruku. Aku menyebutnya sebagai awal hidup setelah aku menikah. Rutinitas baru dan segalanya sungguh baru, setelah mengerti dengan jenis pekerjaan yang harus aku lakukan dan kini aku mendapat posisi Manajerial seperti yang aku impikan selama ini. aku kembali ke kantorku melalui sebuah lift yang cukup panjang , bandingkan sendiri sebuah kantor besar dengan gedung 60 lantai. Perjalanan panjang menuju kembali ke ruangku.

Tidak ada yang aneh untuk saat ini. Namun ketika sebuah pintu lift terbuka dengan seorang wanita muncul, membuatku mencuri pandang sesaat akan sosok wanita itu. Terasa tidak asing, ditambah senyumnya seolah memberikan kehangatan di ruang dingin ini.untuk sesaat aku mulai menduga duga siapa gerangan wanita ini. Mengapa aku begitu seolah mengenalnya.

“Maaf sepertinya anda mengikutin saya terus..!!” ujar wanita itu

“oh tidak.. maaf.. saya…!!” aku mencari alasan

“anda kenapa..!!” ujarnya

“tidak.. saya Cuma pengen ke…!” ujarku bingung

“anda ingin ikut saya juga ke wc wanitan..!” wanita itu menunjukkan dirinya seolah berada tepat di garis pengumuman besar Toilet wanita

“maaf.. bukan maksud saya..!” aku merasa malu tak menyadari berada di depan toilet wanita..

“ok kalau gitu bisa biarkan saya tenang di dalam toilet ini!!”

“oh ya silakan..!” aku tersenyum malu

Terlalu mengikuti naluriku tak menyadari berada didepan toilet wanita membuatku malu tak berujung. Dengan tarikan nafas akhirnya aku pun perlahan meninggalkan wanita itu. Sesekali aku mencoba untuk berbalik berharap dia mau mengenalku walau hanya sesaat untuk membuang rasa penasaranku akan dia. Dan tanpa kusadari wanita itu meliriku sekilas sambil tersenyum di balik pintu toilet.

Aku merasa seperti pernah dekat denganya, mirip seperti dalam mimpi-mimpiku. dengan nakal kucuri-curi pandang pada dia. untuk meyakinkan diri ini.

"Pak. DJoko, maaf ini surat dari bapak direktur tentang rencana audit tahunan anda"

"oh.. i..ya" jawab ku tergagap karena terguran lita sekretraris Direktur itu membuyarkan lamunanku.

"dan ini rencana Budget, dan target dari department ini dalam satu tahun" ucap lita kembali menjelaskan Rencana kerja dan Budget Department yang aku minta persetujuan Dari Directur Keuangna.

"oke Bu lita, terimakasih" ucapku merespon pemberian laporan yang diberikan kepadaku.(EA)

*****************************************

Pulang kantor, ku lihat wanita yang kulihat di depan lift pagi tadi sedang duduk sendiri di cafe dekat kantor sedang menikmati segelas Jus alpukat waktu itu. aku coba menyapa wanita yang kutemui saat pertama ku menjejakan kakiku di kantor ini. "Maaf, apakah kamu Astried" aku coba menyapanya. "ya saya Astried" jawabnya deangan lugas saat itu.

Postur tubunhnya tak berubah sedikitpun. Wajah dan senyumyapun tak berubah. Hanya terlihat sedikit lebih dewasa. Selain itu semuanya masih sama seperti waktu yang lalu. Saat ini matanya menatapku tanpa berkedip, begitu juga denganku. Aku benci melihat tatapan matanya. Tatapannya begitu tajam. Tatapan yang selalu membuatku luluh.

"Kamu siapa ya.."tanya mungkin dia telah melupakan ku. "saya Manager Audit baru disini" ucapku.

" Oh Ada Apa ya" tanya kembali.

"Kamu Astried Suwandri" aku menegas kan kembali bahwa sosok di depan ku adalah Astried, seseok Cintaku yang ku tinggal menikah karena keinginan Orang tuaku. dan kupersiap kan diri untuk sesuatu yang terjadi.

"kamu Ingat Aku?" tanyaku mencoba menanyakannya kepadanya. "Tidak" jawabnya kepada ku saat itu.Wah waktu yang terlalu lama atau kepedihan yang sangat dalam yang membuatnya melupakan aku. "Aku Djoko Susilo...." ucapku. dan kulihat Wajah astrid berubah dan mengernyikat mukanya seakan dia berpikir sesuatu.

"Mas.. Djo...ko" ucapny dengan sedikit terbata kepadaku. seakan tidak mempercayai seseorang yang ada didepannya adalah aku.

“Kok diem?” tanyaku memecah keheningan diantara kami berdua. Tapi Astrid belum bereaksi. Entah masih tak percaya dengan kedatanganku atau karena menahan kekagetan hatinya melihat aku berdiri di hadapannya lagi.

“Astried??” tegurku lagi. Sedetik kemudian dia mulai tersadar dari lamunannya. tanpa berkata aku sudah mengerti apa yang ingin ia tanyakan. Aku langsung mengangguk. Pada anggukan pertama, airmataku sudah ikut mengalir. Tanpa sadar ia langsung meraihku dalam pelukannya dan aku mulai menagis disana. Ternyata rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tak ada yang berubah. Setidaknya itulah yang kuinginkan saat ini.

"kenapa kamu datang lagi mas, setelah kamu dulu menghancurkan aku" ucapnya kepadaku.

"maaf Astried... biar aku menjelaskan " UCapku kepadanya,

"MAAF!" Suara Astrid pun meninggi.

"Kamu mengatakan maaf setelah apa yang kamu lakukan?" dengan suara tinggi beruapa sebuah pertanyaan.

Aku tak menjawab pertanyaan itu, karena aku pun tak tahu harus menjawab atau berkata apa selain "maaf" atas apa yang aku lakukan.

"Kita udah pacaran selama setahunan waktu itu dan kamu tiba-tiba bilang kalau kamu harus menikahi orang lain. Kamu tuh maunya apa sih?" kata Astried dengan nada yang sama kerasnya diiringi isak tangis sesekali. dan kulihat ruangan Kafe di dalam gedung kantor mulai sepi.

Kami memang dulu pernah berpacaran selama setahun, tapi selama itu juga aku telah mengkhianatinya beberapa kali. Isak tangis Astried semakin sering. Matanya tak sanggup menahan air mata yang mengalir dari kesedihannya.Aku tahu bahwa yang pernah aku perbuat membuatnya sedih, hanya saja hal itu baru ku sadari kini. Setelah aku mengaku semua perbuatanku padanya.

"pada awalnya , kamu yang selalu nolak lebih serius. Tapi waktu malah kamu yang mengkhianati aku. Aku..." katanya yang tak menyelesaikan kalimatnya karena air mata kesedihan semakin mengalir kencang. seakan menumpahkan kekesalannya kepadaku yang tidak pernah terungkap semenjak aku menikah

"Orang tuaku memaksaku Tried. Aku sudah mencoba menolaknya, tetapi aku di hujat orang tua ku habis-habisan, dan orang tuaku mengancam bunuh diri," kataku dengan jujur mengatakan alasanku untuk menikahi orang lain selain Astrid pacarku yang aku sayangi. Dan Aku dan Astried telah menjalin hubungan indah Selama kurang lebih satu tahun kisah indah yang selalu terukir dalam memori hatiku.

Setelah berkata itu, aku memejamkan mataku sembari berharap tamparan melayang di pipiku, meski aku tahu aku lebih berhak menerima lebih dari itu. Tapi tamparan itu tak pernah datang.

“Jadi Apakah aku harus hamil dulu biar kita bisa menikah? Maaf, buat aku, itu sama sekali bukan sebuah pilihan,” bentak Astried lalu berlari menjauhiku dan meninggalkan air matanya dalam jejak pelarian itu.

Aku ingin sekali mengejar dirinya, tapi aku tak mungkin melakukan itu. Aku tak mau mengkhianati cinta untuk yang kedua kalinya. Aku memang selingkuh dengan orang lain yang memberikan hubungan yang lebih intim, meski rasa sayangku lebih besar pada Astried. Aku terlalu membiarkan gairahku menyesatkan cinta yang aku miliki.

Seandainya dia menanyakan apakah Aku mencintai Istirku, Sungguh! Tapi Istiriku ada di posisi nomor dua, sedangkan dia masih terus bertahan dan selalu menduduki hatiku selalu menjadi yang pertama. Aku benci mengakui itu. Sudah beribu-ribu cara aku lakukan untuk melupakannya tapi tak ada satupun yang berhasil. Sampai satu titik aku merasa lelah dan aku tersadar. Aku harus tetap menjalani hidupku.dengan atau tanpanya.

Walau kini harus kujalani hidup 1 kantor dengan astried, yang ada duniaku akan terus berkecambuk antara penyesalan cinta yang ada. Sudahlah. Alasan apapun yang aku berikan tak akan mampu mengusir kesedihan Astried dan tidak akan mampu menghapus kesalahanku. Aku pun hanya mampu berkata, "maaf, aku tak bisa menikahi dengan dirimu". Lebih baik aku jalani hidupku daripada harus memberikan alasan-alasan yang tak berarti untuk Astried dan juga untuk diriku.

Biarlah Dia menjadi indah dalam kenangan yang selalu bermain dan berputar dalam ingatan ku, tentang kejadian lampau yang masih kuat akan angan ku yang begitu menginginkannya menjadi istriku. Biarlah aku tetap Mencintaimu dalam Relung hati, walau terus dalam penyesalan dan Keperihan Yang Dalam. Dan aku akan terus mengatakan dalam hatiku, Teruslah Menjadi Kekasih Hati Dalam nurani, Dan Semoga aku hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa membahagiakan mu Cintaku.(EA)

Cerpen ini hanya fiktif belaka, Jika ada kesamaan Nama tokoh, Pristiwa, adalah kebetulan belaka, Dan jika terdapat Tanggapan, Celaan, atau kritik Harap dikirim langsung pada email erwinarianto@gmail.com. Terimakasih

Depok 7 Mei 2008

malam Itu Saat Gugusan Gemintang menari
Menggurat Nuansa Indah pada cakrawala tak terganti
Rembulan malam Bercumbu rayu menyatakan isi Hati
Menangis tertawa membawa sebutir rasa tercuri

Hembusan Mimpi tentang ingin hati
Menggapai Suatu cinta yang putih dan suci
Cinta yang menembus batas garis sang mega
Memberi Aroma Romansa yang terus terjaga

Dimanakah Perempuanku saat ini
Kala Hati begitu syahdu Merasa Apa yang terjadi
Menikmati secuil kisah lampau yang berseri
Kisah bersama seorang bidadari hati

Dan Kini dalam Sejengkal Mimpi Diri
Diri mu hilang pergi dan membenci
Sebongkah Hati Yang begitu menyayangi
selalu teriringi doa terucap mengamini

Sabda Sebuah Hati yang terlanjur mencintai
Tak akan pernah berganti menjadi caci Maki
Begitulah Rasa Yang terukir dan terpatri
ikhlas menanti Senyuman Indah cinta sang Bidadari
Depok, 5 Mei 2008



Bayangan Kekasih

Angan ku kembali berpihak kepada Novita kekasih sejatiku, yang sangat kuigini, kami saling mencintai, tapi takdir memisahkan aku dengan dirinya lagi. karena aku berjumpa dengan novita 3 bulan sebelum aku meinkah dengan Intan istri ku saat ini. Bayangan novita begitu erat menghantui setiap langkah yang kuayun dalam hidupku.

Setelah kukuatkan tekad yang kupunya, Ini kesekian kalinya aku ingin pergi. Dari rumah yang lima tahun lalu kubeli dari tabungan saat ku pertama bekerja, ku cicil sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Intan, istriku. Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis. aku bertegur sapa dengan seorang gadis yang sangat anggun dan begitu mempesonaku berjumpa dengannya

Dan dia telah mengambil tempat di hatiku yang paling dalam dan dia telah menjadi kekasih hatiku, dan kami saling jatuh cinta. dia begitu mencintaiku, dan dia mengagumiku dari beberapa tulisan yang telah aku buat, Ia bilang telah menungguku begitu lama. Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia. Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu. Kukatakan padanya aku akan datang menujunya. Ia bertanya, "Kapan?", seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku. Kujawab, "Segera." Dan dia berjanji untuk menungguku hingga aku bisa kembali berdua memadu kasih dengannya.

Setelah pertemuan itu aku mencoba mencari cara agar aku terus bisa berjumpa dengan Novita, sesok yang seharusnya tidak boleh ada dalam relung nurani, karena aku telah memiliki intan sebagai kekasih ku. "Oh tuhan apa yang harus ku lakukan, aku mencintai nya, dan rasa ini terlalu menggebu, aku mencintai intan" ucapku dalam hati.

Aku terus mencoba untuk pergi dari rumah untuk meninggalkan intan tak pernah ada yang berhasil. Aku masih di sini, di rumahku bersama Intan, istriku. Saat itu intan tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi. Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku. Katanya sikapku semakin aneh di matanya. Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat. Mencium keningnya dan berkata, "Tidak ada yang aneh. Semua biasa saja." Setelah itu intana diam. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.

**********************
12.54 malam hari, aku baru menyelesaikan sebuah naskah dan mengirimkannya melalui email ke sebuah media. Sementara dua gelas kopi, segelas air putih, sebotol sirup multivitamin, sebotol obat tukak lambung, dan sebuah asbak dengan satu, dua, tiga, hmm….tujuh puntung rokok berserakan di sisi kiriku.

Aku bangkit dari dudukku dan menyelonjorkan otot-otot punggungku yang kaku dengan berbaring di sofa. Sementara bayangan Novita begitu jelas, teringat janjiku padanya "Mas kapan kamu akan datang kepadaku" ucap bayangan Novita begitu menggoda dan menggangguku, membuat aku semakin pusing tujuh keliling.

Jujur ku akui Beberapa kali kekasih hatiku datang menemuiku. Terutama ketika intan tidak sedang berada di sampingku. Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan. dalam menungguku. dalam perbincangan itu dia begitu menginginkanku, dengan padangan muka manja dia terus menggoda ku.

"Kau kenapa?" tanyaku ragu-ragu karena cemas. Aku laki-laki pencemas. Terutama terhadap seorang yang kucintai.

"Terlalu lama aku menunggumu. Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu. Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru. Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu. Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur. Melemah. Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang. Tapi kau tak datang juga padaku. Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku. Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan. Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup. Kau menduakanku dengan kesementaraan. Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu. Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu. Kita terlampau lama terpisah."

Aku melihat jelas mata kekasih Novita meredup. Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama. Rindu yang menuntut penuntasan yang segera. Aku pun sangat menginginkan dalan mengisi hidupku. Aku menginginkan dia jadi Pendampingku untuk selamanya

"Aku akan pulang. Untuk bersamamu," kataku.
Tetapi tubuh Novita berguncang. Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku. Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.

*************************

Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi. Sengaja aku tak membawa apa pun dari rumahku, karena aku tahu Intan akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi. Namun baru sampai teras rumah, intan melihatku. Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi. Ia marah padaku.

"Kau mau pergi? Meninggalkanku?" tanyanya dengan ketus.

Aku menjawab dalam hati. "Ya, istriku. Aku akan pergi. Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan. Tapi aku bukan mau meninggalkanmu. Aku akan meninggalkan kesementaraan ini. Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi. Maka aku akan pergi, jauh dari kematian hati ini berasama dirimu disini dirumah ini."

Intan , istriku, memasang wajah kecewa. Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona. Sinar matanya meremang. Seperti mata Novitakuku yang lelah menungguku. Aku mendadak cemas. Bukan pada Intan, tapi pada dia Novita. Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini. Intan, istriku, menahanku. "Jangan pergi," katanya. Langkahku terhenti. Bayangan Novita hilang di benakku.

Intan memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian. Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh. Jangan kemari, kekasihku. Batinku. Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini. Kubiarkan Intan terus memelukku erat. Peluklah aku sekuat yang kau mampu perempuanku. Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku. Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku Novita. Dan kau tak pernah tahu itu.

"Katakan. Kenapa kau ingin meninggalkanku?" tanya Intan di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Intan. Menemui kekasihku yang abadi. Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan. Kematian singkat yang menyedihkanku. Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku. Seperti aku juga merindukannya sejak dulu.

Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta. Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian. Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian. Seperti pelukan ini yang kau tawarkan padaku. Membuatku mual oleh aroma kehinaan. Aku harus pulang, Intan. Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini. Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku. Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku? Tidakkah kalian juga saling merindu? Dan kita tinggalkan pemakaman ini. Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.

*******************************

"Mengapa kau diam? Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini bagimu?" Intan makin erat memelukku.
Ayolah, Intan. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak. Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar. Aku mati dalam kekerdilanku. Kelemahanku. Kesementaraanku yang sangat singkat. Melindungimu pun aku tak dapat. Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku. Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar. Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang. Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat. Intan, aku akan pergi. Pulang menuju kekasihku. Dan aku tak perlu minta maaf padamu.

"Kau tidak mencintaiku lagi?"
Intan, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya. Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku. Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian Hati, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku. Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi? Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan? Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan? Intan, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku. Aku mulai tak tahan.

"Jangan katakan kau punya seorang yang lain," Intan mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang. Ya, aku mempunyai seorang yang lain. Kekasihku dari kehidupan yang abadi.

"Aku takkan melepaskanmu."
Intan, istriku, ini ancaman darimu? Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian? Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku. Intan, sudahlah. Biarkan aku pergi.

Dan Intan tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.

Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian. Intan tengah terlelap dalam mimpi malamnya. Lagi-lagi Novita kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya. "Apa yang kau tunggu? Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?" Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.

"Intan adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini. Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri. Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya."

"Pulanglah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya. Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?"

Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu. "Aku pulang bersamamu," kataku. Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.

Dan ini adalah yang kesekian kalinya Intan mencoba menahan kepergianku. Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku. Tidak, jangan lagi. Pikirku.

"Baiklah. Kau boleh pergi. Bukankah kau selalu ingin pergi? Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis. Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan. Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu. Seperti itukah kali ini yang kau lakukan? Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan kepenulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku? Betapa egoisnya kau."

Suara Intan menjadi petir di malam itu. Benarkah? Batinku. Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian? Peninggalan? Intan, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda. Kesedihan yang lain. Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan? Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali? Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan? Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama? Aku demikian cemas. Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.

Intan mendekat. Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang. Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal. Pelukan beraroma kematian. Intan mendekapku erat. Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah ke mana. Tunggu aku, kekasihku. Aku akan datang. Segera.

Aku berduka. Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda. Tapi pikiranku memberiku jalan lain. Mungkin kelak aku mesti mengajak Intan, istriku. Untuk meninggalkan kematian ini. Berkenalan dengan kekasihku yang abadi. Tetapi Ma
ya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Malam itu, dan malam-malam yang lain. Tunggu Aku Novita, kita akan bersatu dalam angan dan menebus segala penantian mu. Karena aku begitu mencintimu dalam hatiku.. mencintaimu dengan Hatiku kekasihku

Musim Terus berganti
PAda Ufuk Timur terpancar aurora hati
Menggapai Mahligai senja putih
Menabur imagi pada relung suci tak berbuih

Hatiku sebutir salju putih
Mencair meleleh karena pancaran kasih
Menuai indah rasa yang tak terperi
mengagumi Pada Rasa yang terus menguji

Ketika cinta lampau berubah jadi benci
Hati ini tetap terus memuji bidadari
Memandang terus mengagumi bidadari dalam jiwa murni
Walau ku tahu kau tak akan bisa termiliki

Nurani menuai bangga karena pernah mencintai
Menjadi kenangan yang tak bisa terganti
Dalam hujan butiran ini rasa terpatri dan terus begini
Walau harus tegar melepas bidadari dengan senyum dan cinta sejati

Depok, 5 Mei 2008




Temaran Senja Kelabu
Ketika sebuah hati mempertanyakan
Tentang Sebuah rasa yang berkembang membiru
Tentang Asa yang Menari dalam nurani

ketika lampau hanya sebuah kebohongan
Secercah cinta itu adalah kebenaran
Bukan Untaian kata yang memuja rayu
Membuat hati termenung mengugu

Hilangkan Keraguanmu Bidadariku
Tentang Rasa yang pernah ada di kalbu
Tentang CInta kita yang menjadi sejati
Berkata tentang hembusan itu palsu

Tidak Kau lihat rasa itu
Rasa yang mengalir sejati
Rasa yang selalu kuberi kepada bidadari
Bukan hanya buaian dan Sebuah Narasi

Cintaku Tulus untuk bidadari
Cintaku bukai buaian menemani mimpi
Cintaku Hanya satu dan tak terbagi
Cintaku hanya untuk Bidadari Hati

bukan cinderamata yang kusuguhkan...
bukan sebuah buku yang kuberikan
bukan pula sebuah lagu yang kan kuciptakan

bukan sekotak tart yang tercicipi
bukan seribu lilin yang buatmu menari
bukan pula selarik puisi indah yang tergubah

bukan sebuah tanya
bukan sebuah kebersamaan
bukan pula sejuta bait senyuman

bukan dan bukan...
hanya kata yang sederhana
SELAMAT ULANG TAHUN KAK ERWIN...

c-yakuw
http://cheya.blogspot.com



Aku sayang sekali padamu," bisikmu lirih hampir tak terdengar oleh telingaku, ditingkah bising kendaraan yang lewat. Telingaku hampir tak menangkap makna kalimat yang kau ucapkan, sampai kesadaranku memaksaku memahaminya. "Mimpikah aku saat ini ?" hanya segitu yang bisa terlontar dalam benak ku . di bawah rumah persewaan, ditemani motor merah itu.

Aku tahu ungkapan itu hanyalah kebohongan kita, di tengah ketidak mungkinan kita untuk bisa menyatu. AKuingin kau berbohong lagi kepadaku . Seperti yang kau utarakan kemarin, Sebelumnya, dan seperti Waktu lampau dulu itu. Ketika redup mentari berpendar di pucuk daun dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. dengan kau kecup tanganku kala itu.

Sebuah kecupan mendaarat di keningku, saat kita berjumpa, Dan Bisikan lirih rasa sayangmu kepadaku seolah memberi pesan akan sesuatu yang terlontar spontan dan kau sendiri terkejut mendengarnya. Duniaku berhenti beberapa detik. Senyap. Kosong. Harmoni mengisinya.

Aku merindukan Kebohongan mu tentang sesuatu bermakna cinta. Kurasa itu tak kan lagi terjadi. Tetapi aku adalah pemimpi dan mimpiku sering bertolak belakang dengan kenyataan. Ketika itulah bohongmu yang kedua melantun bagai nada yang baru tercipta. Kau ucapkan beserta segala daya pikatmu yang hampir selalu merobohkan hati setiap perempuan yang ada di seluruh jagad raya ini.

Aku, pun terinfeksi virus pikatmu. Tapi tidak terlena dan mengejarmu bersama kertas yang kupaksa untuk kau tanda tangani seperti yang lain. Kelelahan yang selalu kulihat dalam sorot matamu, seolah tak kan pernah kupahami maknanya. Roda yang kita mainkan tidak pernah berputar lamban, selalu cepat dan amat cepat, sering kita terengah bersamanya. Namun, lelahmu bukan karena itu. Rasa dalam hatiku merindu akan jawab itu, yang kutahu takkan pernah kudapat darimu. Bukan pula
dari mereka, wajah-wajah cantik itu.

Aku tahu tentang bohongmu karena kau telah terkurung oleh cinta lain yang telah lama terjalani, lalu kau anggap apa ini? apakah hanya sebuah permainan dalam kebohonganmu. tapi aku dan kamu terlanjur permainan yang kita ciptakan.., permainan cinta yang penuh kebohongan, penuh sanjung dan puji, penuh dengan untaian makna dalam bait-bait kata puisi yang kita tulisakan dalam menunjang semua kebohongan kita, tentang kebohongan makna Cinta yang seharusnya suci.

Tak lagi mampu kukendalikan diriku padamu. Kau pun berikan dirimu kepadaku. Waktu tergenggam oleh tangan-tangan kita yang semakin menyatu dalam gengaman yang saling mengeratkan dan tidak ingin terpisahkan oleh apapaun. dan suatu kebohongan yang selalu kita nikmati.

Dan itu terulangi! Tidak seperti kali pertama kebohonganmu, kali ini bohongmu terdengar lebih jelas dan membuatku membeku sekaligus menjentikkan api rasa yang selama ini padam dalam hatiku.

"Aku sayang kamu."

Aku tahu, itu. Tetapi aku mulai menikmati bohongmu dan kuletakkan peranku pula disitu. Karena kita adalah pemain yang tak kan berhenti untuk peran-peran dalam naskahNya. Begitulah katamu, disuatu waktu. Meyakinkanku pada sesuatu yang kau yakini.

"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya di waktu yang akan datang.

"Tak berartikah ini bagimu?" aku belum puas dengan penjelasan retoris itu. Dan mulai memaksanya. Selintas beberapa wajah cantik mencoba mengingatkanku pada posisiku. Tanpa makna.

"Kau memberikan padaku warna lain pada kanvasku, itu berarti banyak sekali." Itulah yang terucap darimu dan menepis tanganku dari tanganmu. Kehangatan tiba-tiba lenyap. Aku mulai menggigil.

"Aku harus pergi!" katamu waktu terakhir kita bertemu, saat kau ingin menikahi dirinya

"Jangan. Kataku, jangan pergi," kuulangi pintaku lirih.

"Tinggallah," kuingin tetap berbagi peran denganmu, kalau bisa selamanya.

"Baiklah." Janjimu begitu yang kau ucap kala itu.

"Selamat malam, terima kasih," dan itulah kata yang terdengar dari bibirmu. Hanya punggungmu yang kulihat meninggalkanku dalam semua renunganku akanmu. Tak kan aku berdiam dalam tamansari ini jika tanpamu. Kupupus semuanya tentangmu dan menegaskan diriku akan segala kebohonganmu yang lalu. Tak bisa!

Ku tak mungkin jatuh cinta kan ? tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, dan ku akan selalu menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan kepadaku, termasuk yang itu...yang dua kali kau sampaikan padaku.

* * *


Tapi kemudian, hal itu terjadi, seperti setiap aku marah padamu. kau seperti bertelepati padaku. Kau selalu tahu tentang apa pun yang kupikirkan. akanmu.

Senyummu mengembang. Kupandangi matamu, berharap bisa menguak kebohongan itu dari sana.

Agak sulit menciptakan kebohongan pada mata, dan aku melihat segalanya disana mengatakan itu. Kerinduanmu terpancar dari kedalaman pandanganmu. Kau ulurkan tanganmu menyentuhi jariku. Kurasa inginkan lagi. Kau yang seolah tak pernah kehabisan kata kini terdiam dalam pandang yang bertemu, terkunci disana oleh kekuatan yang lebih besar dari yang kita bisa pahami.

"Sadarlah, betapa indahnya persahabatan ini. Dan jika waktu membawa kita saling jauh, kita akan tetap bertemu lagi dalam indahnya rasa ini."

Air mataku mulai menderas tanpa mampu lagi kutahankan. Persahabatankah ini semua bagimu? Sesalku dalam hati. Kutinggalkan engkau dengan tumpukkan laporan akhir tahun yang bahkan tak sempat kau sentuh. Bergegas menuju ruanganku, dan berencana membenamkan diri disana sementara waktu.

Telepon di mejaku berdering. Kau. Segera kututup lagi. Semenit kemudian kau telah duduk di mejaku.

"Apa yang membuatmu sedih?" tanyaku, pelan.

Aku hanya mengajakmu melihat realitas yang ada. Kita adalah manusia - manusia rapuh yang seringkali salah melihat pertanda dalam hidup kita sendiri. Aku tak ingin kita salah langkah dalam hal ini. Aku bersamamu sekarang, kau tahu ini adalah ketulusan yang ...

"Tapi, kenapa ? Kau telah membuatku jatuh cinta padamu, dan kau katakan kini kita akan berpisah esok hari!" raungku memotong kata-katanya.

"Karena kita tidak tahu pada apa yang terjadi besok, sayang."

Sapaan itu selalu berhasil meluluhkan hatiku. Tapi kini aku butuh lebih dari hanya sekedar sapaan "Sayang" itu. Di tengah tetesan air mataku, kulihat dia melakukan sesuatu yang akan kukenang selama hidup, dikeluarkannya saputangan dan menghapus air mataku dengan sabar.

Kini ia berpindah berdiri di belakangku, membimbingku menuju rautan besi tua di pelataran rumah persewaan itu. Di rengkuhnya kepalaku dan ciuman lembut itu menghapus habis isakku.

"Aku tak pernah bisa berbohong, pada siapapun, juga padamu. Aku tak kan pernah katakan janji yang tak bisa kupenuhi karena mungkin alam ini tak mendukungnya."

"Kau pernah berbohong padaku." Kembali aku terisak kini.

"Kapan ?"

"Ketika kau katakan kau sayang padaku." Dia mengerutkan dahinya, tak mengerti.

"Kau bohong dengan mengatakan kau sayang padaku," kataku meneruskan. Dan aku ingin sekali kau tetap berbohong padaku, jangan katakan kita akan berpisah suatu hari nanti. Itu sungguh menyakitkanku.

"Aku sayang kamu " itu terucap lagi darimu....... dan dengan menghapus lagi air mataku kau memintaku bersamamu makan siang.

"Jangan katakan itu kalau hanya untuk sementara." desisku

"Kau membuatku makin tak mengerti sayang. Sudahlah, mari kita makan malam sekarang."

"Aku pasti jelek karena menangis."

Kau menggelengkan kepala kuat-kuat sambil berjalan menuju pintu.

Kupandangi punggungnya yang melangkah pergi, seperti kala itu. Tapi aku tahu kini, aku harus berada di sampingnya, selalu. Untuk makan malam, dan untuk hari-harinya, dengan ketulusanku pada kebohongannya.

Tetapi Untuk anginku terus lah berbohong, dengan bisikmu untuk bidadari ini yang selalu merindukan nyanyian indah di balut dalam kebohongan, agar bidadari ini teguh dalam menjalani hidup. Oh angin dimanakah nyanyian kebohongan mu kini, terasa gersang kehidupan ini tanpa kata-kata bohong yang kau ucapkan pada hati ini. teruslah berbohong tentang rasamu wahai anginku....

;;